
"Kita hanya membutuhkan bayinya, bukan ibunya!"
Kata-kata yang meluncur dari mulut kak Reena itu seketika membuat lututku lemas seperti tak bertulang, aku hampir tidak dapat berdiri jika aku tidak berpegangan pada sisi meja yang berada di depan kamar.
Aku merasa telah di bodohi selama ini. Ternyata Daffin benar, aku memang hanya wanita bodoh yang mudah di perdaya. Dengan mudahnya pasangan Stevano itu menjeratku dan menipuku dengan segala tipu daya yang telah mereka siapkan.
Ucapan kak Reena membuatku takut dan langsung teringat pada bayi kembarku. Aku mengusap lembut perutku dengan tangan yang gemetar menahan amarah. "Mommy tidak akan pernah memberikan kalian kepada siapapun. Kalian hanya milik mommy dan ayah."
Tadinya aku berpikir untuk segera melarikan diri sebelum keberadaanku disadari oleh Daffin dan kak Reena, tapi aku langsung berubah pikiran ketika aku teringat betapa manisnya sikap kak Reena terhadapku.
PROK... PROK... PROK...
Tepukan tangan yang begitu kencang sengaja aku lakukan untuk menarik perhatian Daffin dan juga kak Reena. Bersamaan dengan itu, aku mendorong pintu kamar utama dengan kakiku.
"Pertunjukkan yang sangat bagus!"
Sebenarnya, ingin rasanya aku menampar wajah angkuh Daffin yang kini memucat setelah melihat kedatanganku. Dia hanya diam menatapku tanpa berkedip. Tak berbeda jauh dengan Daffin, kak Reena juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Ayasya?" Kak Reena yang pertama kali berhasil mengatasi rasa terkejutnya, dia berusaha untuk mengurangi jarak di antara kami. Tangan kak Reena mencoba untuk meraih tanganku, tapi aku langsung menepisnya dengan kasar.
"Ayasya? Ada apa?" tanya kak Reena, dia bahkan masih memasang wajah malaikatnya di hadapanku.
Andai aku seekor gurita, ingin sekali aku menyemprotkan cairan hitam ke wajah kak Reena yang masih berpura-pura baik di hadapanku meski aku sudah tahu semuanya.
"Menurutmu apa, Kak?"
Aku berusaha bersikap sedingin mungkin, dengan sekuat tenaga aku berusaha menahan air mataku yang sudah siap untuk terjun bebas.
Kak Reena terlihat salah tingkah, beberapa kali dia melihat ke arah Daffin yang masih diam di tempatnya dan hanya menatapku yang mulai tidak sabaran mengikuti permainan mereka.
"Aku menerobos hujan dan tak menghiraukan angin yang menerpa tubuhku hanya karena aku merasa bersalah padamu. Aku datang untuk meminta maaf atas apa yang telah aku dan suamimu lakukan, tapi sepertinya akulah yang seharusnya mendapatkan permintaan maaf dari kalian berdua." Aku mencebik ketika pandangan mataku bertemu dengan kak Reena. "Aku pikir kau malaikat, hatimu begitu murni karena bisa menerima duri sepertiku di dalam rumah tanggamu. Cih!!! Ternyata kau telah menyiapkan bom atom untukku. Aku memang bodoh telah percaya padamu!"
__ADS_1
Amarahku tak bisa lagi aku kendalikan. Jika saja menyakiti seseorang bukanlah sebuah dosa, aku ingin sekali menenggelamkan kedua manusia kejam ini agar otak mereka bisa berpikir lebih baik.
"Ayasya, maafkan aku! Aku hanya -"
"Aku tidak menerima permintaan maafmu, Nyonya Zafreena Stevano!!!"
"Ayasya? Ayasya? Aku mohon dengarkan aku dulu!" Tangan kak Reena kembali berusaha untuk meraih tanganku, tapi kali ini dia berhasil karena aku tidak menduga dia akan melakukannya lagi.
Aku memalingkan wajahku karena aku memang tidak ingin mendengar apapun alasannya. Pada dasarnya, semua yang akan di katakannya hanyalah sebuah kebohongan di atas kebohongan.
Drama baru di mulai saat kak Reena menangis tersedu-sedu sebelum dia menjelaskan alasannya telah menipuku selama ini. "Ayasya, kau mungkin tidak percaya dengan apa yang akan aku katakan, tapi ku mohon tolong lihat ini dari sudut pandangku!"
Astaga!!! Seseorang yang akan meminta maaf atau memberikan penjelasan tidak seharusnya banyak menuntut seperti ini, membuatku semakin jengah saja.
"Alasan kami melakukan ini karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk Daffin, tapi aku terlalu mencintai Daffin hingga aku tidak bisa membiarkan Daffin untuk menyentuh wanita lain." tutur kak Reena, tangisnya kembali pecah.
"Alasanmu tidak masuk akal! Kau bisa melakukan banyak hal selain menipu wanita bodoh sepertiku. Pergilah temui dokter dan buat anak kalian sendiri!"
Aku mendengus mendengar ucapan kak Reena. "Debu masih terlihat, Kak, masih bisa kau raih bahkan angin pun masih bisa kau rasakan. Hanya butuh kesabaran dan juga ketulusan, bukan kelicikkan dan juga keegoisan seperti ini!!!"
"Aku tahu, tapi aku sudah melakukan segala cara dan hasilnya tetap tidak ada. Sementara keluarga Stevano butuh penerus, Ayasya."
Pandanganku langsung beralih pada Daffin yang masih tidak bergeming sedikitpun, meskipun aku dan kak Reena sudah terlibat percakapan yang cukup menegangkan. Pria itu seolah membenarkan semua yang terjadi tanpa ada pembelaan sedikitpun atas dirinya.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengadopsi anak-anak malang yang terlantar saja? Kenapa harus memperebutkan anakku!!!"
"Anak-anak terlantar tidak jelas asal-usulnya, Ayasya,"
Kesombongan hakiki yang baru saja di tunjukkan oleh kak Reena, mungkin itulah sifat aslinya yang selama ini selalu dia tutupi ketika berhadapan denganku.
"Apa kau tahu, Kak? Aku juga di besarkan di panti asuhan, aku tidak tahu siapa dan dimana keluargaku. Kalau begitu, aku juga tidak jelas asal-usulnya. Jadi, jangan pernah mengharapkan aku ataupun anakku!"
__ADS_1
Aku menarik paksa tanganku yang di genggam oleh kak Reena. Rasanya aku ingin sekali pergi dari tempat itu. Namun, aku belum mengeluarkan semua amarahku pada mereka. Aku juga ingin menyelesaikan semua ini sekarang juga.
"Tidak, Ayasya, kau adalah wanita yang baik. Tuan Erlangga juga pria baik, pasti anakmu juga akan jadi anak yang baik." Kak Reena menatapku penuh harap. "Lagi pula, kau sedang mengandung anak kembar. Tolong berikan aku salah satu dari anakmu! Aku janji akan menyayanginya seperti anakku sendiri dan dia akan mendapatkan apa yang dimiliki oleh keluarga Stevano dan juga keluarga Kafeel." bujuk kak Reena lagi.
Kak Reena menengadahkan tangannya kepadaku, persis seperti seorang anak yang meminta permen kepada temannya. Pemandangan ini membuatku semakin muak dan tidak tahan lagi.
"Tidak akan!!! Anakku hanya milikku dan juga kak Erlan! Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku!"
Setelah mengatakan hal itu, aku langsung berlari keluar dari kamar itu. Langkah kaki seseorang terdengar mengikutiku dari belakang. Namun, aku tidak berniat untuk memastikannya sampai aku mendengar suara Daffin yang memanggilku.
"Berhenti, Nyonya Stevano!"
Aku menoleh, tapi tetap melanjutkan langkahku. "Aku bukan nyonya Stevano! Pergilah dari hidupku! Aku mual melihat wajahmu!!!"
Apa yang aku katakan pada Daffin bukanlah sebuah alasan ataupun kebohongan. Aku memang merasakan mual dan juga pusing yang tiba-tiba menyerang, mungkin karena aku baru saja kehujanan dan masih memakai pakaian yang basah.
"Perhatikan langkahmu!!!" teriak Daffin, tangannya terulur ke depan seperti hendak meraihku.
Terlambat. Aku sudah berguling-guling di anak tangga karena aku salah melangkahkan kakiku.
DEBUM...
Tubuhku jatuh ke lantai dengan posisi tertelungkup dan sebelum aku kehilangan kesadaranku, aku sempat mendengar Daffin menyebut namaku untuk pertama kalinya.
"AYASYA!!!"
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya👍dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1