Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SEKAT


__ADS_3

IBU...


Satu kata yang terlontar begitu saja dari bibirku ketika aku merasakan ketidakberdayaan wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini.


"Jangan meminta maaf! Akulah yang salah. Maafkan aku ... Ibu!" cicitku, bahkan hampir tertelan oleh isak tangisku yang semakin menjadi.


Penyesalan akan sikapku selama ini kepada ibuku sendiri membuatku malu untuk menatap bayanganku sendiri. Memang pantas aku membenci pilihannya kala itu, tapi bukan berarti aku bisa membenci dia yang telah mempertaruhkan nyawanya hanya demi memberikan aku kesempatan melihat dunia.


Cukup lama aku dan Maya, maksudku ibuku. Kami berpelukan cukup lama dan saling meluapkan emosi yang lama kami pendam hingga air mataku mengering dengan sendirinya.


"Sudah," ucap ibu setelah melepaskan pelukannya.


Tangan lembut ibu mengusap kedua mataku yang sembab, kemudian membelai rambutku dengan lembut. Sungguh sesuatu yang sangat ingin aku rasakan sejak aku kecil. Walaupun nenek dan tante Ratih selalu memperlakukan aku dengan penuh kasih sayang, tapi rasanya tetap berbeda ketika ibuku sendiri yang melakukannya.


Aku tertunduk malu, tak berani menatap mata ibuku. Rasanya aku begitu hina karena telah bersikap kurang ajar padanya selama ini, meskipun ibu telah berusaha untuk menjelaskan alasannya melakukan itu padaku.


"Ada apa, Sayang?" tanya ibu lembut, seperti biasa.


"Maaf ...," lirihku, sedikit menaikkan pandanganku.


Ibu menghela nafas sebelum menjawab, "putri Ibu tidak bersalah. Ibu lah yang bersalah. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas hal yang tidak pernah kau lakukan!"


"Tapi aku sudah bersikap kurang ajar padamu," ucapku malu.


"Itu bukan salahmu! Kau hanya butuh waktu untuk memahami segalanya." Ibu kembali merengkuh tubuhku dan menciumi rambutku berulang kali. "Ibu selalu menyayangimu, Sayang." ungkap ibu.


Dalam pelukan ibu, aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang sudah lama tidak aku dapatkan sejak kepergian kak Erlan. Aku hanya mengangguk pasti dalam pelukan ibu serta menghirup aroma tubuh ibu yang menenangkan.


"Hei, apa kalian melupakan kehadiranku?" seru Daffin, dia masih berdiri di tempatnya dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.


Ibu melepaskan pelukannya dan menatapku sesaat sebelum menatap Daffin. "Tidak mungkin aku melupakan putra kesayanganku."


Daffin tersenyum puas. "Kau melupakan sesuatu, Maya! Aku bukan hanya putramu sekarang, tapi aku juga menantumu."


"Kau benar, Daffin!" sahut Maya, kemudian mereka berdua tertawa. Entah menertawakan apa.


"Apa kalian sudah puas tertawa?" ketusku, karena merasa seperti orang bodoh. "Apakah dokter Reinhard bukan orang sibuk yang bisa di temui kapan saja?" tanyaku.

__ADS_1


Tanpa di duga, Daffin tiba-tiba menghampiriku dan mencium keningku. "Maaf karena telah membuatmu menunggu, Nyonya Stevano!"


Tubuhku membeku. Perlakuan Daffin semakin lama semakin manis dan sulit untuk aku tolak. Bagaimana ini? Apakah sudah waktunya aku membalas semua sikap manisnya? Tapi aku tidak terbiasa bersikap manis. Apa aku harus mulai menyukai makanan manis agar sikap dan ucapanku sedikit lebih manis?


Aku mengerjap ketika Daffin mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. "Singkirkan tanganmu!"


Daffin terkekeh. "Inilah Nyonya Stevanoku."


Astaga! Satu kali lagi kalimat meluncur dari bibir manisnya itu, aku yakin kadar gula darahku pasti naik drastis.


"Ayo, pergi!" ajakku seraya berbalik, mencoba mengalihkan perhatian.


"Tunggu, Sayang!" teriak ibu, tepat ketika aku hendak melangkah.


Aku menoleh dan melihat ibu sedang memegangi pergelangan tanganku. "Aku harus pergi, Bu. Apa kau masih tidak yakin kepada dokter Reinhard?"


Ibu tidak menjawab, melainkan hanya menuntunku kembali ke kamar tidurku kemudian memasuki walk in closet untuk mengambil sebuah sweater dengan kerah turtleneck yang di padukan dengan sebuah cardigan.


"Ganti pakaianmu, Sayang!" titah ibu, dia meletakkan pakaian yang tadi dipilihnya di atas tanganku.


