Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KARMA


__ADS_3

Amarah seharusnya akan membakar semua kenangan indah atau hal-hal manis yang sedang terjadi, tapi itu tidak berlaku bagi Daffin karena dia terlihat bahagia melihat kemarahanku.


"Karena kau berniat untuk mengisi oksigen!" sungutku kesal, aku bahkan sampai mengerucutkan bibirku.


"Kau semakin menggemaskan!" Daffin mencubit kedua pipiku dengan lembut.


"Dan kau semakin menyebalkan!" Aku pun mencubit kedua pipi Daffin dengan kuat hingga meninggalkan bekas merah di kulit putihnya.


Aku pikir, Daffin mungkin akan marah seperti dulu saat kami masih tinggal bersama Reena, tapi tanpa di duga Daffin menyunggingkan senyuman termanisnya.


"Kenapa kau tersenyum? Apa otakmu baru saja terjatuh?" tanyaku seraya menunduk dan melihat ke tanah.


Tangan Daffin mengangkat daguku dengan lembut hingga pandangan kami bertemu. "Ini yang aku sukai dari dirimu, Nyonya Stevano! Kau selalu memberikan lebih dari apa yang kau terima."


Bola mataku terfokus pada mata biru yang kini menatapku dengan lekat. "Aku tidak mengerti."


"Duduklah!" Daffin menuntunku untuk kembali duduk di kursi taman. "Kau akan mengerti saat waktunya tiba. Aku hanya berharap, jika kau akan menerapkan hal yang sama pada cintaku." ucap Daffin penuh harap.


Ah, aku merasa seperti orang bodoh! Entah mengapa setiap kali aku berbicara dengan Daffin, rasanya aku mendadak menjadi orang bodoh yang tidak tahu dan tidak mengerti apapun.


Aku berdecak cukup keras. "Terserah kau saja!"


Setelah perdebatan yang sangat tidak jelas itu, baik aku maupun Daffin, kami hanya larut dalam pikiran kami masing-masing dan membiarkan kebisuan menemani malam ini.


"Kenapa kau tidak ingin bertemu Maya?" tanya Daffin tiba-tiba di sela kebisuanku.


Sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku hingga aku langsung menoleh dan membelalakan mataku.


"Benar dugaanku! Kau memang tidak ingin bertemu dengan Maya." lontar Daffin, kali ini tatapannya sedikit menajam.


"Jangan bersikap seperti paranormal!" ketusku, berusaha menetralkan perasaanku sendiri.


Aku bisa merasakan tanganku yang menghangat karena di genggam Daffin. "Kau bisa mengatakan padaku, apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu, My Starfish?Mungkin aku bisa membantumu untuk menghilangkan kegelisahan itu."

__ADS_1


Ya, aku memang merasakan sesuatu yang salah di dalam hatiku sejak aku kembali dari pesta ulang tahun CV Group. Namun, hal itu bukan di sebabkan oleh suasana pesta. Melainkan kisah pilu yang di alami oleh kak Zuy yang hampir sama dengan kisah hidupku. Sejenak, aku jadi teringat dengan masa laluku yang telah di buang oleh Maya saat usiaku baru beberapa bulan. Rasa sedih, kecewa, marah, dan juga kebencian mengisi hari-hariku selama lebih dari dua puluh tahun ini. Andai saja, kak Erlan tidak ada di sampingku, aku pasti tumbuh menjadi gadis nakal yang tidak tahu aturan.


Flashback on ...


Suara isak tangisku semakin kencang, bahkan meski suara gemuruh saling bersahutan. Awan gelap yang semakin menebal seolah mewakili perasaanku saat ini yang begitu pilu.


"Aca Sayang, kenapa menangis?" tanya kak Erlan lembut, tangannya tak henti-hentinya menghapus air mataku.


Sore itu, aku baru saja pulang dari sekolah, tapi aku sudah tak mampu menahan tangisku lagi hingga aku langsung menubruk tubuh kak Erlan dan menangis sekuat-kuatnya dalam pelukan kak Erlan.


"Kak ... Aca memukul teman Aca di sekolah tadi." lirihku di sela isak tangis.


Mungkin karena terkejut, kak Erlan langsung melepaskan pelukannya dan mencengkram kedua bahuku dengan erat. Sorot matanya begitu berbeda. Walaupun aku masih bisa melihat kelembutan di sana.


"Kenapa Aca melakukan hal itu? Hal seperti itu tidak baik di lakukan, terlebih Aca adalah seorang wanita." ucap kak Erlan lembut, tapi sorot matanya membuatku menciut.


"Tapi dia menghina Aca! Dia mengatakan bahwa Aca adalah anak yang tidak di harapkan. Itu sebabnya Aca di buang ke panti asuhan, karena Aca hanya anak haram dari wanita malam." hardikku, tak terasa air mata ikut merasakan kepiluan hatiku.


