
Satu tahun kemudian ...
"Shaka! Berhenti, Shaka!!!"
Pemandangan rutin yang selalu menjadi tontonanku setiap pagi, dimana ibu akan berlari kesusahan mengejar Shaka. Iya, Shaka.
Shaka Ryuichi Stevano. Dia adalah putraku yang berusia sepuluh bulan. Putraku yang pintar dan nakal, persis seperti ayahnya. Semenjak dia bisa merangkak, putraku itu terus saja membuat onar. Otak kecilnya pasti berisi banyak akal untuk mengerjai kami para orang dewasa.
Tak terasa, dua bulan lagi adalah waktu yang telah aku janjikan pada Daffin untuk melangsungkan pernikahan. Sebenarnya, aku dan Daffin sudah melakukan akad nikah tepat setelah Shaka lahir. Namun, aku dan Daffin belum mengadakan resepsi pernikahan mewah seperti yang di inginkan olehnya.
Flashback on ...
Setelah kepergian Shaka, tak banyak yang berubah dalam hidupku selain perubahan sikap Daffin yang menjadi lebih pendiam. Dia semakin tertutup dan juga jarang menemuiku.
Aku sangat khawatir dengan keadaannya sehingga terus memohon pada ayah agar mengizinkan kami untuk tinggal bersama.
"Tidak!!! Kalian belum menikah!"
Seperti itulah jawaban ayah setiap kali aku memohon padanya. Dan pada akhirnya, aku hanya bisa pasrah pada takdir dan juga keadaan dimana aku hanya bisa mendoakan Daffin dari kejauhan.
Hari ini, sudah dua bulan sejak kepergian Shaka. Namun, Daffin masih saja berduka. Aku mencoba mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan, dengan izin ayahnya tentunya. Dengan alasan putraku harus sering menemui ayahnya, maka ayahku pun tak bisa melakukan apapun untuk menolakku.
Dengan hati yang gembira, aku pergi ke DS Corp bersama Rania. Kini gadis itu sudah benar-benar merelakan kepergian Shaka, pria yang dia cintai. Belakangan aku mulai curiga jika Rania sudah memiliki pria lain di dalam hatinya. Hemm, sepertinya aku harus memikirkan cara agar dia mau memberitahu padaku siapa pria itu!
"Nyonya, kita sudah sampai," ucap Rania, bersamaan dengan terparkirnya mobilku di depan gedung DS Corp.
Terlalu banyak melamun membuatku tak menyadari jika kami sudah sampai, sehingga aku sedikit tersentak ketika Rania mengatakannya.
"Apa? Kita sudah sampai?" tanyaku linglung.
Rania tersenyum. "Iya, Nyonya."
"Baiklah! Kau tunggu disini saja. Aku akan masuk dan melihat apa Daffin bisa pergi bersamaku. Jika dia sibuk, aku akan kembali bersamamu." Aku keluar dari mobil setelah memastikan Rania menganggukkan kepalanya.
Suasana DS Corp sedikit berbeda saat aku memasukinya, serasa ada yang hilang dari tempat ini. Untuk pertama kalinya, aku kembali kesini setelah kepergian Shaka. Tiba-tiba dadaku terasa sesak ketika mengingat pria kanebo itu yang selalu menjemputku dan mengawasiku setiap kali aku menemui Daffin.
"Shaka ...," lirihku seraya mengusap pipiku yang mulai basah.
Kehilangan seseorang memang baru di rasakan dan amat menyakitkan ketika kita teringat hal-hal yang biasa di lakukan bersama. Sebelumnya aku tidak pernah sesedih ini saat mengingat Shaka, tapi hari ini hatiku begitu rapuh di setiap langkahku menyusuri gedung tempatnya mengabdi.
Tak terasa langkahku telah sampai di depan ruangan Daffin, karena kali ini tak ada yang menghalangi diriku untuk menemui Daffin. Mungkin para staff disini sudah mendapatkan perintah dari Daffin untuk tidak menggangguku, wanita mungil dengan perut yang besar.
"Daffin?" panggilku, mengedarkan pandangan ketika tak melihat sosok Daffin di meja kerjanya.
Belum sempat aku berbalik, aku sudah merasakan kehangatan tangan Daffin yang melingkar di perutku. "Aku disini, Nyonya Stevano."
"Kau darimana saja? Aku mencarimu." Tanganku mendekap tangan Daffin yang memelukku dari belakang.
"Aku tidak kemanapun, Nyonya Stevano," jawabnya lemah, bahkan hampir tak terdengar.
