
Perasaan hangat melingkupi hatiku sepanjang malam. Tanganku memeluk erat buket bunga yang di bawakan Daffin. Aku terus menciumi bunga indah yang di berikan Daffin, tapi bukan karena aroma bunganya yang aku sukai melainkan aroma tubuh Daffin yang menempel di indera penciumanku.
"Aku mencintaimu, Daffin ...."
Dan malam itu, mimpi indah menghiasi tidurku hingga pagi menjelang.
***
"Apa yang kau lihat?" tanyaku dengan dahi berkerut karena Daffin terus memandangku dengan tatapan yang aneh.
"Tidak bisakah kau mengganti pakaianmu, Nyonya Stevano? Aku agak sedikit khawatir matahari akan merasa terganggu karena takut kalah cantik darimu hingga dia akan menyengat kulitmu." Daffin menyelipkan rambutku yang sengaja terurai.
Hari ini, aku mengenakan dress putih dengan bahu terbuka. Aku juga berdandan semaksimal mungkin untuk membuat Daffin terpukau dan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah memilihku. Bukan hanya Reena yang bisa tampil cantik dan elegan, tapi aku juga bisa.
Bibirku menyunggingkan senyuman. "Matahari sudah tidak bermusuhan denganku."
"Hah!" Daffin menghembuskan nafasnya kasar. "Aku lebih suka jika kau bermusuhan dengan matahari." keluhnya.
Biarlah Daffin terus bergumam tidak jelas, karena aku tahu betul apa yang dia gumamkan hanyalah karena rasa posesifnya yang berlebihan.
"Jadi? Apa kita akan tetap disini?" tanyaku seraya mengangkat kedua bahuku.
Daffin meraih tanganku dan menggandengku. "Tidak! Kita akan berpamitan pada ayah dan ibumu dulu."
Dahiku mengernyit. "Benarkah? Aku pikir kau akan membawaku secara diam-diam."
"Kau pikir aku penculik?" seloroh Daffin, tawa menyembul dari bibir sensualnya.
"Siapapun akan berpikir seperti itu karena semalam kau datang melalui jendela kamarku dan pagi ini pun kau melakukan hal yang sama," sahutku acuh.
Daffin menghentikan langkahnya dan menoleh untuk menatapku. "Itu karena aku ingin merasakan bagaimana perjuangan mendapatkan restu dari ayah mertua."
"Konyol!!!" umpatku, lalu berjalan mendahului Daffin yang justru terkekeh di belakangku.
Walaupun aku menunjukkan kemarahan dan rasa kesalku di hadapan Daffin, tapi sejujurnya di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku bahagia bisa menjalani masa-masa seperti ini bersama Daffin. Dia cinta pertamaku dan pengalaman pertamaku menjalani hubungan di atas cinta.
"Selamat pagi, Sayang," sapa ibu, mengejutkan aku yang masih larut dalam lamunan.
Aku tersenyum kikuk. "Pagi, Bu."
"Kau mau kemana, Lily?" tanya ayah, matanya memicing ketika menatapku.
"Aku akan membawanya untuk bersenang-senang, Ayah mertua," lontar Daffin yang baru memasuki ruang makan.
Mata ayah terbelalak melihat Daffin yang sudah berdiri di hadapannya, tanpa rasa takut sedikitpun.
"Daffin? Bagaimana kau bisa masuk? Apa kalian berdua semalam tidur bersama?" tanya ayah panik.
Mata biru Daffin mengerling padaku. "Aku yakin nyonya Stevano merindukan hal itu, Ayah."
Apa katanya? Aku merindukan tidur bersamanya? Heh! Aku rasa dialah yang tidak sabar untuk mengalahkan aku.
Sudut mataku melirik tajam ke arah Daffin sebelum menjawab kekhawatiran ayah. "Ayah, aku dan Daffin tidak tidur bersama. Dia datang ke kamarku pagi ini atas permintaanku. Entah kenapa, bayiku terus saja menendang perutku. Aku pikir mungkin dia merindukan ayahnya."
Aku mengusap perutku yang besar dengan lembut dan menatap ayah penuh harap. Berharap ayah akan mempercayai alasanku yang menggunakan putraku. Maafkan ibumu yang bodoh ini, Sayang!
"Reyno, biarkan mereka pergi! Apa kau ingin cucu kita kekurangan kasih sayang dari ayahnya seperti yang di alami oleh ibunya?" Ibu menyentuh tangan ayah yang langsung mengerjap.
Bagus sekali! Itu baru ibuku.
Ayah terlihat berpikir lalu berdiri dan menghampiri Daffin. "Baik! Pergilah, tapi ingat untuk tidak membuat putriku marah apalagi sedih!"
"Tentu, Ayah! Senyum dan kebahagiaannya adalah tanggung jawabku."
***
Sepanjang perjalanan, aku terus bertanya pada Daffin kemana dia akan membawaku. Namun, sayangnya Daffin tetap bungkam dan hanya menjawabku dengan senyuman yang sarat akan makna.
