
Hidup yang menyedihkan membuatku merasa menyesal telah di lahirkan ke dunia ini. Andai saja, aku tidak bertemu tuan, aku pasti sudah berada di sisi Tuhan saat ini. Itulah mengapa aku menggap tuan adalah segalanya bagiku.
Hari itu, untuk pertama kalinya aku kecewa dengan keputusan tuan. Tanpa rasa kemanusiaan dia menikahi wanita lemah yang bahkan tidak sadarkan diri. Namun, aku bisa apa? Untuk membantahnya saja aku tidak mampu, apalagi untuk menentang keputusannya. Selain karena aku kasihan pada wanita itu, aku juga memikirkan nasib Reena. Dia adalah cinta pertamaku yang kini menjadi istri pertama tuanku. Tuan Daffin Miyaz Stevano. Satu-satunya pewaris DS Corp, dan aku disini berdiri untuk menjadi bayangannya dan juga tameng untuknya.
Kisah cintaku dengan Reena hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sejak awal aku tahu jika Reena menyukai tuanku, tapi aku tetap berpikir bahwa suatu hari Reena akan melihat keberadaanku karena tuan sama sekali tidak memperdulikannya. Sungguh, aku tidak menyangka jika Reena akan menggunakan nyonya besar Kafeel yang tidak lain adalah ibu tirinya untuk memaksa tuanku menikahinya. Dan saat itu, aku mengerti jika Reena bukanlah wanita yang baik. Dia terlalu berambisi dan juga egois. Apapun yang dia ingin harus dia dapatkan meski dengan cara kotor sekalipun.
Aku pikir, mungkin tuan bosan hidup bersama Reena yang licik sehingga dia memutuskan untuk menikahi wanita malang itu. Aku tak pernah menduga jika pernikahan aneh itu di lakukan karena tuan hanya mengikuti keinginan Reena. Sesungguhnya aku terkadang tidak memahami cara berpikir tuan. Jika dia tidak mencintai Reena, kenapa dia harus selalu mengikuti keinginan wanita itu? Apakah karena sumpah pernikahan? Atau karena ikatan persahabatan antara keluarga Stevano dan juga keluarga Kafeel? Cih!!! Kalau begitu, aku bersumpah tidak akan menikah dan memiliki keluarga seumur hidupku.
***
Siang itu tuan memintaku untuk menjemput istri barunya yang akan keluar dari rumah sakit. Awalnya aku berpikir, wanita itu pasti akan menangis dan meraung atau mungkin juga berteriak dan memelas padaku agar tidak membawanya pada tuan. Namun, khayalanku buyar ketika aku membuka pintu ruang perawatan yang memperlihatkan sosok wanita yang hari sebelumnya terlihat begitu lemah, kini dia sudah berdiri tegar dan terus menatapku tanpa takut.
Seharusnya, sejak hari itu aku sudah bisa menduga jika nyonya muda bukanlah wanita lemah seperti yang aku bayangkan. Dia benar-benar berani melawan tuan, dan jujur saja hal itu menjadi sesuatu yang menarik bagiku. Selama aku mengikuti langkah tuan, belum pernah ada yang berani melawan apalagi berteriak padanya. Sedangkan nyonya muda, tubuhnya kecil dan suaranya bahkan tidak sebesar suara kucing peliharaanku, tapi dia sangat berani dengan selalu menentang tuan.
Satu hal yang belum aku pahami, untuk apa tuan menikahi nyonya muda sementara tuan berusaha untuk selalu menghindarinya? Tuan menyakitinya, tapi juga menjaga hatinya. Dan akulah yang di buat pusing dalam hubungan yang rumit ini. Sekejap tuan memintaku melakukan ini untuk membuat nyonya muda jera, tapi detik berikutnya tuan memintaku untuk melakukan itu agar nyonya muda bahagia.
Perlahan aku mulai terbiasa dengan tingkah tuan yang aneh dan labil. Aku pikir mungkin tuan terbawa oleh sikap kekanak-kanakan nyonya muda. Bagaimana tidak? Usianya masih sangat muda, dia bahkan belum menyelesaikan kuliahnya. Namun, aku cukup terpesona dengan kecantikan nyonya muda, di tambah dengan lidah tajamnya yang mampu membungkam siapa saja yang berani menyakitinya.
Setiap hari, tuan selalu memintaku untuk memantau dan mengawasi gerak-gerik nyonya muda. Dan sepanjang hari hanya wajahnya saja yang aku lihat. Tanpa aku sadari, wajah polos itu terlukis dengan sendirinya di dalam hati dan pikiranku.
