Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
AYAH PILIHAN


__ADS_3

Rumah tangga yang aku bangun bersama Daffin di atas sebuah paksaan membuatku tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana reaksi ayah mertuaku ketika dia tahu tentang pernikahanku dengan putranya. Selama ini, aku hanya terfokus pada Daffin dan semua perlakuannya padaku. Aku lupa untuk mempertimbangkan perasaan ayahnya Daffin yang bahkan tidak pernah melihat wajahku, walaupun kami sebenarnya pernah bertemu di acara ulang tahun DS Corp dan aku yakin saat itu dia tidak menyadari kehadiranku.


"Tidak perlu mengatakan apapun, karena aku percaya buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya." ucapnya lembut setelah melepaskan pelukannya.


Sungguh, aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa karena aku tidak menduga jika ayahnya Daffin akan menerimaku semudah itu meskipun dia tahu aku sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga putranya.


Aku tertunduk malu ketika ayahnya Daffin menatapku. "Maaf, Om -"


"Daddy!" sergah ayahnya Daffin, dia membelai rambutku dengan lembut. "Panggil aku Daddy!" pintanya.


"Tapi -" Aku mencoba menolaknya, tapi ayahnya Daffin tetap bersikeras.


"Tidak ada penolakan! Kau baru saja menjadi menantu keluarga Stevano, tapi kau sudah berani menolakku?" Nada bicaranya membuatku tersentak hingga sedikit bereaksi dengan melangkah mundur.


"Dad! Kau membuatnya takut!" hardik Daffin, dia segera merengkuh tubuhku dan membawaku dalam dekapannya.


Ayah Daffin berdecak. "Kau berlebihan, Daff! Aku hanya bercanda padanya. Tak ku sangka kau akan begitu melindunginya."


"Tidak lucu, Dad!" sergah Daffin, ketika terdengar kekehan dari bibir ayahnya.


"Sorry! Aku hanya ingin tahu bagaimana menantu baruku. Ternyata dia cukup tangguh, terbukti dari banyaknya perubahan dalam dirimu." ucap ayah Daffin, kemudian beralih menatap Reena yang bak raga kehilangan nyawanya. "Dan kau, pergi temui seorang sutradara dan mainkan sebuah peran! Kau sangat pandai bersandiwara." sindirnya.


"Dad, kau salah paham! Aku hanya -" rintih Reena, air mata membanjiri wajahnya.


"Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi! Panggilan itu hanya untuk putra dan menantuku. Aku menyesal telah percaya padamu hingga membuat hubunganku dengan putraku sempat renggang." tutur ayah Daffin penuh emosi.


Aku mendongak dan melihat wajah Daffin yang tak bereaksi apapun. Dia bahkan tidak bergeming sedikitpun, melainkan hanya menatap tajam apa yang sedang terjadi di hadapannya.


"Daffin?" cicitku, tak tega melihat Reena semakin terpojok seperti itu.


Hatiku mencelos ketika mengingat awal aku memasuki kehidupan mereka, Reena begitu baik padaku walaupun semua itu ternyata hanya sebuah sandiwara. Terlebih ketika aku tahu bahwa dia adalah kakakku. Rasanya aku sangat kejam bila hanya diam melihatnya di pojokkan seperti seorang penjahat.


Daffin memiringkan sedikit kepalanya untuk menatapku. "Kau butuh sesuatu?"

__ADS_1


"Ayo, kita pergi!" ajakku, dengan wajah memelas. Tak ingin perasaan bersalah semakin dalam menyiksaku.


"Baiklah." Daffin tersenyum hangat, lalu memanggil Shaka. "Urus dia! Aku akan membawa nyonya Stevano keluar." titahnya.


"Baik, Tuan," jawab Shaka datar.


Semoga saja aku salah, tapi aku melihat sedikit kesedihan dan kekecewaan yang begitu besar di mata Shaka ketika dia menatap Daffin. Ada apa ini? Apakah sesuatu telah terjadi dan tanpa di sadari oleh Daffin? Karena sepertinya dia terlihat tidak menyadari hal itu.


"Ayo, Dad!" seru Daffin seraya melangkah keluar dengan tangannya yang masih melingkar di bahuku.


***


Dua orang yang saling mencintai sejak lama memang begitu sulit untuk di pisahkan meskipun ada banyak masalah yang menghadang. Bagaikan batu karang yang tetap kokoh meski di terjang ombak ribuan kali.