"Tapi aku rasa pakaian ini sudah cukup nyaman." sergahku, mencoba bernegosiasi karena sejujurnya aku malas mengganti pakaianku.


Mataku terbelalak melihat ada beberapa bekas gigitan di leherku. "I- Ini ...."


"Kau harus lebih berhati-hati, Sayang, usia kandunganmu masih terlalu muda. Jangan terlalu keras melakukannya!" ucap ibu yang langsung menghadirkan semburat merah di wajahku.


"Aku akan mengganti pakaianku." Aku segera berjalan ke ruang ganti untuk mengganti dress yang aku kenakan dengan pakaian yang dipilihkan ibu.


Pagi ini, aku begitu terburu-buru ketika mandi dan berpakaian sampai aku tidak menyadari jika ada banyak tanda seperti ini di leherku.


"Plankton menyebalkan!!! Ini pasti ulahnya. Dasar pria mesum!" teriakku geram, ketika menyadari bahwa tanda itu bukan hanya ada di leherku. "Lihat saja! Aku akan membalasmu, Plankton!"


***


Kepercayaan diriku seketika luntur karena insiden gigitan nyamuk yang tidak aku sadari. Bodohnya aku! Sudah menikah dua kali, tapi masih saja tidak peka untuk hal seperti ini. Pagi tadi saat keluar dari kamar, aku begitu percaya diri mengenakan dress terbuka yang menampakkan leherku karena aku tidak melihat pantulan tubuhku di cermin. Namun, sekarang aku tidak percaya diri meski aku sudah mengenakan pakaian yang menyembunyikan tanda-tanda keusilan Daffin karena aku begitu malu dengan ucapan ibu yang menyiratkan bahwa aku menikmati permainan Daffin semalam.


"Tersenyumlah, Nyonya Stevano! Kenapa kau terus saja melipat wajahmu seperti itu?" tanya Daffin setelah kami berdua sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


Aku menurunkan sedikit kacamata hitam yang bertengger di atas hidungku untuk melirik Daffin. "Wajahku tidak akan kusut seperti ini, jika kau tidak melakukan hal yang tidak senonoh padaku semalam."


Gelak tawa Daffin terdengar memenuhi mobil. Aku bahkan sempat melihat Shaka melirik melalui kaca spion. Ternyata, si kanebo punya rasa ingin tahu juga.


"Hal tidak senonoh apa? Aku hanya mencium istriku sendiri." sanggah Daffin, wajahnya bahkan tidak menyiratkan perasaan bersalah sedikitpun.


"Mencium sampai meninggalkan jejak!" lontarku sinis.


"Astaga! Itu karena kau begitu menggemaskan saat tertidur, My Starfish! Aku jadi tidak bisa menahannya. Apalagi saat kau hanya menggeliat dan mengeluarkan suara yang semakin membuatku emm ...," Dengan cepat aku menutup mulut Daffin sebelum dia mengeluarkan kata-kata frontal.


"Jangan bicara sembarangan!" pintaku dengan satu telunjukku mengarah ke wajah Daffin sebagai sebuah peringatan.


Daffin mengerutkan dahinya, tapi sesaat kemudian dia mengangguk pasti.


"Hah!" Daffin menghembuskan nafasnya kasar. "Tanganmu kecil, tapi cukup untuk menghentikan nafasku." ucap Daffin seraya membolak-balikan telapak tanganku.


"Itulah ... jangan mencari masalah denganku!" ancamku dengan nada sombong dan tatapan menantang.


Daffin tak ingin kalah. Dia juga membalas tatapan mataku dengan tajam sehingga kami terikat oleh tatapan mata yang saling melemparkan sihirnya.


Lambat laun, pelan tapi pasti. Daffin semakin mendekatkan wajahnya denganku dan hampir saja menempelkan bibir sensualnya di atas bibirku jika aku tidak menahannya.


"Kenapa? Hanya satu kali saja," rengek Daffin, membuatku ingin mencubit hidungnya.


Sudut mataku melirik ke arah kursi pengemudi. "Kau ingin bersikap salah tingkah lagi seperti kemarin?"


Aku bisa mendengar Daffin mendengus kesal dan melemparkan pandangannya keluar jendela.


"Shaka, mulai hari ini buat sekat di antara kursi penumpang dibelakang dan pengemudi di semua mobilku! Tanpa terkecuali!" titah Daffin, tak terbantahkan.


Ketika aku masih berpikir apa yang sebenarnya akan di lakukan Daffin, aku mendengar Plankton mesum itu bergumam.


"Agar aku bisa bebas melakukan apapun dengan nyonya Stevano."


Hallo semuanya ๐Ÿค—


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya ๐Ÿ˜

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘ dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆsebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐Ÿ˜˜


I โค U readers kesayangan kuhh


__ADS_2