
Perjalanan yang seharusnya singkat menuju sebuah rumah sakit tempat praktek dokter Reinhard menjadi sangat panjang karena Daffin hanya diam membisu sepanjang perjalanan.
Astaga!!! Sepertinya telingaku mulai candu dengan suara berat khas milik Daffin.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Daffin yang seketika membuatku menoleh.
Pandangan mata kami bertemu hingga aku menaikturunkan kedua alisku sebagai isyarat kepada Daffin atas pertanyaannya.
"Pipimu menggembung seperti ikan buntal!" tunjuk Daffin, disusul gelak tawa yang memekakkan telinga.
Kalau tahu akan seperti ini, akan lebih baik jika Daffin diam saja seperti sebelumnya.
"Hei, jangan marah! Kenapa kau mudah sekali marah, My Starfish? Hemm?" bujuk Daffin, telunjuknya menusuk-nusuk pipiku dengan lembut.
"Karena kau menyebalkan!" jawabku ketus seraya memalingkan wajahku.
"Astaga! Kenapa kau tidak memiliki sedikit saja kelembutan Maya?" gerutu Daffin, wajahnya mulai terlihat kesal.
Ucapan Daffin sedikitnya mengganggu pikiranku. Setelah di pikir-pikir, ibuku adalah wanita yang lemah lembut, bahkan dalam kemarahannya pun dia lebih banyak diam dan tersenyum. Sedangkan aku, setiap hal yang ku lihat dan ku dengar selalu memicu amarahku terutama jika itu berhubungan dengan Daffin. Apakah hanya karena hormon kehamilan? Sepertinya aku harus segera menemui dokter untuk mencari jawabannya.
Ditengah lamuanku, tiba-tiba mobil Daffin berhenti hingga membuat tubuhku terdorong ke depan. Beruntung Daffin menahan tubuhku sehingga kepalaku tidak terbentur kursi depan.
"Kau baik-baik saja, Nyonya Stevano?" tanya Daffin khawatir yang ku jawab anggukan kepala. Kemudian Daffin beralih menatap Shaka yang baru saja menoleh. "Shaka! Aku pikir mungkin kau butuh liburan." lontar Daffin dingin.
"Tidak, Tuan, maafkan atas kecerobohan saya." jawab Shaka lemah.
Kilatan amarah terlihat di mata Daffin. "Kau -"
"Tidak masalah, Shaka! Aku yang ceroboh." sergahku, memotong ucapan Daffin.
Daffin menghela nafasnya dalam. "Ya sudah, ayo, kita turun! Dokter Reinhard pasti sudah menunggu."
Sebelum membuka pintu mobil, aku menurunkan kaca mobil untuk mengamati keadaan sekitar. "Apa kita tidak bisa turun di basement saja?"
Sepertinya permusuhanku dengan matahari belum usai, karena kepalaku langsung terasa berputar ketika aku melihat ke luar.
"Disini tidak ada basement, yang ada hanya itu." Telunjuk Daffin menunjuk ke arah gedung parkir yang berseberangan dengan gedung rumah sakit. "Tenang saja, lobby disini bebas dari matahari. Lagi pula, ada aku yang akan melindungimu."
"Tapi ...," ucapku ragu.
"Sudahlah, ayo, turun!" titah Daffin seraya membuka pintu.
Sementara Daffin memutari mobil, Shaka membukakan pintu untukku. "Terima kasih, Shaka." ucapku.
Daffin benar! Lobby rumah sakit ini memang memasang canopy yang cukup memadai hingga terbebas dari sengatan matahari, tapi cahaya matahari masih menembus melalui sisi kiri dan kanan yang langsung menimpa tubuhku.
Aku merasakan pusing yang luar biasa dan juga rasa mual yang benar-benar tidak tertahankan.
Sepertinya Daffin menyadari ketidaknyamananku sehingga Daffin membuka jasnya dan menutupi tubuhku dengan jas besarnya itu, lalu merangkul bahuku. Tanpa bicara sepatah katapun, Daffin menuntunku masuk ke dalam rumah sakit.
