
"Selamat! Pesonamu telah berhasil mencairkan gunung es di hatinya!"
Tatapan mata Daffin dan juga seringai di wajahnya entah mengapa menyakiti hatiku. Aku melihat keraguan di matanya. Apakah dia ragu akan cintaku? Atau dia ragu akan kesetiaanku?
Ya, memang benar aku pernah berpikir untuk meninggalkannya, tapi itu dulu. Dulu saat dia masih menyiksa batinku. Saat aku berpikir bahwa aku hanyalah seorang selir. Saat aku mengira pernikahan ini hanyalah sebuah kepalsuan. Dan saat aku berpikir jika menikah dengan Ersya akan jauh lebih membahagiakan daripada hidup di dalam sangkar emas miliknya. Namun, kini semua pikiran itu telah sirna.
Jika Daffin berpikir aku bahagia mengetahui perasaan Shaka terhadapku. Dia salah! Aku sedih. Sedih karena seharusnya aku membuat Shaka mencintai Rania, bukan aku.
"Tap- Tapi aku pikir kau menyukai Reena ...," ucapku terbata, pikiranku yang kacau menjadikan lidahku keluh.
Pandangan Shaka tertunduk. Aku bisa melihat kakinya gemetar karena menahan sakit, tapi dia enggan bersuara.
Daffin sudah berada di hadapanku ketika aku berniat untuk mendekati Shaka. "Kenyataannya, kau lebih menarik perhatiannya daripada Reena."
Aku menoleh dan menatap Daffin. Raut wajahnya bercampur aduk antara sedih dan juga marah, di bumbui kekecewaan sudah pasti.
Nafasku terasa begitu berat ketika wajah Daffin semakin dekat wajahku. "Mungkin dia keliru, Daffin!"
Iya, benar! Mungkin Shaka keliru. Sama seperti Ersya yang keliru mengartikan rasa irinya terhadap kak Erlan sebagai rasa cintanya padaku.
"Aku harap begitu." Daffin mulai lagi dengan kegilaannya.
Hembusan nafasnya terasa panas ketika menimpa wajahku. Aku juga merasa ada sesuatu yang terbakar di antara kami, tapi aku tidak tahu apa itu.
"Shaka, pergilah! Aku harus menyelesaikan semua ini dengan suamiku. Jangan pernah masuk dan jangan biarkan siapapun masuk kesini sebelum kami keluar!" titahku, menyadari perubahan sikap Daffin.
Lambat laun, aku mulai mengerti Daffin. Dia akan melakukan hal-hal aneh yang dia sebut sebagai "hukuman" padaku. Dan aku sangat yakin jika dia akan melakukan hal itu lagi di hadapan Shaka karena saat ini Shaka lah yang sudah memantik emosinya.
Aku melirik Shaka dari sudut mataku dan melihatnya sedikit ragu untuk melangkah.
"Daffin tidak akan menyakitiku, tapi aku tidak yakin dia tidak akan melukaimu."
***
Setelah kepergian Shaka, Daffin benar-benar melakukan apa yang ada di pikiranku. Dia melampiaskan semua kemarahannya padaku. Perlakuannya padaku saat ini tidak bisa aku mengerti. Kecemburuan yang begitu besar bisa aku lihat di matanya, tapi aku tidak percaya Daffin melupakan keberadaan putranya jika saja dia tidak merasakan tendangan putranya di perutku.
Tubuh Daffin tersentak. "Nyonya Stevano, perutmu ...."
"Itu putramu." Aku tersenyum simpul karena keletihan.
Daffin menghentikan aktivitasnya dan menciumi perutku yang mulai membesar. Aku melihatnya meneteskan air mata dan membisikkan sesuatu di perutku.
Aku tidak tahu apa yang dia katakan pada putraku, tapi aku merasakan tendangan di perutku semakin kuat seolah bayi yang ada di perutku mengerti dengan ucapan ayahnya.
"Maafkan aku, Nyonya Stevano." Daffin merengkuh tubuhku. "Seharusnya aku tidak menjadikanmu pelampiasan amarahku." lirihnya.
Tanganku melingkar, membalas pelukan Daffin. "Aku sudah terbiasa."
__ADS_1
Daffin terkekeh dan jujur saja hal itu memberikan kelegaan di hatiku. Setidaknya untuk saat ini dia sudah tidak di kuasai amarah sehingga kami bisa bicara secara baik-baik dengan Shaka nanti.
***
Hingga malam hari, aku dan Daffin baru keluar dari ruang kerjanya. Kami harus menghadapi tatapan menyelidik dari ayah dan ibu, juga daddy David yang ternyata sudah menunggu kami sejak siang tadi.
"Selamat malam, Semua," sapa Daffin, dia menarik kursi untukku.
"Aku pikir kau akan berhibernasi selama satu minggu di dalam sana," seloroh daddy David seraya menunjuk ke arah ruang kerja Daffin.
Gelak tawa menyembur dari bibir Daffin. "Akan aku lakukan jika nyonya Stevano sudah melahirkan."
Aku mendengus kesal dengan mata terbelalak. "Maniak!"
Daddy David dan ayah hanya tertawa hingga terpingkal-pingkal, sedangkan ibu hanya tersipu malu karena ucapanku.
"Wah, sepertinya istriku memiliki bakat menjadi pelawak," canda Daffin, di susul tangannya yang ingin memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutku.
