Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PERAN PENGGANTI


__ADS_3

Di tengah lelapnya tidurku, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang menerpa wajahku. Ketika aku membuka mata, aku melihat Daffin sedang meniup mataku dengan lembut.


Wajah Daffin begitu dekat dengan wajahku. Ketampanannya memang tidak perlu di ragukan lagi. Kulit putih dan bersih dengan mata biru yang indah akan mampu menyihir setiap mata yang memandangnya, termasuk diriku.


Untuk sekejap, dunia seakan berhenti berputar dan memberikan aku waktu untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang kini sedang menatapku sambil tersenyum hangat.


"Good morning, Nyonya Stevano."


Bersamaan dengan suara Daffin, aku pun tersadar dan kembali kepada kenyataan yang mengingatkan aku akan rasa sakit itu.


Aku mendengus kesal dan membalikkan tubuhku untuk membelakangi Daffin. Aku pikir Daffin akan merasa kesal dan pergi, tapi dia justru naik ke tempat tidur dan memeluk tubuhku dari belakang.


"DAFFIN!!!" Aku berteriak dan langsung mendudukkan tubuhku.


Daffin mengikuti gerakanku dan juga menghadapkan tubuhnya padaku. "Kenapa kau begitu malu padaku?"


"AKU MARAH, PLANKTON! BUKAN MALU!"


Kekehan nakal meluncur dari bibir Daffin, yang mana langsung memusatkan perhatianku pada bibir seksinya itu. Bibir yang sudah memberikan kenikmatan sekaligus kepedihan yang sama-sama tak terlupakan.


"Benarkah? Tapi wajahmu memerah, dan yang ku tahu itu menunjukkan rasa malu." sanggah Daffin.


"Aku berbeda." tegasku penuh penekanan.


Aku beringsut turun dari tempat tidur, tapi Daffin menahanku. "Kau mau kemana?"


"Kenapa? Kau mau ikut? TIDAK BOLEH!"


Daffin tidak menjawab. Dia hanya memutar tubuhnya dan mengambil nampan yang ada di atas nakas. "Makanlah dulu! Setelah itu kau boleh pergi kemanapun, selama kau tidak meninggalkanku."


***


Kata-kata Daffin pagi ini sungguh mengusik pikiranku. Aku terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Daffin.


Aku jadi teringat sikap Reena yang begitu baik padaku karena dia menginginkan anakku. Dan kini aku di hadapkan dengan sikap Daffin yang berubah drastis menjadi sangat baik dan juga lembut padaku. Jangan-jangan dia juga menyimpan siasat buruk terhadapku. Akan lebih baik jika aku membentengi hatiku dan tidak membiarkan Daffin mempermainkan perasaanku lagi.


"Nyonya muda?" Rania menyentuh punggung tanganku.


"Iya?"


"Anda memikirkan sesuatu, Nyonya muda?" Mata Rania menatapku curiga.


"Rania?" Aku menarik nafas dalam. "Jika aku berpisah dengan Daffin, apakah kau akan tetap bersamaku?"


Rania menatapku bingung. Dia seperti seseorang yang lupa jalan pulang. Aku juga menyadari betapa sulit baginya untuk menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Tidak mungkin, ya?" tanyaku lagi, tapi kali ini aku mencoba menyentuh tangan Rania.


"Saya akan tetap bersama anda, Nyonya muda," jawabnya penuh keyakinan.


"Jangan memberikan jawaban palsu hanya untuk menyenangkan hatiku, Rania! Aku tahu kau berhutang budi pada Daffin dan juga istrinya, jadi kau pasti tidak akan mengkhianati mereka."


"Tidak, Nyonya muda, hutangku sudah lunas. Dan tugas utamaku adalah berada di sisi Anda. Maka kemanapun Anda pergi, saya akan tetap bersama Anda, Nyonya muda." tutur Rania, matanya menyiratkan sesuatu yang membuatku penasaran.


"Kau ... tidak ingin bersama Shaka?"


Meski hampir tertelan angin, tapi aku masih bisa mendengar helaan nafas Rania. "Sebuah perahu perlu di dayung dari kedua sisi agar perahunya lebih cepat berjalan dan bisa sampai ke sisi sungai dengan aman."


