Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
HAMPIR SAJA


__ADS_3

Guyuran air hujan sempat membasahi tubuhku dan Daffin sebelum kami mencapai mobil Daffin. Aku sampai tidak bisa membuka mataku karena tetesan air hujan yang menimpa kelopak mataku.


Di dalam mobil, Daffin tidak membiarkan aku menopang tubuhku sendiri. Dia membiarkanku duduk di pangkuannya meskipun Shaka berada di mobil yang sama. Tubuhku yang mungil tidak seberapa di bandingkan dengan tubuh Daffin yang bagaikan raksasa itu.


Untung saja, jarak antara danau dan rumahku tidak jauh hingga aku tidak harus berlama-lama di atas pangkuan Daffin yang membuatku tidak nyaman.


Begitu mobil sampai di depan rumahku, Shaka menghentikan mobil dan hendak keluar untuk membukakan pintu. Aku merasakan tangan Daffin kembali menyentuh kakiku, bersiap untuk mengangkat tubuhku kembali. Namun, aku berusaha untuk menolaknya.


"Tidak, Daffin! Aku bisa berjalan sendiri."


Sorot mata Daffin begitu menakutkan, dia hanya diam dan tidak menggubris ucapanku. Tanpa menunggu lagi, Daffin langsung menggendongku dan membuat kami berdua kembali kehujanan walau hanya beberapa detik sebelum Daffin mencapai teras rumahku.


Beberapa pengawal dengan sigap membukakan pintu walau tatapan mereka menunjukkan rasa ingin tahu yang mendalam.


"Tinggalkan kami!" titah Daffin kepada Shaka dan para pengawal yang berjaga di depan pintu.


Rasa takut tiba-tiba saja menjalar di seluruh tubuhku ketika Shaka menutup pintunya dengan rapat. Sialnya, bibirku pun ikut terkunci rapat dan tak bisa mengatakan apapun ketika Daffin menurunkan tubuhku di atas sofa panjang yang berada di ruang tamu. Sebenarnya ini tidak akan jadi hal yang menakutkan jika Daffin tidak menurunkanku dalam posisi berbaring seperti ini. Dia bahkan menyusulku dan mengurung tubuhku di bawah tubuhnya. Dan aku bukan gadis bodoh yang tidak mengerti apa yang akan di lakukan Daffin padaku.


Bola mataku bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu yang bisa membantuku membebaskan diri dari tubuh raksasa Daffin. Sayangnya, aku tidak menemukan apapun selain wajah Daffin yang semakin dekat dengan wajahku.


"Aku disini. Siapa yang kau cari?" bisik Daffin tepat di telingaku. Hal itu membuatku merinding dan sedikit menggelinjang.


'Bodoh... bodoh... bodoh ....'


Aku hanya bisa mengumpat dalam hati, menyesali tubuhku yang merespon setiap sentuhan Daffin.


Seringai tipis terlihat di wajah maskulin Daffin. Dia menatapku dan menjadikan kedua tangannya sebagai penopang tubuhnya. Aku memalingkan wajahku, tak ingin terlibat kontak mata dengan Daffin yang hanya akan membuat keinginannya semakin kuat.


Aku merasakan tangan Daffin menyentuh rambutku yang basah karena terkena air hujan, perlahan dia menyingkirkan helaian demi helaian rambut yang menutupi wajahku. Astaga! Kenapa dia suka sekali melakukan hal itu? Tidak tahukah dia jika itu membuatku tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


Sikap Daffin yang sangat lembut seperti ini membuatku luluh, aku membiarkan Daffin menyentuh daguku dan membuat pandangan kami bertemu. Tatapan mata Daffin kali ini berbeda. Sentuhan Daffin kali ini juga berbeda, tidak sekasar sebelumnya saat dia memergokiku sedang bersama Ersya.


Entah mungkin aku hanya berhalusinasi, tapi aku merasa pandangan Daffin terhadapku sudah berubah. Aku bisa melihat diriku ada di dalam sana. Sejak kapan aku ada disana? Aku juga tidak tahu dan tidak memperhatikannya.


Ketika aku sedang larut memikirkan kemungkinan sejak kapan aku mendapatkan tempat di hati Daffin, tiba-tiba saja bibir Daffin mendarat di keningku dengan lembut. Dia menciumi setiap jengkal wajahku hingga bibirnya mencapai bibirku dan berhenti disana cukup lama dan memaksaku untuk menerima semuanya.


Lambat laun, sentuhan Daffin menghanyutkanku hingga membuatku lupa jika tidak seharusnya aku melakukan hal ini dengannya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku mau menuruti keinginan Daffin?


Akal sehatku menolak semua perlakuan lembut Daffin, tapi anehnya hatiku justru berbunga-bunga mendapati perubahan sikap Daffin padaku. Apakah aku sudah gila, Tuhan? Atau apakah otakku sudah terendam air?


Ah, sudahlah! Apapun yang terjadi memang tak bisa ku hindari. Bahkan kini tangan nakal Daffin mulai turun menjelajahi bagian tubuhku yang sedikit membesar karena faktor kehamilan. Pagutan bibirnya terlepas dan berpindah menelusuri setiap lekuk leherku dan membuatku semakin lupa daratan.


Andai kami tidak mendengar suara itu. Aku yakin, yang akan terjadi selanjutnya pasti akan ku sesali seumur hidupku.


"Astaga!!!"


Seseorang baru saja memasuki rumahku tanpa permisi. Aku dan Daffin menoleh bersamaan begitu mendengar suara pekikan dari orang itu.


"Kak Reena?"


Tubuh kak Reena mematung di hadapan kami, wajahnya pucat pasi karena dia baru saja melihat hal yang paling menyakitkan bagi seorang wanita.


Untuk beberapa saat, baik aku, Daffin, maupun kak Reena. Kami bertiga hanya terdiam dan saling menatap tanpa bisa mengatakan apapun hingga kak Reena akhirnya berkata, "maafkan aku! Aku tidak tahu jika kalian ...."


Setelah mengatakan hal yang menggantung itu, kak Reena langsung berlari keluar tanpa menunggu penjelasan dariku ataupun Daffin. Tanpa pikir panjang, Daffin langsung berdiri dan meninggalkan diriku yang masih terbaring di atas sofa.


Aku menatap hampa punggung Daffin yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu. Perasaan apa ini? Kenapa aku seperti merasakan sesuatu menusuk hatiku begitu dalam?


***

__ADS_1


"Tunggu dulu, Nyonya muda!" teriak Rania yang berlari di belakangku.


"Apa yang harus ku tunggu, Rania?" Aku sempat menoleh dan kembali melanjutkan langkahku.


"Diluar hujan, Nyonya muda, anda akan jatuh sakit. Anda bahkan belum mengganti pakaian anda yang basah."


Rania benar. Aku masih memakai pakaianku yang basah karena kehujanan tadi bersama Daffin, tapi aku tidak bisa menunggu. Aku harus menemui kak Reena untuk meminta maaf atas kelancangan yang telah aku lakukan.


"Ini semua salahmu, Rania! Kau darimana saja? Jika kau ada bersamaku, semua ini tidak akan terjadi."


Rania hanya terdiam mendengarkan tuduhanku walaupun ini semua tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. "Maaf, Nyonya muda,"


Aku tidak menghiraukan permintaan maaf Rania, kakiku terus saja melangkah. Aku bahkan tidak memperdulikan peringatan dari para pengawal Daffin yang menjaga rumahku.


"Kalian juga bersalah! Harusnya kalian tidak membiarkan semua ini terjadi!" Aku membentak para pengawal yang hanya bisa tertunduk pasrah dengan sikapku.


Hujan deras yang mengguyur kota ini tak membuatku gentar. Aku tetap berjalan menuju rumah Daffin. Aku takut terjadi sesuatu pada kak Reena karena dia pergi dalam keadaan sangat marah.


Ketika aku memasuki rumah mewah itu, keadaan disana nampak lengang. Aku bahkan tidak melihat satu pun pelayan yang biasa berlalu lalang disana. Tidak adanya halangan dan rintangan yang menghadang, membuatku bebas melangkah dan langsung menuju kamar utama. Dari kejauhan aku bisa melihat pintu kamar yang sedikit terbuka. Dengan hati berdebar, aku mendekati kamar tidur Daffin dan kak Reena.


"Aku sudah menduganya, Daff! Kau pasti memiliki perasaan terhadapnya. Aku sudah memperingatkanmu, aku tidak suka jika kau menyentuh wanita lain!"


Suara kak Reena terdengar sangat jelas begitu aku hampir sampai di pintu kamar utama. Sudah ku duga, tidak ada wanita yang akan dengan rela membiarkan suaminya menikah lagi. Kak Reena juga pasti begitu dan hari ini hal yang paling aku takuti pun terjadi.


Aku berniat meninggalkan mereka berdua saja karena aku rasa kehadiranku hanya akan membuat masalahnya semakin buruk, tapi baru saja aku akan berbalik, aku mendengar hal yang langsung membuatku seakan di tembak mati.


"Kita hanya membutuhkan bayinya, bukan ibunya!"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2