Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SANG PEMILIK


__ADS_3

"Matamu bergerak lebih cepat dari awan." ucap seseorang, yang langsung membuatku menoleh.


"Kak Erlan?" Aku mengerjap dan mengeleng-gelengkan kepalaku. "Bukan! Kak Ersya?"


Senyuman mulai terukir di wajah teduh Ersya. "Lihatlah aku seperti yang kau inginkan! Erlan atau Ersya tidak masalah bagiku."


Air mataku semakin deras mengalir mendengar ucapan Ersya. Memang dia tak selembut kak Erlan, tapi kehangatan yang dia ciptakan membuatku nyaman dan merasa memiliki tempat untuk bersandar. Tak kuasa menahan luapan emosi, aku pun langsung berhambur memeluknya.


Di dalam dekapan Ersya, aku merasa seperti pulang ke rumah. Rumah yang tak pernah aku miliki. Kak Erlan lah rumah dan juga tempatku untuk pulang. Aku merasakan tangan Ersya yang merangkul tubuhku. Meski kami baru saja bertemu beberapa kali, tapi aku merasa begitu dekat dengannya. Mungkin karena wajahnya begitu mirip dengan kak Erlan hingga membuatku merasa seolah sedang memeluk kak Erlan.


Awan hitam dan angin yang berhembus kencang tidak lagi jadi masalah bagiku karena aku merasa sudah memiliki teman.


Aku menghapus air mataku setelah Ersya melepaskan dekapannya. "Terima kasih, Kak Ersya,"


"Jangan bicara seperti orang asing!" sergah Ersya, tangannya mendekap wajahku hingga membuat pandangan kami bertemu.


Setelah di amati, mata Ersya sangat jauh berbeda dengan kak Erlan. Dia menyimpan banyak hal di matanya. Aku juga melihat kebencian serta kesedihan yang begitu mendalam di balik matanya. Meski bibirnya terus menyunggingkan senyuman, tapi matanya tak bisa berbohong. Aku tak pernah melihat itu di mata kak Erlan. Mata kak Erlan sangat murni, tanpa ada kebencian sedikitpun. Semua hal terlihat baik di mata kak Erlan. Mungkin itu juga salah satu perbedaan Ersya dan juga kak Erlan tersayangku.


"KAU MEMANG ORANG ASING!!!"


Seketika saja, tubuhku di tarik menjauhi Ersya yang langsung berdiri dan menatap orang yang telah mengganggu kami. Aku seperti merasakan de javu dengan keadaan ini. Dimana Ersya dan pria menyebalkan itu saling melemparkan tatapan membunuh mereka. Tidakkah mereka sadari bahwa akulah yang menjadi korban dari perang dingin mereka?


"Daffin!!! Apa yang kau lakukan?" Aku menarik paksa tanganku yang di cengkram Daffin, tanganku sampai memerah karena ulahnya.


Sorot mata itu berpindah menatapku. "Kau pikir apa kau lakukan!!!"


Harusnya itu menjadi sebuah pertanyaan yang harus ku jawab, tapi tidak menurut Daffin. Dia tidak terlihat ingin mendengar jawaban ataupun penjelasan dariku.


"Terserah kau, Daffin. Apapun yang aku katakan hanya akan kau anggap sebagai pembelaan."


Daffin mendengus begitu mendengar jawabanku. Pandangannya kembali terpusat pada Ersya yang masih menatapku. "Berhenti menatap istriku, Tuan Chandra! Sudah ku peringatkan, jangan membodohi istriku yang bodoh ini dengan wajahmu!"


Ada apa dengan Daffin sebenarnya? Dia selalu banyak bicara ketika berhadapan dengan Ersya. Dia juga selalu mengatakan bahwa aku bodoh, seolah aku ini tidak memiliki otak.


"Ayasya tidak bodoh, Tuan Stevano! Dia gadis yang pintar, dan yang telah membodohinya adalah anda. Bukan saya." sanggah Ersya, dia masih bersikap tenang meski Daffin sudah berapi-api.


Aku cukup takjub dengan jawaban Ersya, tapi tetap saja dia juga mengatakan bahwa aku bodoh. Apa dimata kedua pria ini aku terlihat sangat bodoh? Haruskah ku tunjukkan betapa pintarnya aku?


"Aku membodohinya atau tidak, bukan urusanmu. Aku hanya berharap kau tahu batasanmu, karena dia adalah istriku!" Tanganku kembali di tarik oleh Daffin.

__ADS_1


Ersya terlihat akan meraihku, tapi Daffin langsung menghalanginya dengan tubuh raksasanya yang menutupi diriku dan aku hanya bisa diam terpaku di perlakukan seperti itu oleh Daffin.