Aku menganga mendengar ucapan Rania. Apa hubungannya pertanyaanku dengan perahu? Apakah maksudnya Rania akan pergi naik perahu bersama Shaka?


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Anda memang sangat lugu, Nyonya muda," ucap Rania, dengan seulas senyum tipis di wajah manisnya.


Lugu dan bodoh, keduanya selalu melekat pada diriku. Setiap orang yang mengenalku pasti akan mengatakan hal itu.


Ketika aku akan membuka mulut, tiba-tiba ponsel Rania berdering. Sebelum mengeluarkan ponselnya, Rania meminta izinku melalui sorot matanya.


"Jawablah!"


"Baik, Nyonya muda," Rania mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya dan menerima panggilannya. "Selamat siang, Tuan Ersya,"


"Nyonya muda sudah membaik. Anda ingin berbicara dengannya?" ucap Rania, matanya melihat ke arahku. Tak lama kemudian dia pun menyerahkan ponselnya padaku.


Aku menaikkan kedua alisku. "Apa?"


Mata Rania tertuju pada ponselnya. "Tuan Ersya ingin berbicara dengan anda,"


Walau masih sedikit bingung, aku pun menempelkan benda itu di telingaku. "Halo, Kak Ersya?"


"Astaga, Ayasya! Bagaimana keadaanmu?" Suara Ersya terdengar sangat khawatir.


"Aku? Aku baik, Kak. Bagaimana kabarmu?"


"Jangan bertanya kabarku! Aku tidak baik ketika aku mendengar kabar bahwa kau masuk rumah sakit. Katakan! Ada apa?"


Aku tidak yakin bagaimana wajah Ersya ketika dia mengatakan hal itu, tapi aku menduga dia pasti sangat mencemaskan aku karena itu sangat terdengar dari suaranya.


"Datanglah ke rumahku, Kak! Aku akan menceritakan semuanya padamu."


"Tidak bisa, Ayasya. Tuan Stevano tidak membiarkan aku menemuimu."

__ADS_1


Daffin ini benar-benar menyebalkan. Jadi, itulah kenapa Ersya tidak pernah menemuiku sejak kami bertemu di danau hari itu.


"Dia hanya membuatmu tidak bisa menemuiku, tapi aku bisa menemuimu."


"Maksudmu?"


"Temui aku di taman yang tidak jauh dari kantor polisi!"


***


Angin berhembus kencang, menyibakkan helaian rambutku dan membuatnya sedikit berantakan.


"Pakai ini, Nyonya muda," Rania memberikan sebuah syal padaku.


Walaupun aku enggan memakainya, tapi aku tetap menerimanya dan melilitkannya di leherku.


"Anginnya berhembus sangat kencang sore ini. Mungkin akan turun hujan,"


Kepalaku menengadah ke atas langit yang menampakkan awan hitam yang menggumpal menutupi matahari.


"Ayasya!!!" Seseorang memanggilku dari kejauhan.


Aku menurunkan pandanganku dan melihat Ersya sedang melambaikan tangannya padaku. Setiap kali aku melihat wajah dan senyumannya, aku selalu teringat pada kak Erlan. Ah, kakak. Berbahagialah di atas sana bersama dengan baby twins.


"Kenapa kau menangis?" tanya Ersya, ketika dia sudah sampai


Tak terasa air mata mengalir di pipiku. Dengan senyuman yang di paksakan aku pun menghapus air mataku. "Angin yang memaksaku."


Tanpa aku duga, Ersya menepuk puncak kepalaku dan mengusapkan tangannya di sana. "Manisnya,"


Suara dan sikap Ersya hampir sama persis dengan kak Erlan. Andai saja aku mau, mungkin aku bisa menganggap Ersya sebagai pengganti kak Erlan dan mengembalikan hidupku yang bahagia seperti sebelumnya. Tunggu dulu! Benar! Ersya akan sangat membantuku.


"Kak Ersya?" Aku mencoba melancarkan rencanaku.


Ersya menatapku dan menempati tempat kosong di sampingku. "Iya, Ayasya, katakan!"


Aku harus mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin dan menggenggamnya agar tidak tertiup angin ketika aku mengatakan apa yang ada di dalam pikiranku.


"Maukah kau menggantikan kak Erlan?"


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia menanti 😘


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan juga tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😍

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2