Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KEPAHITAN SI KEMBAR


__ADS_3

"Menikahlah denganku." Ersya berlutut di hadapanku dengan tangannya yang menggenggam tanganku.


Seharusnya aku merasa bahagia karena Ersya yang tidak lain adalah kembaran kak Erlan melamarku, tapi anehnya aku justru merasa sedih dan gelisah.


"Aku ... aku ...," Aku tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk Ersya.


"Terima saja, jika kau ingin mendapatkan maaf dariku!" sergah tante Ratih dengan suara yang masih lemah.


Aku menoleh dan melihat tante Ratih menatapku dengan penuh harap. Aku tidak yakin itu, tapi aku rasa tante Ratih memohon padaku agar dirinya juga mendapatkan maaf dari Ersya.


"Bisakah kita bicara dulu, Kak Ersya?" tanyaku, mencoba mencari jalan tengah atas situasi saat ini.


"Apalagi yang perlu kita bicarakan?" Ersya balik bertanya padaku.


Tanganku menyentuh bahu kekar Ersya agar dia berdiri dan berhadapan denganku. "Bukan hanya kita, tapi kau dan tante Ratih bersamaku dan om Rama juga tentunya."


Manik mata Ersya menatapku dengan tajam. "Kau mencoba mencari alasan, Ayasya?"


"Jika aku menemukannya."


***


Suasana yang sedikit mencekam mulai aku rasakan ketika Ersya hanya diam dan menatap tante Ratih yang hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Jadi? Apa pembelaanmu?" tanya Ersya, seperti bertanya kepada seorang penjahat. "Ingat! Aku hanya mendengarkanmu kali ini saja, dan itu pun karena Ayasya." tegasnya.


Tante Ratih menatapku seolah meminta perlindungan, sementara om Rama menganggukkan kepalanya sebagai bentuk dukungannya untukku.


"Kak Ersya, kita di sini bukan untuk mendengarkan pembelaan tante, tapi untuk meluruskan kesalahpahaman antara kau dan tante Ratih." Aku mencoba menengahi masalah ini meskipun aku juga belum tahu pasti apa masalahnya.


Ersya menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Baiklah,"

__ADS_1


"Silahkan, Tante!" Aku menyentuh tangan tante Ratih yang duduk di sebelahku, matanya terfokus pada sosok Ersya yang berhadapan dengannya.


"Maafkan Tante, Ersya!" Air mata mulai jatuh di pipi tante Ratih. "Sungguh! Tante tidak tahu jika kau masih hidup." lirih tante Ratih.


Usapan lembut kudaratkan di punggung tante Ratih untuk memberikan kekuatan padanya. "Lanjutkan, Tan!"


"Saat kecelakaan itu terjadi, Tante hanya melihat kalian berdua. Tante tidak tahu yang mana kau dan yang mana Erlan karena kalian memakai pakaian yang sama hari itu. Pikiran Tante kalut begitu melihat kondisi kedua orang tua kalian yang sudah tidak bernyawa ketika Tante sampai di lokasi kecelakaan." jelas tante Ratih, air matanya semakin deras mengalir. "Saat itu, Tante hanya seorang diri karena om Rama sedang di luar kota. Sedangkan polisi juga belum sampai di tempat, meskipun Tante langsung menghubungi mereka ketika ayah kalian menghubungi Tante. Yang Tante pikirkan saat itu, hanya menyelamatkan nyawa kalian dan Tante tidak berpikir kau atau Erlan. Namun, saat itu posisi Erlan lah yang lebih mudah untuk Tante selamatkan. Tapi percayalah, Ersya! Tante kembali untuk membawamu setelah beberapa orang berhasil membawa Erlan ke rumah sakit terdekat, tapi mobil itu sudah terbakar dan Tante pikir ...."


"Tante pikir apa? Aku sudah mati?" lontar Ersya dingin.


Tante Ratih hanya diam dan menangis tanpa mengatakan apapun.


"Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar kisah sedih itu lagi, karena semua itu hanya kebohongan." sergah Ersya, sosoknya yang lembut dan bijaksana tiba-tiba menghilang.


"Apa maksudmu, Kak? Aku yakin tante Ratih mengatakan yang sebenarnya." hardikku, tak terima dengan perlakuan Ersya kepada tante Ratih.


Meskipun tante Ratih bersikap buruk padaku sebelumnya, tapi aku tahu itu semua karena tante Ratih di kuasai amarah yang belum aku ketahui penyebabnya.


"Kau tidak tahu, Ayasya, bagaimana rasanya hidup bersama orang lain ketika kau mengetahui bahwa keluarga kandungmu hidup bahagia tanpa dirimu!" sinis Ersya.


"Aku tahu, Kak, kalau ada yang lebih memahami rasa sakit itu. Akulah orangnya!" jawabku sembari menghapus air mata yang terus menerus mengalir di pipiku.


Bayangan kebahagiaan keluarga Kafeel yang begitu sempurna membuatku semakin sesak dan kesulitan bernafas, tapi aku belum bisa memastikan kebenaran itu karena kondisi tante Ratih yang belum memungkinkan.


"Kau?" Ersya menatapku tak percaya.


"Iya, aku, Kak! Aku adalah anak yatim piatu yang di buang oleh seseorang ke panti asuhan ini. Beruntungnya aku bertemu kak Erlan yang bersedia menjadi temanku hingga akhir hayatnya."


"Aku pikir kau ...," Ersya tak bisa melanjutkan kalimatnya, entah apa yang menghentikan bibirnya untuk bicara.


"Tidak, Ersya! Ayasya adalah salah satu anak di panti ini. Karena dia jugalah Erlan sembuh dari traumanya, tapi sayangnya dia melupakan masa lalunya sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan ibuku membiarkan hal itu agar Erlan bisa menjalani hidupnya dengan baik." jelas tante Ratih, suaranya mulai terdengar stabil.

__ADS_1


"Erlangga trauma?" gumam Ersya, dia tak percaya dengan ucapan tante Ratih.


Tiba-tiba, tante Ratih berdiri dan mengambil sesuatu di dalam lemari dokumen. "Ini!" Tante Ratih memberikan sebuah amplop berukuran cukup besar kepada Ersya. "Kau seorang polisi. Kau pasti tahu apa artinya itu." ucap tante Ratih.


Ersya mengeluarkan sebuah foto x-ray dari dalam amplop tersebut dan mengamatinya sesaat sebelum dia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam amplop yang sama. Wajah terkejutnya membuatku mengerti bahwa apa yang di lihatnya bukanlah hal sepele.


"Astaga, Erlangga!" pekik Ersya. "Aku salah sudah cemburu kepadamu, ternyata kau juga mengalami masa yang buruk." lirihnya.


Aku tidak ingin tahu apa isi amplop itu. Bukan karena aku tidak menyayangi kak Erlan, tapi karena aku tidak ingin mengingat rasa sakit yang di alami kak Erlan. Dimana hal itu hanya akan membuatku sedih dan tentunya juga membuat jiwa kak Erlan tidak tenang.


"Ersya, hidup Erlangga tidak seindah yang kau bayangkan." Tante Ratih memberanikan diri untuk menghampiri Ersya. "Hanya saja, dia beruntung karena telah menemukan Ayasya dalam hidupnya."


Pandangan Ersya tertuju padaku dan membuatku salah tingkah. "Aku juga beruntung bertemu dengan kak Erlan, Tante." lontarku.


Aku pikir tante Ratih akan memelukku, tapi aku salah. Tante Ratih justru menatapku penuh kebencian.


"Tapi sekarang, kau sudah memberikan alasan bagiku untuk membencimu!" sinis tante Ratih. "Aku sungguh tidak menduga ini darimu, Ayasya!" teriak tante Ratih.


"Tante ... Tante sudah salah paham kepada Aca." Aku mencoba membujuk tante Ratih dengan meraih tangannya, tapi tante Ratih langsung menghempaskan tanganku.


"Salah paham apa? Kau membuat ibuku malu dengan menjadi wanita perebut suami orang!" tuduh tante Ratih, matanya bahkan tidak berkedip sekalipun ketika mengatakan hal menyakitkan seperti itu padaku.


Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, Tante, Aca tidak merebut suami siapapun!"


"Jangan berbohong, Ayasya! Kau menikah lagi dengan suami orang dan menjadi istri kedua, kemudian kau dan suami barumu itu merencanakan untuk menghabisi anaknya Erlan yang bahkan belum lahir. Kau sungguh tidak memiliki hati, Ayasya!" Kata-kata menyakitkan itu terlontar begitu saja dari bibir tante Ratih yang selama ini selalu menyanjungku.


"Tidak, Tante, itu tidak benar!" sanggahku, berharap tante Ratih mendengarkan diriku walau hanya sesaat.


Tante Ratih kembali mengambil sesuatu di dalam lemari dokumen dan melemparkan beberapa lembar kertas ke wajahku. "Kau tidak akan bisa menyangkalnya lagi!"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2