
"Tidak bisa, Sayang! Suatu hari kau akan mengerti kenapa Ibu tidak bisa meninggalkan ayahmu dan kenapa Rei tidak menikah sampai saat ini."
Kata-kata ibu benar-benar mengganggu pikiranku, bahkan setelah kami sampai di rumah. Ingin rasanya aku bertanya, tapi melihat kondisi ibu yang sepertinya kurang baik, aku pun mengurungkan niatku.
"Istirahatlah!" ucap Ibu seraya berjalan menuju dapur.
Aku menangkap pergelangan tangan ibu. "Sepertinya Ibu yang lebih membutuhkan istirahat."
Senyum lembut ibu menyapu wajah sedihnya dan membuat hatiku semakin nelangsa melihatnya. Seperti inikah hidup yang di jalani ibuku selama terpisah dariku. Meskipun hatinya di penuhi kesedihan dan kehancuran, tapi wajahnya selalu memancarkan kehangatan. Sama persis seperti kak Erlan. Ah, hatiku jadi berduka kembali setiap kali aku mengingat bahwa kak Erlan sudah tidak mungkin bersamaku lagi.
"Ibu tidak lelah, Sayang! Justru kaulah yang harus beristirahat. Ingat! Kau sedang mengandung saat ini." ucap ibu, kemudian melepaskan tanganku dengan lembut.
"Astaga!!!" seruku seraya menepuk keningku. "Aku lupa untuk menemui dokter kandungan." sesalku.
"Tidak masalah, kau bisa menemui dokter kandungan bersama Daffin nanti." Ibu berbalik dan menuju dapur untuk membuat sesuatu.
Sambil menunggu ibu, aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku di atas sofa dan memejamkan mata.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi aku terbangun karena suara percikan air yang tertangkap telingaku.
"Air?" gumamku, dengan pandangan yang belum sepenuhnya jernih.
Pandanganku berkeliling menyapu ruangan yang ternyata adalah kamar tidurku dan Daffin. Seingatku, aku tadi tertidur di sofa lantai bawah. Kenapa sekarang aku berada disini? Apakah aku tidur sambil berjalan?
Ketika pikiranku masih sibuk mencari jawaban, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sosok Daffin yang hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Tetesan air masih menetes dari rambutnya yang basah dan melewati setiap lekuk tubuh atletisnya.
Dengan susah payah aku menelan salivaku karena melihat pemandangan yang sulit untuk aku halau. Selama beberapa detik mataku seperti tersihir hingga Daffin bertolak pinggang dan bersiul.
"Nyonya Stevano ... kau memang selalu menyukai sesuatu yang terbuka rupanya." seloroh Daffin, sekaligus menyadarkan aku.
"Terbuka apanya?" tanyaku dengan tatapan menantang.
Daffin tersenyum sinis. "Jadi ini masih kurang terbuka untukmu?"
Aku sungguh tidak menduga, jika Daffin akan menarik handuknya yang mana akan memperlihatkan sesuatu yang menakutkan bagiku.
"Aaarrrgghhh ... Plankton menyebalkan!!!" jeritku seraya menutup wajahku.
"Hahaha ...," Gelak tawa Daffin membahana di seluruh ruangan.
Aku merasakan tempat tidur yang aku duduki sedikit bergerak, sepertinya Daffin baru saja menjatuhkan tubuhnya di sampingku.
Dengan jantung yang masih berdegup kencang, aku mengintip melalui celah jariku dan melihat Daffin tengah berbaring miring menghadapku.
__ADS_1
"Hah! Daffin! Kau pasti sengaja ingin mengerjaiku." sergahku, ketika melihat apa yang aku takutkan tidak terjadi.
Sepertinya Daffin menyadari arah tatapanku, karena tiba-tiba satu alisnya terangkat dan tatapannya padaku pun berubah.
"Kau pasti kecewa karena tidak melihat -"
"Husttt!" Jari telunjukku menempel di bibir sensual Daffin. "Aku ingin bertanya satu hal padamu."
Daffin tersenyum dan memejamkan matanya sekejap sebagai tanda persetujuannya atas ucapanku.
"Apakah kau yang memindahkan aku kesini?" tanyaku ragu, tak yakin Daffin yang melakukannya.
"Tidak! Kau terbang dan mendarat di sini." Daffin menepuk-nepuk tempat tidur dengan sebelah tangannya.
"Daffin!" Wajahku memberengut sempurna.
"Kau mudah sekali marah, Nyonya Stevano, tapi aku menyukainya." goda Daffin, seraya mencium tanganku dengan lembut.
Aku yakin wajahku sudah memerah saat ini karena perlakuan lembut Daffin. Jadi aku mencoba mengganti topik pembicaraan kami.
Tanganku meraih bantal terdekat dan mendekapnya di pangkuanku. "Daffin, apakah kau tahu tentang hubungan ibuku dan juga om Rei?"
"Aku tidak bisa menjawabnya." Daffin berpura-pura memejamkan matanya.
"Kenapa? Aku yakin kau tahu segalanya." desakku.
Astaga!!! Sungguh perhitungan sekali pria tua di hadapanku ini. Wajar saja bisnisnya cepat berkembang karena dengan istrinya saja dia seperti ini.
"Pelit!" tukasku, kemudian berniat meninggalkan Daffin seorang diri.
Belum sempat aku bergerak, tangan Daffin sudah meraih pergelangan tanganku sehingga aku terjatuh di atas dada bidangnya yang terbuka.
Aroma maskulin khas tubuh pria menyeruak memenuhi hidungku hingga membuat beberapa inderaku tidak berfungsi secara tiba-tiba.
Kesadaranku baru kembali ketika Daffin memainkan surai rambutku yang terjatuh menimpa wajahnya. Mata biru itu menatapku lekat dan membuatku seperti terikat.
"Kau sangat menggoda." bisik Daffin, suaranya begitu berat.
Kepala Daffin tiba-tiba terangkat dan bibirnya menyentuh bibirku dengan sempurna. Hembusan nafasnya bahkan begitu terasa di wajahku.
Awalnya aku tak berniat untuk membalas ciuman itu, tapi kehangatan lidah Daffin yang menerobos masuk memaksaku untuk melawannya.
Hawa panas mulai menguar di seluruh tubuhku ketika akal sehatku mulai menghilang. Aku bahkan tidak menyadari saat tangan nakal Daffin mulai menyelusup ke tempat terlarang.
__ADS_1
TOK ... TOK ... TOK ...
Suara ketukan pintu mengejutkan aku juga Daffin yang terlena dengan aktivitas ini.
"Shit!!!" gerutu Daffin, begitu matanya terbuka dan melepaskan pagutan bibirnya.
Aku hanya tersipu malu. Malu karena tubuhku selalu tidak sejalan dengan pikiranku. Sepertinya hati dan tubuhku mulai terbuai oleh kelembutan dan kesabaran Daffin dalam menghadapiku.
Daffin beranjak turun dari tempat tidur dan mengambil kaus oblongnya kemudian membuka pintu.
Ternyata, ibu yang mengetuk pintu untuk membawakan makan malam.
"Kau sudah lebih baik, Sayang?" tanya ibu, di barengi nampan berisi makanan yang mendarat di atas nakas.
"Iya, Bu?" Aku tidak mengerti dengan maksud ibu.
Ibu tersenyum dan duduk di sampingku. "Tadi kau terlihat begitu lelah sampai tertidur di sofa. Kau bahkan tidak terganggu sedikitpun saat Daffin menggendongmu."
Sudut mataku melirik Daffin yang sedang bersandar di dinding dekat pintu dengan tangan terlipat di dadanya. Entah mengapa aku kesal saat melihat Daffin hanya mengenakan celana boxer dan juga kaus oblong di hadapan ibuku.
"Maaf, Bu, sepertinya masalah ini cukup menguras energiku." ungkapku, sedikit kesal.
Sayangnya, apa yang aku katakan sepertinya menyakiti perasaan ibu karena wajahnya seketika menjadi muram.
"Semua ini salah Ibu, Sayang," lirih ibu.
Aku berdecak. "Sudahlah, Bu! Tidak perlu terus menerus menyalahkan dirimu. Tidak ada gunanya."
"Nyonya Stevano ...," Daffin memanggilku dengan penuh penekanan.
Aku mengerti. "Bukannya aku mau menyalahkanmu, Bu, tapi tolong berhenti meminta maaf karena tidak akan ada gunanya untukku. Aku butuh dukunganmu. Bukan perasaan bersalahmu itu."
Ibu menatapku dengan penuh kasih, kemudian merengkuh tubuhku. "Ibu mengerti, Sayang! Ayo, berjuang mendapatkan kembali semua hakmu!"
Tanganku terulur untuk membalas pelukan ibu. "Terima kasih telah kembali ke hidupku, Bu."
Tatapanku bertumpu pada Daffin yang masih menyaksikan interaksiku dengan ibu dalam diam. Dia baru saja mengusap sudut matanya.
Apakah Daffin baru saja menangis?
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh