
Perasaan cinta yang lama di pendam, lambat laun akan mencari jalannya sendiri untuk memberi sinyal pada sang pemilik hati.
Saat ini, aku benar-benar tidak berani melihat wajahku sendiri. Sementara, Daffin terus memandangi wajahku yang sudah semakin memerah karena ulahnya.
"Angkat kepalamu, Nyonya Stevano!" pinta Daffin lembut. Namun, penuh penekanan seperti biasa.
Aku menaikkan pandanganku hingga bertumpu pada mata biru yang sedang menatapku. Daffin menyunggingkan senyuman yang tulus, tanpa kepalsuan.
Pikiranku mulai menerka apa yang ada di dalam pikiran Daffin saat ini. Apakah dia menertawakan kejujuranku?
"Daffin?"
"Hemm ...."
"Jangan menatapku seperti itu!" bentakku, setelah aku memperhatikan kondisi sekitar yang nampak sepi. Dimana hanya ada aku dan Daffin di dalam kafe kini.
Setelah ungkapan hati yang tak terduga itu, Ersya memutuskan untuk pergi dan membiarkan aku tetap bersama Daffin. Sebenarnya, aku benar-benar merasa bersalah pada Ersya karena aku tiba-tiba mengungkapkan perasaanku pada Daffin di hadapannya.
Ersya memang tidak mengatakan apapun, tapi aku yakin dalam hatinya dia sungguh kecewa padaku.
"Salahkah aku bila menatap wajah istriku yang cantik dan menggemaskan?" goda Daffin, lidahnya begitu lancar mengatakan bualan-bualan seperti itu.
Aku hanya bisa mencebik untuk menanggapi ucapan Daffin yang semakin lama semakin tidak bisa di jelaskan. "Kau baru menyadarinya?"
"Tidak! Sudah lama aku menyadarinya, tapi aku baru memiliki kesempatan itu sekarang." sanggah Daffin.
Tangan Daffin sibuk merapihkan anak rambutku yang tak terikat. Dia bahkan tidak memperdulikan pandangan para pramusaji yang terus memperhatikan kami.
"Hentikan!" Aku menepis tangan Daffin dengan keras.
Kedua alis Daffin menukik tajam. "Ada apa? Kau masih marah padaku?"
"Kau pikir?" sergahku seraya melemparkan tatapan terjahatku pada Daffin.
Daffin bertanya apa aku masih marah? Astaga!!! Apakah dia tidak sadar jika dia telah menyakitiku dengan kedatangan Reena. Dia bahkan tidak meminta maaf secara tulus dan benar padaku.
"Maafkan aku, Nyonya Stevano! Dengan lancangnya aku telah menggoreskan luka di hatimu, tapi percayalah orang yang menyebabkan semua ini telah mendapatkan balasannya." tutur Daffin, sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sulit untuk aku terka.
Aku memicingkan mataku. "Kau ... tidak melakukan hal buruk pada Reena bukan?"
Aku teringat saat dimana Shaka dan salah satu pengawal Daffin yang berwajah lebam setelah kesalahan yang aku lakukan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang di lakukan Daffin pada Reena yang telah menyakitiku. Ah, tapi aku terlalu besar kepala! Daffin pasti tidak akan melakukan apapun kepada Reena karena bagaimana pun Reena pernah menjadi istrinya.
Seringai jahat tertarik di sudut bibir Daffin yang membuat wajahnya entah mengapa semakin menawan. "Tidak! Aku hanya mengembalikan penghinaan yang dia berikan pada Nyonya Stevano."
Kerongkonganku rasanya tercekat, hampir saja aku tersedak salivaku sendiri. "Jangan katakan bahwa kau menghinanya di depan umum!"
"Kau pikir aku serendah itu? Aku tidak punya waktu untuk terus berada di tempat yang sama dengannya." sergah Daffin, seraya memutar bola matanya.