Mulai saat itu, aku menyadari jika nyonya muda telah tinggal dalam hatiku. Salahkah jika aku mengharapkan dirinya? Sepertinya tuan juga akan membuang nyonya muda apalagi setelah kejadian buruk yang menimpa nyonya muda. Sungguh malang nasibnya harus kehilangan bayi kembarnya. Sebenarnya, bukan hanya tuan dan nyonya muda yang bersedih atas kejadian itu, tapi aku juga. Aku hancur melihat wanita yang lemah seperti nyonya muda bersimbah darah, tanganku lemas dan tak kuasa untuk mengemudi. Jika tuan tidak berteriak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada nyonya muda atas ketidakmampuanku menghadapi situasi.
Setelah kejadian itu, aku melihat ada yang aneh dengan tingkah nyonya muda. Dia menjadi penurut dan tuan juga ternyata menyadari hal itu. Tuan memintaku untuk membuat jebakan bagi nyonya muda dengan melibatkan Rania, pelayan pribadi nyonya. Aku tidak menyangka jika jebakan hari itu akan menjadi penghalang bagiku untuk menggapai nyonya muda.
***
Banyak sekali hal yang terjadi di dalam rumah tangga tuan. Dari semua hal yang terjadi, aku melihat nyonya mudalah yang paling terluka. Dia adalah korban dari kelicikan Reena, ketidakberdayaan tuan, dan keterikatan diriku pada janjiku.
Saat nyonya muda memutuskan untuk melarikan diri dari tuan, sungguh aku sangat bahagia. Dengan begitu, aku akan lebih mudah mendapatkan cintanya. Aku pikir begitu, tapi yang terjadi justru tidak seperti itu.
Dengan perjuangan yang gigih, tuan bisa membawa pulang kembali nyonya muda meski dengan terpaksa. Karena apa? Karena nyonya muda sedang mengandung pewaris keluarga Stevano. Hancur. Benar, hatiku hancur. Dua kali hatiku berlabuh di tempat yang salah. Semestinya aku lebih tahu diri jika sampai kapanpun, aku tidak akan pernah terlihat selama aku berdiri di belakang tuan.
***
Hari demi hari aku lalui dengan hati yang gelisah. Setiap malam, aku hanya bisa memandangi potret nyonya muda yang aku ambil secara diam-diam dengan spot yang berbeda. Aku juga memutar rekaman CCTV yang memperlihatkan kesehariannya. Lama-lama sepertinya aku akan menjadi gila karena perasaan ini.
Namun, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku selalu mendoakan kebahagiaan tuan dan nyonya muda. Aku tak sampai hati jika melihat mereka terpisah, terlebih akan ada tuan muda yang hadir di tengah-tengah mereka.
Malam yang dingin, tak seperti biasanya. Aku pulang larut ke apartemen karena pekerjaan yang menumpuk sebab tuan sekarang sibuk menemani dan merayu nyonya muda. Cih!!! Nasib menjadi bawahan memang seperti ini, tapi aku bahagia menjalaninya.
Ketika aku membuka pintu, aku cukup terkejut ketika melihat Reena sudah terbaring di atas tempat tidurku.
"Apa yang Anda lakukan, Nyonya?" tanyaku datar, tanpa menatap Reena yang berpakaian tak pantas.
Langkah kaki Reena terdengar mengikutiku yang melangkah kedapur. "Aku menunggumu, Shaka."
Aku pria. Aku tidak sekuat itu menahan godaan dari wanita yang pernah singgah dalam hatiku. Terlebih ketika tangan Reena melingkari pinggangku. Aku berusaha mengatur nafas dan juga terus mengingat wajah tuan agar aku bisa menguasai diriku. Segera aku berbalik dan berhadapan dengan Reena. Bukannya menghindar, wanita itu justru semakin menempelkan tubuhnya padaku.
"Kau kesepian bukan? Mari, kita habiskan malam bersama!" goda Reena, tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemejaku.
Tanpa ragu aku menepis tangannya. "Maaf, Nyonya, saya rasa anda mabuk. Sebaiknya saya menghubungi supir anda."
Belum sempat aku melangkah, Reena sudah memelukku dan menangis. "Kau jahat, Shaka! Apa kau sudah melupakan persahabatan kita? Apa hatimu sudah tidak mencintai aku lagi?"
"Ka- Kau tahu?" Mataku membulat sempurna saat melepaskan pelukan Reena dan menatap wajahnya.
