Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
RENCANA DADDY DAVID


__ADS_3

Sejak mengetahui bahwa aku mengandung calon putra mahkota keluarga Stevano, daddy David segera mengunjungiku ke rumah sakit. Dia bahkan melakukan pengawalan yang ketat ketika kami akan kembali ke rumah.


"Kau berlebihan, Dad!" keluh Daffin, ketika kami semua sampai di rumah.


"Ini tidak berlebihan, Daff! Lily sedang mengandung dan kau tidak bisa memungkiri jika ada banyak musuh yang menginginkan kehancuranmu." sergah daddy David, ketegasannya mengingatkanku akan sikap Daffin padaku sebelumnya.


Daffin mendengus kesal. "Tapi yang kau lakukan justru memancing mereka, Dad! Aku menyembunyikan kehamilan istriku selama ini dari semua orang. Dan apa yang Daddy lakukan sudah merusak semuanya."


Ketegangan tiba-tiba mengisi suasana karena Daffin dan daddy David tetap bersikeras dengan keputusan masing-masing.


"Baiklah, kita tanyakan pada Lily apa yang dia inginkan." ucap daddy David seraya melangkah mendekatiku.


Sejujurnya, sejak tadi aku tidak mengerti apa yang mereka ributkan. Menurutku ini hanya masalah kecil yang tidak perlu di permasalahkan.


Daddy David duduk berseberangan dengan ayah yang berada di sampingku bersama dengan ibu. "Lily, katakan! Apa kau keberatan jika aku melakukan pengawalan padamu? Sebelum kau menjawab, coba kau pikirkan! Daffin itu pengusaha besar, banyak yang menyanjungnya. Namun, banyak juga yang ingin menjatuhkannya. Terlebih saat ini kalian baru saja mengalahkan orang-orang jahat seperti Reena dan Anna. Aku hanya takut mereka akan mengincar cucuku karena rasa dendam mereka pada Daffin."


Yang di katakan daddy David memang benar, tapi satu hari penuh bersama pengawal berwajah menakutkan itu sangat tidak nyaman. Selama ini aku sudah kesulitan bergerak karena Daffin terus mengawasiku. Rasanya aku akan semakin tersiksa jika ada banyak pengawal yang mengelilingiku.


Pandangan mataku berkeliling dan tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Daffin yang masih berdiri di belakang daddy David dengan wajah kesalnya. Cukup lama aku terikat dengan mata biru itu hingga aku mengerjap ketika merasakan tangan ayah menyentuh tanganku.


Aku menghela nafasku, seolah ingin melepaskan beban di hatiku. "Maaf, Daddy, tapi aku rasa Daffin saja sudah cukup untuk menjagaku."


Sudut mataku melirik Daffin yang mengutas senyum tipis di wajahnya. Aku yakin dia senang dengan jawabanku karena saat bertatapan dengannya, aku merasa Daffin mengatakan banyak hal padaku melalui matanya. Entah mengapa aku merasa Daffin ingin agar aku mempercayainya.


"Tapi, Lily, bagaimana jika Daffin tidak bisa selalu bersamamu? Dia terlalu sibuk dengan urusannya." sergah daddy David, mencoba membuat keraguan di hatiku.


"Tapi, Daddy, aku tidak pernah melangkah keluar dari rumah ini tanpa Daffin." sanggahku seraya terkekeh.


Helaan nafas daddy David membuatku sedikitnya merasa bersalah. Namun, aku juga tidak bisa menerima usulannya untuk membiarkan pengawal berada di sekitarku.


"Maaf, Daddy," lirihku, karena daddy David tak kunjung membuka mulutnya.

__ADS_1


"Tidak masalah, Lily! Kalian benar. Aku terlalu berlebihan. Jujur saja, aku hanya terlalu mencemaskan keadaan menantu dan calon cucuku." ucap daddy David dengan wajah muramnya.


Tiba-tiba Daffin berdecak. "Jangan bersandiwara, Dad! Itu tidak akan berpengaruh padaku dan juga nyonya Stevano."


