
"Matamu sangat indah, Ayasya."
Kalimat itu sering sekali terlontar dari orang-orang terdekatku, mereka begitu menyukai mataku yang indah menurut mereka. Walaupun aku merasa jika tak ada yang berbeda dari mataku ini, tapi sekarang aku tahu bagaimana rasanya memandang sepasang mata yang di penuhi cinta, kehangatan, kepolosan dan benar-benar murni tanpa kepalsuan.
Sepasang mata yang sejak tadi menyihirku mulai menurunkan pandangannya dan tersungging senyuman di bibir mungilnya. Aku sampai tidak bisa melepaskan pandanganku dari wanita itu.
"Silahkan!" jawab wanita itu akhirnya, setelah kami hanya saling memandang satu sama lain.
Aku tersenyum begitu mendapat tanggapan darinya, tanpa ragu aku langsung duduk di sebelah wanita itu. "Anda sangat cantik, Nyonya."
Wanita itu menoleh, dan lagi-lagi menyunggingkan senyuman yang indah. Wajah yang begitu tenang dan lembut hingga menimbulkan kehangatan di hatiku.
"Benarkah? Tapi aku sudah tua." ucapnya dengan kekehan yang menyiratkan gurauan dalam ucapannya.
"Itulah yang aku maksud, Nyonya, anda sangat cantik meskipun anda sudah tua."
Awalnya aku pikir wanita itu akan marah, tapi dia justru tertawa mendengar ucapanku. "Kamu mengingatkanku pada suamiku, dia selalu memuji sebelum menjatuhkan orang lain."
Kami pun tertawa dan terlibat percakapan yang cukup menyenangkan meski kami tidak saling mengenal satu sama lain, hingga seseorang memanggil wanita itu dari kejauhan.
"Maya!!!"
Seorang pria melambaikan tangannya dan berjalan ke arah kami. Aku memicingkan mataku untuk melihat wajah pria itu. Namun, aku di buat terkejut oleh sosok yang kini semakin dekat dengan kami.
"Daffin?" Nama itu bukan keluar dari bibirku, melainkan dari bibir wanita cantik yang duduk di sampingku.
Dahiku mengernyit. "Kau Maya?"
Wanita itu menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Kita belum berkenalan, ya? Namaku Maya. Siapa namamu?"
"Maya? Apa yang kau lakukan disini bersama ...," tanya Daffin yang kini sudah bergabung bersama kami. "Bintang laut ini." sambung Daffin setelah mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Aku bukan bintang laut! Namaku Ayasya! Ingat itu!"
"Jadi, namamu Ayasya?" Suara lembut Maya mengingatkanku jika bukan hanya ada aku dan Daffin di tempat ini.
Habis sudah, aku bahkan kehilangan wibawaku di hadapan orang asing hanya karena ulah Daffin yang menyebalkan. "Iya, Nyonya."
"Nama yang indah." puji Maya, dia bahkan membelai rambutku. "Jangan memanggilku seperti itu! Panggil saja aku Maya." pintanya kemudian.
__ADS_1
"Tapi -"
"Maya memintamu melakukannya, maka lakukan saja!" Daffin menyela ucapanku seenaknya saja. Jika tidak ingat ada Maya disini, aku pasti sudah membalasnya.
"Baiklah, Tuan Plankton."
"Kau!!!"
"Hei, apa kalian saling mengenal? Sepertinya kalian sangat akrab?" tanya Maya, di sela perang ejekan yang terjadi antara aku dan Daffin.
"Tentu saja, Maya! Dia ini -"
Aku langsung menyela ucapan Daffin. "Aku tetangganya Daffin, Maya. Rumah kami berhadapan."
Raut wajah Daffin langsung berubah saat aku mengatakan hal itu, tapi biarlah. Aku tidak ingin orang lain berpikiran buruk tentangku jika mereka tahu aku adalah istri kedua Daffin.
"Daffin?" panggil Maya, tangannya menyentuh tangan Daffin yang masih berdiri dengan tatapan tajam yang di tujukan padaku.
Jujur saja saat mendengar Maya memanggil Daffin seperti itu, aku jadi teringat kak Reena yang selalu melakukan hal itu setiap kali Daffin sedang marah.
Daffin terkesiap karena merasakan sentuhan dari Maya. "Maaf, Maya! Ayo, kita masuk ke dalam! Daddy mencarimu. Ayah dan Reena juga memintamu untuk bergabung."
"Daffin, kau tahu aku tidak suka keramaian. Aku lebih suka di sini. Sampaikan saja salamku pada tuan besar Stevano." tolak Maya, caranya menolak Daffin begitu lembut.
Aku pikir Daffin akan memaksa Maya atau mungkin mengancamnya seperti yang biasa dia lakukan padaku, tapi Daffin justru tersenyum dan menyetujui keinginan Maya. "Baiklah, Maya. Nikmati waktumu."
Sungguh, aku harus banyak belajar dari Maya untuk bisa menaklukkan sikap tirani Daffin agar dia tidak bisa memaksakan kehendaknya lagi padaku. Aku sampai tidak bisa menutup mulutku melihat kepatuhan Daffin terhadap Maya.
"Ayo, masuk! Untuk apa kau disini? Kau hanya akan mengganggu Maya." Daffin menarik tanganku dengan kasar.
"TIDAK!!!" Aku kehilangan kendali atas diriku hingga berteriak dan membuat Maya menutup telinganya. "Astaga! Maafkan aku, Maya."
Aku di buat salah tingkah oleh sikapku sendiri, tapi hal itu justru memicu tawa Daffin. Dia pasti sangat senang melihatku yang terlihat seperti orang bodoh.
"Tidak baik menertawakan seorang wanita seperti itu, Daffin." ucap Maya yang langsung menutup mulut Daffin.
Aku benar-benar harus berguru pada Maya untuk mengubah jalan hidupku di masa depan, atau aku bisa meminta bantuannya untuk melepaskan diri dari jeratan aneh Daffin.
"Dia memang selalu seperti itu, Maya." Aku memasang wajah muramku agar mendapat simpati dari Maya.
__ADS_1
"Jangan mencoba meracuni pikiran Maya, Ikan buntal! Sekarang pergilah ke dalam dan temui Reena." sergah Daffin dengan wajah menyebalkan yang membuatku ingin melahapnya hidup-hidup.
Kesal dengan ucapan Daffin, aku pun langsung berdiri. "Plankton menyebalkan! Sampai jumpa lagi, Maya."
Setelah mengatakan itu aku langsung berjalan untuk kembali ke pesta dan meninggalkan Daffin bersama Maya yang hanya tersenyum melihat kekonyolan kami berdua.
Sebelum masuk ke dalam gedung, aku sempat berbalik dan melihat Daffin sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan Maya. Aku juga melihat Maya membelai kepala Daffin, kemudian Maya mencium keningnya. Sepertinya Maya sangat dekat dengan Daffin, kasih sayang yang di tunjukkan Maya begitu besar terhadap Daffin. Ah, andai saja aku memiliki seorang ibu seperti Maya.
***
"Daffin, siapa Maya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Daffin.
Sekarang kami sudah berada di dalam mobil yang menuju ke rumahku karena kak Reena memutuskan untuk menginap di rumah kedua orang tuanya. Aku rasa ada yang tidak beres antara Daffin dan kak Reena. Mungkinkah aku penyebabnya?
"Maya? Kenapa kau ingin tahu?" Daffin tidak menjawab pertanyaanku, dia bahkan tidak mengalihkan perhatiannya dari kemudi mobil.
"Tidak bolehkah aku mengetahui tentang Maya? Kalau begitu, dimana Shaka? Kenapa dia tidak menjadi bayanganmu?"
Daffin menoleh dan langsung menatapku tajam. "Lebih baik kita membahas Maya."
'Dasar pria aneh!!!'
"Terserah kau saja. Kau rajanya!"
"Maya adalah ibu tirinya Reena. Dia istri pertama tuan Kafeel, ayahnya Reena." jelas Daffin.
"Apa? Maksudmu, ibunya kak Reena adalah istri kedua? Nyonya muda? Sepertiku?"
'Apakah ini kutukan keluarga?' Ah, pertanyaan itu hanya berhenti di pikiranku dan tak bisa aku lontarkan dari bibirku.
Tanpa di duga, serbuan rasa penasaranku membuat decakan di bibir Daffin. "Kau suka di bandingkan dengannya?"
Apa maksud ucapan Daffin? Kenapa aku merasa dia tidak menyukai ibunya kak Reena? Bukankah dia adalah ibu mertuanya? Ada apa ini?
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1