__ADS_1
"Kau akan tahu setelah kita sampai."
Hanya kalimat itu yang terus di ucapkan Daffin setiap kali aku bertanya. Dan sebenarnya jawabannya itu hanya membuatku semakin penasaran saja.
Bosan bertanya terus pada Daffin, akhirnya aku memutuskan untuk menatap ke luar jendela. Ada banyak pemandangan yang indah berdampingan dengan pemandangan yang memilukan. Semua hal itu mengingatkan aku bahwa kehidupan setiap orang selalu melewati fase yang berbeda-beda.
Ketika aku melihat sebuah danau dan juga taman yang cukup ramai berada di sisi jalan ketika mobil Daffin memasuki sebuah kompleks perumahan, aku baru menyadari jika Daffin membawaku ke rumah lamanya.
"Daffin, ini ...," Aku bertanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku bisa merasakan kehangatan tangan Daffin di pipiku. "Iya, Nyonya Stevano, disini tempat kita bertemu dan menjadi tetangga hingga akhirnya menjadi suami istri. Lingkungan ini secara tidak langsung menjadi saksi bisu penyatuan cinta kita."
"Kau benar, Daffin," lirihku di barengi air mata yang meluncur bebas dari mataku.
Kali ini, Daffin tidak menghapus air mataku. Dia melakukan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya, Daffin menciumi air mataku yang berjatuhan di pipiku.
"Jangan menangis, Nyonya Stevano! Aku tidak bisa melihatmu bersedih seperti ini." Daffin menangkup kedua pipiku. "Tinggalkan semua kesedihan di belakang! Ayo, berbahagialah untuk menapaki masa depan kita!" seru Daffin.
Aku mengangguk untuk menyetujui ucapan Daffin. Mulai sekarang aku harus meninggalkan serta melupakan masa lalu agar aku bisa memulai hidup yang baru.
***
Mobil Daffin memasuki sebuah rumah besar yang selalu menjadi pemandangan pertamaku setiap pagi saat kak Erlan masih hidup dulu. Tepat sebelum mobil Daffin memasuki halaman rumahnya, aku sempat menoleh ke arah rumahku yang berada di seberang jalan. Ah, aku jadi teringat tentang kak Erlan.
Suara pintu mobil yang terbuka memaksaku kembali ke alam nyata dan melupakan lamunanku. Aku menoleh dan melihat Daffin sudah mengulurkan tangannya padaku. Tanpa sepatah katapun, aku lantas menyambut tangan Daffin dan melangkah keluar dari mobil.
Rumah besar keluarga Stevano yang dulu pernah mengurungku dan menjadi tempat kepergian kedua putraku, kini sudah berdiri kokoh di hadapanku. Di depannya berbaris para pelayan dan juga para pengawal yang berpakaian rapih.
"Halo, apa kabar semuanya?" sapaku ramah dengan melambaikan tangan.
Mereka semua hanya mengangguk dan memberikan hormat sehingga aku pun tak bisa melanjutkan basa-basiku.
"Ayo, masuk!" Daffin menarik tanganku untuk mengikutinya.
Baru saja satu langkah memasuki rumah, ingatan serta kenangan buruk yang pernah aku alami berkelebatan bagaikan sebuah film di kepalaku.
Aku mengerjap dan langsung tersenyum kaku. "Ah, iya, Daffin."
"Ayo!!!" ajaknya seraya melangkah ke ruang bacanya.
Di dalam ruang bacanya, Daffin melepaskan kaitan tangan kami dan berjalan ke mejanya lalu mengeluarkan sebuah dokumen kemudian memberikannya padaku.
"Apa ini?" tanyaku, ketika menerima dokumen tersebut.
"Akta ceraiku dengan Reena." Daffin melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di ujung meja.
Aku membaca dengan teliti dokumen yang ada di tanganku. Disini tertulis jelas jika Daffin dan Reena sudah resmi bercerai.
Pandanganku naik dan bertemu dengan mata biru Daffin. "Akta cerai ini tidak cukup untuk meyakinkan aku, Daffin."
Daffin menyeringai dan berdecak. "Sudah ku duga."
Tangan Daffin meraih intercom yang ada di atas mejanya dan memanggil beberapa pelayan. Tak lama berselang para pelayan itu datang dengan wajah-wajah tegang mereka.
"Lepaskan semua potret yang ada di rumah ini, terutama potret mantan istriku. Jangan sampai ada yang tersisa!" Daffin menunjuk sebuah potret berukuran besar yang menunjukkan kebahagiaan sebuah pesta pernikahan.
Aku menghela nafas dan terus menatap Daffin tanpa mengatakan apapun karena para pelayan itu masih di ruangan ini. Mereka bekerja dengan sangat cekatan. Dalam sekejap, semua potret Reena dan Daffin sudah terkumpul di hadapan kami.
"Sudah selesai, Tuan," ucap kepala pelayan.
Daffin berkacak pinggang. "Kau yakin sudah semua? Tidak ada yang bersisa?"
"Iya, Tuan," jawab kepala pelayan itu.
"Good ! Bakar semuanya!" titah Daffin, langsung menarik tatapan bingung para pelayan.
Bukan hanya para pelayan itu yang terkejut, tapi aku juga. Namun, aku tetap bungkam dan menunggu Daffin menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Para pelayan lantas membawa potret-potret itu keluar dari ruang baca Daffin.
"Kenapa di bakar, Daffin?" tanyaku, begitu para pelayan meninggalkan ruangan.
Daffin melangkah dan mengurangi jarak di antara kami. "Karena aku ingin menghapus masa laluku dan mengisinya dengan dirimu."
Astaga!!! Aku meleleh seperti lilin.
"Tapi kau hanya menyingkirkan potretnya bukan orangnya!" sergahku, masih tersisa sedikit keraguan di hatiku.
Belum sempat Daffin menjawab, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Maaf, Tuan, pembelinya sudah datang." ucap pria itu dengan sedikit membungkuk.
"Baiklah, bereskan urusan dengannya! Aku akan kesana sebentar lagi." Daffin menganggukkan kepalanya sekali.
Pria itu membungkuk hormat sebelum keluar ruangan lalu pergi tanpa menoleh.
Kedua alisku menukik tajam ketika menatap Daffin. "Pembeli apa, Daffin?"
"Pembeli rumah ini." Daffin tersenyum penuh arti.
"Kau menjual rumah ini? Kenapa? Bukankah kau sudah memberikan rumah ini kepada gurita betina itu?" tanyaku, masih bingung dengan semua keputusan Daffin.
Daffin mencubit hidungku. "Aku tidak ingin ratuku terus cemburu dan marah padaku setiap waktu hanya karena masalah sepele. Aku memutuskan untuk menjual rumah ini karena tidak ingin di masa depan nanti Reena akan membuat masalah. Rumah ini di beli saat aku baru saja menikah dengannya, maka aku harus memberikan rumah ini padanya. Namun, dia salah mengartikan maksudku. Jadi lebih baik rumah ini aku jual, tapi aku akan tetap menyerahkan hasil penjualan rumah ini kepada orang tua kandungnya. Dan tentang anak perusahaan yang aku berikan untuknya, aku berubah pikiran dan akan menggantinya dengan sebuah perkebunan di desa tempat tinggal orang tuanya Reena."
Bola mataku bergerak mengamati manik mata Daffin. "Kau yakin? Tidakkah rumah ini memiliki banyak kenangan untukmu?"
"Kenangan menyakitkan. Hanya penyesalan dan kepalsuan yang ada di rumah ini, Nyonya Stevano," lirih Daffin.
Aku mengerti maksud Daffin dan aku pun tak ingin membahasnya. Lebih baik kami berdua melupakan masa lalu dan fokus menata hidup kami ke depannya.
"Nyonya Stevano?"
"Ya?"
"Apa yang akan kau lakukan dengan rumah lamamu?" tanya Daffin ragu.
Aku menarik nafas dalam. "Entahlah!"
Daffin meraih tanganku. "Aku melupakan semua masa laluku untuk hidup bahagia bersamamu di masa depan. Tidak bisakah kau melakukan hal yang sama?"
Ucapan Daffin begitu menohok hatiku. Dia menuntutku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan, tapi kenapa aku merasa begitu sulit untuk melakukannya.
"Daffin ...."
"Aku tidak akan memaksamu. Aku tahu Erlangga sudah tiada dan tidak akan pernah mengganggu rumah tangga kita, tapi aku tidak ingin berbagi hatimu dengan kenangannya." Daffin menatap lekat manik mataku.
Kenangan? Hanya itu yang aku miliki tentang kak Erlan, tapi jika hal itu bisa melukai Daffin, maka aku harus rela untuk melepaskannya.
"Aku mengerti, Daffin, tapi aku tidak bisa menjual rumah lamaku seperti yang kau lakukan." Tatapanku turun untuk menghindari tatapan tajam mata Daffin.
"Kenapa?" tanya Daffin penuh penekanan.
"Rumah itu di beli kak Erlan dengan susah payah dan aku tidak bisa menjualnya begitu saja. Lagi pula, aku tidak memiliki hak apapun lagi terhadap rumah itu." Kepalaku masih tertunduk dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mataku. "Aku ... aku akan menyerahkan rumah itu kepada keluarga Kencana." ucapku.
Daffin langsung merengkuh tubuhku yang bergetar karena menangis hebat. Tidak ada yang dia katakan, hanya usapan lembut tangannya yang menenangkan aku.
Keputusanku dan Daffin hari ini adalah awal kami memulai kehidupan yang baru tanpa adanya rahasia serta kepalsuan.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1