"Anda tidak bisa menahannya! Ayasya harus menentukan pilihannya sendiri!" Nada bicara Ersya mulai meninggi. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang tubuh Daffin.


"Berhenti menyebut namanya!" bentak Daffin, aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat karena marah.


Ucapan Daffin begitu menggangguku. "Kenapa? Apa yang salah dengan namaku? Apa namaku menyakiti telingamu?"


Daffin berbalik dan menatapku. "Aku tidak suka jika pria lain yang menyebutnya!"


Hah? Apa maksud ucapannya? Dia saja tidak pernah menyebut namaku. Lama-lama aku bisa mati kesal karena sikap Daffin.


"Ayasya, kemarilah!" Ersya mengulurkan tangannya padaku. "Aku akan melindungimu."


Sejujurnya, aku tidak pernah ingin meraih tangan itu karena aku tahu apa akibat yang harus aku tanggung, tapi Daffin sepertinya salah mengira. Dia langsung melayangkan pukulannya kepada Ersya.


BUG!!!


Tubuh Ersya jatuh tersungkur karena pukulan Daffin yang tiba-tiba.


"Daffin!!! Berhenti!!!" Sekuat tenaga aku menahan tangan Daffin yang akan kembali melayang ke wajah Ersya.


Ingin rasanya aku menarik telinga Ersya. Bukannya mencairkan suasana, dia justru kembali memancing amarah Daffin. Dengan melakukan hal itu, Ersya hanya akan memperburuk keadaan.


"Kak Ersya, ku mohon!"


"Nyonya Stevano tidak pernah memohon kepada siapapun!!!"


"Jaga bicaramu, Tuan Stevano!!! Tidak bisakah kau bersikap lebih lembut kepada Ayasya?"


Kata-kata Ersya seperti kayu bakar yang memperbesar api di hati Daffin, semua itu terlihat dari mata Daffin yang semakin menampakkan kemarahan.


"Kak Ersya, pergilah!"


"Tidak, Ayasya, Aku tidak bisa meninggalkanmu."


"Tapi kau tidak membantuku sama sekali!!!"


Keterkejutan Ersya nampak jelas di wajahnya. Dia pasti terkejut dengan ucapanku, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan agar dia mau pergi dan terhindar dari amarah Daffin.

__ADS_1


"Rania!!!"


Langkah Rania terdengar mendekatiku. Sebenarnya aku geram pada Rania dan juga Shaka yang hanya memperhatikan keributan itu dari kejauhan. Mereka berdua bahkan tidak membantuku menangani Daffin.


"Bawa Kak Ersya pergi!"


Rania mengangguk dan membungkuk hormat. "Mari, Tuan!"


"Aku tidak akan pergi, Ayasya," Tubuh kak Ersya tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Aku merasakan tangan Daffin mencengkram tanganku dengan lebih kuat karena Ersya masih menatapku dan enggan untuk pergi.


"Rania, tolong bawa tuan Chandra pergi dari sini! Aku perlu waktu berdua dengan suamiku."


Aku berusaha bersikap sedingin mungkin pada Ersya. Semoga saja dengan melakukan hal itu Ersya akan mengerti dan mau mendengarkanku.


Meski dengan tatapan tak rela, Ersya akhirnya pergi bersama Rania. Sayangnya, meski Ersya telah pergi Daffin tetap saja marah padaku. Dia bahkan tidak melepaskan tanganku yang hampir patah karena cengkramannya.


"Apa selain bodoh kau juga buta? Hah!!!" bentak Daffin, kini hanya kami berdua yang ada di tempat itu. Sebenarnya bertiga dengan Shaka, tapi pria kanebo itu tak masuk hitungan karena dia hanya diam seperti patung yang memperhatikan kami dari kejauhan.


"Apa maksudmu, Daffin?"


"Kau tahu dia itu bukan Erlangga. Dia hanya membodohimu."


Aku tersenyum sinis. "Benar. Aku bodoh dan buta. Tak masalah jika dia bukan kak Erlan, tapi aku lebih baik bersamanya dari pada bersama denganmu."


Amarah kembali menguasai Daffin, tapi kali ini dia hanya diam tanpa mengatakan apapun. Daffin juga melepaskan cengkraman tangannya yang meninggalkan bekas merah di tanganku.


Aku pikir Daffin sudah melepaskanku, tapi aku salah. Saat aku sedang mengusap tanganku, tiba-tiba saja Daffin mengangkat tubuhku.


"Sepertinya kau perlu tahu, siapa pemilikmu sebenarnya!"


JEGER !!!


Bersamaan dengan itu, petir bergemuruh saling bersahutan seolah menyetujui ucapan Daffin.


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘dan tinggalkan jejak di kolom komentar πŸ‘‡ sertakan votenya juga ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2