"Duduklah!" Daffin mendudukkan aku di kursi tunggu. "Tunggu sebentar! Aku akan segera kembali." pinta Daffin, sementara aku hanya mengangguk lemah karena rasa mual yang semakin menjadi.
Baru saja aku akan berdiri dan pergi ke toilet, tiba-tiba Daffin sudah kembali dan membawa sebuah kantung plastik di tangannya.
Daffin duduk di sampingku dengan nafas terengah-engah, kemudian membuka sebotol air mineral yang dia keluarkan dari kantung yang di bawanya.
__ADS_1
"Minumlah!" pinta Daffin seraya menyodorkan botol minuman kepadaku.
Aku hanya menganga menatap Daffin yang terlihat seperti seseorang yang baru saja lomba lari maraton.
"Sepertinya kau yang lebih membutuhkannya." Aku mendorong kembali minuman itu kepada Daffin.
Daffin menatapku bingung, kemudian bola matanya berputar malas dan menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. "Aku lebih membutuhkan senyumanmu."
Lagi, Daffin menyodorkan botol minuman itu padaku dengan sedikit memaksa hingga aku pun akhirnya menurutinya.
"Sudah lebih baik?" tanya Daffin, begitu aku menyerahkan botol minuman padanya.
"Sedikit." jawabku lemah, karena masih merasa pusing.
Daffin merogoh kantung tadi dan mengeluarkan sebuah minyak angin. "Hirup ini! Mungkin kau akan merasa lebih baik."
Untuk kali ini, aku hanya menurut saja dan melakukan semua yang di ucapkan Daffin. Yang terpenting aku tidak pusing dan mual lagi.
"Terima kasih ...," cicitku, dengan pandangan yang tertunduk.
"Terlalu sulitkah mengucapkan kata itu?" tanya Daffin, tangannya memegang daguku sehingga pandangan kami bertemu.
Aku segera mengalihkan pandanganku. "Tidak! Hanya saja aku masih merasa mual."
"Baiklah, kita akan menunggu sampai kau merasa lebih baik. Baru setelah itu kita akan menemui dokter Reinhard. Atau mungkin,sebaiknya kita menemui dokter kandungan lebih dulu." saran Daffin, dia menyandarkan tubuhku ke dinding dan menenggak habis air di botol minuman tadi tanpa bersisa.
Sejujurnya, perhatian Daffin yang seperti ini membuatku terenyuh dan merasa bersalah karena terus menerus membencinya. Namun, aku masih ragu untuk mengungkapkan perasaanku padanya karena aku takut jika suatu hari nanti Daffin akan pergi meninggalkan aku.
"Maafkan aku, Nyonya Stevano!" ucap Daffin tiba-tiba, membuatku terhenyak.
"Untuk semuanya." Daffin kembali menegakkan tubuhnya. "Jika aku tidak membuatmu mengandung anakku, kau tidak akan mengalami hal ini. Pasti sulit bagimu menjalani kehamilan." lirihnya.
"Tidak sulit, hanya merepotkan saja." lontarku seraya terkekeh. "Ketika aku mengandung bayi kembar kak Erlan, aku tidak merasakan hal-hal aneh seperti kehamilanku kali ini. Aku juga tidak membenci wajah kak Erlan, tapi aku selalu lapar saat tengah malam. Benar-benar berbeda dengan kehamilanku kali ini."
"Mungkin karena Daddynya berbeda." sergah Daffin, ada kecemburuan di dalam kata-katanya.
"Mungkin dia ingin membalas kekejaman Daddynya padaku." candaku seraya mengusap perutku yang mulai mengeras.
Aku melihat Daffin mendengus kemudian tersenyum simpul. "Ternyata anak Daddy pendendam."
Tangan Daffin terulur dan hampir saja menyentuh perutku, tapi urung dia lakukan. Aku melihat ada keraguan di matanya seolah sesuatu menghalangi dirinya.
Tak tega melihat Daffin yang seperti itu, aku berniat untuk menarik tangannya dan meletakkannya di atas perutku. Namun, tiba-tiba seseorang menyapaku.
"Ayasya? Kau Ayasya bukan?" seru orang itu, membuatku menoleh dan membuka kacamata hitamku. "Benar! Kau Ayasya." tukasnya.
"Om Rei?" tanyaku ragu.
"Iya, ini Om, Ayasya. Bagaimana kabarmu? Astaga! Sudah lama kita tidak bertemu." celoteh om Rei, kemudian mencoba memelukku, tapi di halangi oleh Daffin.
"Hati-hati dengan tubuhmu, Dokter Reinhard!" ucap Daffin datar, di iringi tatapan tajamnya.
"Dok- Dokter Reinhard?" Kerongkonganku rasanya tercekat mendengar Daffin menyebut Om Rei dengan dokter Reinhard.
Om Rei tersenyum padaku. "Benar, Ayasya! Om adalah dokter di rumah sakit ini. Dan nama Om adalah Reinhard."
__ADS_1
Flashback on...
"Aca, ayo, keluar! Ada paman kaya yang membawakan banyak mainan untuk kita!" seru temanku seraya berlari keluar.
Setiap bulannya, akan ada paman baik hati yang membawakan mainan, permen, dan juga pakaian baru untuk kami di panti. Teman-temanku mengatakan jika paman itu sangat tampan dan juga baik, tapi entah mengapa aku sama sekali tidak ingin menemuinya. Setiap kali paman itu datang, aku akan bersembunyi di halaman belakang bersama kak Erlan untuk menghindarinya.
Seperti hari ini, aku memilih untuk bermain seorang diri di halaman belakang karena kak Erlan sedang menempuh ujian untuk masuk perguruan tinggi.
"Halo, Anak Cantik! Siapa namamu?" sapa seseorang yang berdiri di hadapanku.
Aku mendongak dan melihat pria dewasa yang sangat tampan dengan mata coklatnya sedang menatapku. Anehnya, pria itu terlihat terkejut ketika menatap mataku.
"Ayasya ...," jawabku pelan.
"Ah, maaf! Siapa namamu?" tanyanya lagi.
"Ayasya!" jawabku, kali ini dengan lebih keras.
Pria dewasa itu tersenyum. "Ayasya kenapa main sendiri? Tidak ikut bersama teman-teman di luar?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak suka menerima sedekah."
"Ya, Tuhan!" Pria dewasa itu terperangah dengan jawabanku. "Pikiranmu sungguh luar biasa, Ayasya, tapi itu bukan sedekah. Hanya saling berbagi." jelasnya.
"Berbagi hanya untuk dua orang." ucapku polos.
Pria dewasa itu kembali tersenyum, kemudian mengeluarkan sebatang coklat yang di berikan padaku. "Ini bukan sedekah. Aku ingin berbagi denganmu."
Melihat ketulusan di matanya, aku pun menerima coklat itu dan membaginya menjadi dua bagian.
"Yang ini untukku." Aku mengambil satu bagian coklat dan memberikan satu bagian lagi pada pria dewasa itu. "Dan ini untukmu."
Awalnya, dia menolak coklat yang ku berikan, tapi akhirnya dia mau menerimanya ketika aku memakan satu bagian coklat yang aku ambil.
"Terima kasih, Om ...," ucapku menggantung, karena belum mengetahui siapa nama pria dewasa itu.
"Rei. Kau bisa memanggilku Om Rei."
Flashback off ...
"Jika aku tahu bahwa dokter Reinhard adalah Om Rei, aku tidak akan serepot ini." ucapku bahagia.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" tanya Daffin curiga.
"Tentu saja! Om Rei ini pria yang -"
"Aku tidak ingin mendengarnya! Cukup selesaikan urusan kita dengannya dan segera pergi dari sini."
Hallo semuanya π€
Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya π
Jangan lupa di tap jempolnya πdan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1