Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
DAFFIN POV part 2


__ADS_3

Aku benar-benar tidak menduga, jika pertemuanku dengan Erlangga di toko perhiasan adalah pertemuan terakhir kami. Aku meninggalkan Erlangga di toko itu karena Reena mengeluh sakit kepala dan aku pun memutuskan untuk membawanya pulang.


Setelah sampai di rumah, aku melihat nyonya kecil Erlangga hendak keluar dari rumahnya. Dia melihat ke arahku dan mulutnya terus bergerak tidak karuan. Aku tebak dia sedang menghinaku. Jika saja Reena tidak sedang bersamaku, aku pasti sudah meladeni nyonya kecil itu.


Malam harinya, ketika aku baru saja kembali dari rapat. Di perjalanan aku mendapatkan sebuah kabar yang tidak baik. Kabar itu menyebutkan jika ada seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan di pusat perbelanjaan milikku. Karena terkejut, aku meminta supirku untuk menghentikan mobilnya. Aku tidak menyadari jika kami berhenti di depan rumah Erlangga hingga nyonya kecil itu memasuki mobilku dengan tergesa-gesa. Dia mengatakan jika suaminya mengalami kecelakaan. Aku pun tidak tega dan akhirnya mengantarkan dia ke rumah sakit meskipun aku tidak mendapatkan ucapan terima kasih darinya. Dia hanya berterimakasih kepada supirku, itu membuatku sangat kesal dan tanpa sengaja aku membentaknya.


***


Keesokan harinya, aku mendapat kabar jika Erlangga meninggal dunia. Dan lebih buruknya lagi, dia adalah pria yang terjatuh dari lantai dua pusat perbelanjaan milikku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi jika nyonya kecil Erlangga tahu dia pasti akan membenciku hingga ke urat nadinya.


Aku dan Reena memutuskan untuk datang dan menunjukkan simpati kami terhadap Erlangga. Begitu aku datang, aku melihat tubuh Erlangga sudah terbujur kaku. Namun, wajahnya masih terlihat hangat dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Tanpa meminta izin, aku duduk di hadapan jenazah Erlangga dan berbisik, "Tuan Erlangga, aku berjanji akan menjaga anakmu dan menganggapnya sebagai anakku sendiri. Pergilah dengan tenang dan tolong maafkan aku!"


Permintaan maafku itu bukan tanpa alasan. Aku meminta maaf karena sebentar lagi mungkin saja aku akan menyakiti nyonya kecilnya.


Flashback on...


"Pastikan masa depan untuk istri dan juga anaknya."


Aku memutuskan panggilan begitu Reena memasuki ruang kerjaku. Aku tidak ingin Reena tahu masalah ini, tapi sepertinya aku terlambat karena Reena sudah mendengar semuanya.


"Istri dan anak siapa yang kau maksud, Daff?"


Aku meletakkan ponselku di atas meja dan menjatuhkan diriku di atas sofa. "Istrinya tuan Erlangga. Pria yang meninggal karena terjatuh di pusat perbelanjaan milikku. Istrinya sedang hamil muda dan aku berusaha untuk bertanggung jawab dengan menjamin masa depan keduanya."


"Berapa usia wanita itu? Dan berapa usia kandungannya?" tanya Reena antusias.

__ADS_1


"Menurut Shaka, usianya masih sangat muda sekitar 22 tahun. Dia anak yatim piatu, dia di besarkan di panti asuhan milik suaminya. Dan usia kandungannya, baru berusia sekitar delapan minggu."


"BRAVO!!!" Aku melihat binar aneh di mata Reena. "Dia bisa membantu kita." ucapnya penuh semangat.


"Apa maksudmu, Ree?" Dahiku berkerut cukup dalam karena aku belum mengerti maksud dari ucapan Reena.


Reena menghampiriku dan mendaratkan bokongnya di pangkuanku. "Dengar, Daff! Usia kandungannya masih sangat muda. Jika kau menikahinya, kita bisa mengakui anak itu sebagai anak kita."


Aku cukup terkejut dengan ucapan Reena. "Kau gila, Ree! Mana mungkin aku menikahinya? Dia juga pasti tidak akan mau. Suaminya baru saja meninggal dunia."


"Dengar dulu, Daff!" pinta Reena lembut, membuatku tidak bisa menolaknya. "Nikahi dia, setelah anaknya lahir kita akan mengambil anaknya dan menyatakan bahwa anak itu adalah darah dagingmu." lanjutnya.


"Kau sudah benar-benar tidak waras, Ree! Jika kau menginginkan anak, kita bisa mengadopsi anak-anak yang kurang beruntung. Aku tidak mau menikahinya!"


"Aku tidak mau anak tidak jelas, Daff! Jika kau menikahinya, kita akan memastikan asupan gizi terbaik sejak anak itu masih dalam kandungan ibunya." bujuk Reena.


"Tidak!!! Aku tidak akan mengijinkanmu melakukan itu. Aku tidak suka kau menyentuh wanita lain." sergah Reena, kehangatan itu kembali menghilang dari matanya.


"Aku tidak menyentuhnya, Ree. Kita akan melakukan prosedur pengambilan benih dari kita berdua dan menanamkannya di rahim ibu pengganti."


"Kau tahu itu tidak mungkin, Daff. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, kecuali kau melakukannya dengan orang lain dan aku tidak bisa melihatmu menyentuh wanita lain, Daffin!" teriak Reena, air matanya kembali beruraian.


Aku segera merengkuh tubuh Reena yang bergetar. "Baiklah, aku akan mempertimbangkannya."


Flashback off...


Aku hanya berharap, Erlangga tidak akan membenciku karena aku melakukan semua itu semata-mata demi membahagiakan istriku. Lagi pula, aku juga tidak akan menyentuh nyonya kecilnya yang tidak terkendali itu.

__ADS_1


***


Beberapa hari berikutnya, Reena semakin bersikap tidak masuk akal. Selain memintaku untuk menikahi jandanya Erlangga, dia juga memintaku untuk menceraikannya agar aku bisa menikahi nyonya kecil itu secara sah di mata hukum. Reena ingin agar anak yang ada di kandungan wanita itu kelak menjadi anak kandungku di mata hukum.


"Tidak, Ree!"


Aku masih mencoba menolak permintaan aneh Reena. Dia bahkan tidak melepaskan aku meski kami sudah berada di luar rumah dan di saksikan oleh beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di depan.


"Kau jahat, Daff! Kau memang tidak berniat membuatku bahagia. Ini begitu mudah, Daff! Kau hanya tinggal menandatanganinya. Hanya beberapa bulan saja, setelah itu kita akan menikah lagi dan hidup bahagia bersama seorang anak." jelas Reena, matanya menaruh begitu banyak harapan padaku.


Setiap kali aku menatap Reena, aku selalu teringat pada Maya. "Semoga ini tidak akan kau sesali di kemudian hari, Ree."


Aku mengambil ballpoint di tangan Reena dan menandatangani surat perceraian kami. Sesaat aku menatap Reena dan dokumen itu secara bergantian. Begitu mudahnya aku dan Reena bercerai, ini seperti sebuah lelucon bagiku.


Rasa frustasi mulai mendera pikiranku. Tak ingin larut dalam kebodohan ini, aku pun melajukan mobil sportku dan meninggalkan Reena yang justru bahagia dengan perceraian ini.


Mobilku melaju tak tentu arah, hingga sebuah mobil menabrakku dari belakang di pemberhentian lampu merah. Karena terkejut aku pun keluar untuk memeriksa keadaan dan, tapi aku lebih terkejut ketika melihat siapa yang telah menabrak mobilku.


Wanita itu keluar dari mobilnya setelah aku mengetuk kaca mobilnya. Belum sempat aku mengatakan sepatah katapun, wanita itu sudah jatuh tak sadarkan diri. Aku langsung menopang tubuhnya dan berusaha untuk membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya.


"Hei, bangun!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih masih setia menanti 😍 Double up ini sebagai permintaan maaf author karena telah membuat kalian menunggu πŸ™


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2