
Dendam dan cinta memang selalu berjalan beriringan. Tanpa di sadari, kebencian menjadi cinta dan cinta bisa saja berubah menjadi kebencian. Entah kapan semua itu terjadi, tapi yang pasti hati harus selalu siap untuk menjalani.
"Kau yakin tidak ingin Om temani, Lily?" tanya om Rei, begitu aku mengatakan akan menjenguk Shaka.
Aku mengangguk pasti. "Iya, Om, lagipula aku pergi bersama Rania. Gadis ini pasti sudah sangat merindukan pria kanebo itu."
Om Rei menepuk puncak kepalaku. "Baiklah, Om sudah menyiapkan mobil dan juga supir untukmu. Kau bisa pulang bersama dengannya. Maaf, Om tidak bisa menunggumu karena masih ada beberapa urusan perusahaan yang harus Om selesaikan."
"Tenang saja, Om! Bekerjalah dengan benar. Jangan sampai perusahaan kita bangkrut!" selorohku, di susul tawa yang terasa sedikit menyakitkan bagiku.
"Seharusnya kau yang bekerja keras, Lily, tapi biarlah! Demi keponakanku yang cantik. Om yang baik hati ini rela melepaskan segalanya." Om Rei membusungkan dadanya ke depan.
"Melepaskan apa? Justru kekayaan dan kekuasaanmu semakin bertambah, Om," gerutuku seraya melangkah keluar ruangan.
***
Koridor rumah sakit nampak lengang ketika aku dan Rania mulai memasuki lantai VVIP. Tidak ada satu pun orang yang disini. Jangankan manusia, bahkan lalat pun tidak ada!
"Nyonya ...," cicit Rania, begitu kami sampai di depan pintu ruang ICU.
Aku menoleh dan menatap tajam pada Rania. "Kenapa? Bukankah kau ingin menemui Shaka? Jangan membuatku menyesal karena telah meminta kak Ersya pulang lebih dulu!"
Setelah aku mengatakan rencanaku, Ersya memilih untuk kembali ke kantor polisi untuk memenuhi permintaanku. Sebenarnya, dia ingin mengantarku pulang, tapi aku menolaknya dengan alasan aku akan kembali bersama om Rei. Kenyataannya adalah aku tidak ingin Daffin menangkap basah ketika aku sedang bersama Ersya.
"Tidak, Nyonya!" Rania menggeleng. "Saya hanya takut akan mengganggu waktu istirahat tuan Shaka." lirihnya.
Aku memutar bola mataku dengan malas. "Dia sudah terbaring selama beberapa hari, Rania. Aku yakin dia sendiri juga pasti sudah lelah terus beristirahat. Sekarang, bangunkan dia! Aku memiliki banyak pertanyaan untuknya."
Meskipun tampak ragu, tapi Rania tetap melangkahkan kakinya dan membuka pintu ruangan tempat Shaka terbaring tak berdaya.
__ADS_1
Melihat Rania sudah akan masuk, aku memilih untuk menunggunya di ruang tunggu yang berada di ujung koridor. Dengan tak sabarnya aku menyandarkan tubuhku di atas sofa dan melepaskan sepatu hak tinggi yang aku kenakan.
"Kenapa kakiku sebesar kaki gajah?" Mataku terbelalak melihat ukuran kakiku yang tiba-tiba berubah. "Pantas saja aku sedikit kesakitan saat berjalan tadi! Sepertinya aku harus memeriksakan kandunganku. Ah, aku akan meminta om Rei untuk membuatkan jadwal kunjungan untukku." gumamku.
Sekarang, aku sedikit tahu tentang kehamilan karena sudah lebih banyak berbagi dengan ibu. Aku ingat ibu pernah mengatakan hal ini, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku pikir karena tubuhku mungil, tidak mungkin kakiku akan membengkak. Namun, hal ini benar-benar terjadi padaku. Atau mungkin saja hal ini terjadi karena aku bersikeras menggunakan sepatu berhak cukup tinggi? Entahlah! Yang terpenting sepatu itu sudah terlepas dari kakiku.
Mataku terpejam karena rasa lelah yang mendera. "Nyaman sekali!"
"Nyonya Stevano tidak boleh bertelanjang kaki seperti ini!" sergah seseorang, bersamaan dengan sentuhan di kakiku.
Tiba-tiba mataku terbuka dan membulat sempurna ketika melihat siapa yang sedang berlutut di bawah kakiku dan memakaikan sepasang sandal yang nyaman untuk kakiku yang sedang membengkak.
"Daffin?" Dahiku berkerut dengan bibir mengerucut.
Wajah maskulin Daffin mengukir senyuman. "Iya, Nyonya Stevano, ini aku."
Kata-kata ancaman Daffin seketika kembali terngiang di telingaku. Betapa menyakitkan apa yang telah di ucapkan Daffin dan itu kembali mengusik ketenangan hatiku.
"Maafkan aku! Kau tahu, aku tidak pernah benar-benar ingin membuatmu pergi jauh dariku. Baru saja kau pergi beberapa jam tanpa kabar, aku merasa dunia ini sudah runtuh. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan! Aku hancur. Aku merasa telah di tinggalkan seorang diri. Temanku, ibuku, dan istri yang sangat aku cintai, semuanya meninggalkan aku tanpa mengatakan apa kesalahanku." Daffin mengangkat kepalanya untuk menatapku.
Bodoh! Keluh kesah Daffin yang sederhana itu membuatku merasa iba padanya. Tak ingin terperangkap oleh cinta semunya, aku pun memalingkan pandanganku ke arah lain tanpa menjawab atau menjelaskan apapun.
"Kau tahu aku mencintaimu, Nyonya Stevano." Kepala Daffin kembali berada di atas pangkuanku. "Apa kau pernah mendengar sebuah kalimat, semakin besar cinta seseorang, maka semakin besar pula ujian cinta mereka?" tanyanya.
Bibirku terkunci rapat, tapi dalam hati aku terus mengoceh tak jelas arah. Seperti saat ini, aku pikir Daffin hanya mengada-ada saja dengan kalimat cinta seperti itu.
"Itu artinya, cinta kita semakin besar bukan, Nyonya Stevanoku?" tanya Daffin lagi.
Aku sudah bertekad tidak akan menjawab apapun yang di katakan Daffin, maka aku memutuskan untuk meninggalkannya seorang diri. Lebih baik aku menyusul Rania. Aku juga jadi bisa melihat kondisi Shaka.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Daffin, tepat ketika aku akan berdiri.
Tidak, Ayasya! Tidak! Jangan terpancing! Aku harus tetap membungkam mulutku sampai Daffin akhirnya menyadari kesalahannya.
Sekuat tenaga aku merapatkan bibirku agar terus bungkam, tapi Daffin tidak kehilangan akal. Dia memeluk tubuhku dari belakang saat aku hendak pergi.
"Tolong jangan hukum aku seperti ini, Nyonya Stevano! Kau bisa memaki diriku sesuka hatimu jika kau benar-benar marah padaku, tapi aku mohon bicaralah!" lirih Daffin, suaranya terdengar bergetar.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Cintaku yang terlalu besar baginya atau otakku yang terlalu kecil hingga mudah sekali untuk di bodohi olehnya? Hatiku terenyuh menyaksikan sendiri betapa lemahnya pria yang selalu menegakkan kepalanya ini.
"Lepaskan aku!" pintaku dingin, tanpa ada kehangatan sedikit pun.
Ingin rasanya aku membalas pelukan Daffin, tapi aku harus menahannya karena setidaknya Daffin harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan diriku. Dia harus mengerti bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa di negosiasi.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu." Daffin semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau lupa jika kau sudah mengusirku?" tanyaku sinis.
Aku bisa merasakan lingkaran tangan Daffin yang mengendur. Dengan cepat aku melepaskan tangannya sehingga aku bisa melepaskan diriku dari pelukan Daffin.
"Aku tidak pernah mengusirmu, Nyonya Stevano! Kau yang memilih untuk pergi." sergah Daffin, suaranya memecah keheningan di koridor rumah sakit yang lengang.
Aku tidak tahan untuk tetap bungkam. Akhirnya aku menghentikan langkahku karena ucapan Daffin begitu melukai hatiku.
"Aku pergi karena kau telah mengkhianati cinta dan kepercayaanku padamu."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh