
Kesabaran, kesetiaan, dan ketulusan di tambah cinta yang selalu terlihat begitu besar di setiap pandangannya, membuat kebencianku terhadap Daffin pun semakin lama semakin terkikis dan berganti menjadi sebuah kenyamanan setiap kali aku berada di dekatnya.
"Aku tidak akan pernah melakukannya tanpa keinginanmu sendiri."
Ucapan Daffin semalam begitu membekas di relung hatiku yang paling dalam. Bagaimana tidak? Seorang pria hebat dan tampan yang bisa mendapatkan wanita manapun seperti dirinya, rela memendam hasratnya demi diriku hanya karena dia tak ingin menyakitiku.
Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap sosok Daffin yang sedang tertidur pulas di sampingku dengan tangan besarnya yang menjadi bantal untuk kepalaku. Hatiku begitu terenyuh karena sikap Daffin yang begitu lembut dan sabar dalam menghadapiku.
Pandangan mataku berpendar mengabsen setiap jengkal wajah Daffin yang mempertegas setiap ketampanan dan kegagahannya. Garis wajah yang begitu sempurna dan di bekali oleh pemikiran yang luar biasa menjadikan daya tarik tersendiri bagi Daffin. Tiba-tiba hatiku merasa takut jika Daffin pergi meninggalkan aku, tapi rasa takut ini begitu berbeda dengan apa yang aku rasakan terhadap kak Erlan.
Rasa takut membimbing tanganku untuk memeluk tubuh besar Daffin hingga tubuh kami saling menempel satu sama lain dan menciptakan sebuah kenyamanan. Tanpa perintah dari siapapun, aku menelusupkan kepalaku ke dalam dada bidang Daffin.
"Akhirnya kau menyerah?"
Suara parau khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya memaksaku untuk mendongak dan melihat Daffin masih memejamkan matanya.
"Kau sudah bangun?" tanyaku ragu, kemudian menggosok-gosokkan tanganku ke pipinya dengan kasar.
"Hangat," gumam Daffin, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Namun, matanya masih rapat terpejam.
Kesal merasa di bodohi Daffin, aku pun menggosokkan tanganku dengan lebih cepat hingga Daffin terpaksa membuka matanya dan menangkap tanganku.
"Lakukan seperti ini." Tangan Daffin memegang tanganku dan menggosokkannya ke pipinya dengan lembut.
Aku memberengut sempurna, kemudian menarik kembali tanganku. "Lakukan sendiri!"
"Astaga!!! Kau membuatku semakin mencintaimu dengan segala penolakanmu itu, My Starfish." ucap Daffin, dia mendekapku dengan erat. "Nyonya Stevano?" panggilnya.
"Iya?" jawabku dalam dekapan Daffin.
"Bisa kau katakan lagi padaku apa yang kau katakan di hadapan tuan Chandra saat itu?" Daffin menciumi puncak kepalaku, kemudian mengosokkan dagunya di sana.
Bagai tersengat listrik. Aku begitu tersentak dengan permintaan Daffin, tapi aku berusaha untuk mengelak. "Memangnya apa yang aku katakan?"
"Tentang perasaanmu padaku," ucap Daffin datar, sepertinya mulai kesal padaku.
"Aku tidak ingat!" elakku, seraya melepaskan dekapan tangan besar Daffin. "Aku lapar!"
Aku bisa mendengar Daffin menghela nafasnya cukup dalam. "Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk membawakan sarapan."
Setelah mengatakan hal itu, Daffin meraih intercom di atas nakas dan menghubungi kepala pelayan.
__ADS_1
"Kita tidak turun?" tanyaku, bingung karena biasanya Daffin selalu memintaku untuk turun dan makan bersama.
"Aku akan turun untuk menemani Maya. Dan kau akan tetap disini. Habiskan makananmu ...," ucapan Daffin menggantung begitu tatapannya bertemu denganku. "Hei, kenapa kau menangis?" tanyanya.
"Tidak tahu!" jawabku, karena aku memang tidak tahu kenapa tiba-tiba aku menangis.
Daffin kembali memelukku. "Ingin aku tetap disini?"
"Coba saja," jawabku lirih.
Selama beberapa saat, hanya ada keheningan di antara aku dan Daffin hingga seorang pelayan datang dan membawakan makanan.
"Makanlah!" titah Daffin, begitu pelayan yang membawakan makanan tadi keluar.
Aku mengangguk lemah kemudian duduk di sofa dan mengambil piringku, tapi entah mengapa aku tidak berselera makan. Bahkan sendok pun terasa begitu berat bagiku. Akhirnya aku memilih untuk menatap makanan di hadapanku.
"Ada apa? Kau tidak suka makanannya?" tanya Daffin, dia kembali meletakkan sendok di tangannya.
"Tidak ingin makan." Aku berdiri dan kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur.
