Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
LILY YOVELA KAFEEL


__ADS_3

Mungkin aku memang telah salah bersikap pada Maya karena bagaimana pun dia adalah wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini. Seperti Daffin yang begitu menghormatiku yang tengah mengandung benih Planktonnya.


Walau egoku menginginkan agar Maya mendapatkan balasan atas apa yang telah dia lakukan padaku di masa lalu, tapi hatiku melawan dan ingin agar aku berdamai dengan rasa sakit dan kecewa yang telah aku pendam selama ini.


"Lepaskan aku!" Aku mendorong tubuh Daffin agar dia mau melepaskan pelukannya.


Meski terlihat enggan, tapi Daffin tetap melepaskan kaitan tangannya dan membiarkanku melihat wajahnya dan juga Maya.


"Kenapa kalian begitu membenciku? Hingga rasanya tak pernah habis rasa sakit yang kalian torehkan di hatiku." lirihku, semampunya aku menahan sapuan air yang ingin meluncur dari mataku.


"Itu tidak benar, Sayang! Ibu tidak pernah membencimu." sanggah Maya, sekali lagi dia mencoba untuk memelukku.


"Berhenti!" Aku mengangkat tanganku ke udara tepat ketika Maya akan melangkah lebih dekat.


Melihat penolakanku terhadap Maya, Daffin mencoba untuk mendekatiku lagi. "Tenanglah, Nyonya Stevano!"


"Jangan mencoba untuk membujukku, Daffin! Bukankah kau ingin menjauh dariku? Maka pergilah! Pergi sejauh mungkin!" hardikku, tak kuasa aku menahan gejolak emosi hingga akhirnya air mata membasahi pipiku.


Daffin mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa kau selalu salah paham kepadaku, Ayasya?"


"Karena kau memang selalu salah memperlakukanku!"


"Kau yang tidak pernah mengerti tindakanku! Karena semua yang ku lakukan selalu salah di matamu."


Aku bisa merasakan amarah yang begitu besar dari kata-kata Daffin. Dia juga sama sekali tidak terlihat menyesal karena telah mengatakan itu.


"Daffin ... sudahlah! Kenapa kau mengatakan hal yang menyakiti hatinya?" tanya Maya lembut, dia bahkan mengusap-usap bahu Daffin.


Dalam sekejap, kemarahan Daffin mereda. Semua itu terlihat dari rahangnya yang mulai mengendur serta kilatan amarah yang mulai memudar di matanya.


"Maaf, Maya, tapi kau tahu aku sangat mencintainya." lirih Daffin, dia melepaskan tangan Maya yang masih menempel di bahunya.


Perlahan, Daffin mengurangi jarak di antara kami dan membiarkan aku melihatnya dari dekat. Aku bisa melihat sudut matanya yang memerah.


"Ikut denganku!" Daffin meraih tanganku dan menuntunku untuk pergi ke suatu tempat.


***


Suara deburan ombak menyapu telingaku dari kejauhan. Aku bisa merasakan hembusan angin laut yang mulai menyapa ketika mobil Daffin mulai menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok.


"Kenapa kita kesini, Daffin?" tanyaku, ketika mobil Daffin berhenti di tepi pantai.

__ADS_1


Bukannya menjawabku, Daffin malah menatapku dengan tatapan aneh yang membuatku tidak nyaman.


"Jangan katakan kau ingin kembali ke dasar laut!" tanyaku dengan mata memicing. "Ya, walaupun sebenarnya aku sangat bahagia jika itu benar, tapi setidaknya kau bisa -"


Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena tiba-tiba Daffin melakukan serangan untuk membungkam mulutku.


Hangatnya bibir Daffin mengambil kuasa penuh atas bibirku. Perlahan, tapi pasti kehangatan itu pun mulai memenuhi rongga mulutku hingga membuatku kesulitan bernafas.


"Hah ... hah ... hah ...," Dengan paksa aku melepaskan pagutan bibir Daffin. "Kau ingin membunuhku?" sungutku, begitu aku mulai bisa mengatur nafasku kembali.


Tak di sangka, Daffin tersenyum ceria. "Sepertinya itu ide yang bagus."


"Plankton!!!"


Gelak tawa Daffin membahana di dalam mobil dan membuatku terlihat seperti orang bodoh, tapi aku tetap membiarkannya karena entah mengapa hatiku merasa damai melihatnya tertawa seperti itu.


"Sorry, My Starfish, aku selalu lupa diri setiap kali berada di dekatmu." Wajah Daffin berubah serius dan mata biru itu terfokus padaku.


"Kau benar! Aku saja bahkan lupa siapa diriku setiap kali aku berhadapan denganmu." selorohku tanpa ragu.


Senyuman geli tertarik di sudut bibir seksi milik Daffin. "Astaga! Itu berbeda, My Starfish, aku lupa diri bukan melupakan siapa diriku."


"Whatever!" ketusku, kemudian membuka pintu mobil.


"Nyonya Stevano!" teriak Daffin, dia baru saja keluar dari mobilnya.


Wajah tampan serta tubuh atletis yang berbalut pakaian formal itu membuat akal dan pikiranku sejenak melupakan penderitaan yang pernah dia berikan padaku.


"Pakai ini!" Daffin memakaikan kacamata hitam untuk melindungi mataku.


"Hemm ...," jawabku seraya merapihkan letak kacamata yang bertengger di atas hidungku.


"Hei, itu milikku!" sergah Daffin.


"Apa?" tanyaku dengan alis menukik tajam.


"Kata " hemm" itu." Daffin tersenyum usil.


"Apa kau punya sertifikat kepemilikan atas kata itu?" tanyaku acuh, kemudian melanjutkan langkahku menyusuri pantai.


"Tunggu, Nyonya Stevano!" panggil Daffin, langkah kakinya kini sudah menyamai langkah kakiku. "Ternyata ... kau masih menyukai tempat ini, sama seperti dulu." ucapnya.

__ADS_1


Aku rasa, ada yang aneh dengan ucapan Daffin hingga aku pun menoleh dan melihat pandangan Daffin masih lurus menatap ke depan. Walaupun matanya masih bersembunyi di balik kacamata hitamnya.


"Darimana kau tahu bahwa aku menyukai pantai?" selidikku.


Langkah kaki panjang Daffin terhenti dan tubuh tinggi kekar itu berbalik untuk menghadapku. "Aku tahu semua tentangmu."


"Ah, kau pasti memata-matai aku!" tuduhku, bahkan tanpa menunggu Daffin menjelaskan.


"Sebagian iya, sebagian lagi tidak!" tegas Daffin.


Aku mencebik kesal. "Jangan bermain teka-teki denganku! Kau tahu, aku ini bukan wanita cerdas."


Tiba-tiba, tangan besar Daffin meraih tanganku dan menciumnya dengan lembut. "Ayasya Zakiya Stevano ... bukan, tapi Lily Yovela Stevano. Kau adalah satu-satunya wanita yang selalu mengisi hati dan pikiranku."


Bukan ungkapan cinta Daffin yang membuatku terganggu, tapi nama yang dia pakai untuk menggantikan namaku yang telah di berikan oleh neneknya kak Erlan.


"Li- ly?" ucapku terbata, karena kerongkonganku tercekat.


"Benar! Kau adalah Lily. Lily Yovela Kafeel. Putri dari tuan Kafeel dan juga Maya." jawab Daffin antusias.


Dengan paksa aku menghempaskan tangan Daffin dan perlahan memundurkan langkahku. "Tidak! Aku bukan Lily! Aku Ayasya!"


"Hati-hati, Lily!" sergah Daffin, dia berusaha menggapai tanganku.


"Sudah ku katakan! Aku bukan Lily!" hardikku.


"Baiklah, Nyonya Stevano, tapi tolong berhenti melangkah mundur seperti itu! Nanti kau jatuh dan akan membahayakan anak kita." bujuk Daffin.


Untuk pertama kalinya, aku menyetujui ucapan Daffin. Dia benar! Jika aku sampai terjatuh, nyawa anakku akan menjadi taruhannya dan aku tidak akan sanggup untuk kehilangan anakku lagi.


"Good!" Segera Daffin merengkuh tubuhku dan membelai rambutku dengan lembut.


"Daffin, sejak kapan kau tahu?" tanyaku lirih, dalam pelukan Daffin.


"Bahwa kau Lily?" tanya Daffin kembali dan mendapatkan anggukan kepala dariku.


"Sejak kau tiba-tiba pergi setelah penyatuan kita malam itu."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2