Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SWEET CHAPTER 2


__ADS_3

Maichel Gilbert Kafeel, sebuah nama yang langsung menggetarkan hatiku. Aku tidak tahu arti nama itu, tapi aku terharu karena Daffin memberikan nama belakang keluargaku di belakang nama putra kami.


"Kafeel?" tanyaku ragu.


Daffin tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Iya, sesuai janjimu pada ayah."


Flashback on ...


Kandunganku semakin membesar dan waktu melahirkan pun semakin dekat. Hari ini usia kandunganku telah memasuki usia tujuh bulan. Aku tak begitu memperhatikannya karena begitu sibuk mengurus Shaka yang sedang dalam masa emasnya. Sebenarnya Daffin sudah memintaku untuk membiarkan pengasuh menjaga Shaka, tapi aku menolaknya. Aku hanya percaya pada Rania dan ibu untuk membantuku.


"Shaka, Anak Mommy yang pintar!" pujiku ketika Shaka berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.


Tawa kecil nan riang terdengar dari bibir Shaka yang mungil. Dia begitu bahagia setiap kali aku memujinya dan setelahnya dia akan memintaku untuk menggendongnya.


"Kemari, Sayang!" pintaku seraya mengulurkan tangan untuk menggendong Shaka.


Wajah menggemaskan Shaka benar-benar serupa dengan Daffin. Aku terus memandangi wajah tampan putraku yang kini berada dalam gendonganku. Tak ada yang di buang sedikitpun dari wajah Daffin, semuanya persis sama. Mereka berdua seperti kembaran dalam ukuran yang berbeda.


"Plankton kecilku yang lucu!" gemasku seraya menciumi wajah Shaka.


Shaka tiba-tiba menangis dan memaksa untuk turun. Dia terus mengamuk hingga aku kewalahan dan terpaksa menurunkannya.


"Ada apa ini? Kenapa cucu Opah marah?" tanya ayah yang baru saja datang.


Aku hanya tersenyum lalu memeluk ayah. "Entahlah, Ayah! Dia dan daddynya sama saja. Sama-sama suka sekali marah padaku."


Ayah tertawa mendengar keluhanku dan mengangkat tubuh Shaka kemudian mengayunkannya ke udara.


"Katakan, Cucuku yang tampan! Kenapa kau marah pada ibumu?" tanya ayah dengan wajah yang lucu.


Shaka tertawa dan mengoceh tak jelas hingga ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, Opah menyerah! Ucapanmu terlalu sulit untuk di pahami." Ayah mengangkat sebelah tangannya tanda menyerah.


Melihat ayah dan Shaka saling tertawa membuatku bahagia.


"Ayah, dimana ibu?" tanyaku, sambil mengamati ke belakang ayah.


Aku tidak bisa melihat sosok ibu dimana pun. Biasanya ibu akan datang setiap hari untuk membantuku menjaga Shaka, tapi sepertinya ibu sedang sibuk hari ini.


"Ibumu sedang kurang sehat, Lily," jawab ayah tanpa melihat ke arahku.


"Ibu sakit?" tanyaku untuk memastikan.


Ayah menoleh. "Tidak, Lily, ibumu hanya kelelahan."


Aku merasa ayah sedang menyembunyikan sesuatu dariku. "Benarkah? Kalau begitu, seharusnya ibu lebih banyak beristirahat, Ayah."


"Kau benar, Lily! Ibumu terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting." Wajah ayah tiba-tiba berubah suram.


Melihat suasana hati ayah yang kurang baik, aku sepertinya harus berbicara dari hati ke hati dengannya.


"Rania!" teriakku ke arah dapur.


Tak lama Rania sudah muncul dengan senyuman tipis di wajahnya. "Iya, Nyonya."


"Tolong jaga Shaka sebentar! Aku ingin mengobrol dengan ayah." Aku mengambil Shaka dari gendongan ayah dan memberikannya pada Rania. "Bermainlah dengan nanny dan jangan menyusahkannya!"

__ADS_1


Rania tersenyum dan mencium pipi Shaka karena dia tahu pasti anakku itu akan marah padanya. "Ayo, Tuan muda!"


Aku melihat Rania berjalan ke arah taman belakang. Dan sebelum aku berbicara pada ayah, aku terlebih dulu memastikan jika Shaka sudah aman bersama Rania.


"Katakan, Ayah! Ada apa sebenarnya?" tanyaku cemas.


Wajah senja ayah mengulas senyum tipis, sementara tangannya menggenggam tanganku. "Tidak ada apa-apa, Lily."


"Ayah, tolong jangan membohongiku! Sejak aku kembali dari rumah sakit minggu lalu, aku melihat ibu sedikit murung. Apakah ada yang menyinggung perasaan ibu, Ayah? Atau apakah aku telah melakukan kesalahan?" desakku.


"Tidak, Lily! Mana mungkin putri Ayah melakukan kesalahan. Ibumu hanya sedang dalam mood yang kurang baik saja, Sayang," bantah ayah.


Aku menghela nafas dalam. "Sepertinya aku masih belum seutuhnya menjadi putri Ayah dan ibu."


Tangan ayah berpindah dan mencengkram kedua bahuku. "Apa maksudmu, Lily? Kau putri Ayah dan ibu. Tidak ada yang bisa merubah itu!"


"Kalau begitu, katakan, Ayah! Apa yang mengganggu pikiran ibu? Apakah itu tentang aku?" tanyaku lirih.


Aku melihat ayah sedikit ragu sebelum berkata, "ibumu ingin agar putra keduamu menjadi penerus keluarga kita."


"Tapi, Ayah, bukankah kedua putraku akan menjadi bagian dari keluarga Kafeel juga?" tanyaku dengan mata memicing.


"Benar, Lily, tapi mereka berdua tidak akan meneruskan nama keluarga kita. Keduanya akan menjadi penerus keluarga Stevano." desah ayah.


Apa yang dikatakan ayah benar sekali! Kedua putraku akan menjadi penerus keluarga Stevano. Sedangkan, keluarga Kafeel belum memiliki penerus sampai saat ini. Dan jika mengandalkan om Rei ... ah, sudahlah! Lalu, apa yang bisa aku lakukan sekarang?


"Bagaimana jika Ayah dan ibu melakukan program agar aku memiliki adik?" tanyaku dengan mata mengerling.


Mata ayah membulat sempurna dan wajahnya pun memucat. "A- Apa katamu? Mana mungkin, Lily!"


"Hahahaha ... aku hanya bercanda, Ayah." Aku langsung bergelayut manja di lengan ayah. "Ayah dan ibu tenang saja! Aku tidak akan membiarkan keluarga kita tidak memiliki penerus. Aku janji, Ayah!"


Aku memang berjanji pada ayah beberapa hari sebelum aku melahirkan, tapi seingatku tidak ada Daffin disana. Dia berada di kantor saat ayah datang mengunjungiku.


Tunggu dulu!


"Daffin?" panggilku.


"Hemm ...." jawab Daffin, masih dengan tangan yang melingkar di pinggangku.


"Kau memata-matai aku?" tanyaku curiga.


Senyuman tertarik di sudut bibir Daffin saat matanya bertemu dengan tatapan mataku. "Aku tidak sengaja, Nyonya Stevano."


"Tidak sengaja atau sudah terbiasa?" sindirku halus.


Daffin terkekeh. "Maaf, Nyonya Stevano, aku hanya selalu merindukanmu setiap saat. Jadi, aku sekedar ingin tahu apa yang sedang kau lakukan dan hari itu aku melihatmu sedang terlibat pembicaraan yang serius dengan ayah. Aku pikir mungkin kau akan memberitahuku, tapi ternyata sampai hari ini pun kau tetap diam."


Pandanganku tertunduk menatap lantai yang tiba-tiba saja menjadi menarik di mataku. Aku tak tahu harus mengatakan atau menjelaskan apa kepada Daffin. Sejujurnya, aku terlalu takut untuk meminta hal itu darinya. Aku takut dia akan menolak dan hal itu akan memperburuk hubungan kami.


"Aku ... aku berniat untuk memberitahumu saat aku melahirkan, Daffin, tapi putramu sudah tidak sabar ingin segera keluar!" sergahku, mencoba menghindari tatapan mata Daffin.


"Lihat aku, Nyonya Stevano!" titah Daffin.


"Tidak!" tolakku seraya turun dari bed pasien.


"Mom- My!" Suara mungil dan merdu di telingaku berhasil menghentikan langkahku.

__ADS_1


Tangan kecil Shaka meraih jemariku hingga aku menunduk untuk menatapnya. "Iya, Sayang?"


Bola mata Shaka bergerak kesana-kemari seperti orang bingung, lalu berhenti pada Daffin yang sedang memperhatikan kami berdua.


"Daddy?" tanyaku ragu.


Shaka hanya diam dan menatap Daffin sebelum melangkah kembali kepada daddynya.


"Ah, aku mengerti! Sekarang kalian sudah berteman. Sudah tidak bermusuhan lagi?" candaku.


Daffin tertawa dan mengangkat tubuh Shaka. "Hanya sementara! Sementara kau sedang lemah. Jika kau sudah pulih, aku tidak yakin dia akan menurut padaku."


"Dia putramu, Daffin." Aku mencubit pelan pipi Shaka. "Tentu saja dia akan menurut padamu!" ucapku meyakinkan.


"Aku putra tunggalnya daddy, tapi aku tidak suka menuruti keinginannya." Daffin menertawakan tingkahnya sendiri.


Aku tidak mengerti kenapa Daffin sering sekali melawan kepada daddy David, tapi aku tahu pasti jika Daffin sangat menyayangi daddynya itu. Mungkin jarak dan intensitas pertemuan yang membuat jarak di antara mereka. Dan aku tidak akan mengulangi sejarah yang sama pada kedua putraku.


"Jangan kau turunkan sikap burukmu itu pada kedua putraku!" sungutku kesal.


Baru saja aku akan melangkah, tiba-tiba Daffin menarik tanganku hingga tubuh kami saling berdekatan. Tentu saja hal itu membuatku malu bukan kepalang! Ada Shaka di ruangan ini. Putraku yang malang! Matanya yang suci harus melihat tingkah daddynya yang abstrak.


"Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku!" bisik Daffin, aku bisa merasakan nafasnya yang memburu.


"Daffin, jangan terlalu dekat!" Aku mendorong tubuh Daffin agar menjauh.


Tangan Daffin mencoba meraih tengkukku, tapi aku menolaknya. "Kenapa, Nyonya Stevano?"


"Aku baru saja melahirkan dan itu pun melalui operasi caesar. Jangan berpikir untuk menabur benih Planktonmu lagi!" ancamku.


"Tidak saat ini, Nyonya Stevano!" Daffin membelai anak rambutku yang terjatuh. "Tapi aku akan melakukannya lagi saat kau sudah pulih." tambahnya.


"Apa katamu?" tanyaku kesal.


"Bukankah memang itu yang seharusnya kita lakukan? Kita harus memberikan banyak keturunan untuk keluarga Stevano dan juga keluarga Kafeel. Tidak banyak! Hanya sekitar lima atau enam anak lagi." oceh Daffin, tak menghiraukan wajahku yang memerah karena amarah.


"Kau pikir aku kucing? Hah!!!" teriakku, bersamaan dengan mendaratnya sebuah cubitan di paha Daffin.


Daffin meringis kesakitan. "Tentu bukan! Kau itu bintang lautku!"


"Daffin!!!" jeritku geram, sementara Shaka hanya ternganga melihat ulahku. "Kau membuat Shaka takut!" tuduhku.


Bukannya merasa bersalah, Daffin justru tertawa puas. "Dia tidak takut, Nyonya Stevano. Lihat! Dia menikmati ungkapan cinta kita dan sepertinya putraku sudah siap untuk menjadi kakak sulung dari tujuh atau delapan bersaudara."


"De- Delapan?" tanyaku terbata.


"Iya! Kau dan aku adalah anak tunggal. Itu sebabnya kedua keluarga kita memperebutkan anak-anak kita. Maka, aku berpikir untuk membuat delapan anak. Empat anak memiliki nama keluargaku dan empat anak memiliki nama keluargamu. Bagaimana? Bukankah itu ide yang bagus?" jelas Daffin, wajahnya begitu sumringah.


"Ide bagus! Bagus sekali! Apalagi jika kau yang melahirkan!"


TO BE CONTINUE ...


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2