
Degup jantungku berpacu beriringan dengan deru mobil Daffin. Aku tak tahu apa yang akan aku hadapi di depan sana, tapi aku sudah menentukan pilihan bahwa aku akan memberikan kesempatan pada Maya untuk menjelaskan alasannya membuangku.
Perjalanan pulang yang sedang aku tempuh ini terasa amat panjang dan membuatku lelah. Tak sadar aku pun akhirnya terlelap dan membiarkan diriku melupakan kegelisahan ini untuk sesaat.
"My Starfish ...," Aku merasakan hangatnya hembusan nafas Daffin tepat di wajahku.
Benar saja! Ketika aku membuka mata, wajah tampan dan maskulin Daffin berada di atas pandanganku. Mata biru itu seperti menyihirku dan membuatku seolah tak dapat berkutik.
Untuk beberapa saat, hanya mata kami yang saling berkomunikasi hingga seorang pengawal mengetuk kaca mobil Daffin. Dengan wajah kesal Daffin menurunkan kaca mobilnya yang mana hal itu membuat pengawal tadi menciut dan menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Daffin sinis.
"Maaf, Tuan, nyonya Maya sedang menunggu anda." jelas pengawal itu, dia tidak berani menaikkan pandangannya.
Daffin mengibaskan tangannya untuk meminta pengawal itu pergi dan langsung menaikkan kembali kaca mobilnya.
"Apa kita sudah sampai sejak tadi?" tanyaku akhirnya setelah kesadaranku kembali sepenuhnya.
Mata Daffin melirik jam di tangannya. "Sekitar tiga puluh menit yang lalu,"
"Apa? Kenapa kau tidak membangunkanku?" Aku bergegas membuka safety belt yang melilit tubuhku.
Tangan besar Daffin menahan gerakan tanganku dan membuatku langsung menatapnya heran.
"Kau sudah yakin?" tanya Daffin, dia menaikkan sebelah alisnya.
Aku menghela nafas berat. "Aku sedang mengumpulkan keyakinanku, Daffin, tapi aku tidak berjanji bahwa hasilnya akan sesuai dengan keinginanmu."
Hangatnya tangan Daffin bisa ku rasakan ketika dia mulai meraih tanganku ke dalam genggamannya. "Apapun keputusanmu, akan tetap aku terima karena aku yakin Nyonya Stevano selalu memiliki kebijaksanaan di dalam keputusannya."
Hah! Aku tahu maksud Daffin mengucapkan itu, tapi aku tidak berniat untuk bertengkar dengannya sehingga aku hanya diam dan mendengus kesal.
Daffin tersenyum, mungkin dia pasrah dengan sikapku yang sulit di kendalikan seperti ini. "Ayo, masuk!"
***
Di dalam rumah, Maya sudah menunggu kedatanganku dan Daffin meski waktu sudah cukup larut.
"Sayang ...," seru Maya lirih, tangannya membentang untuk memelukku.
__ADS_1
Kali ini aku tidak menolaknya, tapi aku juga tidak membalas pelukannya. Aku hanya diam mematung seraya terus menatap Daffin, berharap dia mengerti bahwa aku belum bisa menerima Maya sebagai ibuku.
"Maya, aku rasa nyonya Stevano butuh istirahat. Mengingat kehamilan yang membuatnya cepat lelah." ucap Daffin, dia menyentuh bahu Maya dengan lembut.
Walaupun terlihat enggan melepaskan pelukannya, Maya tetap tersenyum dan membelai rambutku. "Istirahatlah, Sayang, kita akan bicara besok."
Maya sudah berbalik untuk pergi ke kamarnya, tapi dengan cepat aku menahan tangan Maya. "Tidak! Aku ingin menyelesaikan semua ini sekarang juga agar aku bisa tidur dengan tenang."
"Nyonya Stevano ...," Daffin menatapku penuh harap, tapi aku tetap tak bergeming.
"Kita akan bicarakan ini sekarang atau tidak sama sekali!" tegasku seraya melepaskan tangan Maya.
Maya kembali meraih tanganku. "Tapi kau dan calon bayimu butuh istirahat, Sayang,"
Aku mendengus mendengar jawaban Maya. "Aku rasa kau hanya mencoba untuk mengulur waktu!"
Ketika aku baru saja hendak melangkah untuk meninggalkan Maya dan juga Daffin, tiba-tiba suara lirih Maya menghentikan langkahku.
"Kau boleh membenci Ibu, Sayang, tapi Ibu senang karena Ibu masih bisa melihatmu tumbuh dewasa walau dengan kebencian daripada Ibu mempertahankanmu tapi Ibu tidak bisa melindungimu."
Ada kegetiran bercampur kekecewaan serta penyesalan yang bercampur menjadi satu dalam ucapan Maya hingga tanpa sadar aku pun berbalik dan melihat wajah Maya yang telah di banjiri air mata. Sedangkan Daffin hanya menatapnya tanpa berniat untuk menghiburnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut karena kau tidak marah padaku karena telah membuat Mayamu menangis." selorohku seraya terus melangkah untuk menghampiri Maya.
Daffin tersenyum hambar dan sempat berdecak walaupun tak begitu terdengar. "Aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan ikut campur."
Senyuman langsung mengembang di wajahku ketika menyadari bahwa pertempuran masa laluku dengan Maya ternyata tidak akan di campuri oleh Daffin.
"Terima kasih, Daffin," bisikku ketika melewati Daffin. "Nyonya Maya Kafeel, apa alasan anda membuangku saat itu? Apakah anda tidak merindukan putri anda? Dan apakah anda tahu betapa menyedihkannya kehidupan anak yang di besarkan tanpa orang tua? Apa kau menyadari bahwa setiap harinya aku memanggil dirimu! Setiap kali aku jatuh sakit, aku selalu menyebut namamu walau aku tidak tahu bagaimana wajahmu."
Tak kuasa aku menahan genangan air di mataku hingga tanpa sadar, cairan bening itu meluncur bebas ke pipiku.
"Maafkan Ibu, Sayang," lirih Maya, matanya juga tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Aku bosan mendengar kata maaf darimu!" sergahku, aku merasa bahwa Maya mencoba membuatku luluh dengan air matanya.
"Ibu tahu, Sayang, tapi Ibu tidak akan berhenti meminta maaf hingga kau mau memaafkan Ibu." Maya mendekatiku, dan kembali meraih tanganku.
Aku menghempaskan tangan Maya dengan kasar. "Aku memaafkanmu atau tidak, semua tergantung dirimu."
__ADS_1
Maya menghela nafas cukup dalam. "Baiklah, dengarkan cerita Ibu."
Beberapa tahun yang lalu ...
Nyonya besar Kafeel baru saja melahirkan putrinya, tapi sayangnya putri itu bukanlah putri pertama keluarga Kafeel karena selir tuan Kafeel sudah melahirkan seorang putri lebih dulu. Meski begitu, keluarga Kafeel begitu bahagia dan menyambut kehadiran bayi cantik itu dengan suka cita. Semua perhatian, hadiah, dan ucapan selamat di tujukan untuk nyonya besar Kafeel dan juga bayinya yang di beri nama Lily Yovela Kafeel.
Tak sedikit yang memuji kecantikan bayi Lily, karena mata bayi itu sangat indah persis seperti ibunya. Dan hal itu menjadi daya tarik tersendiri dari dirinya.
Lambat laun, kecemburuan dan iri hati mulai menguasai putri pertama keluarga Kafeel. Gadis kecil itu mulai sering merengek dan bermanja-manja dengan sang ayah.
Suatu hari, Reena melihat kedatangan Daffin dan juga keluarga Stevano ke rumahnya. Pria kecil itu sangat tampan dan membuat Reena kecil langsung jatuh hati padanya. Gadis kecil itu meminta sang ayah untuk menjodohkan dirinya dengan Daffin.
Namun, jawaban tuan Kafeel saat itu begitu mengejutkan. "Tidak bisa, Reena! Daffin sudah di jodohkan dengan adikmu, Lily."
Kilatan amarah serta merta menguasai mata yang awalnya murni dan polos itu.
Selama beberapa hari, hubungan Reena dan juga Maya semakin merenggang. Reena bahkan tidak ingin sekedar bertegur sapa dengan Maya, hingga suatu hari mereka semua pergi berlibur ke pantai dengan membawa bayi Lily.
Awalnya, liburan itu berjalan lancar dan semua orang berbahagia, tapi semuanya berubah saat Maya tidak sengaja mendengar percakapan ibunya Reena dengan seseorang.
"Habisi bayi itu! Sebelum dia merebut semua yang harus di miliki oleh putriku." ucap ibunya Reena pada orang itu.
"Baik, Nyonya!" Orang itu segera pergi untuk melaksanakan tugasnya.
"Lily ...," lirih Maya, dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Flasback off ...
"Itu sebabnya aku menitipkanmu kepada nenek Kencana, tapi nasib berkata lain. Setelah keputusanku hari itu, ayahmu mengurungku dan membuatku kehilangan hak atas diriku sendiri. Dia terhasut ucapan ibunya Reena yang mengatakan bahwa aku telah mencelakaimu. Dan tanpa di duga, aku justru membantu ibunya Reena menjalankan rencananya." jelas Maya, di iringi air mata.
"Maksudmu, Reena dan ibunya berniat untuk membunuhku?" tanyaku ingin memastikan.
"Betul! Itu semua karena Reena ingin menikah dengan Daffin." jawab Maya, dia masih sesegukan akibat menangis.
"Ternyata dia begitu takut untuk bersaing denganku."
Hallo semuanya🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh