
"Sebenarnya, Sayang ...."
Ucapan ayah yang menggantung membuatku sangat penasaran sekaligus ketakutan di waktu yang bersamaan.
"Katakan, Ayah, aku mohon!" pintaku.
Ayah menghela nafas. "Duduklah dulu, Lily!"
Aku menganggukkan kepala dan duduk di kursi yang baru saja di bawakan oleh pelayan.
Kedua bola mata ayah menatapku lekat. "Maafkan Ayah, Lily! Ayah telah gagal menjadi Ayah yang baik untukmu."
"Tidak, Ayah! Kau Ayah terbaik yang ada di dunia ini. Aku merasa sangat beruntung memiliki dirimu sebagai ayahku." hardikku seraya menggenggam tangan ayah.
"Terima kasih, Lily, Ayah harap kau mengerti dengan apa yang telah Ayah lakukan." Belaian lembut tangan ayah menyapu rambutku. "Maaf, Lily, karena Ayah telah mengajukan pembatalan pernikahanmu dengan Daffin. Dan pengadilan menyetujuinya." lirih ayah.
"Mak- Maksud, Ayah?" tanyaku terbata.
Ayah menatapku dan juga Daffin yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Kau dan Daffin bukan lagi suami istri dalam hukum negara ini. Pernikahan kalian tidak sah karena aku masih hidup dan tidak merasa menjadi wali nikah kalian. Kau juga menikah sebagai seorang anak yatim piatu bernama Ayasya, sedangkan kau adalah Lily Yovela Kafeel. Satu-satunya putriku. Aku ingin seluruh dunia mengetahui tentang pernikahan putriku. Dan secantik apa putriku saat mengenakan gaun pernikahan."
Penuturan ayah bagaikan petir yang menyambar telingaku. Seketika aku menjadi tuli dan tak bisa mendengar suara apapun selain nafasku yang memburu.
"Tidak, Ayah! Tidak!!!" sanggahku, dengan menggelengkan kepala lemah.
Sebelumnya, aku berpikir untuk menghancurkan bangunan yang lama sebelum membangun rumah yang baru bersama Daffin. Aku begitu yakin akan hal itu, tapi aku tidak menyangka bahwa rasanya akan sangat sulit seperti ini. Aku bagaikan kehilangan nyawaku ketika mengetahui jika aku dan Daffin bukan lagi suami istri. Seluruh tubuhku terasa lemah. Walaupun aku sedang duduk, tapi aku merasa membutuhkan sandaran dan juga pegangan karena aku tak kuasa menahan ketidakberdayaanku saat ini.
Pandanganku semakin samar. Aku bisa melihat ayah yang masih menggerakan bibirnya. Namun, aku tidak bisa mendengar apapun. Aku menatap ke arah lain dan melihat Daffin sudah di liputi amarah dan juga kesedihan.
Kepalaku terasa berputar. "Daffin ...."
Dan setelahnya, aku tidak mengingat apapun selain penyesalan yang ada di hatiku.
***
Entah sudah berapa lama aku terbaring di tempat tidurku, tapi aku tersadar karena aku mendengar suara Daffin yang terus memanggilku. Suaranya begitu memilukan hingga aku terpaksa membuka mataku.
__ADS_1
"Daffin ...," panggilku, ketika melihat sosok Daffin yang tengah menggenggam tanganku.
Mata biru itu menatapku bahagia. "Nyonya Stevano? Oh my God, thank you so much."
Seketika tangan besar Daffin sudah merengkuh tubuhku dan memelukku dengan erat. Aku bisa mendengar helaan nafas lega Daffin dalam dekapannya.
"Kau membuatku takut, Nyonya Stevano," ungkap Daffin, begitu dia melepaskan pelukannya.
Bibirku tetap bungkam walaupun hatiku sebenarnya ingin mengatakan banyak hal. Dan akhirnya aku pun hanya bisa menangis untuk meluapkan kekecewaan yang ada di hatiku.
"Husstt! Don't crying, My Starfish!" pinta Daffin, tangannya sibuk menghapus air mataku.
"Daffin, ayo, ki- kita pergi sa- ja dari sini ...," ucapku terputus karena sesenggukan. "A- Ayahku tidak akan membiarkan ... kita bersama." sambungku.
Tanpa di duga, Daffin justru tersenyum dan membelai wajahku. "Bukankah ini yang kau inginkan? Sebelumnya kau mengatakan ingin berpisah dariku bukan?"
Kata-kata Daffin melesat begitu cepat menghujam jantungku. Aku merasakan sesak dan kesulitan bernafas hingga kerongkonganku rasanya tercekat.
"Ta- Tapi aku ...," Aku tak bisa melakukan pembelaan apapun.
