
"Jangan pergi! Aku ingin menikmati waktuku yang hilang bersamamu, Ayah."
Tuan Kafeel, maksudku ayah, dia membalikkan tubuhnya dan menatap sendu padaku. Satu bulir air mata lolos dari mata tuanya. Perlahan dia menghampiriku dengan sedikit keraguan.
"Kau memanggilku apa?" tanya ayah, tersirat keraguan di matanya.
Aku menatap pria yang selama ini selalu menjadi sosok yang paling aku harapkan kehadirannya dalam hidupku. "Ayah!"
Tangis pun pecah, tapi bukan dari bibirku ataupun ibu. Melainkan dari bibir ayahku, dia melupakan sikap arogan dan dinginnya. Citranya sebagai pria dingin dan angkuh telah memudar dan di gantikan oleh kehangatan serta ketidakberdayaan yang begitu nyata di matanya.
Hatiku bergetar melihat ayahku menangis bahagia hanya karena aku menyebutnya ayah. Hal sederhana yang begitu sulitnya untuk aku lakukan.
"Maaf, Ayah," lirihku, seraya mencoba untuk berdiri agar lebih dekat dengan ayah.
Ayah meraih tanganku dan menciuminya. Namun, air matanya tetap tak berhenti mengalir.
"Tangan mungil ini telah berubah menjadi tangan yang cantik. Maaf karena Ayah tidak menemanimu melewati masa-masa terpenting dalam hidupmu, Sayang," ucap ayah terbata.
Aku menumpu tangan ayah dengan sebelah tanganku. "Kalau begitu, ayo, kembali ke masa lalu!"
***
Suara ketukan yang di hasilkan oleh sepatu yang saling bersahutan memaksaku untuk membuka mata dan langsung melihat sosok Daffin yang baru saja memasuki ruangan, di ikuti Shaka yang tak kalah cemasnya dengan Daffin.
"Nyonya Stevano?" Sorot mata Daffin tertuju padaku yang sedang terbaring di bed pasien, kemudian beralih menatap ibu yang duduk di sampingku. "Apa yang terjadi, Maya?" tanyanya datar.
Ibu tersenyum hangat menanggapi sikap dingin Daffin. Dia segera berdiri seolah memberi ruang bagi Daffin untuk mendekat padaku.
"Lily dan putramu yang nakal baik-baik saja. Dia hanya ingin menakut-nakuti kita semua." seloroh ibu seraya berjalan menuju sofa yang berada di seberang ruangan.
"Putra?" Mata biru Daffin membulat sempurna.
Aku mengangguk ketika pandangan kami bertemu. "Iya! Sudah ku katakan padamu bahwa dia seorang putra. Sekarang kau percaya padaku?"
Daffin bungkam. Matanya berkaca-kaca hingga akhirnya bulir demi bulir air mata jatuh di pipinya.
"Kenapa kau menangis?" tanyaku bingung, lalu menatap ibu yang hanya diam memperhatikan. "Bu, sepertinya Daffin ingin anak perempuan. Lihat! Dia menangis begitu tahu aku mengandung seorang putra." keluhku.
Sudut bibir Daffin menarik senyuman di tengah air matanya. "Kau salah, Nyonya Stevano! Aku menangis karena bahagia. Bahagia karena Tuhan mengembalikan salah satu putramu."
Itu benar! Putraku memang kembali padaku. Dia tidak tega melihatku hidup sendiri. Dan dialah alasanku tetap kuat sampai hari ini. Sayangnya, aku selalu mengabaikan kehadirannya selama ini hingga dia pun berulah dalam perutku untuk menarik perhatian semua orang.
Flashback on ...
__ADS_1
Keceriaan dan keriuhan suasana taman bermain selalu menjadi suatu pemandangan yang memukau selain dari wahana yang memacu adrenalin.
Sejak kecil, aku suka sekali mengunjungi taman bermain bersama kak Erlan. Namun, saat teman-temanku mulai mengejekku dan memperlihatkan kehangatan keluarga mereka, aku tidak pernah ingin pergi ke taman bermain lagi.
"Kau ingin naik wahana itu?" tanya ayah, tangannya menyentuh bahuku.
Pandanganku memang tertuju pada sebuah wahana yang cukup menantang, tapi bukan wahana itu yang ku inginkan.
"Tidak, Ayah!" Kepalaku menggeleng, kemudian menunjuk salah satu wahana yang di peruntukkan bagi anak-anak. "Aku ingin naik itu!" pintaku.
Ayah dan ibu tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka, hingga mereka pun menatapku dengan mata yang membesar.
"Sayang, kau yakin? Kau sudah dewasa." tanya ibu, lebih tepatnya bujuk ibu.
Aku mengangguk pasti. "Iya, Bu, sejak dulu aku selalu ingin naik itu bersama kedua orang tuaku seperti yang di lakukan oleh teman-temanku."
Ibu terlihat ragu. "Tapi, Sayang -"
Tiba-tiba Ayah meraih tanganku. "Jika itu yang Lily kita inginkan, maka itulah yang akan terjadi."
Ayah menggandeng tanganku dan aku pun menggandeng tangan ibu. Dalam hati, aku terus bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk merasakan hari ini. Hari dimana aku bisa menikmati apa yang di katakan oleh teman-temanku.
"Hanya anak yang memiliki orang tua yang bisa merasakan kebahagiaan seperti ini."
"Sayang?" Tatapan ibu di penuhi kekhawatiran.
Senyuman tersungging di bibirku. "Aku baik-baik saja, Bu! Aku hanya sedang menunjukkan pada dunia bahwa aku sudah menemukan kebahagiaanku."
Deraian air mata ibu serta senyuman ayah yang tak lepas dari wajahnya membuatku benar-benar merasa bahagia. Semua hal yang selalu ingin aku lakukan dan juga semua hal yang terlewatkan saat aku kecil, semuanya aku lakukan hari ini. Aku tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapku aneh. Yang terpenting adalah aku telah mengisi kenangan indahku yang sempat kosong.
Dari kejauhan, aku melihat seorang penjual gula kapas dan meminta ayah untuk membelikannya. Dalam sekejap, satu buntalan gula kapas sudah berada di tanganku.
Aku mencubit gula kapas yang menggugah selera itu. Cubitan pertama aku berikan pada ibu yang menerimanya dalam diam, kemudian cubitan kedua aku berikan pada ayah yang langsung mengacungkan kedua ibu jarinya. Namun, ketika aku akan memasukkan gula kapas ke dalam mulutku sendiri, tiba-tiba aku merasakan sesuatu di perutku.
"Aahh ...," pekikku karena merasakan sesuatu baru saja bergerak di dalam perutku. "Perutku ...."
Seketika kepanikan tercipta karena ayah dan ibu langsung membawaku ke rumah sakit tanpa bertanya apa yang aku rasakan. Ah, ini memalukan! Terlebih ketika dokter bertanya apa yang aku rasakan.
"Aku ... Aku tadi merasa sesuatu bergerak di perutku, Dokter, tapi sekarang sudah tidak lagi." ucapku, sedikit malu karena telah menciptakan kepanikan.
Dokter muda itu tersenyum. "Apa anda belum pernah merasakan ini sebelumnya, Nyonya?"
Aku menggeleng karena memang inilah pertama kalinya aku merasakan hal ini.
__ADS_1
"Hal ini biasa terjadi pada kandungan yang memasuki trimester kedua. Seharusnya anda sudah merasakannya beberapa kali, tapi hal ini bukanlah suatu masalah." jelas dokter itu, dia meletakkan stetoskop di perutku. "Anda bisa merasakannya? Bayinya menendang lagi." tanyanya antusias.
Benar! Aku merasakannya lagi. "Jadi, gerakan di perutku ...."
"Iya, Nyonya! Itu adalah gerakan bayi anda. Dia ingin menunjukkan keberadaannya." ucap dokter. "Bagaimana jika kita melakukan ultrasonografi untuk melihat keadaan bayi anda? Kapan terakhir anda melakukannya?" tanyanya.
Aku memutar bola mataku, mencari jawaban atas pertanyaan dokter. "Ketika aku pertama kali mengetahui kehamilanku."
Masalah yang datang bertubi-tubi membuatku lupa akan kehamilanku. Kesempatan yang aku miliki ketika aku menemui om Rei di rumah sakit pun, aku lewatkan begitu saja.
"Baiklah, kita bisa melakukan pemeriksaan untuk melihat kondisi bayi anda." ucap dokter seraya meminta perawat menyiapkan segalanya.
Tak perlu menunggu lama, dokter sudah meletakkan sebuah alat ke atas perutku yang sudah di berikan gel sebelumnya. Dinginnya gel yang mengenai perutku sempat membuat aku tersentak karena aku begitu terfokus pada layar komputer di sampingku.
"Lihat, Nyonya, itu bayi anda." Tunjuk dokter pada layar.
Layar komputer menunjukkan gambar seorang bayi sedang meringkuk. Bentuk kepalanya sudah terlihat, tapi belum begitu jelas. Dokter juga memperdengarkan suara detak jantung bayi di dalam perutku.
"Usia kandungan anda memasuki minggu ke dua puluh tiga, Nyonya. Semuanya baik, berat badan bayi anda juga normal." jelas dokter itu.
Tak kuasa menahan haru, air mataku mengalir tanpa bisa aku hentikan. Aku jadi merindukan ayah dari bayi ini.
"Anda beruntung, Nyonya, sepertinya bayi anda sedang dalam suasana hati yang baik." seru dokter seraya terus menggeser alat yang dia letakkan di atas perutku.
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
Tangan hangat ibu membelai rambutku. Aku sampai lupa dengan kehadiran ibu yang begitu setia menemaniku sejak tadi.
"Apa jenis kelamin cucuku, Dokter?" tanya ibu.
"Selamat, Nyonya, pangeran keluarga Stevano akan segera lahir."
Flasback off ...
"Kami semua juga bahagia, Daffin, selamat! Impianmu dan David akan segera terwujud." lontar ayah seraya menepuk-nepuk bahu Daffin.
"Terima kasih, Ayah, semua ini berkat putrimu."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh