Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MIMPI YANG NYATA


__ADS_3

"DAFFIN!!!"


Tubuhku tersentak dengan tangan terulur ke depan seolah hendak meraih sesuatu.


Pandanganku berkeliling. Kosong. Tidak ada siapapun di ruangan ini, selain aku. Keadaannya masih sama seperti saat aku memasukinya.


Nafasku terengah-engah layaknya seseorang yang baru saja berlari. Keringat mengucur di pelipisku hingga mengalir melewati mataku.


Aku menyeka keringatku dengan punggung tanganku dan menyadari satu hal. "Aku hanya bermimpi."


Bibirku bergetar menahan tangis, tapi sekuat tenaga aku berusaha menarik senyuman agar hatiku pun merasa lebih baik.


Aku bergegas keluar dari walk in closet serta langsung mencari ponselku yang aku tinggalkan di atas nakas.


Jemariku gemetar ketika mencari nama Daffin di ponselku. Perasaanku sedikit lebih baik ketika melihat gambar Daffin memenuhi layar ponselku hingga tanpa sadar aku tersenyum.


Dengan tak sabarnya aku segera menghubungi Daffin, tapi panggilanku tak tersambung.


"Kemana dia?" gumamku cemas, kemudian mencoba melakukan panggilan kembali. "Daffin, dimana kau?" keluhku.


Sampai beberapa panggilan, tetap tidak bisa tersambung. Aku terpaksa mengambil keputusan untuk menghubungi Shaka. Namun, tak berbeda dengan Daffin. Shaka juga tidak bisa di hubungi. Hal itu membuatku semakin merasa cemas.


"Rania!!!" teriakku, sudah hampir ingin menangis. "Rania, kemarilah!"


Tidak butuh waktu lama, Rania sudah mengetuk pintu. "Nyonya?"


"Masuklah, Rania!" jawabku cepat.


Begitu melihat sosok Rania, aku langsung berhambur memeluknya. Tubuhku bergetar hebat karena tangisku yang meledak seketika.


"Nyonya ...," Rania mengusap punggungku dengan lembut.


"Rania ... aku- aku baru saja bermimpi buruk ...," ucapku terbata karena tangis yang semakin menjadi.


Rania melepaskan pelukanku dan membimbingku agar duduk di tepi tempat tidur, dia lalu memberikan aku segelas air. "Minumlah, Nyonya, agar anda lebih tenang."


Aku menatap sekilas wajah Rania, dia lebih muda dariku, tapi sikapnya sangat tenang dan juga bijaksana. Sungguh jauh berbeda denganku.


"Terima kasih, Rania." Aku mengambil gelas di tangan Rania dan langsung memindahkan air di gelas itu ke dalam perutku.


Rania tersenyum dan mengambil kembali gelas di tanganku. "Anda sudah lebih tenang, Nyonya?"


Aku mengangguk, tapi masih sulit untuk tersenyum. Tanganku meraih tangan Rania dan menatapnya penuh harap. "Bisa kau bantu aku? Tolong hubungi Shaka atau Daffin, atau siapapun yang kemungkinan sedang berada bersama mereka saat ini!"


Bola mata Rania membulat sempurna. "Tapi, Nyonya -"


"Tolong, Rania! Aku bermimpi buruk tadi dan sekarang entah mengapa hatiku merasa ada sesuatu yang buruk sedang menimpa Daffin. Aku sudah mencoba untuk menghubunginya, tapi tidak bisa." Air mata kembali menganak sungai di mataku.


"Baik, Nyonya," jawab Rania ragu, tangannya mengusap lembut tanganku.


Dengan jantung yang berdegup kencang, aku memperhatikan raut wajah Rania yang mulai terlihat sama denganku.


Rania menggelengkan kepalanya. "Tuan Shaka tidak menjawab, Nyonya,"


Suasana hatiku semakin buruk. Aku sudah siap untuk kembali menangis, tapi Rania langsung duduk di sampingku dan kembali mengusap punggungku dengan lembut.


"Tenanglah, Nyonya, mungkin tuan dan tuan Shaka sedang ada rapat penting," ucap Rania menenangkan.


Benar juga! Tapi apa sepenting itu sampai tidak bisa di hubungi? Tenang! Aku harus tenang agar bisa berpikir jernih.


Aku menatap Rania yang sedang tersenyum simpul. "Semoga saja seperti itu, Rania."


***


Menjelang tengah malam, Daffin belum juga kembali. Aku semakin cemas dan tak bisa lagi mengendalikan hatiku.


"Aku harus menemui ibu," gumamku seraya melangkah keluar dari kamar.

__ADS_1


Gaun hitam yang aku kenakan mulai terlihat lusuh karena aku terus saja bergerak kesana-kemari untuk menghilangkan kecemasanku meski Rania sudah membujukku untuk beristirahat.


"Nyonya, anda mau kemana?" tanya Rania, dia baru saja mencapai anak tangga teratas.


"Aku ingin menemui ibu, Rania, kau darimana?" Aku melihat ada yang aneh dengan tingkah Rania.


Tatapan Rania menghindariku. Dia terus saja melihat ke arah lain ketika menjawab, "nyonya besar sudah tidur, Nyonya, sebaiknya anda kembali ke kamar. Saya baru saja kembali dari dapur."


Rania bohong! Aku yakin karena dia tidak berani menatap mataku. Tanpa menyergah ataupun bertanya, aku melewati Rania dan menuruni anak tangga dengan hati-hati.


Begitu mencapai anak tangga terakhir, aku melihat ayah dan ibu sedang berbicara di ruang makan.


Langkahku belum mencapai tempat ayah dan ibu berada, tapi tiba-tiba aku melihat daddy David memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.


"Mayatnya sudah di temukan! Sekarang kita bisa pergi ke rumah sakit." seru daddy David, yang membuat ayah dan ibu langsung berdiri. Wajah mereka di liputi kekhawatiran.


"Mayat siapa, Daddy?" tanyaku, begitu aku mendekati mereka.


Sorot mata mereka langsung mengarah padaku yang membalas dengan tatapan kebingungan.


"Lily ....," Para orang tua terlihat begitu terkejut dengan kehadiranku.


Dahiku mengernyit. "Daddy? Aku bertanya, mayat siapa yang di temukan?"


Kebisuan yang seketika tercipta membuatku mengingat mimpi buruk yang aku alami. sebelumnya. Tidak! Itu hanya mimpi. Semua ini pasti tidak saling terkait. Ya Tuhan, aku ingin meyakini bahwa apa yang ada di pikiranku tidaklah benar, tapi lututku terasa begitu lemas.


"Mayat -" Daddy David tidak jadi menjawab karena aku sudah jatuh bersimpuh di lantai. "Lily!!!" teriaknya.


Ayah dan ibu langsung menghampiri aku untuk membantuku berdiri. Mereka membimbingku agar duduk di kursi serta mencoba untuk menenangkan aku. Percayalah! Aku bukannya tenang, tapi merasa semakin cemas karena para orang tua hanya saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Tolong! Jelaskan padaku apa yang terjadi? Dimana Daffin? Kenapa dia belum kembali? Aku tidak bisa menghubunginya sejak tadi," tanyaku berentetan karena begitu tak sabar.


Ibu menghela nafasnya sebelum menjawabku. "Sayang, sebenarnya -"


"Maya, sebaiknya Lily jangan di beritahu dulu!" sergah daddy David, membuat ibu mengurungkan niatnya.


"Katakan padaku! Ada apa sebenarnya?" tanyaku sedikit memaksa.


Aku merasakan tangan hangat ibu menggenggam tanganku. "Tapi kau harus berjanji akan kuat mendengarnya."