"Ya Tuhan ...," lirih kak Erlan, sesaat sebelum dia kembali memelukku dengan erat. "Itu tidak benar, Aca! Mereka hanya iri padamu yang selalu terlihat ceria meskipun kau tinggal dan di besarkan di panti asuhan." tutur kak Erlan.


"Sudah! Tidak perlu mengurusi orang yang ingin menjatuhkanmu. Cukup fokus pada hidupmu sendiri dan raih kebahagiaan dengan caramu."


Flashback off ...


Perasaan bahagia bisa bertemu dengan seseorang yang begitu tulus menyayangiku tak pernah bisa tergantikan oleh apapun. Kini, meski kak Erlan sudah tidak ada di sisiku lagi, tapi setiap hal yang berhubungan dengan dirinya selalu melekat dalam diri dan ingatanku.


"Daffin, apakah Maya adalah wanita yang baik?" tanyaku dengan tatapan menerawang.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Jawab saja! Apakah dia wanita yang baik? Aku hanya ingin tahu."


Aku bisa mendengar helaan nafas Daffin yang terasa begitu berat. "Sejak aku kecil, aku sudah mengenal dan dekat dengan Maya. Aku sudah menceritakan hal ini padamu, Nyonya Stevano. Dan penilaianku padanya tidak pernah berubah hingga saat ini."

__ADS_1


"Meskipun kau tahu bahwa dia telah membuang putrinya sendiri?" sinisku, tatapan tajam tak lupa aku berikan untuk Daffin.


"Bukankah Maya sudah mengatakan alasannya melakukan hal itu? Dia hanya ingin melindungimu." sanggah Daffin, kentara betul dia ingin membela Maya di hadapanku.


"Melindungi dengan cara menghilangkan." Air mata kembali menetes di pipiku.


"Kau sudah salah menerka Maya, Nyonya Stevano. Selama ini, tuan Kafeel adalah salah satu donatur tetap di panti asuhan milik keluarga Kencana. Tuan Kafeel bahkan beberapa kali mengunjungi panti asuhan tempatmu di besarkan. Dia melakukan semua itu atas keinginan Maya, karena Maya ingin ayahmu tetap bisa melihatmu walaupun dia tak menyadarinya." jelas Daffin.


"Maksudmu, selama ini ...."


"Iya, tepat sekali! Mungkin saja dalam kunjungannya itu, tuan Kafeel sudah pernah menggendongmu." Daffin melanjutkan ucapan yang tak bisa terucap di bibirku.


Pikiranku berpendar. "Jika tuan Kafeel pernah datang ke panti asuhan nenek, lalu kenapa Maya tidak pernah datang? Apa dia terlalu takut jika bertemu denganku dan orang lain akan menyadarinya."


"Kau tidak tahu apa saja yang sudah di lalui Maya selama ini. Bukan hanya kau yang menderita, tapi Maya juga. Dia harus rela kehilangan haknya sebagai nyonya Kafeel. Dia juga di asingkan seperti seorang tawanan." lirih Daffin, matanya bahkan berkaca-kaca ketika mengatakan hal itu.


"Tawanan? Tapi kenapa tuan Kafeel menuruti keinginan Maya untuk menjadi donatur di panti asuhan nenek jika dia begitu marah pada Maya?" tanyaku penasaran.


"Karena tuan Kafeel mencintai Maya. Dia bahkan rela melakukan apapun hanya agar Maya merasa bahagia, tapi kekecewaannya terhadap Maya membuatnya menghukum Maya dengan cara seperti itu." ungkap Daffin.


"Kenapa Maya tidak bercerai saja dengan pria itu?" celetukku, yang justru mengundang seringai jahat di sudut bibir Daffin.


"Tuan Kafeel takut kehilangan Maya hingga dia melakukan berbagai cara untuk menahannya. Sama seperti aku yang takut kehilangan dirimu. Maka aku pun akan menuruti semua keinginanmu." ucap Daffin penuh cinta.


Kisah cinta macam apa ini, Tuhan? Aku hanya merasa bahwa hubunganku dengan Daffin adalah karma dari kisah cinta segitiga tuan Kafeel. Ya, dia ayahku, tapi aku masih belum bisa menerimanya. Dan Maya, mungkin aku akan mencoba untuk membuka hatiku untuknya.


Setelah aku berpikir panjang, seharusnya aku bersyukur karena aku sudah menemukan ibu kandungku. Ada banyak anak di luar sana yang masih kekurangan kasih sayang seorang ibu. Sedangkan aku, Tuhan begitu baiknya hingga aku di pertemukan dengan ibu kandungku. Tidak seperti segelintir orang yang masih harus berjuang menemukan keluarganya.


"Kau dan aku ... mungkinkah karma?"


Hallo semuanya 😘


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2