"Itu menurun dari sifatku!" lontar ayah dan langsung di jawab gelengan kepala oleh ibu.
"Yang benar, sifat keras kepala dan dinginnya itu menurun darimu, Reyno!" sanggah ibu.
Kami semua tertawa karena ucapan ibu, hingga daddy David menanyakan keberadaan Shaka yang seketika merubah suasana.
"Dimana, Shaka? Kenapa dia tidak ada disini?" tanya daddy David, pandangannya menyapu seluruh ruangan.
"Dia sedang merenung," jawab Daffin asal.
"Berhenti menatapku, Dad!" sergah Daffin, setelah cukup lama di tatap daddy David.
"Kalau begitu, katakan! Apa yang membuat kalian bertengkar kali ini?" tanya daddy David, nada bicaranya seperti seorang ayah yang sedang menasihati anaknya karena bertengkar dengan adiknya.
Uhuk ...
Aku langsung tersedak ketika daddy David menanyakan hal itu karena akulah jawaban dari pertanyaannya. Aku yang sudah membuat Daffin bertengkar dengan Shaka.
"Nyonya Stevano ...," Daffin segera berdiri dan menepuk-nepuk bahuku. "Hati-hati!" ucapnya.
Ibu menyerahkan segelas air padaku. "Minumlah dulu, Sayang!"
"Ini semua salahmu, Dad!" tuduh Daffin, membuat daddy David terkejut. "Jangan membicarakan hal-hal seperti itu ketika sedang makan!" tambahnya.
Daddy David mengangkat kedua tangannya ke udara. "Baiklah, maafkan aku!"
Aku tersenyum setelah merasa lebih baik. "Tidak masalah, Daddy, aku hanya terkejut dengan pertanyaan Daddy."
"Kenapa? Kau tidak tahu jika Daffin dan Shaka sering bertengkar?" tanya Daddy David, penasaran dengan keterbukaan Daffin padaku rupanya.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, Dad! Yang aku tahu Shaka hanya menuruti keinginan Daffin dalam diam."
"Itu benar! Tapi Shaka selalu menyukai apa yang di sukai Daffin dan hal itu selalu menjadi permasalahan mereka karena Daffin tidak pernah ingin berbagi." lontar daddy David.
Aku menyadari satu hal, itu artinya Shaka tidak mencintaiku. Dia hanya menyukaiku karena Daffin begitu menyukaiku.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku meminta Shaka untuk datang. Aku menghubunginya melalui telepon rumah karena aku tidak ingin Daffin berpikir bahwa aku merespon perasaan Shaka terhadapku.
Aku mendengar ketukan di pintu ketika Daffin sedang mengeringkan rambutku.
"Siapa yang datang?" gumam Daffin, dia kembali meletakkan hairdryer di atas meja dan membuka pintu. "Kau!!!" bentaknya.
Aku segera berdiri dan melihat Shaka membungkuk padaku. "Selamat pagi, Nyonya,"
"Pagi, Shaka! Masuklah!" sapaku, tidak menghiraukan wajah kesal Daffin.
Tanpa di duga, Daffin mengangkat tubuhku dan mendudukkan aku di atas pangkuannya. Dia juga terus menatap tajam ke arah Shaka, persis seperti anak-anak yang ketakutan jika temannya merebut mainannya.
Aku berdeham untuk melancarkan tenggorokanku. "Shaka, aku ingin mendengar dengan jelas darimu tentang perasaanmu padaku."
"Jangan mengatakan apapun! Aku tidak ingin mendengarnya." Daffin sudah memalingkan wajahnya.
Kedua tanganku menutup telinga Daffin, kemudian kembali menatap Shaka. "Katakan, Shaka! Bagaimana mungkin kau menyukai aku? Aku pikir kau menyukai Reena karena kau selalu membelanya."
"Maaf, Nyonya, saya tidak tahu bagaimana rasa itu datang, tapi saya melakukan kompromi dengan nyonya Reena karena dia berjanji tidak akan menyakiti anda." jelas Shaka.
"Itu artinya Reena sudah tahu jika kau memiliki perasaan padaku?" tanyaku dengan kedua alis yang menukik tajam.
"Iya, Nyonya," jawab Shaka lesu. "Nyonya Reena mengancam saya jika dia akan mengatakan tentang perasaan saya kepada tuan jika saya tidak menuruti kemauannya, tapi sayangnya tuan sudah tahu meskipun saya mencoba untuk menutupnya rapat-rapat." jelasnya.
Aku tidak percaya pria sekuat Shaka bisa di ancam oleh gurita betina itu! Pasti Reena memiliki hal lain.
"Kau pikir bisa membodohiku? Aku tidak buta, Shaka!" sergah Daffin, aku bisa merasakan kegelisahannya.
"Saya tahu, Tuan, itu sebabnya saya memutuskan untuk tidak menuruti keinginan nyonya Reena lagi." jawab Shaka.
Daffin mendengus. "Tentu saja! Karena kau sudah ketahuan olehku."
"Tidak, Tuan, saya akan berusaha untuk merelakan perasaan saya kepada nyonya." sanggah Shaka, tapi aku melihat sesuatu di dalam matanya.
Secepat itu? Aku hanya berharap jika hal itu tidak akan menjadi bom waktu untukku dan juga keluargaku.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian iniπ
I β€ U readers kesayangan kuhh