Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MELOMPAT


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa malu di wajah Daffin. Dia bahkan terlihat salah tingkah di hadapan Shaka padahal sebelumnya dia dan Reena sering berciuman seperti itu di hadapan Shaka ataupun para pengawal serta pelayan yang ada di rumahnya.


"Sudahlah, Shaka! Walaupun kau benar, dia akan tetap menyalahkanmu." selorohku, dengan wajah menyunggingkan senyuman usil kepada Shaka yang mulai terlihat resah.


"Ayo, keluar! Jangan katakan kalau kau ingin berduaan dengan Shaka!" lontar Daffin ketika dia membukakan pintu mobil untukku.


Satu ide gila tiba-tiba melintas di kepalaku. "Ya, sebenarnya itulah yang ingin aku katakan. Sepertinya anakmu ingin agar aku bersama Shaka untuk beberapa waktu ke depan."


Sungguh, Daffin tidak berkutik kali ini. Dia terlihat sangat marah, tapi dia berusaha untuk menahannya. "Jangan main-main, Nyonya Stevano! Akulah ayahnya. Kenapa anakku selalu ingin berada di dekat pria lain?"


Ingin rasanya aku tertawa, tapi aku tidak ingin Daffin menyadari sandiwaraku yang mulai tidak masuk akal.


"Mana ku tahu." elakku, kemudian melangkahkan kaki keluar dari mobil.


Untungnya, hari sudah mulai gelap ketika aku dan Daffin kembali ke rumah. Jadi aku tidak perlu bersembunyi dari matahari.


Dengan langkah gontai aku memasuki rumah dan melesat untuk memasuki kamar tidurku. Namun, di ujung tangga aku berpapasan dengan Maya yang akan menuju ke lantai bawah.


"Kau sudah pulang, Sayang?" tanya Maya lembut, tangannya sudah terulur untuk membelai rambutku. Namun, aku segera mengelak.


"Seperti yang kau lihat!" sinisku seraya melangkah melewati Maya.


Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba aku teringat keputusanku untuk segera menyelesaikan masalahku dengan Maya dan juga keluarga Kafeel.


Aku berbalik dan melihat Maya baru saja akan menapaki anak tangga. "Maya?"


"Iya ...," jawab Maya, dia menolehkan kepalanya dan terlihat cukup terkejut ketika aku memanggilnya. "Kau butuh sesuatu, Sayang?" tanyanya kemudian.


Aku menganggukkan kepalaku dengan pasti. "Iya! Aku butuh penjelasan darimu."


"Penjelasan apa, Sayang?" tanya Maya bingung.


"Aku sudah mengatakan semua yang kau katakan, Maya." sahut Daffin, sosoknya sudah terlihat meskipun dia belum mencapai ujung tangga.


"Daffin?" lirih Maya, matanya terlihat ragu.


"Tidak masalah, Maya, katakan saja! Nyonya Stevano sudah jinak." canda Daffin, di iringi tawa ringan yang sedikitnya mencairkan suasana malam itu.


"Kau pikir aku binatang!" sungutku kesal.


"No! You're My Starfish."


***


Suasana sejuk dan sunyi menjadi temanku ketika menghabiskan waktu berendam di dalam bathup.


Sebelum aku mendengarkan apa yang akan di katakan Maya, aku memutuskan untuk membersihkan diriku terlebih dulu sekaligus untuk menenangkan pikiran agar aku bisa mencerna ucapan Maya dengan lebih baik. Dan semoga saja alam mendukung semua keputusanku kali ini.


TOK ... TOK ... TOK ...

__ADS_1


"Nyonya Stevano! Apa kau pingsan? Sudah hampir satu jam kau di dalam sana." seru Daffin, mungkin sudah yang ke seratus kali dia mengetuk pintu itu.


Aku berdecak kesal sebelum menjawab Daffin. "Astaga! Apakah aku harus membayar listrik dan juga air yang telah aku habiskan agar kau diam?"


Hening. Tidak terdengar suara sedikitpun dari luar sana. Apakah Daffin sudah pergi?


"Daffin?" panggilku.


Tidak ada jawaban.


"Daffin?"


Masih tidak ada jawaban, kecuali keheningan.


"Daffin!!!"


Terdengar suara kunci di putar sebelum pintu terbuka dan menampakkan sosok Daffin yang memenuhi ambang pintu dengan wajah dinginnya.


Mataku seketika terbelalak ketika mengikuti arah tatapan mata Daffin yang tertuju pada dadaku yang terbuka. Segera aku membenamkan tubuhku ke dalam bathup hingga hanya menyisakan kepalaku yang tidak tertutupi busa.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku ketika Daffin kembali menutup pintunya.


"Menutup pintunya." jawab Daffin santai.


Langkah besar Daffin membuatnya semakin dekat padaku dan membuatku mulai merasa terpojok.


"Karena kau memanggilku." jawab Daffin dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, tapi aku ... tidak! Maksudku, aku memanggilmu karena kau selalu menggangguku." elakku.


Daffin tiba-tiba tertawa, tapi tawanya itu terdengar menakutkan bagiku. "Itu karena aku mengkhawatirkan dirimu, Nyonya Stevano."


"Aku baik-baik saja! Kau bisa pergi sekarang." sergahku, semakin panik karena Daffin sudah duduk di tepi bathup.


"Aku akan pergi setelah memastikan sendiri." Daffin mulai mencelupkan tangannya ke air dan membuatku tersentak.


"Daffin!" teriakku, terkejut karena Daffin tiba-tiba memercikkan air ke wajahku.


"Aku akan membantumu membersihkan diri agar lebih cepat selesai karena Maya sudah menunggumu." ucap Daffin, tapi aku tidak yakin ketika melihat sorot matanya.


"Baiklah, sebentar lagi aku selesai! Kau tidak perlu membantuku." hardikku, tepat ketika Daffin akan mendaratkan bibirnya kembali diatas bibirku.


Daffin terkekeh dan segera berdiri. "Kau mengajarkan arti sebuah kesabaran padaku, Nyonya Stevano."


***


Setelah drama mengerikan di dalam kamar mandi tadi. Aku bergegas keluar dari kamar untuk menemui Maya yang sudah menungguku seperti yang di katakan Daffin. Namun, ketika aku menuruni tangga, aku tidak melihat sosok Maya dimana pun.


Cukup lama aku mencarinya, tapi aku tak kunjung menemukan Maya. Setelah lelah mencari, aku memilih untuk merebahkan tubuhku di sofa panjang di ruang keluarga dan menunggu seseorang mencariku.

__ADS_1


"Nyonya ...," Sebuah suara yang membuatku membuka mata.


Ternyata Shaka sudah berdiri di samping sofa dengan wajah kaku dan datarnya itu.


"Ada apa, Shaka?" tanyaku seraya mendudukkan tubuhku. "Dimana Daffin dan juga Maya?" tanyaku lagi.


"Tuan dan nyonya besar sudah menunggu anda di ruang kerja tuan, Nyonya." Shaka membungkuk hormat.


"Oh, baiklah. Ayo!" seruku, kemudian berjalan mendahului Shaka.


Ketika aku sampai di depan pintu, ternyata pintunya tidak tertutup rapat sehingga aku bisa mencuri dengar apa yang sedang di bicarakan Maya dan juga Daffin.


"Mereka sangat licik, Daffin! Aku tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi." ucap Maya, aku tidak bisa melihat wajahnya karena posisi Maya yang membelakangi pintu.


"Tenanglah, Maya! Sudah ku katakan, sebaiknya kita tidak perlu memberitahu kebenaran tentang Lily kepada mereka karena hal itu akan membahayakan nyawanya." tutur Daffin, dia terlihat menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Aku hanya berpikir jika suamiku akan sangat bahagia ketika dia tahu putrinya masih hidup. Aku tidak menyangka dia justru mengalihkan semua sahamnya kepada Reena, termasuk saham milik orang tuaku." lirih Maya, suaranya hampir hilang tertelan oleh tangisannya.


Aku benar-benar terkejut dengan kenyataan ini. Ternyata, ayah kandungku tidak pernah menginginkan aku. Buktinya dia langsung menyerahkan semua hartanya kepada putri tidak sahnya ketika dia mengetahui bahwa aku masih hidup.


"Nyonya?" Shaka menyentuh bahuku yang mana hal itu kembali menarikku ke dunia nyata.


"Ah, iya, Shaka. Aku akan masuk sekarang." ucapku seraya mendorong pintunya dan segera bergabung dengan Maya dan juga Daffin.


"Sayangku? Duduklah!" seru Maya, dia menepuk tempat kosong di sampingnya.


Aku bisa melihat Maya dan Daffin saling berpandangan sesaat sebelum aku mendaratkan bokongku di tempat yang di maksud oleh Maya.


"Katakan padaku!" ucapku tanpa basa-basi.


"Katakan apa, Sayang?" tanya Maya, dia melemparkan tatapan bingung ke arah Daffin.


"Tidak perlu berkelit! Aku sudah mendengar percakapan kalian berdua sebelum aku masuk tadi." sergahku, tak ingin membuang waktu.


Secara bersamaan, Daffin dan Maya menghela nafas dalam. Aku bisa merasakan genggaman tangan Maya yang begitu hangat di tanganku.


"Maaf, Sayang, tapi Ibu tidak menduga bahwa hal ini akan terjadi." ucap Maya lemah, rasa bersalah begitu jelas di matanya.


"Jangan bersikap lemah di saat seperti ini! Musuhmu akan dengan mudah menjatuhkanmu jika kau terus menunduk." hardikku.


"Kau benar, Sayang, tapi Reena dan ibunya sudah satu langkah di depan kita." ucap Maya pasrah.


"Jika mereka melangkah, maka kita akan melompat."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2