"Tapi kau tidak bisa jauh darinya. Itu maksudmu, Sayang?" lontar ibu, yang masuk bersama ayah, om Rei, dan juga daddy David.
Senyuman ibu begitu hangat dan seketika menciptakan kenyamanan di hatiku yang sedang gelisah.
"Maafkan Ayah, Sayang," lirih Ayah seraya menghampiriku. "Ayah tidak menduga kau akan jatuh pingsan seperti ini." sesalnya.
Aku berusaha untuk bangun dan bersandar di tepi tempat tidurku. "Tidak apa, Ayah, aku hanya butuh waktu."
Ayah menatapku dan Daffin bergantian, lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Sayang, kau salah paham dengan maksud Ayah!"
"Tidak, Ayah, aku mengerti. Dan aku tidak akan menyalahkan Ayah untuk hal ini." Aku berusaha menarik senyuman meski air mata terus mengalir di pipiku.
"Dengarkan ayahmu dulu, Sayang," sela ibu, ketika ayah hendak membuka mulutnya.
"Tapi, Bu -" ucapku ragu.
__ADS_1
Ibu membelai rambutku. "Kau memang keras kepala seperti ayahmu."
"Tentu! Dia putriku." Ayah menepuk-nepuk punggung tanganku. "Dengarkan apa yang akan Ayah katakan, Lily! Ayah memang melakukan pembatalan pernikahanmu dengan Daffin dan itu terjadi satu bulan yang lalu, sebelum Ayah membawamu pulang. Jujur saja, Ayah sangat kecewa pada Daffin ketika mengetahui kebenaran tentang pernikahan kalian. Ayah begitu marah sehingga langsung mengambil keputusan itu, tapi Ayah tidak pernah benar-benar berniat untuk memisahkanmu dengan Daffin. Ayah hanya ingin kalian tidak terikat dalam pernikahan palsu seperti itu. Dan untuk melihat seberapa besar cinta Daffin untukmu, Ayah sengaja menjauhkan kalian dan itu juga Ayah lakukan karena kalian bukan lagi suami istri meskipun Daffin tidak menceraikanmu." jelasnya.
"Lily, kau harus tahu betapa kakakku sangat menyayangimu. Dia bahkan rela memutuskan persahabatan dengan keluarga Stevano karena begitu kecewa dengan Daffin. Beruntung, kak David memahami situasi ini dan mau mengerti serta menunggu." timpal om Rei.
Daddy David berjalan mendekati ayah. "Aku mengerti karena aku juga seorang ayah. Ayah manapun akan marah jika tahu putrinya di perlakukan tidak adil, tapi aku tetap berusaha untuk membujuk ayahmu. Meskipun aku sadar dia sangat marah padaku."
"Tentu saja aku marah! Kau sudah tahu perbuatan putramu, tapi kau tetap mendukungnya." Ayah menatap sinis daddy David yang justru tertawa.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin meminta putraku untuk melepaskan putrimu yang cantik. Walaupun aku sempat berpikir untuk mengganti putraku saja." Daddy David tertawa dan memaksa kami semua untuk tertawa, kecuali Daffin.
"Andai bisa, aku juga ingin mengganti Daddy!" sungut Daffin, menatap tajam ke arah daddy David.
Selingan ringan itu berhasil mencairkan suasana dan sedikitnya mengurangi ketegangan di hatiku.
"Aku mengerti, Ayah, aku akan menerima semua keputusan Ayah meskipun aku harus terluka. Tapi Ayah, seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa aku tidak akan menikah lagi." Tanganku mengusap perutku yang semakin membesar.
Aku merasakan tangan ayah menyentuh tanganku. "Tapi kau harus menikah lagi, Lily."
Pandanganku naik dan menatap kecewa pada ayah. "Tidak, Ayah! Aku akan hidup seorang diri untuk membesarkan putraku."
"Kau yakin? Meskipun itu denganku?" tanya Daffin, di tengah kebungkaman ayah.
Dahiku mengernyit. "Menikah denganmu sementara ayahku sudah membatalkan pernikahan kita?"
"Iya, Sayang, itulah maksud Ayah! Ayah ingin kau dan Daffin menikah ulang sebagai putri Ayah." Mata ayah sudah berkaca-kaca. "Biarkan Ayah menjadi ayah yang seutuhnya. Ayah ingin menikahkan putri Ayah dan menyaksikan semua momen bahagiamu. Ayah ingin berada di setiap fase yang kau alami meskipun itu semua sedikit terlambat." cicitnya.
"Ayah ...," Aku sudah tidak mampu membendung air mataku dan langsung memeluk ayah.
Inilah kebahagiaan yang tak dapat tergantikan ketika sosok ayah mengisi hidup ini. Aku begitu beruntung karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk merasakan semua kebahagiaan yang selama ini selalu menjadi impianku.
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh