
Ungkapan hati yang di utarakan Daffin membuatku merasa begitu di cintai. Aku bahagia, bahagia karena pria yang menemaniku saat ini bukan hanya mencintaiku, tapi juga memikirkan kebaikan untukku.
"Tidak ada yang lebih penting darimu dan juga anak kita, Nyonya Stevano, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan keselamatan dan kebahagiaanmu hanya karena rasa cintaku padamu."
Sorot mata penuh cinta itu, dulu hanya bisa aku lihat dari kejauhan karena ku pikir tatapan itu hanya milik istri pertamanya. Dan tidak akan pernah menjadi milikku.
***
Keheningan mengisi suasana ruang kerja Daffin siang itu karena baik Daffin maupun Shaka, keduanya bungkam dan hanya sibuk berkutat dengan beberapa berkas yang bertumpuk di atas meja.
Dalam khayalanku, seharusnya Daffin mengabaikan pekerjaannya karena ada aku, tapi yang terjadi dia mengabaikan aku karena pekerjaannya.
"Sudah semua?" tanya Daffin, pada Shaka yang berada di hadapannya.
Tangan Shaka membulak-balik sebuah berkas yang ada di meja. "Sudah, Tuan,"
"Bagus! Pergilah, sekarang waktunya aku menjadi suami siaga." titah Daffin, dia sudah berdiri untuk menghampiriku.
Senyumku mengembang ketika mengetahui bahwa Daffin sudah tidak sibuk lagi. Dia akan memusatkan perhatiannya padaku. Dengan begitu, aku bisa meminta apa saja padanya selama aku tidak terjebak dengan permainan pikiran dan kata-katanya.
"Sekarang waktunya untukku?" tanyaku manja.
Ya Tuhan, ada apa sebenarnya denganku? Mengapa kini aku merasa nyaman berada di dekat Daffin? Aku juga selalu ingin mendapatkan perhatiannya. Padahal selama ini, aku bahkan tidak pernah melakukan apapun untuk menarik perhatian kak Erlan karena tanpa itupun kak Erlan sudah menjadikan aku pusat hidupnya.
"Tentu, Nyonya Stevano! Seluruh waktuku milikmu sekarang." jawab Daffin, di susul satu kecupan keningku.
Sudut bibirku gatal ingin menarik senyuman kembali, tapi aku urung melakukannya ketika pandangan mataku menangkap sosok Shaka yang berjalan terseok-seok.
"Ada apa denganmu, Shaka?" tanyaku cemas.
Bukan tanpa alasan aku mencemaskan Shaka. Aku hanya takut jika sesuatu terjadi pada Shaka dan itu akan berdampak pada Daffin. Bukan rahasia umum lagi jika Shaka adalah orang paling di percaya Daffin. Bisa di katakan separuh hidup Daffin berada di tangannya.
"Tidak apa-apa, Nyonya, saya hanya kram." Shaka menegakkan tubuhnya, dia berusaha berjalan dengan benar.
Ketika bertemu dengannya di depan ruangan tadi, aku tidak memperhatikan langkah kaki Shaka. Dan saat aku masuk ke ruang kerja Daffin, Shaka berada di belakangku sehingga aku tidak menyadari jika ada yang salah dengan kakinya.
Sorot mataku menatap tajam ke arah Shaka yang mencapai pintu. "Berhenti, Shaka! Kembali kesini!"
__ADS_1
Shaka menoleh dengan dahi yang berkerut. "Iya, Nyonya?"
"Kembali kesini! Aku ingin bicara padamu." Tanganku melambai, meminta Shaka mendekat.
Tiba-tiba aku merasakan tangan Daffin menyentuh bahuku. "Apa yang ingin kau bicarakan dengan Shaka? Seingatku, kalian tidak memiliki urusan apapun kecuali itu saat kita baru saja menikah."
Memang benar! Setelah hubunganku dengan Daffin semakin membaik, aku tidak pernah lagi berurusan dengan Shaka. Berbeda ketika Daffin baru saja menikahiku, semua hal yang terjadi padaku selalu melibatkan Shaka.
Aku berdecak kesal. "Aku hanya ingin bicara dengannya, Daffin."
"Saya di sini, Nyonya," ucap Shaka, dia sudah berada di hadapanku.
Melihat Shaka meringis, aku yakin kakinya tidak baik-baik saja. Terlebih ketika aku memintanya untuk terus berdiri tanpa melepaskan pandanganku darinya. Otakku berputar, bagaimana caranya mengetahui kebenaran tentang kaki Shaka? Aku harus memastikan jika Shaka memang hanya kram atau karena Daffin baru saja menghukumnya.
"Shaka, katakan padaku! Ada apa dengan kakimu?" tanyaku datar.
Shaka menundukkan kepalanya. "Seperti yang saya katakan, Nyonya, ini hanya kram saja."
Bohong! Aku tahu Shaka rutin berolahraga, sama seperti Daffin. Dia juga selalu memakan makanan sehat dan juga menjaga asupan nutrisinya karena dia tidak boleh jatuh sakit, Rania yang mengatakannya dan aku yakin Rania tidak berbohong.
"Iya, Nyonya," jawab Shaka yakin.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau peduli padanya, Nyonya Stevano?" tanya Daffin tiba-tiba, membuatku mengingat bahwa dia berada di sisiku.
Aku mengulas senyuman semanis mungkin di bibirku. "Aku hanya mengkhawatirkannya sebagai seorang atasan, Daffin! Aku tidak ingin pekerjaanmu terganggu jika sesuatu terjadi pada Shaka."
Daffin memicingkan matanya ketika menatapku, sepertinya dia tidak mempercayaiku begitu saja.
"Kau mencurigaiku?" tanyanya, langsung mengenai sasaran.
Mataku membulat sempurna. Terkejut karena Daffin bisa menebak apa yang ada di pikiranku dengan tepat. Dia bahkan tidak berbasa-basi terlebih dulu.
"Hah! Tidak! Tidak! Aku- Aku hanya ...," Hanya apa? Ayo, berpikir, Ayasya! Sial, otakku buntu.
Daffin mendengus kemudian menatap Shaka sebelum tersenyum kecut. "Katakan saja padanya apa yang terjadi, Shaka! Nyonya Stevano tidak akan diam sebelum rasa ingin tahunya terpenuhi."
Bola mataku bergerak bergantian menatap Shaka juga Daffin. Tak tahu harus mengatakan apa karena keduanya bungkam sementara raut wajah mereka tak terbaca olehku.
__ADS_1
"Shaka?" panggilku, ketika Shaka tetap bungkam.
Shaka menaikkan pandangannya, ada sesuatu di matanya yang sempat membuat aku terkejut. Namun, aku langsung menepis hal itu.
"Tidak ada yang ingin mengatakan apapun padaku?" tanyaku, bosan hanya menyaksikan kebisuan kedua pria ini.
"Aku yang menendang kakinya!" celetuk Daffin, memaksaku untuk melihat ke arahnya.
Mataku terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar. Aku benar-benar terkejut, tapi bukan karena ucapan Daffin. Aku terkejut karena Daffin mengatakan hal itu dengan santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Bibirku mencebik. "Lalu, kau bangga telah melakukannya?"
Decakan kesal lolos dari mulut Daffin, sebelum dia berdiri dan berhadapan dengan Shaka.
"Aku menyesal telah melakukannya." Daffin menepuk bahu Shaka. "Apa aku melukaimu, Shaka?" tanyanya sarkastis.
Sudah jelas di depan matanya bahwa Shaka berjalan dengan susah payah. Itu artinya dia begitu melukai Shaka hingga pria kaku itu meringis kesakitan.
"Tidak, Tuan," jawab Shaka.
Sudut mataku melirik sebal melihat interaksi kedua pria itu. Aku tahu bahwa mereka hanya sedang bersandiwara di hadapanku untuk menutupi masalah yang sebenarnya.
Aku segera berdiri dengan tangan terkepal ketika menatap Daffin. "Mungkin kau pikir bisa membodohiku karena aku bodoh, tapi jika kau pikir aku sebodoh itu, maka itu artinya kau lebih bodoh daripada aku, Daffin!"
Kening Daffin berkerut. Entah dia sedang mencerna ucapanku atau bingung dengan kata-kata yang aku gunakan, tapi dari caranya menatapku aku tahu jika Daffin tidak menyukai sikapku ini.
"Kau semakin pintar, Nyonya Stevano!" Daffin bertepuk tangan memecah keheningan. "Sepertinya akan lebih berbahaya jika aku menyembunyikan hal sebesar ini darimu." ucapnya.
Dahiku mengernyit. "Maksudmu? Apa lagi yang kau sembunyikan dariku kali ini?"
Daffin menyeringai dengan rahang menegang. "Selamat! Pesonamu telah berhasil mencairkan gunung es di hatinya!"
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1