Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PEMBALASAN


__ADS_3

"Bukan hanya mereka, aku pun kecewa padamu."


Pandangan kami semua seketika bertumpu pada sosok ayah Daffin yang sedang melangkahkan kakinya untuk menghampiri tuan Kafeel. Dia sempat menepuk bahu om Rei ketika berpapasan dengannya.


"David ... kau di sini?" lirih ibu.


Daddy David tersenyum kecut ketika pandangannya bertemu dengan ibu. "Hah, Maya! Aku sungguh menyesal karena memilih menyerah untuk memperjuangkanmu. Seharusnya aku mengikuti keinginan Daffin untuk memaksamu menikah denganku. Lihat dia! Dia bahkan telah berhasil menjebak putrimu untuk menikah dengannya."


Ucapan daddy David menarik bola mataku untuk menatap Daffin yang tengah tersenyum dengan bangga, seolah apa yang baru saja di ucapkan ayahnya adalah sebuah pujian.


"Kau pikir itu suatu pencapaian!" sinisku, dengan wajah memberengut sempurna.


Daffin hanya melirikku sekilas, kemudian kembali melihat ke arah para orang tua. "Bukankah kau sudah mendengarnya? Daddy sendiri mengakui bahwa dia tidak bisa melakukan apa yang aku lakukan, Nyonya Stevano."


Aku hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan Daffin. "Karena dia pria yang baik dan jujur!"


Sebelum emosiku kembali naik, aku lebih memilih untuk mengamati percakapan antara Daddy David dan juga kedua orang tuaku.


Tuan Kafeel ternyata sedang menatapku ketika aku mengalihkan pandanganku padanya. Dia terlihat begitu terpuruk dan merasa bersalah, semua itu terlihat sangat jelas di matanya.


"Jangan menatapku! Kau hanya akan memberikan pandangan buruk kepada putraku!" sungutku, membuat tuan Kafeel menurunkan pandangannya.


"Nyonya Stevano ...," panggil Daffin lembut.


Sekarang aku mulai memahami, ternyata Daffin tidak menyukai jika aku berbicara kasar kepada orang tuaku, tapi aku bisa apa? Kebencianku pada laki-laki yang mulai menua di hadapanku ini lebih besar daripada rasa rinduku akan sosok ayah yang amat sangat aku harapkan kehadirannya dalam hidupku.


Aku beralih menatap daddy David yang terlihat terkejut dengan sikapku. "Maaf, Daddy, aku hanya ...,"


"Tidak masalah, Lily, aku tahu kau pasti sangat kecewa kepada ayahmu. Jangankan dirimu, aku saja sangat kecewa atas sikapnya padamu dan juga ibumu." ucap daddy David, wajahnya terlihat muram.


"Kau benar, David! Aku telah mengecewakan banyak orang, tapi aku berjanji akan memperbaiki semuanya." tutur tuan Kafeel, dia meraih tangan ibu dan mendekapnya di dada. "Aku mohon kembalilah, Maya! Temani aku memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan." pintanya.


Apa yang dia katakan barusan? Wah, pak tua ini benar-benar menguji kesabaranku. Dia yang berbuat kesalahan dan sekarang dia meminta ibuku untuk ikut memperbaiki kesalahan yang telah dia buat.


"Tidak bisa! Ibu akan kembali bersamaku." tegasku, seraya berdiri dan menghampiri ibu.


Dengan kasar aku memaksa ibu melepaskan pertautan tangannya dengan tuan Kafeel dan meminta ibu untuk berdiri di belakangku.

__ADS_1


"Lily, kau menyakiti ibumu!" ucap tuan Kafeel, matanya terfokus pada tanganku yang masih mencengkram tangan ibu dengan kuat.


"Aku? Menyakiti ibu? Kau! Kau yang sudah menyakiti ibuku! Aku hanya melindungi ibuku dari pria jahat seperti dirimu, Tuan Kafeel." hardikku, dengan tatapan menantang.


Tuan Kafeel melemah. Dia cukup tahu diri untuk tidak berdebat denganku. "Baiklah, Ayah memang salah! Tapi bisakah kau beritahu Ayah, apa yang harus Ayah lakukan agar kau dan ibumu kembali kepada Ayah?"


Sudut bibirku menarik senyuman, tapi tak selaras dengan sorot mataku. Ada kobaran api di hati dan pikiranku yang siap membakar siapa saja yang telah berani menyulutnya.


"Kau yakin akan melakukan apapun?" tanyaku dengan mata memicing.


Tanpa ragu tuan Kafeel menganggukkan kepalanya. "Tentu, Lily! Tentu!!!"


"Aku ingin kau mengembalikan semua yang telah kau berikan padaku dan juga ibuku kepada Reena dan juga ibunya. Mereka harus merasakan apa yang aku dan ibuku rasakan selama ini. Kau bisa melakukannya?" Aku menggunakan sedikit penekanan dalam ucapanku.


Sesaat tuan Kafeel menatap ibu sebelum menjawab, "seperti yang kau inginkan, Putriku."


