Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PINTU RUSAK


__ADS_3

Amarah yang kini aku rasakan lebih kepada sikap bodoh Maya yang lebih memilih mendatangi kandang harimau seorang diri. Aku tidak mengerti jalan pikirannya, kenapa dia harus membahayakan dirinya sendiri hanya untuk sesuatu yang sudah pasti tidak akan dia dapatkan.


"Dan kau mendapatkannya?" tanyaku yang di balas gelengan kepala oleh Maya. "Itu artinya kau hanya mencari masalah untukku." sungutku kesal.


Aku melihat Maya menatapku dengan penuh harap sebelum dia menunduk dan terisak. "Maafkan Ibu, Sayang, karena Ibu selalu membuat rumit hidupmu."


Sebenarnya, aku tidak marah kepada Maya, tapi aku hanya menyayangkan sikap gegabahnya yang tak beralasan.


"Tidak perlu minta maaf. Aku hanya tidak mengerti, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apakah kau pikir aku menginginkan kekayaan suamimu itu?" sinisku, langkah kakiku terasa berat ketika aku menghampiri Maya.


Daffin yang sedang duduk di samping Maya pun berdiri untuk memberikan ruang padaku. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, bahkan ketika pandangan kami bertemu. Daffin hanya terdengar menghela nafasnya yang terasa berat. Hah! Mungkin dia mulai lelah mengurusi masalah rumah tangga keluarga Kafeel. Atau mungkin juga dia mulai jengah dengan orang-orang dari keluarga Kafeel, termasuk diriku. Jika aku memang di akui oleh tuan Kafeel yang di sebut-sebut adalah ayah kandungku.


Maya masih terisak saat aku sudah menggantikan Daffin untuk duduk di sampingnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia tangisi saat ini, tapi baik aku ataupun Daffin hanya diam menunggu Maya mengatakan segalanya.


"Maaf," lirih Maya akhirnya setelah dia bisa menguasai emosinya.


"Tidak perlu meminta maaf, Maya, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya." ucap Daffin lembut.


Semakin lama aku bersama Daffin, semakin banyak hal-hal menakjubkan yang di tunjukkan olehnya. Mulai dari kesabaran dan kelembutannya dalam menghadapi ulahku. Dan kini dia bahkan menunjukkan kebijaksanaannya dalam menghadapi masalah ini, tapi tunggu dulu! Apakah ada kemungkinan dia bersikap tenang karena dia tidak ingin bersinggungan dengan Reena? Bisa saja Daffin masih memiliki perasaan terhadap Reena.


"Seperti kau dan juga Reena," sindirku, seutas senyum licik tertarik di sudut bibirku.


"Itu hanyalah masa lalu, Nyonya Stevano, dan sekarang aku sedang mencoba untuk memperbaikinya." sanggah Daffin, dia terlihat tidak nyaman ketika aku menyebut nama Reena.


Aku hanya mencebik, untuk kemudian beralih menatap Maya. "Bagaimana reaksi tuan Kafeel saat putrinya sendiri menampar istrinya?"


Maya seketika menoleh dan menatapku dengan dahi berkerut. "Kau, Sayang, hanya kau putri ayahmu. Reena hanyalah anak tidak sah ayahmu karena sampai saat ini ayahmu belum menikahi ibunya Reena. Jangan pernah berpikir bahwa hanya Reena putri ayahmu!"


Jika di tanya bagaimana perasaanku ketika aku mengetahui kebenaran ini, jujur saja aku ingin tertawa sekeras-kerasnya. Namun, aku tidak seperti Reena dan ibunya. Aku masih punya hati yang tidak akan mungkin mengkhianatiku.


"Kasihan sekali pasangan ibu dan anak itu. Mereka sudah berusaha untuk menyingkirkan aku, tapi mereka tetap berada di posisinya." Seringai jahat menjadi pengiring ucapan sinisku.


Tiba-tiba tangan Maya menggenggam tanganku. Aku merasakan sebuah kehangatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


"Sayang, kau adalah putri tunggal ayah dan ibu. Hanya kau yang berhak memiliki semua yang di miliki oleh ayahmu." ucap Maya, aku melihat sesuatu di mata Maya. Sebuah ambisi.


"Maaf," Aku menarik kembali tanganku yang di genggam Maya. "Aku tidak pernah haus harta, yang aku inginkan di dunia ini hanyalah kasih sayang karena uang tak akan bisa membeli kebahagiaan."

__ADS_1


"Ibu tahu, Sayang, tapi kau berhak untuk segalanya. Terlebih mereka berdua sudah membuat Ibu kehilangan dirimu." tutur Maya, suaranya bergetar menahan tangis.


