Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
BANGUNLAH, SHAKA!


__ADS_3

"Untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaanmu."


Tatapanku masih belum bisa berpindah dari sosok Daffin yang berdiri dengan penuh keyakinan. Aku masih mencoba untuk mencerna setiap kata yang terucap dari bibirnya. Bagaimana aku bisa menemukan jawaban dari kegelisahan di dalam ruangan yang hanya berisikan manusia yang tidak bisa melakukan apapun?


Kepalaku menggeleng samar. "Jangan katakan jika ... kau ingin aku bertanya pada Shaka!"


"Itulah maksudku, Nyonya Stevano!" sambar Daffin, matanya terfokus pada Shaka yang terbaring lemah tak berdaya. "Tanyakan padanya! Apa yang sudah dia lakukan untuk menghancurkan hubungan kita?" lirih Daffin berucap.


Awalnya aku tidak mengerti apa yang di maksud Daffin, tapi aku langsung menyadari ketika Daffin mengatakan hal yang begitu menohok hatiku.


"Demi cintanya padamu, dia rela mengkhianatiku. Anak jalanan yang aku selamatkan dari pada brandal dulu, kini mencoba untuk menghancurkan hidupku." Tangan Daffin meremas selimut yang menutupi sebagian tubuh Shaka.


Aku memekik terkejut hingga membungkam mulutku dengan kedua tangan. Seingatku, bukankah Shaka langsung mengatakan bahwa dia telah melupakan perasaannya padaku di hari berikutnya. Ternyata hal yang aku takutkan pun terjadi. Ada bom waktu yang sudah di siapkan olehnya dan itu berhasil membuatku berpisah dengan Daffin. Dan bodohnya aku, membantu melancarkan semua usahanya.


Dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku melangkah mendekati tempat tidur dimana Shaka tengah berbaring di sana. Aku memilih sisi yang berseberangan dengan Daffin, lalu menatap kedua pria yang selama ini tidak pernah terpisahkan itu.


"Bangunlah, Shaka!" Tanganku menggoyang-goyangkan tangan Shaka yang terpasang selang infus. "Apa kau tidak ingin membela dirimu? Hah!" tanyaku setengah berteriak.


"Dia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Itu sebabnya dia terus menutup matanya." Daffin tersenyum kecut.


"Tidak, Daffin! Dia hanya butuh alasan untuk membuka matanya." sergahku, masih menatap Shaka penuh harap.


Harapanku benar-benar tinggi kepada Shaka. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin tahu apa yang selama ini tidak ku ketahui. Aku ingin tahu apakah Daffin benar-benar mencintaiku dan aku ingin tahu banyak hal yang selama ini di sembunyikan oleh suamiku sendiri.


"BANGUNLAH, SHAKA!!! BUKA MATAMU DAN HADAPI AKU!!!" teriak Daffin seraya mengguncang tubuh Shaka.


Ada apa ini? Kenapa sekarang Daffin tidak bisa mengendalikan emosinya seperti ini? Apakah hatinya begitu terluka? Mungkinkah Shaka telah sangat mengecewakan dirinya?


Aku berputar mengitari tempat tidur Shaka dan memeluk tubuh Daffin dari belakang. "Tenanglah, Daffin! Aku disini. Aku masih bersamamu."


Sepertinya Daffin cukup merespon sentuhanku karena dia langsung diam mematung. Tak lama berselang tubuh Daffin ambruk ke lantai dan bersandar di sisi tempat tidur Shaka. Sementara aku hanya menatapnya hampa, masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Daffin ...," Aku memilih untuk duduk di samping Daffin dan menatapnya.


Daffin menoleh dan tersenyum simpul kemudian tangan besarnya meraih kepalaku untuk di benamkan di dadanya.


"Kenapa pernikahan kita begitu rumit, Nyonya Stevano?" tanya Daffin lirih.


Kepalaku mendongak untuk melihat wajah Daffin. "Bukankah kau yang menciptakan pernikahan ini?"

__ADS_1


Mata biru Daffin menatapku lekat. "Kau benar, semua ini memang salahku. Apa kau membenciku atas semua yang telah aku lakukan padamu?"


"Sangat!" sahutku dengan wajah memberengut sempurna.


Melihat raut wajah Daffin yang seketika muram, aku pun menarik senyum di bibirku dan mendaratkan kecupan di pipinya.


"Dulu, aku sangat membencimu. Bahkan sangat sangat sangat membencimu hingga rasanya aku ingin menenggelamkanmu di segitiga bermuda, tapi sekarang aku berharap jika dirimulah yang akan menjadi orang pertama yang aku lihat setiap kali aku membuka mata." celotehku, berharap bisa mengurangi perasaan bersalah Daffin.


Tiba-tiba Daffin berbalik dan merengkuh tubuhku. Dia menangis hebat di dalam pelukanku. Untuk sesaat, aku hanya membiarkan Daffin menumpahkan semua hal yang ada di hatinya. Lambat laun aku mengerti, walaupun Daffin terlihat tegar dan tegas serta dingin, tapi dalam hatinya dia adalah pria yang lembut serta rapuh.


***


Entah sudah berapa lama kami tertidur, tapi aku tersadar ketika mendengar suara seseorang memasuki ruangan.


"Lily!!!"


Mataku mengerjap ketika melihat om Rei sudah ada di hadapanku. "Om?"


"Kenapa kau bisa ada disini? Aku akan menghubungi Reyno." Om Rei sudah mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Tunggu, Om!" Aku berusaha untuk berdiri tapi kakiku terasa kram. "Aaahhh!!!" pekikku.


"Nyonya Stevano!" teriak Daffin, sepertinya dia terbangun karena mendengar suaraku. "Ada apa?" tanyanya.


"Om, lepaskan!" Tanganku memukul-mukul tangan om Rei yang langsung melepaskan cengkraman tangannya di kemeja Daffin.


Mata om Rei menatapku tajam. "Jangan merusak hidupmu dengan memilihnya, Lily! Dia alasan atas semua penderitaanmu. Kau harus ingat itu! Erlan, kedua putramu, dan juga kebebasanmu. Semua telah di renggut olehnya!"


Hatiku rasanya ingin meledak karena amarah ketika om Rei mengatakan semua kebenaran itu, tapi aku tidak serta merta menelan semua itu mentah-mentah.


"Ayah, ibu, dan identitas serta perusahaan. Semua itu juga aku dapatkan karena Daffin. Bersama dengannya aku menemukan kebahagiaan, Om! Daffinlah cinta pertamaku. Hanya dia yang bisa memompa darahku dengan lebih cepat dan hanya dia yang membuat jantungku berpacu seakan-akan takut kehilangan dirinya. Aku tidak akan mengatakan bagaimana rasanya jatuh cinta karena aku rasa Om lebih tahu bagaimana rasanya bila kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai." Aku menghapus air mata yang hampir jatuh ke pipiku.


Om Rei terpaku. Bibirnya bungkam dan diam seribu bahasa hingga akhirnya dia menghela nafas dan menepuk puncak kepalaku. "Kau sudah semakin dewasa dan lidahmu juga sudah semakin tajam."


Dan saat om Rei mencoba untuk mendekati Daffin, aku berusaha untuk menghalanginya.


"Bukankah ini terlihat aneh, Tuan Stevano? Istrimu yang hanya setinggi ini ...," Om Rei menyentuh bahunya. "Mencoba untuk melindungimu yang bahkan berukuran dua kali lipat lebih besar darinya." seloroh om Rei.


Baru saja aku akan membalas ejekan om Rei, tiba-tiba Daffin menggeser tubuhku sehingga aku berada di balik tubuhnya yang besar.

__ADS_1


"Tidak ada yang aneh dalam cinta, Dokter Reinhard! Dan aku yakin kau mengerti hal itu." sinis Daffin.


Aku memiringkan kepalaku dan melihat om Rei sedang menatap tajam Daffin lalu beralih menatapku.


"Kau benar, Tuan Stevano!" Om Rei menepuk bahu Daffin. "Jika kau benar, buktikan memang kau benar. Maka aku akan mendukungmu, tapi jika kau salah, aku adalah orang pertama yang akan menjauhkanmu dari keponakanku satu-satunya." ancam om Rei.


Aku berusaha untuk menilik reaksi Daffin. Dan sungguh di luar dugaan, Daffin sudah tersenyum sinis.


"Sekarang juga aku bisa membuktikannya. Aku hanya menunggu seseorang membuka matanya dan mengakui semua kesalahannya." Daffin melemparkan tatapan terjahatnya pada Shaka.


Aku berdecak. "Sejak semalam, kau terus menyalahkan Shaka. Sungguh malang nasibnya! Kau menjadikannya kambing hitam hanya karena dia tidak bisa membantah ucapanmu."


Daffin melangkah ke sisi tempat tidur Shaka. "Kau akan membuka matamu atau aku akan mengungkapkan semuanya sekarang juga."


"Hei, Plankton! Kau pikir dia akan membuka matanya begitu saja." Aku menepuk tangan Daffin.


"Dia harus membuka matanya atau kau tidak akan pernah percaya dengan apa yang aku katakan padamu!" tegas Daffin.


"Daffin, katakan saja yang sebenarnya! Aku janji akan mempercayaimu." Bibirku mengulas senyuman.


Aku bisa mendengar Daffin menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menatap sekilas ke arah Shaka. "Penyerangan yang terjadi padaku, telah di rencanakan oleh Reena dan juga ... Shaka. Dan aku juga tidak pernah memberikan uang kepada Reena sejak aku menjemputmu dari rumah keluarga Kencana. Aku yakin, Shaka adalah orang yang bertanggung jawab untuk itu."


"Tidak mungkin!" hardikku, tak percaya.


Daffin tersenyum kecut. "Sudah ku duga, kau tidak akan percaya."


Aku segera meraih tangan Daffin. "Tidak! Bukan itu maksudku, Daffin, hanya saja tidak mungkin rasanya Shaka berniat untuk menyakitimu."


"Lily benar, Tuan Stevano!" sahut om Rei.


Daffin mengusap wajahnya kasar "Aku juga berharap semuanya tidak mungkin. Aku juga berharap jika aku tidak pernah mengetahui kebenaran ini."


Ini pasti berat bagi Daffin. Meskipun aku cukup terkejut, tapi aku langsung memeluk Daffin dan mencoba untuk menenangkannya. "Mungkin Shaka memiliki alasan di balik perbuatannya, Daffin."


"Aku harap seperti itu."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2