
Hormon kehamilan memang terkadang membingungkan serta penuh keunikan, tapi aku benar-benar menikmatinya karena aku merasa dengan ini aku semakin memahami arti dari kehadiran seorang ibu.
"Karena aku juga pernah mengalami hal yang sama saat aku mengandungmu dulu." Maya memakaikan topi rajut berwarna putih di atas kepalaku dengan lembut.
Dalam jarak dekat seperti ini, aku menyadari betapa pentingnya Maya bagi hidupku. Aku teringat masa saat kak Erlan meninggalkan aku sendiri di dunia ini, dan aku merasa bahwa aku hanya seorang diri bahkan ketika Daffin telah menikahiku. Kehamilan terasa begitu berat bagiku. Tak ada yang memperhatikan dan juga mencurahkan kasih sayang padaku. Tidak ada tempat bertanya dan berbagi seperti saat ini.
Memikirkan semua itu membuat air mataku menggenang dan mengaburkan pandanganku hingga aku pun menyeka air mata yang hampir saja menerobos dari mataku.
"Sudah," seru Maya, tangannya dengan lembut mengusap topi yang sudah terpasang rapih di kepalaku. "Jangan lupa pakai ini juga!" titah Maya seraya memakaikan kacamata hitam padaku.
Ya Tuhan, beginikah rasanya memiliki ibu? Andai saja dulu Maya tidak membuangku, aku pasti akan mengalami hal seperti ini setiap kali aku akan pergi ke sekolah.
"Kau sudah selesai dengan dramamu?" tanyaku ketus pada Maya.
Maya terlihat sangat terkejut dan salah tingkah ketika pandangannya bertemu denganku. Dia bahkan mematung di tempatnya seolah ada yang menahannya.
"Jika kau sudah selesai, bisa tolong beri aku jalan! Aku ingin segera menghirup udara segar yang bebas dari kemunafikan." Sudut mataku menangkap kegelisahan di wajah Daffin.
Aku berani bertaruh jika Daffin sebenarnya marah atas sikapku pada Maya, tapi dia pasti berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi janjinya padaku untuk tidak mencampuri urusanku dengan Maya.
"Maaf, Sayang, Ibu hanya -"
"Hanya ingin membuatku merasa bersalah padamu. Atau hanya ingin merubah pikiran burukku tentangmu? Silahkan coba saja! Semoga kau berhasil." sinisku seraya berjalan melewati Maya yang masih tertegun akan sikapku.
Di balik sikap dinginku pada Maya, sebenarnya aku menyimpan kerinduan yang teramat sangat akan sosok ibu yang begitu aku harapkan kehadirannya dalam hidupku.
"Tunggu, Nyonya Stevano!" pinta Daffin, aku bisa merasakan pergelangan tanganku yang di tahan olehnya.
"Ada apa? Berubah pikiran untuk mengantarku?" tanyaku dingin, bahkan tanpa menoleh pada Daffin.
Selama beberapa detik hanya tersisa keheningan di antara kami sebelum Daffin menjawab, "tidak mungkin aku mengecewakan ibu dari anak-anakku."
***
__ADS_1
Di dalam mobil, Daffin terus saja melirik kaca spion yang mengarah ke kursi penumpang belakang yang sedang ku duduki saat ini.
"Kau yakin?" tanya Daffin ragu.
Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi dan memejamkan mataku. "Tentu saja!"
Terdengar suara Daffin berdecak cukup keras, hingga membuatku terpaksa membuka mata dan melepaskan kacamata yang bertengger di hidungku.
"Kenapa mobil ini belum bergerak? Apakah mobilnya mogok? Astaga! Mobil mewah Tuan Stevano ternyata kurang perawatan." candaku dengan pandangan yang terfokus pada kaca spion tengah mobil Daffin.
Daffin memutar kepalanya dan menatapku kesal. "Apa kau sungguh-sungguh akan duduk di belakang seperti itu? Jangan buat aku terlihat seperti seorang supir, Nyonya Stevano!"
Aku tersenyum penuh kemenangan mendengar keluhan Daffin. "Salahmu sendiri! Kenapa kau tidak membiarkan Shaka yang mengantarku? Atau setidaknya biarkan dia yang mengemudi."
"Ya, memang aku yang bersalah karena terlalu mencintaimu." lirih Daffin seraya memutar kembali kepalanya dan menghidupkan mobil.
Setidaknya, drama singkat ini sedikitnya menghiburku yang sempat hanyut dalam perasaan bersalahku pada Maya.
Dalam anganku dulu, aku selalu bermimpi akan memeluk ibuku ketika aku bertemu dengannya. Tidak perduli ibuku kaya atau miskin, cantik atau tidak. Yang aku inginkan hanya kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Memang benar, kak Erlan dan keluarga Kencana memberikan aku kasih sayang yang berlimpah dan berlebih. Mereka bahkan membiarkan aku melakukan semua hal yang aku inginkan. Namun, hal itu berdampak kurang baik padaku. Aku tumbuh menjadi anak manja yang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan kak Erlan.
"Nyonya Stevano?"
Suara Daffin menyedotku kembali ke alam nyata dimana aku masih terduduk di kursi belakang mobil Daffin, tapi kini mobilnya sudah berhenti di lobby sebuah pusat perbelanjaan.
"Hemm ...," jawabku malas.
"Apa yang kau lamunkan? Ayo, turun!" Daffin membuka safety belt yang melilit tubuhnya.
Pandanganku berkeliling sebelum aku memutuskan untuk keluar dari mobil. "Bisakah kita tidak turun disini, Daffin?"
Daffin menghentikan gerakan tangannya. "Kenapa?"
"Kau lihat!" Aku menunjuk ke arah cahaya matahari yang berada di puncak kepala pada jam begini. "Matahari bersinar sangat terang disini." lontarku.
__ADS_1
Daffin memiringkan kepalanya dan menatap ke atas langit melalui kaca mobilnya, kemudian menoleh padaku dengan tatapan bingung. "Tapi kau sudah menutupi seluruh tubuhmu. Aku rasa tidak ada masalah jika kita keluar."
"Tidak! Aku ingin turun di basement." sergahku dengan tangan yang terlipat di dada.
"Baiklah! Sesuai perintahmu, Nyonya Stevano," ucap Daffin lembut. Namun, penuh penekanan.
Dan mobil pun melaju ke arah basement yang gelap dan tak terkena cahaya matahari. Daffin memarkirkan mobilnya dengan cepat, kemudian keluar dari mobil untuk membukakan pintu untukku.
"Silahkan, Nyonya Stevano!" ucap Daffin sopan, layaknya seorang pelayan yang menyambut tuannya.
Langkah kakiku masih terasa ragu ketika akan melangkah keluar dan menilik keadaan di sekitarku.
"Daffin, apa tidak masalah jika aku berpenampilan seperti ini?" bisikku, khawatir akan ada yang mendengar ucapanku.
Daffin terkekeh, matanya terus menatapku dari atas kebawah. Dimana aku masih mengenakan topi rajut, kacamata hitam dan juga jaket yang lebih terlihat seperti seseorang yang ingin bermain salju.
"Tidak akan ada yang berani menertawakan dirimu, meskipun mereka sangat ingin." seloroh Daffin, jemari tangannya menutupi bibirnya yang bergetar menahan tawa.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Atau mereka akan mendapatkan predikat baru sebagai penghuni dasar laut. Hahaha ...," Akhirnya pecah juga tawa Daffin yang sudah sejak tadi dia tahan.
"Tertawalah! Kau akan merasakan akibatnya nanti saat anakmu telah lahir. Aku akan mengatakan padanya bahwa kau selalu menertawakan semua keinginannya dan selalu membuatku kesusahan." sungutku kesal.
Merasa aku terlihat seperti sesuatu yang menggelikan, aku pun membuka semua benda-benda yang di berikan Maya dan hanya menyisakan pakaian yang aku kenakan sebelumnya.
"Hei, kenapa kau melepaskan semuanya?" tanya Daffin, dia terlihat menyesal karena telah menertawakan aku.
"Karena aku yakin, di dalam sana tidak ada matahari."
Hallo semuanya 🤗
SELAMAT HARI IBU 🥳🥳🥳
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh