Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
CINTA MASA LALU


__ADS_3

Cinta...


Sebuah rasa yang tak bisa di duga kapan akan hadir dan menyinggahi hati siapa.


Seperti yang terjadi pada om Rei. Dia mencintai ibuku yang jelas-jelas sudah bersuami dan sebentar lagi akan memiliki cucu.


"Aku mencintai ibumu, Ayasya." ungkap om Rei, seketika membuat mataku terbelalak.


Aku menatap ibu yang terlihat gelisah. "Bu?"


"Tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang!" tegas ibu, seraya mengibaskan kedua tangannya.


"Lalu seperti apa, Bu? Apa Ibu berselingkuh dengan om Rei? Atau mungkin aku adalah ...," tanyaku dengan alis terangkat.


"Tidak! Tidak, Sayang!" sanggah ibu, wajahnya begitu panik.


"Ayasya?" panggil om Rei, membuatku mengalihkan perhatianku padanya.


"Aku harap Om bisa memberikan penjelasan yang masuk di akalku." sinisku.


Om Rei terlihat menghela nafasnya cukup dalam. "Dulu ... aku begitu mengagumi kakak iparku yang cantik dan lembut."


Flashback on...


Hari itu, sedang berlangsung pesta pernikahan yang begitu megah di sebuah kastil di pinggiran kota. Pernikahan itu bukanlah pernikahan biasa, karena kedua mempelai berasal dari keluarga kelas atas serta memiliki paras yang sama-sama rupawan.


Suasana begitu ramai dan riuh oleh ucapan selamat dan sorak kegembiraan, di tambah kepulangan putra bungsu keluarga Kafeel. Tidak ada yang mengetahui sosoknya karena dia sangat tertutup dan memilih jalan yang berbeda dengan sang kakak.


"REI!!!" teriak sang mempelai pria ketika melihat sosok yang di rindukan.


"Aku merindukanmu, Kak." ungkap Reinhard, pandangannya beralih pada sosok baru yang menjadi kakak iparnya. "Cantik!" lontarnya.


"Tentu saja! Dia istriku, Maya Reyno Kafeel." ucap Reino bangga.


Reinhard tidak bisa berhenti menatap sosok Maya yang mengulurkan tangan padanya, sampai Reyno menepuk bahunya.


"Hati-hati dengan matamu, Rei! Tatapan Maya memiliki sihir yang akan membuat siapapun jatuh hati padanya."

__ADS_1


Flashback off ...


"Jadi, Om menyukai ibuku sejak pertama melihatnya?" tanyaku, mencoba menarik kesimpulan.


Om Rei mengangguk. "Tepat sekali! Reyno benar. Mata ibumu memiliki sihir yang membuatku langsung terikat padanya, tapi aku sadar bahwa apa yang aku rasakan padanya adalah sebuah kesalahan. Aku tidak bisa terus menerus bertemu dengannya, sehingga aku memutuskan untuk kembali meneruskan pendidikanku di luar negeri selama beberapa tahun lagi, berharap setelah aku kembali perasaanku pada ibumu akan hilang. Namun, saat aku kembali, Reyno telah menduakan cinta ibumu dan itu menyakitiku. Terlebih wanita itu adalah teman ibumu sendiri."


Om Rei berhenti sejenak untuk mengelap kacamatanya yang berembun. Sebenarnya, om Rei jauh lebih tampan daripada ayahku. Hanya saja dia selalu menggunakan kacamata yang menutupi keindahan mata dan juga bentuk hidungnya yang proporsional.


"Jangan di pakai lagi, Om!" Aku mengambil kacamata di tangan om Rei dan memasukkannya ke dalam tasku.


"Kenapa?" tanya om Rei, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. "Baiklah! Jika Ayasya sudah berkata, maka Om tidak bisa membantah." ucapnya pasrah.


"Bagus! Ternyata Om masih mengingatnya." sergahku, di ikuti senyuman yang mengembang di wajahku. "Lanjutkan cerita Om tadi!" pintaku.


"Bagaimana jika kita mencari tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol?"


***


Om Rei membawaku dan ibu ke sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Kami bertiga memilih private room agar lebih bebas untuk berbincang.


"Kita makan terlebih dulu." Om Rei mulai mengambil sendok dan garpunya, tapi aku langsung menahan tangannya.


"Ceritakan lebih dulu!" tegasku, dengan wajah seserius mungkin.


"Bagaimana kalau makan sambil bercerita?" usul ibu yang langsung mendapat persetujuan dariku dan juga om Rei.


Dan begitulah, kami menikmati makan siang kami bersama kisah masa lalu memilukan om Rei yang mencintai ibu dalam diam.


"Terakhir, aku mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku pada ibumu ketika kau hilang, tapi ibumu justru membuat jarak di antara kami berdua." lirih om Rei, sesekali sudut matanya melirik pada ibu.


"Maaf, Rei, tapi kau tahu aku tidak ingin menimbulkan masalah bagi siapapun." ucap ibu, tanpa menatap mata om Rei.


"Kau mencoba mengalah, tapi Anna terus saja meraih apa yang dia inginkan. Lihat! Meskipun kau menjaga jarak dariku, tapi Anna tetap bisa menciptakan masalah di antara kau, aku dan juga Reyno." sergah om Rei penuh emosi.


"Anna?" Aku mencoba mencari tahu, siapa lagi yang terlibat dari hubungan om Rei dan ibu.


Ibu menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Anna adalah ibunya Reena. Dia -"

__ADS_1


"Dia teman baik ibumu." sambar om Rei, tak membiarkan ibu menyelesaikan ucapannya. "Sayangnya, dia tidak sebaik ibumu. Dia membuat Reyno berpikir bahwa ibumu berselingkuh denganku." tambahnya.


"Maksud Om, ini kisah segi empat?" Aku mengetuk-ngetukkan jariku di atas dahiku. "Om dan tuan Kafeel mencintai ibu, kemudian ibunya Reena mencintai tuan Kafeel. Kenapa waktu itu Om tidak menikahi ibunya Reena saja agar dia tidak mengganggu kehidupan ibuku?" lontarku, tiba-tiba terlintas pikiran seperti itu.


"Aku menunggu Reyno menceraikan ibumu, tapi Reyno begitu serakah! Dia tidak mau melepaskan ibumu dan terus mengikatnya dengan rasa sakit yang membuat ibumu tidak berdaya." Kedua tangan om Rei mengepal kuat.


"Sudahlah, Rei! Itu semua sudah terjadi dan semaunya bukan kesalahan Reyno. Dia juga korban dari takdir yang menyedihkan ini." cicit ibu, satu bulir air lolos dari pelupuk matanya.


"Reyno bukan korban, Maya! Dia bisa saja memilih saat itu, tapi dia tetap membawa Anna dan tetap mengikatmu disisinya. Dia juga bodoh karena lebih mempercayai wanita itu daripada dirimu!" geram om Rei, nampak jelas kekecewaan di matanya.


"Om, boleh aku bertanya?" tanyaku ragu, karena melihat kilatan amarah di mata om Rei.


"Silahkan! Kau boleh bertanya apapun, kecuali bertanya kapan aku akan menikah." canda om Rei, di susul tawa ringan yang sedikitnya mencairkan suasana.


Tak ku sangka, lelucon om Rei membuat pipi ibu merona dan terus menundukkan pandangannya. Ya Tuhan, jika aku bisa memilih, aku ingin terlahir sebagai putrinya om Rei saja.


"Jika Om membenci tuan Kafeel, kenapa Om menjadi dokter pribadinya?" tanyaku, seraya memakan makanan yang ada di piringku.


Om Rei terkekeh dan melihat sekilas ke arah ibu. "Tentu saja karena ibumu! Aku ingin selalu berada di sisinya. Lagi pula, Reyno adalah kakak kandungku. Aku tidak bisa mengabaikan kesehatannya hanya karena perasaan tak terbalasku terhadap ibumu, tapi aku benar-benar kecewa pada Reyno ketika dia mengusir ibumu. Saat itu, aku marah besar dan mengatakan bahwa aku tidak akan menjadi dokter pribadinya lagi."


"Lalu, apa yang dikatakan olehnya?" tanyaku penasaran.


"Dia menyesal karena telah mengusir ibumu." jawab om Rei, tatapannya terfokus pada ibu yang kini mulai menangis. "Maya, jangan membuang air matamu untuk Reyno! Dia tidak pantas untuk itu."


"Bu, kuatkan dirimu! Aku tahu kau mencintai tuan Kafeel, tapi dia telah mengacuhkan kita berdua. Ibu lihat sendiri, dia lebih memihak Reena dan ibunya. Menurutku, lebih baik Ibu bersama dengan pria yang siap membahagiakan Ibu." Aku memeluk ibu dan mengerlingkan sebelah mataku pada om Rei.


Senyuman mengembang di wajah om Rei, dia bahkan mengacungkan ibu jarinya padaku. Sepertinya itu di sadari ibu karena ibu tiba-tiba melepaskan diri dari pelukanku.


"Tidak bisa, Sayang! Suatu hari kau akan mengerti kenapa Ibu tidak bisa meninggalkan ayahmu dan kenapa Rei tidak menikah sampai saat ini."


Hallo semuanya ๐Ÿค—


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya ๐Ÿ˜


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐Ÿ˜˜


I โค U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2