Aku melirik tajam ke arah Daffin. "Bohong! Kau bahkan tidak berusaha untuk mengejarku."
Tiba-tiba, Daffin berdiri dan menarik tanganku agar mengikuti dirinya keluar dari kafe dan berjalan menuju ke suatu ruangan yang ternyata adalah ruangan CCTV di pusat perbelanjaan itu.
Daffin melepaskan kaitan tangannya dan berjalan menghampiri petugas untuk membisikkan sesuatu yang tentu saja tidak terdengar olehku.
"Apa yang akan dia lakukan sekarang?" gumamku.
__ADS_1
Pandanganku berkeliling mengamati layar-layar besar yang terpasang di dinding. Hanya beberapa menit di ruangan ini saja sudah membuat kepalaku pusing ketika menatap banyaknya gambar yang memperlihatkan aktivitas orang-orang di dalam pusat perbelanjaan.
"Kemarilah, Nyonya Stevano!" seru Daffin, tangannya melambai padaku.
Perlahan aku melangkahkan kakiku walaupun aku masih belum bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh Daffin.
"Lihat itu!" Telunjuk Daffin mengarah ke salah satu layar.
Awalnya aku ragu, tapi aku tetap mengikuti keinginan Daffin dan memfokuskan pandanganku pada layar tersebut.
Layar itu memperlihatkan suasana restoran dari luar, tempat aku bertemu Reena tadi. Namun, kemudian terlihat diriku yang berlari sambil terus menangis ketika keluar dari restoran itu. Dan sungguh, aku benar-benar terkejut ketika melihat ternyata Daffin berjalan di belakangku dengan langkah besarnya. Dia bahkan menatap tajam ke arah orang-orang yang menatapku dengan tatapan aneh.
Aku menoleh pada Daffin yang ternyata sedang tersenyum padaku. Kemudian dia menggerakkan kepalanya ke arah layar, sepertinya bermaksud untuk memintaku kembali melihat apa yang ada di layar itu.
Kini di layar itu memperlihatkan aku yang memasuki toilet seorang diri. Nampak Daffin yang kebingungan di depan toilet, langkah kakinya maju mundur tak menentu. Cukup lama dia berdiri bersandar di dinding sebelum seorang wanita terlihat bicara padanya.
"Apa yang wanita itu katakan?" tanyaku, tetap terfokus pada layar.
Terdengar Daffin terkekeh sebelum menjawab, "dia berpikir aku ingin mengintip para gadis."
Mungkin dialah wanita yang mengkhawatirkan aku di dalam toilet karena seingatku tidak ada orang lain selain wanita itu yang mengetuk bilik toiletku.
Kemudian dalam layar itu terlihat Daffin memasuki toilet pria setelah berbicara dengan wanita tadi. Tak lama setelahnya, aku pun keluar dan bertemu Ersya.
"Jika aku tahu dia sudah menunggumu, aku akan menahan panggilan alam yang tiba-tiba datang." ucap Daffin geram.
Aku mengedipkan mataku berulang karena rasa panas dan perih yang terjadi akibat aku menahan tangis. Sungguh, kau begitu terharu mengetahui ternyata Daffin lebih memilihku daripada Reena.
"Kau kenapa?" tanya Daffin, tangannya sudah menangkup kedua pipiku.
"Sepertinya debu baru saja mendarat di mataku." jawabku beralasan.
"Ya sudah jika kau tidak percaya!" hardikku seraya mengucek mataku.
"Jangan melakukan itu! Diamlah!" titah Daffin, dia meniup mataku dengan perlahan. "Sudah lebih baik?" tanyanya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku perlahan, malu dengan drama yang baru saja aku ciptakan.
"Baiklah! Ayo, kita keluar!" ajak Daffin, tangannya meraih tanganku untuk bergandengan.
Sebelum keluar, Daffin sempat menepuk bahu petugas yang sedari tadi hanya membisu melihat drama antara aku dan Daffin. "Shaka akan menghubungimu."