Rasa cinta yang teramat dalam serta tulus membuat ibuku terlena hanya dengan satu kata maaf yang meluncur dari mulut tuan Kafeel, pria yang jelas-jelas menolak kehadiranku juga menolak mempercayai wanita yang selalu mencintai dan mendampinginya selama ini.


Aku sungguh kesal ketika Daffin membawaku ke ruang istirahat dan melihat ibuku tengah bersandar di bahu tuan Kafeel, tangannya melingkar di lengan tuan Kafeel yang masih nampak kekar meski usianya tak lagi muda.


Di sela tangisnya ibu berucap, "lupakan saja, Reyno! Semuanya telah berlalu, aku dan putri kita akan memberikan kesempatan padamu agar kita bisa hidup bahagia seperti yang selalu kita impikan."


Kesempatan? Mimpi saja kau!!!


Sebenarnya, aku sudah datang sejak tadi serta melihat betapa besar cinta kedua orang tuaku. Namun, kebencianku akan sosok ayah yang telah menolakku tak akan mungkin terhapus hanya dalam sekejap.


Sebelum hatiku pun ikut luluh oleh wajah memelas tuan Kafeel, aku memilih untuk melanjutkan langkahku meski tangan Daffin menahanku.


"Lepaskan, Daffin! Ini hidupku. Aku tidak ingin orang lain menganggapku lemah." sergahku seraya menghempaskan tangan Daffin.


Beberapa langkah semakin dekat, aku melihat sosok om Rei yang berdiri menghadap jendela besar yang menampakkan barisan gedung pencakar langit. Kedua tangannya dia selipkan di saku celananya. Sungguh miris, mengingat betapa besarnya cinta om Rei pada ibu.


"Maaf, Bu, tapi sepertinya aku tidak memiliki stok maaf sebanyak dirimu." Aku menjatuhkan tubuhku di sofa yang berhadapan dengan ibu.


Tatapan sendu dan menyayat hati terlihat di mata tuan Kafeel. Inilah yang aku takutkan, jika aku akan dengan mudahnya memaafkan pria yang telah menyia-nyiakan cinta ibuku hanya karena darahnya mengalir di tubuhku.

__ADS_1


Ibu berpindah dan duduk di sampingku. "Sayang, ayahmu sudah meminta maaf. Ibu yakin kau memiliki hati yang tulus dan mau memberikan kesempatan untuk ayahmu."


Kehangatan tangan ibu bisa ku rasakan ketika ibu meraih tanganku dan menangkupnya dengan kedua tangannya.


"Tolong jangan paksa aku! Kau tahu, Bu, untuk bisa memaafkan dirimu saja aku butuh waktu. Apalagi untuk memaafkan pria yang telah menolak kehadiranku." hardikku, seraya melemparkan tatapan terjahatku pada tuan Kafeel.


Ibu menghela nafas. "Ibu tahu, Sayang, tapi ayahmu tidak tahu apapun. Dia hanya -"


"Hanya apa, Bu? Bukankah Ibu sudah pernah datang kesini untuk memberitahu tentang aku? Tapi apa yang Ibu dapatkan? Ibu hanya mendapatkan penghinaan dan tamparan dari putri kesayangannya." Tanganku mengepal saat mengingat cerita ibu saat itu.


Tuan Kafeel terlihat sangat terkejut hingga matanya terbelalak ketika menatapku. "Apa yang kau katakan, Lily?"


"Seperti yang kau dengar," jawabku malas.


Bola mata itu berpindah menatap ibu. "Benarkah itu, Maya?"


"Kau pikir aku pandai berbohong seperti putrimu? Hah!" sergahku, merasa tuan Kafeel meragukan aku.


"Bukan begitu, Lily, Ayah hanya ingin -" Kata-katanya menggantung karena aku tiba-tiba berdiri untuk menghampiri om Rei dan bergelayut manja di lengannya.


Om Rei sedikit terkejut dan menatapku dengan dahi berkerut. "Apa yang kau lakukan, Lily?"


Aku hanya menatap om Rei penuh harap dan kembali menatap tuan Kafeel yang kini terlihat hendak menghampiriku.


"Kau bukan ayahku! Aku sudah memilih, dan aku akan meminta pada Tuhan agar menjadikan om Rei sebagai ayahku."


Hallo semuanya ๐Ÿค—


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐Ÿ˜˜


I โค U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2