
"Hati-hati, Dokter! Kau menyakitinya!" bentak Daffin pada dokter yang sedang mengobati lukaku.
Suara helaan nafas dari dokter cantik itu bisa ku dengar dengan jelas. Dia hanya bisa mendengarkan ocehan Daffin sejak tadi tanpa bisa melawan. Ya, sebenarnya itu juga salahku karena aku terus menangis. Bukan karena rasa sakit yang di timbulkan oleh luka pecahan kaca di kakiku, tapi lebih karena kekecewaanku terhadap Daffin. Dia lebih memilih untuk membela Maya daripada aku. Hah! Apa yang ada di pikiranku ini, Tuhan?
"Lihat! Istriku terus menangis. Apa kau bisa melakukannya?" Daffin menyeka air yang terus mengalir dari mataku.
"Maaf, Tuan, tapi saya rasa nyonya Stevano menangis karena hal lain." jawab dokter cantik itu seraya merapihkan tasnya.
Daffin menatapku dengan kening yang berkerut. "Apa benar yang di katakan oleh dokter itu?"
Hah! Aku ingin sekali memaki Daffin yang tidak memiliki kepekaan terhadap suasana hatiku, tapi melihat wajahnya hanya membuat mulutku semakin terkunci rapat.
Dalam diam, aku memejamkan mata dan mencari posisi yang nyaman untuk berbaring karena sebelumnya aku hanya bersandar di atas tempat tidur.
"Katakan sesuatu, aku mohon!" bujuk Daffin, aku bisa merasakan tangannya menyentuh bahuku.
Tak ingin melakukan kontak dengannya, aku menggeser tubuhku agar tangan Daffin terlepas dari bahuku.
"Aku tahu kau marah, tapi jangan hukum aku seperti ini! Kau tahu aku mencintaimu dan -"
Ucapan Daffin menggantung bersamaan dengan tanganku yang mengambil bantal untuk menutupi telingaku.
"Ayasya, makanlah ini! Sejak pagi kau belum makan apapun." Suara lembut Maya yang baru saja datang membuatku bertambah kesal.
"Pergilah! Aku tidak butuh perhatian darimu." ketusku, bahkan tanpa melihat apa yang di bawakan oleh Maya.
"Ada apa denganmu? Maya sudah berusaha untuk bersikap baik padamu, tapi kau tetap tidak menghormatinya." sergah Daffin penuh emosi.
Mendapatkan reaksi seperti itu membuat amarahku kembali bangkit dan semakin membara ketika melihat wajah Maya yang bertopeng malaikat itu.
"Apakah aku memintanya untuk bersikap baik padaku? Apakah aku memohon padamu untuk membawaku kesini? Dan apakah kau membawaku hanya untuk menyakitiku terus seperti ini?" Senyuman getir dengan tatapan tajam ku lemparkan pada Daffin dan juga Maya.
"Kau salah paham, Ayasya!" sanggah Maya.
"Aku tidak pernah salah! Baik dulu ataupun sekarang." hardikku penuh kekecewaan.
"Bisakah kau mengatakan apa yang sebenarnya kau inginkan? Jangan membuatku bingung dengan sikapmu ini!" keluh Daffin, dia memijat-mijat keningnya.
Aku berdecak kesal. "Sudah ku katakan! Aku ingin bercerai darimu!!!"
"Ayasya!!!" Mata biru itu menatapku dengan tajam.
__ADS_1
"Daffin ... Ayasya sedang mengandung anakmu. Mungkin suasana hatinya saat ini sedang tidak baik," ucap Maya lembut, dia mengusap-usap punggung Daffin.
Aku bisa melihat seberapa keras usaha Daffin untuk meredam amarahnya. Jadi, aku pun berusaha untuk tetap diam dan tidak memperkeruh keadaan.
"Istirahatlah! Aku harus pergi ke kantor." Daffin mendaratkan bibirnya di keningku.
Ketika bayangan Daffin menghilang di balik pintu, sesuatu yang mendesir menelusup ke dalam hatiku dan mengejekku. Tiba-tiba, aku merindukan si Plankton yang menyebalkan itu.
***
Sudah lebih dari satu bulan aku tinggal satu atap bersama Daffin. Memang ini bukan untuk yang pertama kali, tapi bedanya saat ini aku adalah satu-satunya istri sah Daffin.