"Baik, Tuan."
***
Di dalam mobil, aku dan Daffin hanya diam membisu. Sungguh sesuatu yang membuatku merasa asing karena Daffin bahkan tidak melirikku sedikitpun.
Flashback on...
Suasana hatiku semakin membaik setelah keluar dari ruang CCTV tadi. Ada perasaan lega menyadari Daffin tidak pernah mengesampingkan diriku.
"Kau sudah percaya padaku?" tanya Daffin, jemarinya masih bertaut di tanganku.
Bola mataku melihat ke atas dengan sudut bibirku yang sedikit ku naikkan. "Ya, kepercayaanku padamu naik dua persen."
__ADS_1
Daffin berdecak mendengar jawabanku. "Astaga! Hanya dua persen?"
"Dua persen juga sudah keuntungan yang besar." lontarku dengan bibir mengerucut.
"Kau benar! Nyonya Stevano memang penuh perhitungan." ucap Daffin, dia seolah bangga dengan cara berpikirku.
Ya Tuhan, inikah perasaan cinta yang selalu di katakan oleh kak Erlan?
Kau akan bahagia setiap kali kau bersamanya...
Jantungmu akan selalu berdetak lebih cepat setiap dia berada di dekatmu...
Dan senyumnya akan selalu menjadi alasan hadirnya senyuman di wajahmu...
Itulah yang selalu di ucapkan kak Erlan setiap kali aku bertanya bagaimana rasanya jatuh cinta. Saat itu aku tidak memahami maksud dari ucapan kak Erlan, tapi kini aku bisa merasakan semua yang di katakan olehnya.
"Kita pulang?" tanya Daffin, membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku tidak ingin bermalam disini."
"Aku juga! Bagaimana jika kita menginap di resort dekat pantai?" saran Daffin, dia mengerlingkan sebelah matanya.
"Tidak untuk saat ini!" tolakku segera.
Sebenarnya ide untuk menginap di resort dekat pantai sangat aku sukai, tapi aku tidak yakin jika Jhonny jika akan berulah. Dan aku juga belum tahu apakah aman melakukan hal itu saat aku sedang mengandung? Astaga! Wajahku memerah menyadari pikiran mesumku yang tiba-tiba muncul.
"Kenapa?" tanya Daffin bingung.
"Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Maya dan keluarga Kafeel lebih dulu, Daffin." jawabku dengan berat hati.
Aku bisa merasakan Daffin menggenggam tanganku dengan semakin erat, dia bahkan membuka pintu mobil dengan satu tangannya ketika kami sudah sampai di basement.
Begitu pintu terbuka, aku segera masuk ke dalam mobil. Namun, Daffin masih enggan melepaskan kaitan tangannya sehingga dia pun ikut duduk di kursi belakang bersamaku.
"Aku bangga padamu, Nyonya Stevano! Tetaplah menjadi wanita yang kuat dan percayalah bahwa aku selalu berada di sisimu." ucap Daffin setengah berbisik.
Tatapan kami saling beradu dan seolah saling mengikat hingga aku merasakan kehangatan bibir Daffin yang mendarat di atas bibirku dengan sempurna. Semakin lama pagutan bibir Daffin semakin dalam dan memanas.
Jika tidak ada suara itu, aku yakin Jhonny akan segera beraksi tanpa melihat lokasi.
"Ehem ...," Suara seseorang berdeham dari arah kursi pengemudi yang memaksaku dan Daffin untuk membuka mata dan menoleh ke arah suara itu berasal.
"Shaka!!!"
Flashback off...
"Sudah sampai, Tuan," ucap Shaka, ketika mobil memasuki halaman rumah.
"Aku tahu! Lain kali, jangan menyusup ke dalam mobil!" sergah Daffin, wajahnya memerah seperti udang rebus.
"Tapi, Tuan -"
"Sudahlah, Shaka! Walaupun kau benar, dia akan tetap menyalahkanmu."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh