Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
ABSTRAK


__ADS_3

Kamar yang seukuran dengan rumahku itu langsung terbentang di depan mataku begitu kami berdua melewati pintu yang sempat menahan langkahku. Pandanganku terhenti di tempat tidur yang kosong dan terlihat rapih.


'Dimana kak Reena?' pikirku saat tak menemukan sosok cantik dan lembut yang selalu membuatku merasa bersalah.


"Jadi, apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di depan kamarku?" tanya Daffin, tangannya kembali menunjuk tubuhku yang masih terbalut handuk. "Dan dengan penampilan yang seperti ini." tambahnya.


Aku mengalihkan perhatianku pada Daffin yang masih memandangi tubuhku. "Mesum!!!" sungutku sembari menutupi bagian atas tubuhku dengan kedua tangan.


"Aku tidak suka yang tidak berbentuk sepertimu." ejek Daffin, di susul tawa yang menggema di seluruh ruangan.


"Tidak berbentuk? Kau pikir aku benda abstrak!" ketusku, kemudian memajukan bibirku sebagai tanda jika aku kesal dengan sikap Daffin.


Daffin berhenti tertawa dan menatapku dengan tatapan aneh yang membuatku sedikit risih. Daffin menyadari ketidaknyamananku, dia lantas mengelilingi tubuhku dan berhenti di belakangku. Tadinya aku akan berbalik, tapi tiba-tiba Daffin memeluk tubuhku dari belakang. Dagunya bersandar di bahuku seperti seorang anak yang sedang bermanja dengan ibunya.


"Daffin?" Suaraku berdecit karena terlalu terkejut dengan sikap Daffin.


"Diamlah, aku hanya menyukai aroma rambutmu. Kau memakai shampo apa?" Daffin memang terus-menerus menciumi rambutku hingga aku merasa geli.


"Tanyakan saja pada Rania! Dia yang menyiapkan segala kebutuhanku." tegasku, masih berusaha keras melepaskan lingkaran tangan besar Daffin di perutku.


Aku sempat mendengar Daffin mendengus sebelum dia melepaskan tangannya dari tubuhku. Aku segera berbalik dan melihat Daffin sedang membuka kemejanya yang berantakan dan sedikit basah karena terkena rambutku.


"Ini ulahmu." lontar Daffin, dia melepaskan kemejanya dan melemparkan kemeja itu tepat ke wajahku.


"Hei, otak udang! Kau yang memelukku. Kenapa jadi aku yang di salahkan?" Aku tak akan menerima tuduhan seperti itu dengan diam.


Daffin mengacuhkanku dan berjalan menuju walk in closet. Dan sejujurnya, untuk apa aku berubah mengikutinya ke dalam sana. "Apa aku bisa bertanya maksud keberadaanmu disini?" tanya Daffin.


'Benar, untuk apa aku disini? Bodoh!!!' batinku. "Aku mencari dimana pakaianku." jawabku beralasan.

__ADS_1


Pandanganku bertumpu pada tubuh atletis Daffin yang terpampang di hadapanku tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Sepertinya Daffin sangat suka berolahraga, tubuhnya sangat bugar dan juga sempurna.


"Pandang saja. Ini gratis." Daffin mendekatkan tubuhnya padaku.


"Tidak. Aku tidak suka tahu." elakku sembari menekan kotak-kotak yang ada di perut Daffin.


"Hahahaha ...."


"Kenapa kau tertawa? Aku bukan badut." sungutku, kesal dengan tingkah Daffin yang selalu menertawakanku.


"Siapa yang mengatakan kalau kau badut?" Wajah Daffin berubah serius. "Kau itu bintang laut." Lagi-lagi tawa berhambur dari bibirnya.


"Iya... aku bintang laut. Kau Plankton yang mudah aku injak dan aku makan kapanpun aku menginginkanya." sergahku.


Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu karena wajah Daffin langsung memerah. Kemarahan terlihat jelas di matanya, tangannya juga mengepal menahan ledakan emosi.


Daffin mengurangi jarak di antara kami berdua. Karena takut, aku mundur dan membentur dinding yang membuat aku semakin terpojok dan tak bisa melarikan diri. Satu tangan Daffin menahan tubuhku dari satu sisi, melihat celah di sisi lain aku pun mencoba melarikan diri. Namun, tangan Daffin lebih cepat dariku. Kini kedua tangan Daffin menahanku dari kedua sisi.


'Dia marah kenapa? Apa karena aku mengatakan dirinya Plankton? Ah, dia berlebihan.'


Wajah Daffin semakin dekat dengan wajahku, dan di saat yang tepat tiba-tiba saja kak Reena datang dan berdiri di ambang pintu.


"Daffin?" panggil kak Reena lembut, tapi kecemburuan terlihat jelas di matanya.


Daffin menjauhkan tubuhnya dariku. Wajahnya memerah, tapi kali ini karena malu sepertinya.


"Sepertinya aku mengganggu kalian." ucap kak Reena kemudian segera berbalik dan akan keluar dari keluar.


Aku melirik Daffin yang tidak bergeming sedikitpun dengan ucapan kak Reena. Lalu segera menyusul kak Reena sebelum semuanya terlambat. Aku tak ingin ada kesalahpahaman di antara kami berdua.

__ADS_1


"Kak Reena, tunggu!!!" teriakku, berlari menyusul kak Reena yang sudah keluar dari pintu kamar.


"Ada apa, Ayasya? Aku benar-benar minta maaf karena telah mengganggu waktu kalian. Aku tidak tahu jika kalian sedang -"


"Tidak, Kak. Ini semua hanya salah paham. Aku... aku sedang mencari Rania, tapi aku salah memasuki ruangan." Aku bersikap setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati kak Reena.


Kak Reena menatapku. Sepertinya dia mencari kejujuran dari mataku. "Tidak, Ayasya. Kau juga berhak atas diri Daffin. Seharusnya aku tidak mengganggu kalian."


Aku mulai panik. "Tidak. Tidak, Kak, aku sungguh-sungguh hanya sedang mencari Rania." elakku. Mataku nyalang seolah mencari sesuatu. "Dimana Rania?" tanyaku dengan suara yang lebih keras.


"Saya disini, Nyonya muda." jawab Rania, dia tiba-tiba muncul dari arah kamar Daffin. "Anda pasti sedang menunggu pakaian anda." ucap Rania, tangannya membawa pakaian yang aku maksudkan.


'Terima kasih, Rania. Kau telah menyelamatkan hidupku yang sudah hancur berserakan ini.'


"Ah, itu dia." Aku menoleh dan menunjuk Rania yang berjalan ke arahku. "Ayo, Rania! Kau membuatku menunggu dan berkeliaran dengan memakai handuk seperti ini." Aku terus saja memarahi Rania atas kesalahan yang aku perbuat. Jahat sekali diriku ini.


Aku tersenyum dan menampakkan deretan gigiku pada kak Reena. "Kak Reena, aku harus mengganti pakaianku. Sebaiknya Kakak menemui Daffin."


Kak Reena membalas senyumanku, kemudian memasuki kamar utama. Aku tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu itu. Ruangan yang kedap suara membuat orang yang berada di dalam tidak perlu khawatir orang akan menguping.


"Aku butuh es, Rania." ucapku pada Rania yang sedang berjalan di belakangku.


"Untuk apa, Nyonya muda?" tanya Rania heran.


"Untuk mendinginkan hatiku."


Hallo semuanya🤗


Jangan lupa jempol 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇beserta votenya 👈 sebagai mood booster untuk author 😍

__ADS_1


Share ceritanya Ayasya ini ke kenalan dan teman-teman kalian agar makin banyak yang kenal dengan Ayasya😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2