Selama satu bulan ini, semua hal berjalan hampir sama setiap harinya. Aku yang kesal melihat wajah Daffin, tapi selalu menangis jika dia tidak terlihat oleh mataku. Dan Maya, dia tetap tinggal di rumah ini karena aku tidak ingin membiarkan rasa kemanusiaanku membeku hanya karena dirinya.
"Sarapanmu, Ayasya," ucap Maya seraya meletakkan semangkuk bubur ayam untukku.
"Aku tidak ingin makan!" Tanganku mendorong mangkuk itu agar menjauh.
"Tapi kau harus makan. Kalau tidak, bagaimana nasib bayi yang ada di perutmu?" Maya tersenyum dengan hangat.
Terkadang, aku tidak memahami wanita jahat itu. Selama kami tinggal bersama, tidak pernah sedikitpun dia menunjukkan sikap jahatnya di hadapanku. Dan yang terjadi justru sebaliknya, dia bersikap sangat lembut dan juga sabar dalam menghadapiku.
"Anakku cukup mandiri. Sama seperti ibunya." jawabku ketus.
Maya benar! Kehamilan ini membuatku tidak mengenali diriku sendiri, karena aku menjadi sangat manja terhadap Daffin. Orang yang jelas-jelas sangat aku benci.
"Tidak!" hardikku, lalu menarik kembali mangkuk bubur ayam yang ku dorong tadi.
Aneh! Rasa bubur ini terasa asing di lidahku. Tidak seperti biasanya ketika aku makan bersama Daffin sebelum dia pergi ke luar kota.
"Daffin akan kembali lusa," celetuk Maya.
Sendok berisi bubur berhenti tepat di depan mulutku. "Lusa?"
"Iya," jawab Maya di barengi anggukkan kepala.
"Kenapa dia mengabarimu, tapi tidak memberi kabar padaku?" tanyaku kesal.
"Daffin mengatakan bahwa kau tidak ingin bicara padanya," jawab Maya tenang, dia tidak terpengaruh sedikitpun dengan kemarahanku.
Aku mendengus kesal. "Aku tidak ingin bicara, maka dia pun tidak bicara. Bagaimana jika aku tidak ingin hidup? Apakah dia akan menghabisi nyawaku?"
__ADS_1
Dentingan sendok yang beradu dengan piring membuatku menoleh dan melihat Maya yang menatapku dengan tatapan aneh.
"Maaf," lirih Maya, kemudian mengambil sendok yang terjatuh dan berjalan ke dapur.
"Ada apa dengannya?"
***
Setelah selesai sarapan, aku tidak melihat Maya yang tadi pergi ke dapur. Jujur saja aku sedikit mengkhawatirkan dirinya, tapi aku belum bisa menghilangkan kebencianku terhadapnya.
Daripada aku terus memikirkan orang-orang yang membuatku kesal, lebih baik aku berjalan-jalan di taman untuk mencari udara segar.
Ketika aku tiba di taman, aku melihat seorang pria sedang berdiri dengan bahu yang bersandar di dinding. Di lihat dari belakang, sepertinya dia bukan tukang kebun atau pun pengawal di rumah ini. Tapi jika dia orang asing, para pelayan tidak akan membiarkan dia masuk apalagi mereka terlihat begitu menyukainya.
"Nyonya ...," Seorang pelayan membungkuk ketika menyadari kehadiranku.
Pria itu menoleh dan melihat ke arahku kemudian menganggukkan kepalanya dengan sopan.
"Siapa pria itu?" tanyaku pada seorang pelayan yang menghampiriku.
"Tuan itu adalah temannya tuan Shaka, Nyonya," jawab pelayan itu, wajahnya merona ketika melihat pria itu.
"Temannya Shaka? Lalu, untuk apa dia disini?" sungutku.
Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku, tapi sekarang aku jadi lebih mudah marah kepada siapapun.
"Selamat pagi, Nyonya Stevano, perkenalkan nama saya Davin." Pria itu mengulurkan tangannya padaku.
"Da - Daffin?" Aku mengulangi namanya dengan terbata.
"Davin, Nyonya," ulang pria itu, wajahnya begitu mulus dan bersinar. Aku sampai malu untuk menatapnya.
"Daffin?" Aku mengulangi lagi, tapi kali ini aku hampir tidak bisa menahan tawa.
"Davin, Nyonya, D-A-V-I-N." tegasnya, mungkin kesal karena aku selalu salah menyebut namanya.
"Baiklah, Davin! Apakah kau sekutu dari Plankton? Atau apakah kalian sebenarnya amoeba?" selidikku, dengan mata memicing.
"Plankton? Amoeba???"
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh