
Dunia ini memang aneh. Kejahatan selalu lebih unggul daripada kebaikan dan kejujuran. Dan kebenaran akan selalu muncul di akhir cerita ketika sang pemain sudah lelah menderita.
Aku tidak tahu apa dan bagaimana Maya, maksudku ibuku menjalani hidupnya selama ini. Anggaplah aku sudah menerima Maya sebagai ibuku, walaupun di hatiku masih terselip sedikit kekecewaan. Namun, aku sadar bahwa kebencian tidak akan pernah membawa diriku kepada kebahagiaan.
"Jadi, apa kau sudah memaafkan Maya?" celetuk Daffin, dia tiba-tiba sudah bergelayut di bahu Maya.
"Aku tidak tahu," jawabku ambigu seraya berjalan menuju kamarku.
"Hei, Nyonya Stevano, tadi kau mengatakan ingin menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Kenapa sekarang kau pergi sebelum masalahnya selesai?" teriak Daffin, aku masih bisa mendengar suaranya ketika menaiki anak tangga.
Daffin benar! Aku bersikeras untuk menyelesaikan masalah ini. Bahkan aku tidak memperdulikan waktu yang telah larut, tapi kenapa aku justru pergi begitu saja setelah mendengar penjelasan Maya. Ya Tuhan, apakah aku sudah memaafkan Maya? Atau apakah aku tidak bisa menerima alasannya? Ah, aku lelah dengan semua skenario ini. Lebih baik aku mengistirahatkan otak dan hatiku agar aku bisa menjalani hidupku untuk hari esok.
***
Semburat cahaya mentari dan kicauan burung mulai menyapaku di pagi hari. Sapuan angin tiba-tiba berhembus di telingaku dan membuat bulu kudukku berdiri karena kegelian yang menguasai tubuhku.
Dengan mata yang enggan terbuka, aku pun berbalik dan melihat sosok Daffin yang tengah berbaring di sampingku dengan posisi tubuh menghadapku. Dia bahkan dia mengenakan pakaian dan selimut pun hanya menutupi tempat tinggal si Jhonny terkutuk.
"Apa yang kau lakukan disini, Plankton!!!" Aku berteriak tepat di depan wajah Daffin.
Bukannya marah, Daffin justru menyunggingkan senyuman termanisnya padaku. "Apa kau lupa? Kau memelukku semalaman dan memintaku untuk menemanimu."
Flasback on ...
Entah karena faktor kehamilan atau karena masalah masa laluku, tubuhku rasanya lemah seolah tak berdaya.
Langkah kakiku gontai dan membawaku ke kamar yang aku tempati terakhir kali, yaitu kamar Daffin.
Setelah Daffin marah padaku malam itu, aku sudah memutuskan untuk mengambil alih kamarnya dan akan memindahkan semua barang-barang Daffin setelah pria itu menyetujuinya.
"Lelahnya ...," Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, lalu mengusap perutku yang mulai mengeras. "Pasti kau juga lelah, Sayang, maafkan ibu yang selalu membawamu dalam masalah dan perasaan yang resah."
Andai saja aku bisa memilih, rasanya akan lebih baik jika aku menjadi orang tua tunggal daripada aku harus hidup bersama Daffin.
"Sudahlah, Ayasya! Nikmati saja hidupmu." Tubuhku berguling-guling sebelum aku memutuskan untuk membersihkan diriku.
Di dalam kamar mandi, aku melihat pantulan wajahku di cermin. Memang benar, wajahku begitu mirip dengan Maya. Wajar saja jika semua orang mengatakan hal yang sama. Apakah Maya juga menyadarinya sejak awal? Atau dia memiliki petunjuk lain yang menyatakan bahwa aku adalah Lily? Sayang sekali, aku belum sempat menanyakan hal itu padanya.
"Baiklah, aku akan bertanya pada Maya besok." gumamku, kemudian mematut diriku di cermin sebelum keluar dari kamar mandi.
Aku memasuki walk in closet dan memandangi barisan gaun tidur seksi yang tersusun rapih. Entah siapa yang melakukan hal itu, tapi yang pasti itu adalah perintah si Plankton mesum menyebalkan. Dia pasti sengaja melakukan semua ini. Lihat saja! Aku akan membalasnya dengan hal yang sama.
Seringai jahat tersungging di bibirku ketika aku mengambil sebuah gaun tidur berwarna merah dan cukup terbuka dan hampir memperlihatkan seluruh bagian tubuhku.
"Wah, ternyata aku cantik juga." pujiku pada diri sendiri, saat cermin memantulkan bayangan tubuhku yang terbalut gaun tidur yang cantik dan seksi itu.
Awalnya aku pikir mungkin Daffin tidak akan masuk ke kamar untuk menyusulku. Itu sebabnya, aku memutuskan untuk tetap memakai gaun tidur itu. Namun, tubuhku terasa membeku ketika aku melihat sosok Daffin yang sudah berbaring di atas tempat tidur dengan pakaian yang sudah berpindah tempat, dari tubuhnya ke lantai.
"Se- Sejak kapan kau di sini?" tanyaku panik seraya menutupi belahan dadaku dengan kedua tangan.
"Tidak perlu di tutupi, aku sudah pernah melihat bahkan menikmatinya juga. Buktinya, kau bisa merasakannya sendiri di perutmu itu." seloroh Daffin, matanya menatapku dengan tatapan aneh. "Aku tidak menyangka kau akan mengenakan itu atas keinginanmu sendiri, Nyonya Stevano." goda Daffin.
__ADS_1
Dengan cepat aku menyambar selimut yang tertindih tubuh Daffin dan membuatnya sedikit bergerak ke bawah karena terbawa selimut.
"Astaga! Apa sekarang Nyonya Stevano makan banyak hingga kuat menarik tubuhku seperti ini?" canda Daffin, dia menahan tubuhnya ketika aku terus menarik selimut yang masih di bawah tubuh besarnya.
Aku mendengus kesal karena Daffin bahkan tidak mau mengalah padaku. "Aku kuat karena aku tidak sendiri! Kau lihat! Anakmu ada bersamaku."
Mungkin ada yang salah dengan kata-kataku karena tiba-tiba Daffin bangun dan membiarkan aku mendapatkan selimutnya. Tanpa membuang waktu, aku segera menutupi tubuhku dengan selimut itu dan tanpa sadar ternyata Daffin sudah berdiri di hadapanku.
"Kau mengatakan apa tadi?" tanya Daffin ketika pandangan kami bertemu.
"Apa?"
"Yang kau katakan tadi,"
"Yang mana?"
"Sebelum ini,"
"Seingatku, aku mengatakan banyak hal dan yang mana yang kau maksud, Daffin?" tanyaku seraya memutar bola mataku.
Daffin menghela nafas sebelum menjawab, "tentang bayi yang ada di perutmu."
"Kenapa?"
"Kau mengatakan bahwa bayi itu adalah anakku," ucap Daffin, tatapannya tiba-tiba berubah sendu.
"Tentu saja! Memangnya siapa lagi? Tidak mungkin jika bayi ini anaknya Ersya karena -"
Jari Daffin menempel di bibirku untuk membuatku berhenti bicara. "Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" selanya.
Apakah aku tiba-tiba menjadi bodoh? Ataukah aku memang benar-benar bodoh karena selalu menerima semua sentuhan Daffin tanpa bisa aku menolaknya. Tubuhku selalu merespon setiap sentuhan Daffin hingga aku pun merasa tidak terkendali.
Pagutan bibir kami semakin dalam dan menuntut hingga tubuhku pun akhirnya berada dalam gendongan Daffin, layaknya seorang anak yang berada dalam gendongan ayahnya.
Kaki besar Daffin melangkah dan mendekati tempat tidur untuk kemudian menurunkan aku, tapi tetap tidak melepaskan pagutan bibirnya.
Hawa panas menguar di seluruh tubuhku saat jemari Daffin mulai bermain di sana dan membuatku melayang hingga hampir saja lupa diri.
"Daffin, hentikan!" Aku menahan tangan Daffin dan berusaha untuk menguasai perasaanku. "Bayinya ...."
"Shit !!!" gerutu Daffin, kemudian membaringkan tubuhku sebelum dia pun menyusulku.
"Tidurlah!" ucap Daffin datar.
Aku pikir dia akan menemaniku, tapi ternyata dia langsung beringsut turun.
"Kau mau kemana?"
"Aku butuh udara segar untuk mendinginkan pikiranku."
Harusnya Aku senang dan membiarkan dia pergi, tapi aku tidak tahu kenapa hatiku menjadi sedih layaknya seorang kekasih yang akan berpisah. Astaga!!! Sepertinya aku sudah mulai tidak waras.
__ADS_1
"Aku ikut!" Kakiku sudah hampir turun jika Daffin tidak menahannya.
"Tidak, Nyonya Stevano, kau butuh istirahat. Lagi pula, kau tidak mungkin berkeliaran dengan pakaian seperti itu." Mata Daffin menatap tajam ke arah dadaku yang terbuka.
Mataku mengikuti arah pandangan Daffin. "Kenapa? Bukankah aku terlihat cantik?"
Daffin menghela nafas. "Kau memang cantik dan ...."
"Dan apa?"
"Dan menarik perhatian Jhonny."
Bukannya aku mesum, tapi aku memang yakin jika yang dikatakan Daffin adalah kebenaran karena aku bisa melihat sesuatu yang sesak di bagian bawah antara kakinya.
"Ah, Jhonny ...," Aku tersenyum kikuk. "Baik, pergilah! Aku akan tidur seorang diri seperti malam-malam sebelumnya."
Secepat mungkin aku kembali ke atas tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut.
"Jangan lupa matikan lampunya sebelum kau keluar!" teriakku dari balik selimut.
KLIK ...
Lampu pun padam. Kemudian aku merasakan sesuatu yang menggerayangi tubuhku dan berhenti di pinggangku.
Aku memukul-mukul benda itu, karena aku tidak bisa melihatnya dalam kegelapan.
"Aduh, sakit!" pekik Daffin, iya aku yakin itu Daffin.
Aku berbalik dan melihat Daffin sudah ikut bergabung bersamaku di balik selimut.
"Kau masih disini?"
"Aku tidak bisa jauh darimu."
"Terserah kau sajalah! Aku lelah, tapi ingat jangan sampai Jhonny terkutuk itu berulah!" ancamku dengan mata yang sudah tak kuasa menahan kantuk.
"Siap laksanakan, Nyonya Stevano," canda Daffin.
Dan malam itu, akhirnya aku bisa menjelajahi dunia mimpiku dengan nyaman.
Flasback off ...
"Tidak! Aku tidak memintamu melakukan itu!" hardikku, tak terima dengan pernyataan Daffin.
"Haruskah aku memasang CCTV di kamar ini agar kau tidak bisa menyangkal setiap tingkah anehmu padaku?" goda Daffin, dia sudah menunjang kepalanya dengan sebelah tangan kekarnya.
Aku pun berdecak. "Baiklah ... baiklah ... anggap aku melakukan itu, tapi kenapa kau tidak memakai pakaianmu?"
"Karena seseorang telah menyembunyikan semua pakaianku."
Hallo semuanya π€
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh