
Rindu yang selama ini aku pendam semakin menggebu ketika sosok yang aku rindukan kini ada di hadapanku.
Daffin. Pria yang hampir satu tahun ini menjadi suamiku, meskipun sampai saat ini aku masih tidak mengerti alasan di balik semua keputusan Daffin.
"Nyonya Stevano ...," Daffin melangkahkan kakinya untuk mendekatiku.
Air mataku tumpah, tak bisa lagi untuk aku bendung. Aku tidak yakin ini nyata atau hanya sebuah mimpi karena apapun itu, aku tidak ingin lagi berpisah dengan Daffin.
Tanganku sudah hampir mencapai tangan Daffin, tapi tiba-tiba seseorang menarik tanganku dengan paksa agar menjauh dari Daffin.
"DAFFIN!!!"
Mataku terbuka lebar dan menyadari bahwa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi, dan ternyata aku masih di dalam kamarku.
"Apa arti mimpi itu?" gumamku, lalu mengambil segelas air yang berada di atas nakas. "Airnya habis? Hah! Aku seharusnya meminta Rania mengisinya tadi." gerutuku.
Dengan langkah gontai aku keluar dari kamar, bermaksud untuk mengambil air di dapur. Ketika aku melewati pintu utama, aku mendengar sedikit keributan di luar rumah.
Ragu-ragu aku melangkah dan mengintip di balik celah tirai. Betapa terkejutnya aku melihat Daffin sedang berkelahi dengan beberapa pengawal ayah. Beberapa orang sudah jatuh tersungkur, sementara Daffin masih di liputi amarah.
Ini tidak benar! Jika ayah sampai tahu, semua ini tidak akan baik untuk hubungan kami. Jalan untuk kami kembali akan semakin tertutup rapat.
Segera aku berlari keluar meskipun dengan nafas yang terengah-engah karena kehamilan yang semakin membesar serta berat badanku yang semakin bertambah.
"Hentikan, Daffin!" teriakku, tepat ketika Daffin akan melayangkan tinjunya ke wajah salah seorang pengawal.
Semua orang yang terlibat perkelahian dengan Daffin nampak terkejut melihatku, terlebih aku hanya mengenakan pakaian tidur. Ya, walaupun bukan lingerie seksi seperti yang biasa aku kenakan di rumah Daffin, tapi pakaian tidur ini cukup mencetak tubuhku.
"Tutup mata kalian! Atau aku akan mengeluarkannya satu persatu!" ancam Daffin, nada bicaranya dan juga tatapannya begitu menakutkan.
Langkah Daffin semakin mendekat padaku. Dia membuka jasnya dan memakaikannya padaku. Sebelum akhirnya memeluk tubuhku dengan erat.
"Aku merindukanmu, Nyonya Stevano." ungkap Daffin.
Aku bisa merasakan tubuh Daffin bergetar hebat. Dia menangis tanpa suara, aku yakin itu. Dan ketika aku melihat seorang pengawal berusaha untuk memukul Daffin, aku langsung mengangkat tanganku untuk menghentikannya.
"Pergi!" titahku.
"Tapi, Nona -" tolak pengawal itu, tapi aku langsung menyelanya.
"Dia suamiku! Bukan penjahat yang harus di jauhkan dariku! Jika kalian ada di posisinya, apakah kalian mau di pisahkan dengan istri dan akan kalian? Hah!" ocehku, membungkam para pengawal itu.
"Maaf, Nona, kami hanya menjalankan perintah tuan." Salah satu pengawal mencoba menjelaskan.
"Aku tahu! Jika ayah marah, katakan saja padanya untuk marah padaku! Aku siap menerima segala hukumannya, tapi biarkan aku bicara dengannya untuk saat ini!" sergahku.
Seperti telah mendapatkan perintah, para pengawal itu lantas meninggalkan aku berdua bersama Daffin.
Cukup lama kami berpelukan dan saling melepaskan kerinduan. Hembusan angin yang menelusup pun tak lagi kami hiraukan. Hanya ada cinta dan kerinduan hingga Daffin akhirnya bersuara.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nyonya Stevano!" ucap Daffin seraya melepaskan pelukannya. "Aku sudah sangat bersalah padamu. Aku terlalu sering menyakiti dan melukai hatimu, tapi percayalah aku benar-benar mencintaimu!" ucapnya.
Aku menatap manik mata Daffin yang terfokus padaku. "Kau yakin kau mencintaiku? Bukan karena aku sedang mengandung anakmu?"
Daffin menangkup kedua pipiku. "Apa yang kau katakan, Nyonya Stevano? Aku sungguh mencintaimu. Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan berusaha mati-matian melawan para pengawal sialan itu hanya untuk menemuimu."
Kali ini, aku harus percaya padanya. Setidaknya aku harus belajar untuk mempercayai pria yang aku cintai. Bukankah hatiku menginginkannya? Maka aku harus menghilangkan pikiran buruk yang ada di kepalaku.
"Baiklah, aku percaya! Aku juga sudah menerima suratmu." Aku memaksakan senyumku untuk membuat Daffin senang.
"Lalu, dimana hadiahnya?" tanya Daffin, matanya menyorot tubuhku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Kedua alisku menukik tajam. "Hadiah apa?"
"Hadiah yang ku berikan padamu?" jawab Daffin, tatapannya masih mengitari tubuhku.
Pikiranku berputar, mencoba memahami maksud Daffin dan aku teringat liontin yang datang bersamaan dengan surat itu.
"Kau mencari ini?" Aku membuka jas Daffin yang menutupi tubuhku dan memperlihatkan kalung liontin yang di berikan olehnya.
Mata biru Daffin membulat sempurna. Dia langsung menarik liontin yang terpasang di leherku. "Kenapa ada ini?"
Aku menunduk dan melihat ke arah Daffin menunjuk. Ternyata dia mempermasalahkan inisial A dan E yang sempat di berikan kak Erlan sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang sengaja membuatnya berdampingan agar aku tetap bisa mengenang kak Erlan, sementara aku juga bisa merasakan kehadiran Daffin.
"Kenapa? Bukankah ini terlihat cantik? Aku sengaja menyatukannya karena aku tidak ingin melupakan kenangan kak Erlan." jawabku seraya mengusap inisial namaku dan kak Erlan.
"Kau benar, Daffin! Jika kau tahu hal itu, kenapa kau masih membiarkan mantan istrimu sejajar dengan istrimu yang sah saat ini? Ah, aku lupa. Aku Lily, bukan Ayasya yang telah kau nikahi secara paksa." sindirku, membuat wajah tanpa dosa.
Tangan besar Daffin melepaskan genggamannya dari kalung yang aku kenakan untuk berpindah menggenggam tanganku. "Apa maksudmu?"
Aku berdecak kesal. "Kau tidak tahu atau hanya berpura-pura agar masalah ini cepat selesai?"
"Katakan!" Aku merasakan tangan Daffin mencengkram tanganku kuat. "Apa lagi yang sudah aku lakukan sehingga membuatmu terluka?" tanyanya.
Bola mataku menatap tajam ke arah Daffin. Wajahnya terlihat kebingungan dan juga cemas. Benarkah dia tidak menyadarinya? Atau dia hanya sedang mencoba untuk membodohiku?
Aku tersenyum sinis. "Sepertinya kau sudah terbiasa untuk berbohong dan melupakan semua kebohonganmu, Daffin."
"Sekarang kau sudah pandai bermain teka-teki denganku rupanya," seloroh Daffin, kemudian dia mengangkat tubuhku.
"Aaahhhh ...," pekikku saking terkejutnya dengan ulah Daffin, bahkan jas yang awalnya menutupi tubuhku sudah jatuh ke tanah.
"Hussttt!!!" Daffin langsung membungkam mulutku sekilas dengan bibirnya yang terasa dingin. "Jangan berisik atau ayahmu akan menjauhkan kita untuk selamanya!" bisik Daffin.
Aku menurut saja seperti anak kecil yang di beri permen. Bahkan aku tetap diam saat Daffin membawaku masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan, hanya ada kebisuan di antara kami berdua. Aku sempat ingin menyalakan musik, tapi Daffin melarangku. Dia terlihat gelisah dan juga tergesa-gesa sehingga aku mengurungkan niatku untuk bertanya apalagi berdebat dengannya.
"Rumah sakit?" gumamku, begitu Daffin memarkirkan mobilnya. "Untuk apa kita kesini?" tanyaku.
__ADS_1
Daffin sedang tersenyum tipis ketika aku melihat ke arahnya. "Untuk mencari jawaban dari kegelisahan hatimu."
Aku tidak mengerti, tapi aku tetap mengikuti keinginan Daffin. Dan sebelum aku melangkah keluar, Daffin sudah lebih dulu menghentikan aku.
"Tunggu dulu! Aku mohon jangan turun dulu, Nyonya Stevano!" pinta Daffin, dia menghalangi jalanku dengan tidak membiarkan pintu mobil terbuka sempurna.
"Kenapa? Apa gurita betina itu ada disini juga?" tanyaku sinis, kesal dengan ulah Daffin.
Daffin berdecak kesal. "Tidak hubungannya dengan Reena."
"Lalu, kenapa kau tidak membiarkan aku keluar?" tanyaku dengan bibir mengerucut.
Saat Daffin akan menjawab, tiba-tiba seorang petugas kebersihan datang dan membawakan sebuah tas untuk di berikan kepada Daffin.
"Pakai ini!" titah Daffin seraya menyerahkan itu padaku. "Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat keindahan tubuhmu."
Aku membuka tas yang di berikan Daffin dan mengeluarkan pakaian yang serba tertutup. Dia bahkan membelikan sebuah topi untukku.
"Aku tidak ingin memakai ini!" tolakku, dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Aku mohon, Nyonya Stevano! Pakai ini dan segera selesaikan masalah kita." Daffin mulai membuka kancing pakaian tidurku.
Apa hubungannya pakaian aneh ini dengan masalah rumah tanggaku? Daffin ini. Dia suka sekali menghina otak kecilku.
"Baiklah! Akan aku kenakan, tapi kau harus keluar dan jangan mengintip!" ancamku, tapi langsung di sambut gelak tawa Daffin.
"Aku bahkan sudah melihat semuanya," canda Daffin, di barengi pintu mobil yang tertutup.
Tak perlu waktu lama, aku sudah mengganti pakaianku dan keluar dari mobil. Tak jauh dari tempat mobil terparkir, aku melihat sosok Daffin yang sedang bicara dengan seseorang?
"Daffin?" panggilku seraya menepuk bahu Daffin.
Mata biru itu menoleh dan menatapku. "Kau sudah selesai? Kalau begitu, ayo!"
***
Pandanganku berpendar, menyapu ruangan yang sepertinya tidak asing bagiku. Dan benar saja! Aku melihat sosok Shaka sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Untuk apa kita kesini?" bisikku, ketika Daffin meraih tanganku.
"Untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaanmu."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1