Ragu. Aku ragu, tapi aku tetap mengangguk agar mereka mau mengatakan yang sebenarnya padaku.


"Daffin dan Shaka mengalami kecelakaan karena beberapa orang mengejar mereka, tapi -" jelas daddy David menggantung.


Aku ingin kuat. Sungguh! Tapi rasanya seluruh tubuhku jadi tidak bertulang hingga tanganku pun jatuh terkulai.


"Lily? Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya ayah khawatir.


Sekuat mungkin aku berusaha tetap tegar meskipun dalam hatiku begitu hancur. Aku tidak menyangka akan menjadi janda dua kali dan dalam keadaan sedang mengandung seperti ini. Ada apa dengan para pria ini? Kenapa mereka meninggalkan aku di saat aku paling membutuhkan mereka?


***


Suara ketukan sepatu saling bersahutan di tengah lorong rumah sakit. Langkah yang begitu tergesa-gesa menciptakan suara riuh yang menyakiti telinga.


Tangan hangat ibu terus saja menggenggam tanganku dengan lembut walaupun aku tidak mengatakan apapun sejak keberangkatan kami dari rumah.


Aku memutuskan untuk menghemat tenagaku dengan diam. Aku tidak ingin jatuh pingsan sebelum aku melihat sendiri bahwa Daffin sudah benar-benar meninggalkan aku seperti yang di lakukan kak Erlan.


Dalam perjalanan, baik ayah, ibu, maupun daddy David, semuanya bungkam tanpa berniat menjelaskan apapun padaku. Dan sesungguhnya itu jauh lebih baik daripada aku harus mendengar hal yang begitu menyakitkan bagiku. Kenyataan pahit yang harus aku alami untuk yang kedua kalinya dalam hidupku.


"Bu, kenapa kita melalui pintu belakang?" tanyaku akhirnya, menyadari tidak seharusnya melalui jalan ini.


"Ada banyak wartawan di depan rumah sakit karena kabar kecelakaan yang di alami Daffin begitu menghebohkan negeri ini." Daddy David menjelaskan tanpa menghentikan langkahnya.


Tentu saja! Daffin adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan sebesar DS Corp. Dia juga mantan suami dari model terkenal sekelas Reena. Pasti ada banyak orang yang ingin sekali mengetahui kehidupannya. Terlebih kecelakaan itu terjadi di pusat kota.


Kami kembali bungkam hingga ketika melewati kamar jenazah dan melihat om Rei baru saja keluar dari sana.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku mohon jangan lagi! Aku merasa seperti pernah mengalami hal ini. Aku ingat ketika akan memasuki ruang jenazah untuk melihat kak Erlan, om Rama juga keluar dari ruangan itu dengan wajah yang sama persis seperti wajah om Rei saat ini.


"Lily?" Om Rei sangat terkejut melihat kedatanganku.


Bibirku terkunci rapat. Bukan aku yang ingin, tapi dia terkunci sendiri.


"Rei, bagaimana?" tanya ayah, karena aku hanya diam.


"Kita tinggal memastikannya saja! Aku hanya berharap pelakunya segera tertangkap agar Daffin bisa tenang." Om Rei mengulas senyuman hambar di wajahnya.


Hatiku hancur hingga rasanya aku tidak akan mampu untuk menyatukannya kembali. Cinta pertamaku gagal bahkan sebelum aku mengungkapkannya.


"Kau benar! Dimana mayatnya sekarang?" tanya ayah lagi.


Tangan om Rei menunjuk ke arah ruang jenazah. "Di dalam, baru saja aku melihatnya."


Tanpa menunggu perintah dari siapapun, aku langsung masuk ke dalam. Aku melupakan rasa takut yang pernah aku alami ketika kak Erlan meninggalkan aku.


Ruangan dengan hawa dingin ini tak akan mampu menghentikan seorang istri untuk melihat suaminya untuk yang terakhir kali.