"Itu bukan salah mereka. Andai saja dulu kau memiliki keberanian, semuanya tidak akan menjadi seperti ini." ketusku seraya berdiri dan pergi meninggalkan Maya yang masih terkejut dengan ucapanku.


***


Di dalam kamar, aku terus berguling-guling kesana kemari hingga selimut membungkus tubuhku dengan sempurna.


"Aaaaahhhhh ... kesalnya aku!!!" teriakku dari dalam selimut.


Malam semakin larut, tapi aku masih tidak bisa memejamkan mataku. Sesuatu seperti memaksaku untuk terus membuka mata.


"Nyonya Stevano ...."


Telingaku menangkap suara Daffin yang berada di balik pintu. "Daffin?"


"Iya, Nyonya Stevano, apa kau sudah tidur?" tanyanya pelan.


"Jika aku sudah tidur, lalu siapa yang baru saja menyebut namamu?" sungutku seraya menyibak selimut yang menutupi tubuhku.


Samar-samar aku mendengar Daffin terkekeh dari balik pintu sebelum dia kembali menggodaku. "Aku pikir mungkin kau bermimpi indah dan menyebut namaku dalam tidurmu."


"Aku memang selalu memimpikan dirimu. Sayang sekali kau tidak bisa melihatnya." Tawa renyah Daffin terdengar begitu merdu di telingaku.


Astaga!!! Sepertinya aku akan segera kehilangan akalku jika terus mendengar bualan Daffin.


"Lain kali aku akan masuk ke dalam mimpimu dan membawa pasukan ubur-ubur untuk menyengatmu!" gertakku, di iringi pukulan yang cukup keras di pintu.


Tanpa sadar aku mengaduh karena merasakan nyeri di tanganku akibat aku memukul pintu dengan cukup keras.


"Nyonya Stevano? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Buka pintunya!" Daffin memukul-mukul pintu dengan keras.


"Aku tidak apa-apa, kenapa kau berteriak seperti itu? Jika kau ingin masuk, masuk saja! Kenapa menyuruhku membuka pintu? Kau punya tangan kekar. Gunakan tanganmu itu!" jawabku acuh, kemudian kembali naik ke tempat tidur.


BRAK ...


Tiba-tiba pintu terbuka dengan paksa. Sontak saja aku langsung menoleh dan melihat Daffin yang baru saja menurunkan kakinya. Tebakanku, dia baru saja menendang pintunya agar terbuka.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau merusak pintunya?" tanyaku, ketika Daffin melangkah masuk.


"Mau bagaimana lagi? Sepertinya pintu itu lebih suka aku paksa. Dia lebih suka jika aku berbuat kasar." bisik Daffin.


Aku tidak menyadari jika dirinya sudah berada di dekatku karena pikiranku terfokus pada pintu yang kini sudah rusak.


Bisikan Daffin di telingaku langsung membuatku menoleh hingga menyisakan beberapa centi saja antara wajahku dan wajah Daffin.


Ya Tuhan, apa ini? Kenapa jantungku berdegup sangat kencang? Bagaimana jika si Plankton menyebalkan ini mendengarnya? Dia pasti akan membawaku ke spesialis jantung.


Deru nafasku dan Daffin saling bersahutan. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafas Daffin yang hangat di wajahku karena dia semakin mendekatkan wajahnya padaku.


Ketika Daffin sudah memiringkan kepalanya dan hampir saja mendaratkan bibirnya di bibirku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu hingga memaksa Daffin untuk menoleh.


"Shaka!" Daffin berdecak kesal. "Siapa yang memberimu keberanian untuk menggangguku?" tanya Daffin penuh amarah.


Mendengar nama kanebo disebut, aku pun menoleh dan melihat Shaka yang langsung menganggukkan kepalanya padaku.


"Maaf, Tuan, karena pintunya terbuka jadi saya pikir anda tidak sedang ...," Shaka terlihat merasa sangat bersalah hingga tak mampu menyelesaikan kalimatnya.


"Pintunya rusak! Tapi matamu tidak rusak bukan? Harusnya kau -" ucap Daffin menggantung karena aku langsung menyelanya.


"Pergilah, Shaka! Atau dia akan menelanmu hidup-hidup." selorohku, di susul gelak tawa yang sebenarnya tidak pada tempatnya.


"Baik, Nyonya," jawab Shaka kemudian bayangannya menghilang secepat kilat.


"Kenapa kau menyuruhnya pergi?" tanya Daffin, kilatan amarah nampak jelas di matanya.


"Karena dia tidak bersalah," jawabku santai.


Daffin berdecak. "Dia jelas bersalah karena sudah menggangguku."


"Mengganggu apa? Yang benar adalah Shaka menyelamatkanku dari seranganmu."


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2