Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PERUBAHAN SUASANA HATI


__ADS_3

Rasa kehilangan memang begitu menyiksa hati dan psikis seseorang. Kebiasaan bahkan mungkin ketergantungan akan kehadiran orang lain di sisi membuat diri tak mampu berdiri sendiri. Ketidakberdayaan seperti itulah yang saat ini sedang di hadapi oleh Daffin.


Sejak kepulangan kami dari rumah sakit, aku melihat Daffin terus merenung di balkon kamar tidur kami. Dia juga tidak menghiraukan aku yang begitu merindukan kehadirannya. Jujur saja, sedikitnya aku merasa cemburu pada sikap Daffin yang lebih memilih memikirkan Shaka daripada aku, istrinya yang hampir terkena serangan jantung karena berpikir bahwa dia telah meninggal dunia.


"Suamiku Sayang ...," Aku melangkah mendekati Daffin yang menumpu tangannya di pagar balkon.


Daffin tetap diam, sepertinya dia tidak mendengarku. Maka ku putuskan untuk menyentuh bahunya hingga dia pun menoleh dan memaksakan senyumnya padaku.


Aku menghela nafasku dalam. "Kau belum makan sejak tadi, Daffin, aku tidak ingin kau sakit."


"Aku tidak lapar, Nyonya Stevano," jawab Daffin dengan tatapan menerawang.


"Aku tahu kau tidak lapar, tapi kau juga harus tahu bahwa aku juga belum makan sejak tadi." Bibirku mengerucut di barengi gerakan mataku yang memelas.


Daffin mendesah. "Kenapa kau belum makan? Kau tidak memperhatikan putra kita? Dia pasti lapar."


Wajahku memberengut sempurna. "Jika kau tahu dia lapar, maka temani aku makan."


"Baiklah, aku akan menemanimu makan."


***


Sungguh aku tidak percaya ini, di ruang makan Daffin benar-benar hanya menemani aku makan. Dia tidak menyentuh sedikitpun makanan yang ada di hadapannya.


Aku meletakkan sendokku, lalu berdecak kesal. "Makanlah, Daffin, apa kau ingin menyiksaku?"


"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin melakukan itu, Nyonya Stevano," sanggah Daffin dengan dahi berkerut.


"Kau tidak mau makan, dan itu menyiksaku! Aku sudah menahan lapar sejak tadi karena aku ingin makan bersamamu! Aku tahu kau sedang sedih, tapi apa kau pikir aku tidak sedih? Aku sedih, Daffin! Aku juga tidak tega melihat kondisi Shaka yang seperti itu! Tapi apa yang bisa kita lakukan saat ini selain berdo'a untuknya? Apakah jika kau mogok makan seperti ini, Shaka akan membuka matanya dan menyuapimu? Tidak! Dan jika kau jatuh sakit karena tingkahmu ini, bukankah kau hanya akan menambah masalah? Lagi pula, siapa yang akan menemukan pelaku penembakan itu jika kau sakit?" ocehku tanpa henti.


Aku sudah berdiri dan bersiap untuk meninggalkan Daffin, tapi tangan besar Daffin menahanku. "Maafkan aku, Nyonya Stevano."


Terdengar kesedihan yang amat sangat mendalam dari suara Daffin. Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa membiarkan Daffin terpuruk karena keadaan Shaka. Dia harus tetap berdiri tegak sebagai seorang Daffin Stevano. Bukan seorang teman yang kehilangan temannya.


"Aku tahu kau sedih, tapi kau tidak bisa mengabaikan keberadaanku, Daffin! Aku juga membutuhkanmu." Helaan nafasku terdengar di tengah kebisuan Daffin.


Satu hentakan tangan Daffin membuatku terjatuh di atas pangkuannya. Dia suka sekali melakukan hal itu meskipun kehamilanku sudah mulai membesar.


"Kau mengatakan apa tadi?" tanya Daffin, mata birunya menatap lekat padaku.


"Kau sedih?" Aku balik bertanya dengan alis terangkat.

__ADS_1


Daffin menggelengkan kepalanya. "Bukan! Yang baru saja kau katakan."


Bola mataku bergerak ke atas, mencari alasan untuk mengelak. "Kau harus makan?"


Aku mendengar Daffin mendengus kesal kemudian memalingkan wajahnya dariku. Tingkahnya yang seperti itu membuatku gemas dan ingin menciumnya, maka aku pun akan melakukannya. Tanpa ragu aku menangkup kedua pipi Daffin dengan tangan mungilku hingga mata biru itu kembali terfokus padaku.


Satu gerakan kecil yang mempertaruhkan harga diriku yang tinggiku pun menjadi keputusanku. Bibirku langsung mendarat di atas bibir Daffin, membuat sang pemilik bibir sensual itu tersentak dengan mata terbelalak.


Tak mendapatkan balasan dari Daffin, aku pun menghentikan aksiku dan langsung tertunduk malu atas apa yang telah aku lakukan. Dengan bodohnya aku bersikap mesum sementara Daffin sedang di liputi kesedihan.


"Aku- Aku minta ma- ummm ...," Aku tak bisa menyelesaikan kata-kataku karena Daffin sudah menyergap bibirku.


Sebelah tangan Daffin melingkar di pinggulku dengan sebelah tangannya yang lain menahan kepalaku agar aku tidak bisa memberontak. Aku merasakan hawa panas mulai menguasai kami ketika tangan nakal Daffin mulai menyasar kemana-mana. Sebenarnya hasratku ingin mengikuti Daffin, tapi akal sehatku menolaknya. Tidak mungkin kami melakukannya di ruang makan seperti ini. Bagaimana jika tiba-tiba ada yang datang?


"Daffin ...," panggilku dengan nafas terengah-engah begitu Daffin melepaskan pagutan bibirnya.


"Hemm ...," Tangan Daffin merapihkan rambutku yang berantakan karena ulahnya. "Kau ingin melanjutkannya?" tanyanya.


Tatapan Daffin mulai berubah. Dia sudah mulai terlihat kembali menjadi dirinya. Aku bisa merasakan cengkraman tangannya di pinggulku. Tebakanku, Daffin sedang menahan hasratnya.


Jika ciuman seperti itu saja bisa merubah suasana hati Daffin menjadi lebih baik, mungkin saja gerakan yang lebih berkeringat bisa benar-benar membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri dan bisa saja menjadi lebih bersemangat.


Daffin terkekeh. "Tentu, My Starfish! Aku akan menunggumu makan, setelah itu kita akan melanjutkan apa yang tertunda ini."


"Kau salah, Daffin! Kau tidak akan menunggu aku makan, tapi kau akan menyuapi aku makan." ucapku manja.


Sepertinya upayaku berhasil. Daffin menarik piringku dan menyuapi aku. Dan ketika Daffin berniat untuk menyuapi aku lagi, aku langsung mendorong sendok itu ke dalam mulutnya.


"Telan! Kau harus makan agar punya tenaga untuk mengalahkan aku." selorohku seraya tertawa dan merubah posisi tubuhku.


Aku lupa jika aku masih berada di atas pangkuan Daffin hingga aku merasakan sesuatu yang mengganjal. "Daffin ini -"


"Hussstt ...," Daffin meletakkan telunjuknya di bibirku. "Kau seharusnya tidak terus menggodanya. Aku memang sedang sedih, tapi Jhonny tidak." bisiknya.


Susah payah aku menelan salivaku. Aku sudah bertekad untuk menyerahkan diriku pada Daffin, tapi kenapa jantungku terus saja berpacu bahkan lebih cepat dari waktu.


"Kalau begitu, aku akan turun." Tubuhku beringsut ingin turun dari pangkuan Daffin, tapi dia menahannya.


"Diamlah! Atau kau akan membuatnya semakin cepat tumbuh," bisik Daffin lagi.


Aku menatap mata Daffin yang memantulkan wajahku. Aura kesedihan masih terlihat jelas di matanya, tapi aku tahu dia berusaha untuk menutupinya. Jadi, aku pun harus membantunya melewati masa sedihnya sebelum dia berubah menjadi seekor singa yang kelaparan.

__ADS_1


***


Menjelang tengah hari, aku dan Daffin masih berbalut selimut di atas tempat tidur. Sesekali Daffin menghubungi om Rei untuk menanyakan keadaan Shaka.


"Baiklah, terima kasih, Dokter Reinhard. Aku mempercayakan keselamatan Shaka padamu dan juga rumah sakitmu." Daffin memutuskan panggilannya meskipun aku sudah mengisyaratkan padanya bahwa aku ingin bicara dengan om Rei. "Kenapa wajahmu kusut seperti itu, Nyonya Stevano?" tanya Daffin.


"Aku ingin bicara dengan om Rei, kenapa kau pelit sekali!" sungutku kesal.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengannya? Tentang Shaka atau tentang perusahaan?" tanya Daffin, tatapannya berubah dingin. "Jika itu tentang Shaka, aku beritahu padamu bahwa belum ada perubahan yang terlihat. Kondisinya masih sama seperti saat kita meninggalkannya. Dan tentang perusahaan -"


Aku memotong ucapan Daffin. "Aku tidak tertarik pada perusahaan. Aku sudah menyerahkan semuanya pada om Rei dan ayah. Lagi pula aku memiliki suami yang kaya, jadi untuk apa aku memikirkan perusahaan. Apa aku benar, Suamiku yang tampan?"


"Kau benar, Nyonya Stevano! Tugasmu hanya melayani aku." sahut Daffin, dengan seutas senyuman licik di wajahnya.


Dan hari itu, kami habiskan dengan berolahraga di dalam kamar. Demi untuk mengembalikan suasana hati Daffin.


***


Sore harinya, ibu mengetuk pintu kamarku. Beruntung aku sudah membersihkan diriku, begitu juga dengan Daffin. Hanya saja kami baru selesai berpakaian sehingga sedikit terkejut dengan kedatangan ibu.


"Apa Daffin sakit, Sayang?" tanya ibu begitu aku membuka pintu.


Aku menarik senyuman di bibirku. "Tidak, Bu! Ada apa Ibu bertanya seperti itu?"


"Itu karena kalian tidak keluar sejak pagi. Ibu khawatir terjadi sesuatu pada Daffin, Sayang," jawab ibu seraya membelai rambutku.


"Suasana hati Daffin memang buruk sebelumnya, Bu, tapi sekarang sepertinya dia sudah lebih baik." Aku mulai tidak nyaman terus di pandangi ibu.


"Maya?" panggil Daffin yang berdiri di belakangku. "Ada apa?"


"Apa kau meminta bantuan seorang detective untuk menyelidiki kasus ini, Daffin?" tanya ibu, wajahnya terlihat khawatir.


"Benar! Aku ingin orang yang telah menembak Shaka tertangkap, Maya, dia harus membayar apa yang telah dia lakukan pada temanku."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2