Aku melihat Daffin baru saja mencebik dengan kedua tangannya yang terlipat di dada. Jika bisa, aku ingin melemparkan sandalku ke arahnya. Dia selalu marah padaku jika aku berbicara kasar pada ayah atau ibu, tapi dia sendiri berbicara tanpa memikirkan perasaan daddy David.


Daddy David menghembuskan nafasnya kasar. "Hah! Aku harus mencari cara lain. Sulitnya memiliki anak yang cerdas."


Aku merasa daddy David sedang mengeluh karena sedih, tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Ayah dan ibu tiba-tiba tertawa, di susul tawa daddy David yang tak kalah kerasnya.


Ada apa ini? Aku yang bodoh, atau para orang tua ini yang terlalu pintar?


Belum terjawab rasa penasaranku, Daffin sudah menghampiriku dan mengulurkan tangannya.


Dahiku mengernyit menatap tangan Daffin. Namun, Daffin tetap tidak bergeming. Dia menggerakkan tangannya, menunggu aku menyambutnya.


"Ayo, pergi atau kau akan kehilangan akalmu seperti daddy!" ajak Daffin, seringai licik menghiasi wajahnya.


"Daffin, aku lelah. Aku ingin mandi." Aku membuka sepatuku dan melepaskan anting-antingku.


Baru saja satu anting yang terlepas, tangan Daffin sudah menggantikan tugasku. Dia melepaskan semua accessories yang menempel di tubuhku dengan hati-hati.


"Hentikan!" tolakku, ketika Daffin ingin membuka pakaianku.


"Kenapa?" tanya Daffin bingung, kerutan di keningnya memancing tawaku. "Kenapa kau tertawa? Hah!"


Jariku menunjuk kening Daffin. "Wajahmu terlihat semakin tua!"


Awalnya Daffin terlihat bingung, tapi sesaat kemudian dia menahan kedua tanganku di belakang tubuhku dan memutar tubuhku sehingga membelakanginya.


Hembusan nafas Daffin di tengkukku membuat bulu-bulu halus di tubuhku merinding. Dia terus melakukan itu meskipun aku sudah memberontak.

__ADS_1


"Apa katamu tadi? Aku tua?" bisik Daffin, tepat di telingaku.


Aku tak gentar. "I- Iya! Kau memang sudah tua dan tak ada yang bisa merubahnya."


Tanganku semakin di cengkram kuat oleh Daffin. "Bagaimana jika kita buktikan apakah aku sudah tua atau belum?"


Daffin kembali memutar tubuhku sehingga aku berada dalam dekapannya dan merasakan sesuatu yang mengganjal di antara kami. Selain perutku tentunya.


Pandanganku turun ke bawah untuk memastikan apa yang ada di pikiranku. Benar saja! Sesuai dugaan, Jhonny sudah terbangun dan siap untuk mengalahkan aku.


Aku tertawa hambar ketika pandanganku kembali pada Daffin. "Kau tahu, Daffin? Hari ini aku sangat lelah. Aku melakukan banyak hal bersama ayah dan ibu. Kau ingin mendengarnya?"


"Tentu!" jawab Daffin singkat.


Aku bernafas lega. Untunglah! Tapi tidak! Daffin melakukan hal yang sebaliknya, dia mengangkat tubuhku dan membaringkan aku di atas tempat tidur.


"Daffin, katamu akan mendengarkan ceritaku? Ke- Kenapa kau -" tanyaku terbata, terlalu terkejut dengan sikap Daffin.


Tubuh raksasa Daffin sudah mengukung tubuhku. Posisi seperti ini selalu membuatku merasa seperti kurcaci yang tak ada artinya jika di bandingkan dengan kekarnya tubuh Daffin.


"Hemm ...," geram Daffin, tangannya sibuk melucuti pakaianku.


"Daffin!" teriakku seraya menahan tangan Daffin. "Dengarkan ceritaku dulu!" pintaku.


Bibir Daffin mendarat di keningku dan perlahan melepaskan pegangan tanganku yang menahan tangannya. "Kau bisa bercerita dan aku akan mendengarkan."


Itu memang benar! Aku bercerita dan dia mendengarkan, tapi bagaimana bisa aku bercerita jika dia terus mencumbuku seperti ini? Aku bahkan sudah kehabisan nafas sebelum aku mulai bercerita.


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2