Merasakan ada sesuatu yang tengah mengusik Daffin, aku segera berbalik dan menatapnya. Ada kesedihan di matanya yang kontras sekali dengan bibirnya yang menarik senyuman.
"Ada apa, Daffin?" tanyaku panik.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Daffin justru mengangkat tubuhku dan merebahkan tubuhku di sofa kemudian dia duduk di lantai untuk terus menatapku tanpa berkedip.
"Daffin, hentikan!" sungutku, kesal dengan sikap diam Daffin.
"Tidak bisakah aku memandang wajah wanita yang aku cintai? Tidak bisakah aku menikmati kecantikan ibu dari anakku? Apakah itu juga menjadi dosa bagiku?" cicit Daffin, dengan wajah tertunduk.
Ya Tuhan, sepertinya aku telah melakukan kesalahan. Aku tidak menyangka Daffin akan bereaksi seperti ini. Ternyata suasana hatinya belum banyak berubah, meski sudah cukup lama Shaka pergi.
"Tidak ada yang salah, Tuan Stevano, aku hanya rindu suaramu yang menenangkan hatiku. Sejak aku datang, kau hanya mengatakan dua kalimat dan itu menyakitiku." Wajahku memberengut sempurna.
Lambat laun senyuman tertarik di sudut bibir Daffin. "Maafkan aku, Nyonya Stevano! Aku terlalu larut dalam kesedihan sehingga melupakanmu dan putra kita. Kalian pasti kecewa padaku!"
"Tentu!!! Itu sebabnya aku datang kesini untuk meminta pertanggungjawabanmu!" hardikku seraya menilik Daffin dari sudut mataku.
"Baiklah! Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku, Nyonya Stevano?" tanya Daffin.
Wajahku mengulas senyum tipis sebelum menjawab, "kembalilah!"
Kening Daffin berkerut hingga kedua alisnya menukik tajam ketika menatapku. "Aku mengerti maksudmu, Nyonya Stevano, tapi aku tidak bisa menjalani semua ini tanpa Shaka."
Aku bangun dan menegakkan tubuhku kemudian meraih tangan Daffin. "Ada aku, Daffin! Ya, meski aku tidak sepintar Shaka, tapi aku akan mendampingimu seperti Shaka yang selalu menjadi bayanganmu."
Upayaku sepertinya membuahkan hasil karena Daffin langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Meski sesak, aku tetap diam dan membalas pelukannya hingga aku merasakan sakit di perutku.
"Ah ...," pekikku begitu saja.
Daffin segera melepaskan pelukannya. "Maafkan aku! Aku pasti terlalu erat memelukmu."
Seketika kepanikan tercipta, harusnya aku sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi aku tidak bisa menahan saat perutku semakin sakit dan terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang berdekatan.
"Daffin ... Daffin!!! Tenanglah! Aku hanya sakit perut. Mungkin putramu ingin segera keluar," candaku asal, di susul tawa ringan yang sedikit ku paksakan.
"Tapi itu masih dua minggu lagi, Nyonya Stevano!" sergah Daffin, dia terlihat tidak menyukai gurauanku.
"Bisa saja dia tidak sabar ingin membantuku untuk menghibur daddynya yang di rundung nestapa." Aku mengusap perutku yang masih sakit, lebih tepatnya mulas.
Daffin berjongkok di hadapanku dan menciumi perutku. "Kalau begitu keluarlah! Tapi bisakah kau berjanji untuk tidak menyakiti ibumu? Daddy sudah banyak menyakitinya. Jangan kau tambahkan kesusahan bagi ibumu!"
Apa itu? Putranya bahkan belum lahir, tapi dia sudah mengancam seperti itu.
"Tentu, Daddy!" jawabku, menirukan suara anak-anak.
"Ayo, ke rumah sakit! Aku sudah menghubungi dokter Reinhard untuk menyiapkan segalanya." ajak Daffin, dengan menggandeng tanganku.
Baru saja melangkah, aku sudah tidak bisa melangkah dan merasakan ada air mengalir di antara kedua kakiku.
"Daffin ...," Aku menarik tangan Daffin agar berbalik. "Sepertinya aku mengompol." cicitku.
Pandangan Daffin mengikuti arah tatapanku dan wajahnya jadi memucat. "Tidak, Nyonya Stevano! Itu pasti air ketuban."
Tanpa banyak bertanya, Daffin langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke rumah sakit dalam sekejap. Terkadang, aku berpikir apakah Daffin ini superhero? Ah, sudahlah! Aku akan memikirkannya nanti.
Ketika aku sampai di rumah sakit, semua hal sudah siap dan dokter kandunganku sudah menungguku.
__ADS_1
"Nyonya, apakah anda lupa dengan ucapan saya?" tanya dokter itu, ketika Daffin membaringkan aku di bed pasien.
"Aku ingat, Dokter, tapi seingatku ini belum dua belas jam sejak aku pertama kali mulas." Aku tersenyum kikuk.
Dokter itu menggelengkan kepalanya dan membawaku ke ruang bersalin.
"Dokter, bisakah Daffin menemaniku?" tanyaku ragu.
"Tentu, Nyonya!" jawab dokter itu.
Aku merasakan kehangatan tangan Daffin menggenggam tanganku. "Aku akan selalu bersamamu, Nyonya Stevano."
Sejujurnya, ucapan Daffin tak bisa mengurangi rasa sakit di perutku, tapi setidaknya kehadiran Daffin mampu mengurangi sedikit kekhawatiranku.
Cukup lama aku berada di ruang bersalin dan merasakan mulas yang luar biasa. Ayah, ibu, daddy David, om Rei, mereka bergantian menemuiku untuk memberi dukungan. Meskipun hal itu semakin membuatku ketakutan. Air mata tak henti-hentinya mengalir di mata Daffin ketika dia melihatku kesakitan.
"Maafkan aku! Maafkan aku, Nyonya Stevano! Aku janji tidak akan membuatmu hamil lagi." Daffin terus menciumi tanganku.
Yang jadi pertanyaanku sekarang, apakah dia sadar baru saja mengatakan hal seperti itu? Jujur saja, aku sedikit ragu, tapi aku akan tetap mengingatnya. Saat ini aku terlalu lemah untuk menjawab setiap ucapannya.
Peluh sudah membasahi dahiku dan nafasku juga semakin memburu ketika aku merasakan sesuatu merangsek di perutku. Dengan sekali dorongan, akhirnya putraku mau keluar dan menunjukkan wajahnya.
"Selamat, Nyonya, bayi anda laki-laki." Dokter memperlihatkan putraku yang masih bersimbah darah.
Daffin menangis dan jatuh bersimpuh di lantai, tapi masih tetap menggenggam tanganku.
"Selamat datang kembali, Shaka ...."
Flashback off ...
Aku masih belum mengerti mengapa Daffin memberikan nama Shaka untuk putra kami, tapi satu hal yang aku pahami adalah dia masih mengingat Shaka. Dan aku rasa Daffin ingin selalu merasakan kehadiran Shaka di antara kami.
Dari kejauhan, aku melihat Daffin yang baru saja turun. Dia langsung menangkap Shaka dan menggendongnya. Wajah mereka begitu identik. Dan tentu saja itu karena saat aku hamil, aku begitu membenci Daffin.
Mata biru dengan rambut hitam legam dan juga tubuh yang tinggi besar, semuanya di miliki Shaka. Hanya saja warna kulit Shaka tidak seputih Daffin, dia memiliki warna kulit yang sama denganku.
Tawa riang Shaka menjadi obat penyembuh bagi Daffin. Sejak kelahirannya, Daffin tidak lagi bersedih. Dia lebih banyak tertawa dan menikmati hidupnya.
"Ayo, temui mommy!" seru Daffin, ketika melangkah mendekatiku.
Aku hendak berdiri untuk menghampiri keduanya, tapi Daffin menahanku. "Duduklah, Mommy! Jangan sampai kau kelelahan!"
Aku mendengus kesal. Kesal karena Daffin melupakan janjinya saat aku melahirkan Shaka dulu. Andai saja aku memiliki rekamannya, aku pasti sudah menggugatnya di pengadilan. Andai saja!
Saat ini, aku tengah mengandung anak kedua kami dan usia kandunganku baru saja menginjak lima minggu. Namun, kehamilanku kali ini berbeda dengan saat aku mengandung Shaka. Aku sama sekali tidak mual atau membenci wajah Daffin. Kehamilanku kali ini sangat menyenangkan karena aku bisa makan apapun dan juga melakukan apapun. Karena itulah, Daffin bersikeras untuk mengadakan resepsi pernikahan di tengah kehamilanku. Sesuai dengan janjiku padanya bahwa aku setuju untuk mengadakan resepsi setelah Shaka berusia satu tahun.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1