Di setiap langkahku, aku mendengar ucapan konyol yang sering aku katakan dulu saat aku belum mencintai Daffin.


'Aku tidak keberatan menjadi janda dua kali.'


Rasanya aku ingin memutar waktu dan kembali ke masa lalu untuk memotong lidahku sendiri mengingat betapa percaya dirinya aku ketika mengatakan hal itu.


Langkahku terhenti ketika sampai di depan tubuh kaku yang di tunjukkan oleh petugas. Ada dua jenazah yang terbaring di sana. Seketika tubuhku merasa lemas. Kakiku tak mampu untuk menopang tubuhku yang berbadan dua.


"Daffin ...," lirihku seraya tersungkur ke lantai, lalu menatap ke jenazah yang lain. "Shaka ...."


Aku ingin menangis, tapi aku tidak tahu kenapa air mataku tidak mau keluar seolah sedang kekeringan. Aku hanya menatap hampa lantai yang ada di bawah pandanganku.


"Lily ...," Suara lembut ibu menyadarkan aku dari lamunan kosong.


Sekuat tenaga aku mencoba berdiri dengan berpegangan pada sisi bed jenazah dan dengan bibir yang masih terkunci rapat.


Tatapanku bertumpu pada jenazah yang tertutupi kain putih. Aku yakin itu jenazah Daffin karena postur tubuhnya lebih besar dari jenazah yang satunya.


Diam. Hening. Tidak ada suara sedikitpun selain hembusan angin. Dan akhirnya tangisku pun pecah ketika aku teringat pagi ini saat Daffin bertingkah begitu manis padaku.


"Apa maumu, Plankton!!! Kau mengatakan ingin aku menjadi wanita yang polos dan bodoh saat kau memintaku untuk kembali. Ternyata inilah maksudmu! Kau ingin aku kembali menjadi janda saat aku sedang hamil!!!" Air mata sudah saling menyusul di pipiku. "Kenapa kau tidak pulang dan justru berbaring disini? Apa karena aku tidak memasak untukmu? Hah! Baiklah, bangun! Aku akan memasak untukmu, tapi aku mohon bukalah dulu matamu!!!" pintaku di tengah isak tangis.


"Lily, tenangkan dirimu! Dengarkan Ayah dulu!" pinta ayah, tangannya sudah merangkul bahuku.


Aku menoleh dan melihat ibu sedang terisak di samping ayah. Tangis ibu sama pilunya dengan aku sehingga aku semakin sulit menghentikan tangisku.


"Tidak, Ayah! Daffin yang harus mendengarkan aku!" hardikku seraya mengarahkan jariku ke arah tubuh yang terbaring kaku di sana.


"Tapi, Lily -"


Aku memotong ucapan ayah. "Cukup, Ayah! Aku ingin bicara dengan Daffin. Dia telah lancang membuatku kembali mengalami hal ini. Aku ingin dia mendengarkan apa yang ingin aku katakan." Tatapanku kembali menatap jenazah di hadapanku, tanpa berniat membuka kain putih yang menutupi wajahnya. "Bangunlah, Daffin! Apa kau tidak ingin mendengar apa yang akan aku katakan? Lihat aku! Aku sudah berdandan untuk dirimu. Aku memakai gaun hi ...."


Kenapa aku memakai gaun hitam? Mungkinkah sebenarnya ini semua adalah sebuah pertanda?


Air mata begitu deras mengalir hingga mengaburkan pandanganku. "Daffin bodoh!!! Plankton!!! Bangunlah!!! Bangun!!! Kau harus hidup karena AKU SANGAT MENCINTAIMU!!!"


Tubuhku kembali ambruk ke lantai dengan hati yang benar-benar sudah tidak utuh lagi. Rasanya aku sudah tidak ingin berdiri hingga aku mendengar seseorang memasuki ruangan dan mendekatiku.


"Aku akan membuat perhitungan dengan mayat ini karena telah membuatku cemburu!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2