Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
UBUR-UBUR


__ADS_3

Kebodohan itu memang selalu terselip di setiap kepintaran. Maksudku, orang pintar sekalipun pasti pernah melakukan kebodohan dalam hidupnya. Seperti yang Daffin lakukan, untuk apa dia menghukum semua orang atas apa yang telah aku lakukan? Bukankah itu hanya akan membuatnya kerepotan. Dia memaksaku kembali, tapi dia sudah memecat Rania. Lalu, siapa yang akan mengawasiku?


"Aku sudah mencari pengganti gadis itu." ucap Daffin, membuyarkan lamunanku.


Tak lama setelah Daffin mengatakan hal itu, seorang wanita dengan wajah kurang bersahabat datang dari arah dapur dan membungkuk hormat di hadapanku. "Selamat pagi, Nyonya muda, saya -"


Aku langsung menyela ucapan wanita itu. "Jangan katakan bahwa dia yang akan menggantikan Rania!"


Daffin menganggukkan kepala dan tersenyum dengan jahatnya. Sepertinya dia tahu jika aku tidak akan bisa berkutik di hadapan wanita yang terlihat kaku dan kurang bersahabat itu.


"Daffin, aku ti -" ucapanku menggantung karena kak Reena tiba-tiba memasuki rumah dengan wajah khawatir di ikuti Shaka yang berjalan di belakangnya.


"Daffin?" seru kak Reena dan langsung memeluk Daffin tanpa menghiraukan kehadiranku.


Pemandangan seperti ini memang bukan hal yang baru bagiku atau bagi siapapun yang berada di rumah ini, tapi bukankah seharusnya keberadaanku di rumah ini di hargai atau setidaknya di sadari?


Aku sadar betul jika aku hanyalah seorang selir, tapi salahkah jika aku ingin Daffin sedikit menghargai statusku? Dia selalu mengingatkan aku tentang pernikahan kami, tapi dia bahkan tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang suami selain memberiku makan tentunya. Daffin seolah melupakan jebakan pernikahan yang telah dia lakukan padaku setiap kali kak Reena berada di antara kami. Aku tidak marah ataupun cemburu pada kak Reena. Aku hanya berharap, jika aku memang tidak di butuhkan disini maka biarkan saja aku pergi dan menjalani hidupku.


Langkah kakiku mundur beberapa langkah begitu kak Reena berdiri di antara aku dan Daffin, aku cukup tahu diri dan tetap diam meski di anggap patung karena aku memang tidak memiliki hak apapun di rumah ini. Awalnya aku tetap tenang, tapi saat Daffin dan kak Reena mulai menyebarkan polusi cinta mereka, aku merasa sudah tidak tahan lagi. Aku melihat pengawal yang ikut bersama Daffin ke rumahku tadi memasuki rumah dan membawa koperku di tangannya. Tanpa berbicara sepatah katapun, aku menghampiri pengawal itu dan mengambil paksa koperku.


"Nyonya muda, saya yang akan membawa ini ke kamar tidur anda." ucap pengawal itu, dia tak mau melepaskan koperku.


Aku memelototinya. "Siapa yang mau tinggal di rumah ini? Lepaskan koperku!" bentakku.


Daffin yang sedang tenggelam dalam kemesraan pun akhirnya menyadari ulahku karena memang suaraku yang cukup keras.


"Apa lagi yang kau lakukan?" tanya Daffin, wajahnya cukup menyiratkan jika aku begitu merepotkan dirinya.


"Aku ingin pulang."


"Sudah ku katakan jika kita harus tinggal di rumah yang sama."


"Kita?" selorohku dengan pandangan yang bergantian menatap Daffin dan juga kak Reena yang masih berdiri di tempatnya. "Kau dan juga Kak Reena, bukan aku." sambungku.

__ADS_1


"Kau salah, Ayasya, kita bertiga akan tinggal di atap yang sama." Kak Reena menghampiriku dan meraih kedua tanganku.


Dengan lembut aku melepaskan tangan kak Reena. "Maaf, Kak Reena! Tidak ada wanita yang mau tinggal dengan wanita lain. Aku tahu Kak Reena sangat baik, tapi aku tidak mau menyakiti hatimu. Biarkan aku hidup sendiri dan menjalani hidupku dengan tenang tanpa rasa bersalah."


Kak Reena menatap mataku dan terlihat keraguan di matanya. Namun, dia tetap menyetujui keinginanku. "Baiklah. Jika itu yang kau inginkan."


"Terima kasih, Kak," Senyuman secerah mentari aku berikan untuk kak Reena yang telah membantuku bebas dari sangkar emas Daffin.


"Ree? Apa maksudmu?" Daffin memegangi bahu kak Reena dengan kedua tangannya.


"Daff, biarkan saja. Kita tidak bisa memaksanya, itu tidak akan baik untuk bayi yang ada di kandungannya." jawab kak Reena.


"Tapi, Ree... dan bla bla bla ...."


Aku malas mendengar perdebatan mereka, aku juga tidak begitu peduli dengan mereka berdua. Aku memilih memaksa pengawal tadi memberikan koperku setelah mendapatkan dukungan dari kak Reena.


"Lepaskan!" bentakku pada pengawal yang masih bersikukuh tidak mau memberikan koperku.


"Tidak, Nyonya muda, tuan belum memberikan perintah."


Berhasil, pengawal itu terkejut dan langsung melepaskan koperku. Dengan cepat koperku langsung berpindah tangan. "Kau bisa membelinya di toko jika menyukai koper seperti ini." selorohku seraya berjalan menuju pintu.


Disana, Shaka sudah berdiri dan siap menghadang jalanku. Namun, aku tidak gentar dan tetap melancarkan aksiku meski Shaka menghalangiku.


"Maaf, Nyonya muda, tolong jangan menambah masalah bagi kami." Ucapan Shaka sangat menyakitiku, seolah aku adalah pembuat masalah yang selalu merepotkan semua orang.


Aku menatapnya tajam. "Kalau begitu, biarkan aku pergi selamanya. Maka kalian tidak akan mendapatkan masalah apapun lagi."


Setelah mengatakan itu, aku mendorong tubuh Shaka ke samping agar tidak menghalangi jalanku. Namun, pria dingin itu tidak bergerak sedikitpun. "MINGGIR!!!"


"Hei, aku belum memberimu izin untuk keluar dari sini." teriak Daffin, tepat setelah aku berteriak pada Shaka.


"Hei? Hei!!!" Aku mengulangi cara Daffin memanggilku. "Bahkan hewan peliharaan saja punya nama. Kenapa kau tidak pernah menyebut namaku? Hah? Jangan katakan jika kau tidak tahu namaku!"

__ADS_1


Entah apa yang sebenarnya mengganggu pikiran dan hatiku, tapi tiba-tiba saja aku sangat marah dan seperti ingin meledak. "Jika kau memang tidak tahu namaku, kenapa kau menikahiku? Kau memang Plankton menyebalkan."


"Nyonya muda, kendalikan diri anda." Shaka mencoba menenangkanku, tapi aku tidak memperdulikannya.


"Kau juga sama. Kalian semua hanya menyiksaku!!!"


"Ayasya, tenanglah!" Suara lembut kak Reena mengalihkan perhatianku, tapi tak bisa meredakan amarahku. "Daff, lakukan sesuatu!" pintanya pada Daffin yang masih berdiri menatapku.


Aku tahu, aku memang tak memiliki arti apapun di mata Daffin. Tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung melangkah keluar setelah Shaka akhirnya memberi jalan padaku.


"Tunggu! Kau harus tetap tinggal di rumah ini!!!"


Langkahku terhenti ketika mendengar ucapan Daffin, dan tanpa menoleh aku berteriak, "tidak tanpa Rania."


"Aku akan meratakan rumahmu."


"Ratakan saja! Dan jangan lupa untuk menceraikan aku setelahnya." sergahku, masih terus melangkah tanpa menghiraukan ancaman Daffin.


Beberapa pengawal mencoba untuk menghentikanku. Apakah mereka tidak bisa melihat jika aku begitu repot dengan koper besarku? Sungguh merepotkan menjadi tahanan seperti ini.


"Minggirlah kalian! Atau setidaknya bantu aku membawa ini." keluhku, tapi tetap menerobos beberapa penjaga itu.


Aku mendengar langkah kaki seseorang di belakangku, tidak mungkin itu Daffin. Itu pasti Shaka atau pengawal yang tadi berebut koper denganku.


"Nyonya muda?" Penjaga yang kemarin aku tipu mencoba untuk menahanku.


Wajah lebamnya membuatku tidak tega, tapi aku juga tidak mau terus tersiksa di sini. "Maafkan aku!" lirihku.


Penjaga itu menatap ke arah rumah kemudian menunduk dan membukakan pintu, dan sebelum dia berubah pikiran aku pun langsung melewati gerbang rumah Daffin.


"Semoga kalian semua di sengat di ubur-ubur. "


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa tap jempolnya 👍 dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan juga votenya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2