Rahang Daffin terlihat menegang, tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan menghela nafasnya kemudian menyusulku.
"Ingin bertemu Jhonny?" bisik Daffin, sementara tangannya membelai wajahku.
"Aku seorang CEO. Tak akan ada yang berani menegurku jika aku tidak pergi bekerja." ucap Daffin sombong.
Aku memutar bola mataku dengan malas, lalu memiringkan tubuhku membelakangi Daffin. Aku melakukan itu untuk menyembunyikan perasaanku yang tiba-tiba menginginkan Daffin. Jantungku berdebar semakin kencang dan aku takut jika Daffin mendengarnya.
Sepertinya sikapku di salah artikan oleh Daffin karena dia tiba-tiba beringsut turun dari tempat tidur.
"Aku akan pergi bekerja," ucap Daffin datar.
Aku menoleh dan melihat Daffin akan memasuki kamar mandi. Tiba-tiba, sesuatu mendorongku untuk mengejar Daffin dan memeluk tubuh atletisnya dari belakang.
Lama aku terdiam dan terpaku mendekap Daffin. Anehnya, Daffin pun melakukan hal yang sama. Dia hanya diam membisu tanpa melakukan atau mengatakan apapun.
Perlahan, tangan Daffin memegang tanganku dan membalikkan tubuhnya setelah cukup lama kami hanya bungkam.
Kedua tangan besar Daffin menangkup pipiku dan mengecup bibirku sekilas. Mata biru itu menatapku lekat, seolah meminta persetujuan dariku untuk melanjutkan ke tahap yang lebih jauh.
Tak ingin membuang waktu dan tak ingin lagi memendam hasrat, aku pun menarik sudut bibirku dan tersenyum tipis kepada Daffin.
__ADS_1
Dalam sekejap, tubuhku sudah berada dalam gendongan Daffin seperti sepasang pengantin baru yang akan menapaki malam pertamanya.
Aku cukup tersentak ketika Daffin membawaku ke kamar mandi, bukannya ke tempat tidur.
"Daffin?" panggilku, ketika Daffin menutup pintu kamar mandi dengan sikunya.
"Hemm ...."
"Kenapa kita kesini?" tanyaku,dengan pandangan berkeliling.
Daffin menurunkan aku tepat di bawah shower dan menyalakan air hangat. "Mandi tentunya!"
Kucuran air menimpa kepalaku dan membasahi hampir seluruh tubuhku ketika Daffin terus mencumbuku di bawahnya. Dia terlihat sangat berhati-hati dan sangat lembut ketika melakukannya.
Cukup lama Daffin bermain, dia bahkan memandikan aku dengan sangat telaten. Sedangkan aku hanya diam dan menikmati setiap perlakuan Daffin padaku.
Kini setelah aku mulai membuka hatiku dan menyerahkan hati juga tubuhku sepenuhnya pada Daffin, rasanya bongkahan batu yang selama ini membuat hatiku sesak pun seperti pecah dan hancur begitu saja.
"Daffin, aku bisa melakukannya sendiri!" sungutku, ketika Daffin mencoba mengeringkan rambutku dengan handuk.
Daffin hanya menatapku melalui cermin yang memantulkan wajahku. "Aku tahu! Nyonya Stevano memang bisa melakukan segala hal, tapi kau juga harus tahu bahwa aku, Daffin Miyaz Stevano bisa melakukan apapun hanya untuk dirimu."
Astaga!!! Hatiku mencair karena bualan-bualan Daffin yang semakin menjadi-jadi. Semburat merah di pipiku bahkan membuatku terlihat seperti memakai blush on.
Ya Tuhan, haruskah aku memulai lembaran hidupku yang baru bersama Daffin? Apakah dia benar-benar pria yang bisa menggantikan kak Erlan?
"Daffin, aku -" Baru saja aku akan mengatakan isi hatiku, tiba-tiba ponsel Daffin berdering.
"Sebentar," ucap Daffin, kemudian menjawab panggilannya. "Ada apa, Shaka?"
Raut wajah Daffin berubah tegang ketika dia mendengarkan ucapan seseorang di seberang panggilan yang sepertinya adalah Shaka.
"Kerja bagus! Hubungi dokter Reinhard! Kita akan bertemu dalam tiga puluh menit di perusahaan Kafeel." titah Daffin, lalu memutuskan panggilannya dan beralih menatapku.
Aku di buat terkejut ketika Daffin tiba-tiba berlutut di hadapanku serta menggenggam kedua tanganku dengan erat. "Maafkan aku, tapi sekarang waktunya kau kembali ... Lily."
Hallo semuanya π€
Kangen gak sama author amburadul π€ͺ
Maaf karena author mulai hilang timbul lagi π Maklum banyak undangan bakar-bakaran yang sayang untuk di tolak π
__ADS_1
Terima kasih masih setia menunggu dan memberikan mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian iniπ
I β€ U readers kesayangan kuhh