"Aku bukan putrimu, selama masih ada putrimu yang lain!" sergahku, kemudian berbalik dan sedikit memaksa ibu untuk mengikuti langkahku.


"Tunggu, Lily! Kita semua tahu bahwa Reena bukan putriku." tegas tuan Kafeel, dia bahkan mencoba menangkap pergelangan tangan ibu.


Aku menoleh dan melihatnya menaruh harap di bola matanya. Untuk sesaat, aku mengerti jika darah memang lebih kental daripada air. Hatiku terenyuh melihat ayahku dalam keadaan menyedihkan seperti itu, tapi aku juga harus menunjukkan padanya bahwa aku tidaklah lemah.


"Maksudmu ... kau ingin agar Ayah memberi tahu semua orang kebenaran tentangmu dan juga Reena?" tanya tuan Kafeel, ada sedikit keraguan dalam kata-katanya.


"Jika kau takut hal itu akan mempengaruhi reputasimu, maka jangan lakukan! Karena aku hanya butuh ayah yang berani melakukan apapun demi putrinya bukan reputasinya."


***


Selama perjalanan kembali ke rumah, di dalam mobil aku terus menyunggingkan senyuman hingga Daffin sepertinya tak tahan lagi untuk menggangguku.


"Aku benar-benar iri pada orang yang telah membuatmu tersenyum semanis itu," seloroh Daffin, dia sesekali mengalihkan pandangannya dari kemudi mobil.


Sudut bibirku semakin tertarik. "Iya, karena kau lebih suka jika melihatku marah."


Daffin mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangannya. "Astaga! Kau ini seperti katak dalam tempurung. Selalu melihat sisi gelap."


"Kau sedang mengejekku? Karena setahuku katak itu berwajah jelek," sungutku. Namun, senyuman tetap bertahan di wajahku.

__ADS_1


"Jelek tapi menggemaskan," ucap Daffin manja dan memajukan bibirnya seolah ingin menciumku.


Ya Tuhan, apalagi ini? Apa Daffin sengaja melakukan itu karena ingin menggodaku.


Aku mencebik untuk menyembunyikan semburat malu di wajahku. "Terserah!"


"Nyonya Stevano?" panggil Daffin.


"Iya?" Aku menoleh dan melihat Daffin masih fokus mengemudi.


"Apa kau sungguh yakin ingin ayahmu melakukan itu pada Reena dan ibunya?" tanya Daffin hati-hati.


"Kenapa? Kau tidak tega padanya? Kau ingin melindunginya?"


Flashback on ...


"Baiklah! Ayah akan melakukan semua yang kau inginkan, Lily." ucap tuan Kafeel yakin. "Beritahu Ayah, apa yang kau ingin Ayah lakukan pada Reena dan Anna?" tanyanya.


Aku melepaskan tangan ibu dan berdiri berhadapan dengan tuan Kafeel. Manik mata tuan Kafeel menatapku lekat hingga aku bisa melihat bayanganku di dalam matanya. Andai saja situasinya tidak seperti ini, aku pasti sudah menghambur untuk memeluknya.


"Pertama, usir Reena dan ibunya dari rumahmu karena hanya ibuku yang berhak untuk menjadi nyonya di rumah itu. Kedua, aku ingin semua saham yang telah kau berikan pada Reena agar berpindah menjadi milikku seutuhnya. Dan yang ketiga, aku ingin kau mengatakan kepada seluruh dunia bahwa Reena bukanlah putrimu. Aku! Hanya aku, yang telah di lahirkan oleh istri sahmu yang akan di akui oleh semua orang." tuturku berapi-api.


Tuan Kafeel terlihat ragu, tapi segera dia mengerjap dan menatapku. "Sesuai keinginanmu, Lily."


"Tunggu! Ini tidak semudah yang kau bayangkan karena aku ingin kau mengatakannya di depan media."


Flashback off ...


Tangan besar Daffin mengusap pipiku dengan lembut. "Aku tidak peduli padanya, tapi aku peduli padamu! Pada anak kita! Aku tidak ingin terjadi hal buruk pada kalian."


Aku menghela nafas cukup panjang untuk melepaskan beban di hatiku. "Aku tidak ingin membuat bakteri seperti Reena tumbuh subur hanya karena aku melepaskannya begitu saja. Dia harus merasakan apa yang aku dan ibuku rasakan. Bagaimana rasanya tidak di akui, bagaimana rasanya hidup sulit tanpa uang, dan bagaimana rasanya di permalukan di depan umum karena tidak memiliki orang tua. Beruntung aku tidak meminta tuan Kafeel untuk mengirimnya ke panti asuhan atau panti jompo." Bibirku mengerucut karena merasa Daffin masih mengkhawatirkan mantan istrinya itu.


"Iya ... iya! Nyonya Stevano memang baik hati." Satu usapan lembut di rambutku, di susul dengan mendaratnya bibir Daffin di atas puncak kepalaku. "Ayo, pulang! Aku ingin memberikan bonus yang sudah aku janjikan padamu."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😘

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2