__ADS_1
Reena mengangguk. "Aku tahu kau mencintaiku, tapi aku bisa apa? Hati tidak bisa di paksakan. Dan sekarang, aku merasakan karma atas perbuatanku padamu. Maafkan aku, Shaka!"
Melihat ketidakberdayaan wanita yang pernah memiliki hatiku, membuat aku bimbang. Aku ingin mengusirnya keluar dan berusaha untuk tidak menghiraukannya, tapi setengah hatiku ingin memeluknya dan menenangkannya.
"Saya sudah memaafkan anda, Nyonya, sekarang pergilah! Tidak baik jika ada yang melihat anda berada di sini dengan pakaian seperti ini." Aku memberikan tissue pada Reena.
Pandangan Reena naik dan menatapku tajam. "Kau juga?"
Kedua alisku menukik tajam, tak paham dengan maksud Reena. "Saya? Kenapa?"
"Kau juga tersihir oleh wanita itu?" Reena mencebik. "Entah mantra apa yang dia gunakan untuk mengikat Daffin? Dan sekarang dirimu juga."
"Saya tidak mengerti, Nyonya," elakku lalu berjalan menjauhi Reena.
PRANG ...
Aku menoleh dan melihat serpihan kaca sudah berhamburan karena Reena melemparkan gelas ke lantai.
"Akui saja jika kau menaruh hati pada Ayasya, Shaka! Aku sudah melihatnya. Aku sudah melihat sedalam apa cintamu padanya. Aku berani bertaruh jika Daffin mengetahui hal ini, dia pasti akan membuangmu ke jalanan. Tempat dimana dia menemukanmu!" teriak Reena, matanya merah karena amarah.
"Terserah, Nyonya! Lakukan apapun yang akan membuat Anda senang!" hardikku masih tak ingin menghiraukan Reena.
"Baik! Kau yang menginginkannya. Aku akan menghabisi wanita cengeng itu dan membuat Daffin kembali padaku! Setelah itu, aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa kau telah melecehkan aku. Dengan begitu, seluruh dunia akan di buat gempar karena tuan Shaka yang dingin ternyata telah mengkhianati tuannya sendiri. Dan ya, aku juga akan membeberkan bukti bahwa kau selama ini memiliki hubungan gelap dengan Ayasya. Kita lihat! Apa yang bisa kau lakukan untuk menghindari kemarahan Daffin!" ancam Reena.
Tidak bisa! Aku bisa menanggung apapun di dunia, kecuali kehancuran tuan dan juga nyonya muda. Aku tahu Reena tidak main-main. Dia pasti akan melakukan apa yang dia katakan. Sebaiknya, untuk saat ini aku mengikuti permainannya saja.
"Katakan apa maumu?" tanyaku dengan tatapan dingin.
"Mudah saja!" Reena menjentikkan jarinya. "Bantu aku mendapatkan kembali sahamku! Setelah itu, kita akan bekerja sama untuk memisahkan Daffin dengan Ayasya." jelasnya.
"Setuju!!!" jawabku, agar Reena cepat pergi.
Wanita licik itu tersenyum dan melenggang pergi. Setelah kepergiannya, dengan cepat aku mengganti kode pintu apartemenku.
"Seharusnya aku sudah menggantinya sejak lama!"
***
Beberapa hari ini, aku terus mengikuti keinginan Reena agar wanita itu tidak curiga dan berulah. Namun, kesabaranku mulai habis ketika Reena memintaku untuk mengirim uang melalui rekening tuan.
"Tidak mungkin, Nyonya!" tolakku.
"Kenapa tidak mungkin? Daffin sangat percaya padamu! Dia bahkan menyerahkan segalanya padamu. Atau kau ingin aku meledakkan bom yang sudah aku siapkan?" Reena memicingkan matanya padaku.
"Nyonya, jika anda butuh uang, saya bisa memberikannya pada anda. Berapa yang anda butuhkan?" tanyaku, masih mencoba bernegosiasi.
Reena berdecak. "Kau pikir aku pengemis?"
"Anda terlihat seperti itu, Nyonya," sahutku kesal.
"Kau!!!" Telunjuk Reena mengarah padaku. "Jangan main-main denganku, Shaka!!! Aku tidak masalah jika harus mengotori tanganku dengan darah wanita itu." ancamnya.
Jika menyangkut nyonya muda, tidak ada yang bisa aku lakukan. Untuk saat ini, aku harus terus mengikuti permainan Reena sampai dia lengah. Aku juga masih belum tahu apa rencananya setelah dia gagal melakukan semua rencananya.
***
__ADS_1
Dugaanku, ternyata salah. Reena semakin gencar dengan ulahnya. Dia bahkan berani datang ke rumah tuan yang baru dan membuat kekacauan. Tak ingin ada yang terluka, aku membiarkan dia untuk masuk walau hanya sampai halaman.
Reena mencoba melukai nyonya muda saat dia tahu tentang kehamilannya. Sungguh, aku menyesal telah membiarkan Reena masuk. Aku pun tahu jika tuan sangat marah sehingga aku harus bersiap menerima kemarahannya dan kali ini aku memang pantas mendapatkan hukuman darinya.
"Anda benar, Tuan, saya mencintai Nyonya Ayasya." Bibirku mengucap begitu saja kalimat itu.
Dengan sangat terpaksa aku harus mengakui perasaanku terhadap nyonya muda. Aku lelah berada di bawah tekanan Reena. Setidaknya dengan begitu, tuan akan terus menjaga nyonya muda dan lebih protektif padanya.
Hukuman yang tuan berikan padaku hanyalah sebuah tendangan kecil yang tidak ada artinya sama sekali di bandingkan hidup kedua yang telah tuan berikan padaku.
Aku merasa menjadi orang paling jahat dan tidak tahu diri di dunia karena sikap tuan padaku tidak berubah meski tahu aku menyimpan rasa pada istri yang sangat dia cintai.
Rasa sesal begitu berjejalan di dadaku, merangsek dan ingin berhamburan keluar ketika aku melihat tuan begitu bahagia. Andai aku tahu bahwa perasaanku tidak akan mempengaruhi hubungan tuan dan nyonya, aku pasti tidak akan membantu Reena.
Pilihanku sepertinya sudah tepat untuk menjauhi Reena. Aku sadar, aku begitu beruntung karena di selamatkan tuan ketika aku bertemu dengan segerombolan anak jalanan yang kelaparan dan tak memiliki rumah. Tuan memintaku untuk memberikan makanan dan juga mainan pada mereka. Kebersamaanku yang singkat bersama anak-anak itu membuatku menyadari dimana posisiku sebenarnya.
***
Setelah aku memutuskan untuk berhenti membantu Reena. Aku pikir wanita itu akan sadar dan menyerah, tapi sepertinya dia memang wanita yang licik. Sekarang, aku tahu untuk apa dia memintaku mengirim uang melalui rekening tuan. Dia pasti ingin membuat nyonya muda salah paham dan meninggalkan tuan. Aku tidak akan membiarkan hal itu.
Aku bergegas membawa tuan untuk pergi rapat sebelum Reena menemui tuan. Aku tahu semua pergerakannya karena aku telah menempatkan orang untuk mengawasinya.
Walaupun tuan terlihat kesal, tapi syukurlah tuan mau ikut denganku. Namun, sial! Aku terlambat! Aku melihat sebuah mobil terus mengejar kami dan aku teringat ucapan orang suruhanku.
"Tuan, nyonya Reena sudah membayar beberapa penjahat untuk menyerang anda."
Itu artinya, para penjahat itu mengincarku bukan tuan. Untuk menyelamatkan nyawa tuan, aku membawanya ke tempat aman untuk menghadapi para penjahat itu.
Dan sepertinya takdir tidak berpihak pada kami, para penjahat itu melakukan serangan dadakan dan mencoba memukul tuan, tapi aku berhasil menghalanginya. Tidak berhenti sampai di situ, aku melihat seseorang mengarahkan senjatanya pada tuan.
"Bawa aku, Tuan. Aku janji akan selalu setia padamu. Nyawaku milikmu, Tuan."
Tiba-tiba ingatan akan hari dimana tuan menyelamatkanku kembali berputar dalam ingatan. Aku pun teringat akan janjiku pada tuan. Tanpa ragu, aku menjadi tameng bagi tuan.
Aku melihat tuan menggendong tubuhku dan terus menangis. Hatiku begitu terenyuh, tapi aku tidak bisa menenangkan tuan. Sekarang aku hanya bagaikan angin yang tak pernah bisa di lihat.
Tuan ...
Tugasku untuk menjagamu sudah selesai.
Aku sudah memberikan nyawaku padamu sebagai bayaran atas kebaikanmu selama ini padaku.
Tuan ...
Aku bersumpah!
Aku selalu setia padamu hingga nafas terakhirku ...
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1