Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SEBENARNYA


__ADS_3

"Terima kasih telah melahirkan aku, Bu."


Hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan sebagai rasa syukur karena terlahir dari seorang wanita baik seperti ibuku, bukan wanita malam seperti yang selalu di katakan teman-temanku dulu.


Hidupku kini sangat sempurna. Aku memiliki identitas, kehormatan, dan yang paling penting adalah kedua orang tuaku. Hanya satu yang masih mengganjal di dalam hidupku saat ini.


"Daffin ...," Tatapan mataku terpaku pada sosok Daffin yang berdiri di sampingku.


Aku bisa merasakan sapuan tangan Daffin ketika dia menghapus air mata yang terjatuh tanpa ku sadari.


"Berbahagialah! Ini harimu, Nyonya Stevano," ucap Daffin dengan seulas senyum tipis di wajahnya.


Sebuah senyuman sempat ku lemparkan pada Daffin sebelum pandanganku beralih pada ayah dan ibu. Aku tidak bisa lagi menahan, bibirku bergetar karena ingin menangis hingga aku pun mencoba menutupinya dengan menggigit bibir bawahku.


"Sayang ...," Ibu langsung merengkuh tubuhku. "Ada apa? Bukankah kau bahagia? Apa kami melakukan kesalahan yang menyakiti hatimu?" tanya ibu panik.


Apa yang harus aku katakan? Aku bahagia. Bahkan sangat bahagia hingga aku tak mampu berkata-kata. Sejak kecil, aku selalu ingin merayakan hari ulang tahunku bersama kedua orang tuaku dan hal itu terwujud hari ini. Apalagi hal ini terjadi di tengah situasi yang sempat memburuk beberapa minggu yang lalu hingga memantik perselisihan di antara dua keluarga. Aku sungguh berharap, hubungan keluarga Stevano dan juga keluarga Kafeel akan kembali membaik.


Aku melepaskan pelukan ibu. "Tidak, Bu! Aku justru sangat bahagia. Ulang tahunku sebelumnya ... begitu menyedihkan. Tapi ulang tahunku kali ini sangat membahagiakan. Tuhan telah menggantikan kak Erlan dengan kehadiran ayah dan ibu."


Tangan ayah membentang dan tanpa menunggu perintah siapapun, aku dan ibu langsung berhambur memeluk ayah.


Tuhan, tolong hentikan waktu untuk saat ini! Aku benar-benar ingin merasakan kebahagiaan ini untuk selamanya.


"Bagaimana jika kita makan? Perutku sudah berteriak sejak tadi," celetuk daddy David.


Kami semua tertawa kemudian berjalan menuju ruang makan. Sesampainya di meja makan, Daffin menarik kursi untukku dan berniat duduk di sampingku.


"Berhenti, Daffin! Aku tidak mengizinkanmu berada di dekat putriku." sergah ayah, seraya menunjuk ke arah kursi kosong di sampingku.

__ADS_1


Hah! Aku pikir ulang tahunku akan menjadi momen terbaik untuk memperbaiki hubungan Daffin dengan ayah, tapi sepertinya harapanku sia-sia saja.


"Aku setuju denganmu, Reyno," sahut daddy David.


"Dad! Kau lupa siapa putramu?" sungut Daffin, mata birunya menatap tajam daddy David yang sedang tersenyum usil.


"Aku ingat! Hanya saja aku sedang berusaha melupakannya. Bagaimana jika kita menikahkan putri kita dengan seorang pemuda sukses yang masih muda dan juga tampan, Reyno?" seloroh daddy David, dia bahkan mengacuhkan kutukan Daffin padanya.


Bukan hanya Daffin, tapi aku juga sangat terkejut ketika ayah menyetujui usulan daddy David.


"Ide bagus, David! Rei, buat sayembara untuk mencari pemuda baik yang siap menikahi Lily! Aku akan memberikan seluruh hartaku padanya." Kedua tangan ayah menopang dagunya.


"AYAH!!!" teriakku di saat yang bersamaan dengan Daffin dan membuat tatapan kami bertemu.


"Sudah! Sudah! Berhenti saling menatap! Memangnya kalian bisa bahagia hanya dengan saling menatap?" lontar daddy David, dia bahkan melemparkan satu buah apel ke arah Daffin.


Beruntung, tangan Daffin cukup cekatan dan berhasil menangkap apelnya. "Dad, tidak lucu! Jangan membuatku marah!"


"Tapi Ayah tidak bercanda, Lily! Ayah akan menikahkan putri Ayah dengan pemuda baik yang bisa menerima dirimu." Ayah mengucapkan hal itu dengan santainya, seolah putrinya adalah gadis lajang.


"Aku!" Daffin tiba-tiba berdiri dengan penuh keyakinan. "Hanya aku yang bisa mencintai putrimu, Ayah, karena dia adalah istriku." tegasnya.


Wajah ayah menyeringai. "Kau menikahi Ayasya, bukan Lily putriku! Aku tidak pernah merasa menyerahkan putriku kepada pria manapun!"


"Tapi aku sudah menikahinya, Ayah, dan saat ini ada hasil keringatku di dalam rahimnya!" sergah Daffin.


Astaga!!! Aku ingin menyumpal mulut Daffin karena ucapannya membuatku malu bukan main. Kenapa sepertinya dia menjadi sedikit bodoh dan juga kenakan? Apakah itu menular dariku? Ah, tidak mungkin! Aku tidak merasa jika aku bodoh.


"Apa katamu? Kau juga harus ingat, jika Lily adalah hasil keringatku. Bukan begitu, Maya Sayangku?" Ayah menatap penuh cinta pada ibu yang tertunduk malu.

__ADS_1


"Aku ingat, Ayah, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan aku dengan istri dan anakku!" hardik Daffin, rahangnya yang kokoh mulai menegang.


Ayah berdecak cukup nyaring. "Siapa yang akan memisahkanmu dengan istri dan anakmu? Aku hanya mengatakan bahwa aku akan menikahkan putriku bukan memisahkan dirimu dari istri dan anakmu, Daffin."


Aku mulai bingung. Apa sebenarnya maksud ayah? Dan ketika aku melihat daddy David, aku semakin tidak mengerti karena dia masih memakan makanannya dengan lahap seolah tidak terjadi apapun.


"Kak, sudahlah! Kau tidak lihat, tekanan darah Daffin sudah naik. Aku perkirakan dia akan terkena stroke dalam beberapa menit ke depan jika Kakak terus menggodanya." Om Rei akhirnya bersuara untuk menengahi keributan antara ayah dan juga Daffin.


Aku menarik nafasku dalam, mencoba menghirup semua oksigen yang ada untuk menambah kekuatanku. Perlahan aku mendekati ayah dan melingkarkan tanganku di bahunya lalu menempelkan kepalaku di atas kepala ayah.


"Ayah, jika kau tidak menyukai pernikahanku dan Daffin, maka aku bersedia untuk bercerai dengannya. Tapi Ayah, aku tidak bisa menikah dengan orang lain karena aku hanya mencintai Daffin. Hanya dia yang akan menjadi ayah dari anak-anakku." Aku mulai kekurangan oksigen karena detakan jantungku yang berpacu begitu cepat.


Keheningan langsung menyergap. Semua mata tertuju padaku, tapi hanya mata biru Daffin yang menjadi pusat perhatianku.


Kemarahan, kesedihan, dan juga kekecewaan bercampur menjadi satu di dalam sorot matanya. Aku tahu dia terluka, tapi aku tidak bisa menjalani rumah tangga di atas pondasi yang rapuh. Aku tidak ingin bernaung di dalam bangunan yang bisa runtuh kapan saja.


"Kau yakin, Sayang?" tanya ibu, memecah keheningan dan juga memutuskan kontak mataku dengan Daffin.


Aku mengangguk ragu. "Jika itu yang di inginkan Ayah dan Ibu."


"Sayang, tidak ada orang tua yang menginginkan kehancuran rumah tangga putrinya. Kau telah salah memahami keinginan ayahmu." Ibu berdiri dan menghampiriku dan ayah. "Reyno, katakan yang sebenarnya pada Lily! Lihatlah putrimu, dia terus saja bersedih sejak dia kembali ke rumah ini. Bukankah hal itu juga yang membuatmu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam?" tanyanya.


Dahiku mengernyit seraya menatap ibu dan ayah secara bergantian. "Ada apa ini?"


"Sebenarnya, Sayang ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2