
Cinta selalu datang tanpa sengaja, tanpa di minta. Panah cinta melesat kemanapun dia inginkan bahkan tanpa mengikuti arah angin. Seperti yang sedang aku alami saat ini.
Aku, Daffin Miyaz Stevano. Seorang pemimpin perusahaan besar yang sangat di segani dan di hormati oleh semua orang, bahkan tak mampu menahan tembakan panah asmara yang melesat cepat menghujam jantungku.
Entah kapan semua itu terjadi, tapi tiba-tiba saja dia sudah tinggal di dalam hatiku tanpa aku menyadarinya. Walaupun aku terus berpikir, apa yang sebenarnya di miliki oleh wanita itu hingga dia mampu menerobos masuk ke dalam hatiku yang aku pikir sudah di tempati oleh orang lain.
Ayasya... Nama itu menelusup ke dalam hatiku. Tangis dan tawanya mengambil alih pikiranku. Setiap kata yang terucap dari lidah tajamnya seolah mengiris-iris hatiku dan membuatku semakin tertarik padanya. Semua kekacauan yang di timbulkannya membuatku semakin mendekat padanya. Mungkin Tuhan sedang menghukumku, karena niat burukku pada wanita itu. Dan kini, aku harus menikmati rasa sakit mencintai tapi tak mungkin mendapatkan balasan darinya.
***
Aku teringat perjumpaanku dengan Maya beberapa waktu lalu. Saat itu aku sedang mencari Maya dan melihatnya sedang berbincang dengan seseorang yang ternyata adalah nyonya kecilku.
Setiap kali aku melihatnya, aku selalu ingin menggoda dan membuatnya marah. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, tapi amarahnya selalu membuatku bergairah. Sepertinya aku memang sudah tidak waras.
__ADS_1
"Kau mencintainya?" tanya Maya, dia menggenggam tanganku dan memintaku untuk duduk bersamanya menggantikan nyonya kecilku.
Aku mengikuti keinginan Maya dan menatapnya bingung. "Apa maksudmu, Maya?"
"Aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri, Daffin, kau tidak bisa menipuku." Maya menghela nafasnya. "Sudah saatnya kau meraih kebahagiaanmu. Jangan memikirkan kebaikanku lagi!" pintanya kemudian.
"Tidak, Maya! Aku menyayangimu sama besarnya seperti aku menyayangi ibuku. Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah karena aku."
"Kau salah, Daffin. Sikapmu yang seperti ini membuatku semakin merasa bersalah." lirih Maya, tapi senyuman masih terpatri di wajah lembutnya. Tiba-tiba Maya mencium keningku. "Kejarlah cintamu! Aku akan selalu mendukungmu." lanjutnya.
Mungkin sejak hari dimana dia mengamuk dan memecahkan guci buatan mendiang ibuku. Aku sangat marah padanya hari itu, tapi amarahku langsung padam ketika aku melihat kekecewaan di matanya. Apalagi setelah aku tahu alasan di balik kemarahannya adalah karena kata-kata Shaka yang telah menyinggungnya. Tak pelak hal itu membangkitkan kembali amarahku yang langsung ku lampiaskan pada Shaka, karena hari itu untuk pertama kalinya orang yang paling setia dalam hidupku telah membuatku kecewa.
Atau mungkin juga ketika aku mendapatkan laporan bahwa Ayasya terus memuntahkan semua makanan yang masuk ke perutnya. Ketika Shaka menyampaikan hal itu padaku, aku benar-benar tidak bisa fokus bekerja. Aku mulai memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk membantunya. Menurut pelayannya, Ayasya ingin sekali makan nasi goreng. Maka aku pun berusaha untuk belajar membuatnya, meskipun aku tidak pernah memasak sama sekali dalam hidupku. Dan pengorbananku tidak sia-sia, Ayasya menghabiskan nasi goreng buatanku. Aku senang sekali, bahkan karena begitu senang aku langsung menghabiskan nasi goreng yang tersisa. Namun, aku hampir saja tersedak. Ternyata nasi goreng buatanku sangat tidak enak. Lalu, kenapa Ayasya begitu lahap memakannya? Mungkinkah karena aku menambahkan seafood pada nasi gorengnya? Aku sudah menduganya, jika Ayasya menyukai seafood karena dia selalu mengumpat menggunakan nama hewan-hewan laut malang itu.
__ADS_1
Perasaanku padanya semakin tumbuh ketika dia secara diam-diam melarikan diri dari rumahku ketika aku dan Reena sedang berlibur. Ketakutan akan kehilangan dirinya membuatku langsung kembali dan meninggalkan Reena bersama Shaka di pulau x. Rencananya, aku akan menghabiskan waktuku bersama Reena. Tapi kabar kepergian Ayasya membuatku tak tenang. Tanpa pikir panjang, aku kembali dan menyalahkan semua orang yang menjaganya. Terlebih pelayan yang selalu berada di sampingnya. Aku menghukum kebodohan mereka semua. Bisa saja, aku membunuh mereka semua jika aku tidak menemukannya hari itu. Tapi aku begitu kecewa ketika aku memeriksa ponselnya dan menemukan kenyataan bahwa dia ingin kembali ke keluarga Erlangga. Aku tahu apa yang aku lakukan adalah kesalahan, tapi aku tetap melakukannya. Dengan cepat aku mengirimkan pesan kepada orang yang bernama tante Ratih itu.
Maaf, Tante. Aku tidak jadi pulang karena masih banyak hal yang harus aku selesaikan. Tolong tante jangan menghubungi aku untuk sementara waktu! Aku janji akan segera menghubungimu.
Setelah memastikan pesan itu terkirim, aku pun langsung mematikan ponselnya dan melihat Ayasya menuruni tangga bersama dengan koper besarnya. Dan lagi-lagi, dia membuatku marah ketika dia memintaku untuk menceraikannya. Begitu tidak inginnya dia bersamaku, hingga dia bahkan rela melepaskan rumah kesayangannya hanya agar aku mau menceraikannya. Dia pikir aku miskin. Aku bahkan bisa membangun seribu rumah kecil seperti rumahnya. Aku hanya menggunakan rumah itu sebagai tali untuk mengikatnya, karena aku tidak pernah benar-benar ingin memiliki rumahnya itu.
Setiap kali Ayasya ingin melepaskan diri dariku, setiap kali itu juga aku semakin tertarik padanya. Kegilaan dan sikap tak terkendalinya membuatku seolah tersihir dan semakin dalam terjatuh. Aku tidak yakin dia menyadarinya atau tidak, tapi yang pasti aku sangat membenci pria yang mendapatkan perhatian lebih darinya.
Wajah pria itu sangat mirip dengan wajah mendiang Erlangga. Pertama kali aku melihatnya dalam CCTV yang ku pasang dirumah Ayasya, aku tidak begitu yakin dengan wajahnya. Aku langsung memerintahkan Shaka untuk mencari tahu tentang pria itu. Tak ada yang mencurigakan darinya, hanya saja aku merasa dia mencoba menyelinap ke dalam hati Ayasya menggunakan wajahnya. Tapi aku bersyukur, karena kehadiran pria itu akhirnya membuatku menyadari bahwa aku mulai mencintai Ayasya. Terlebih ketika aku sudah merasakan manisnya bibir nyonya kecilku itu, meski dengan sedikit paksaan.
Bibir itu membuatku candu dan ingin mencicipinya lagi. Namun, harga diriku begitu tinggi. Aku hanya bisa menatap bibir itu setiap malam ketika aku pulang bekerja. Inilah kebiasaan baruku, aku akan datang ke rumah Ayasya dan melihatnya terlelap. Jika dia tahu, dia pasti akan marah dan mengatakan jika aku Plankton mesum. Astaga, aku mulai menyukai umpatannya itu. Pernah suatu ketika, aku teringat jika dirinya sering terbangun tengah malam. Aku berpikir untuk meletakkan sebatang coklat di dalam lemari es bersama sebuah tulisan sederhana, tapi aku begitu terkejut ketika aku memeriksa rekaman CCTV di ponselku dan melihatnya sedang menangis sambil memakan coklat itu. Wanita itu selalu membuatku frustasi setiap waktu. Sikapnya yang tak terkendali membuatku bingung harus bersikap bagaimana terhadapnya.
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh