
Pengkhianatan adalah hal yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan. Meskipun hati mencoba untuk melupakan dan memaafkan, tetapi ingatan akan terus kembali ke tempat yang sama. Tempat dimana ia pernah terluka.
"Aku benar-benar tidak menduganya." Daffin menarik-narik rambutnya untuk meluapkan kekesalannya.
Aku menahan tangan Daffin. "Hentikan, Daffin! Apa yang kau lakukan? Menyakiti dirimu sendiri tidak akan membuat masalahmu cepat selesai."
Mata biru Daffin menatapku. "Lalu, bagaimana caranya aku menebus semua rasa sakit yang ada di hatimu, Nyonya Stevano?"
Inilah kesempatanku! Aku harus mengetahui semua yang ingin aku ketahui selama ini. Aku tak yakin akan memiliki kesempatan seperti ini lagi ke depannya.
"Katakan semuanya padaku! Katakan semua hal yang kau sembunyikan dariku! Katakan apa yang membuatmu menikahiku! Dan katakan, sejak kapan aku mulai ada di hatimu?" tuntutku, berharap Daffin akan mengungkap segala hal saat ini.
Saat ini, aku dan Daffin sedang berada di ruangan om Rei. Awalnya aku hanya ingin membuat Daffin merasa tenang karena dia selalu marah setiap kali melihat Shaka, tapi kesempatan emas ini datang dan aku pun tidak akan melewatkannya.
"Nyonya Stevano ...," panggil Daffin lirih, dia meraih tanganku dan menciuminya. "Sebelum aku mengatakan segalanya, maukah kau berjanji untuk tetap bersamaku?" tanyanya.
Sepertinya Daffin butuh kepastian sebelum mengungkapkan kebenaran, tapi hal itu membuatku yakin jika apa yang akan dia katakan akan sangat menyakiti aku.
"Aku hanya akan berjanji jika aku akan mendengarkan penjelasanmu hingga akhir. Dan apa yang akan aku putuskan nanti, aku tidak bisa berjanji padamu." Senyuman tipis mengulas bibirku.
Tampaknya apa yang aku katakan sedikit mengecewakan bagi Daffin. Namun, dia tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tidak masalah, Nyonya Stevano. Memang seharusnya aku tidak terlalu banyak menuntut kepadamu," cicit Daffin.
Walaupun hatiku masih ragu, tapi aku berusaha untuk menerima semua yang akan di katakan Daffin. Aku menaruh harapan besar pada hubunganku dengannya.
"Aku tahu, selama ini kau telah banyak menderita setelah kepergian Erlangga. Tapi sungguh, aku tidak berniat sedikitpun untuk menambah kepedihan dalam hidupmu. Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Itu adalah keputusan paling egois yang pernah aku buat." Sudut mata Daffin sudah berkaca-kaca. "Aku pikir, aku bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai suami dan aku juga bisa melindungimu di saat yang bersamaan. Namun, yang terjadi memang di luar kuasaku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai terpikat olehmu. Dan tanpa ku sadari, perasaanku menciptakan masalah baru bagimu. Aku, kau, dan Reena, kita bertiga berdiri di tepi jurang. Aku harus memilih salah satu di antara kalian, dan aku memilihmu bukan karena kau mengandung putraku, tapi karena aku mencintaimu. Hanya kau wanita yang aku cintai, baik itu sebagai Ayasya ataupun Lily. Kau boleh percaya atau tidak, tapi hatiku sudah terpaut padamu sejak pertama kali kita bertemu." jelasnya.
Ya Tuhan, hatiku bergetar mendengar pengakuan Daffin. Ingin rasanya aku memeluknya erat, tapi masih banyak hal yang belum dia katakan padaku.
"Aku ingin mengatakan bahwa kau berbohong, tapi aku sudah berjanji akan mendengarkan sampai akhir. Baiklah, lanjutkan!" lontarku, membuat wajah polos.
Daffin terkekeh, sedikitnya dapat mencairkan suasana. "Ada banyak hal yang tidak bisa aku katakan, tapi aku yakin kau merasakannya jika selama ini aku berusaha untuk memenuhi semua keinginanmu. Kecuali, untuk pergi jauh dariku."
Aku mengangguk untuk menyetujui ucapan Daffin.
"Aku melakukan banyak upaya untuk menjauhkan Reena dari hidup kita. Kau tahu, aku sudah menceraikannya sebelum aku menikahimu." Daffin membelai rambutku penuh cinta.
Mulutku menganga mendengar penjelasan Daffin. Aku memang mengetahui jika Daffin menceraikan Reena, tapi aku tidak menyangka jika dugaanku tentang perceraian itu terjadi sebelum pernikahan ini benar adanya.
"Tidak ada yang tahu jika kau Lily, tapi entah mengapa hatiku selalu ingin bersamamu. Ketika aku menikahimu di rumah sakit, jujur separuh hatiku merasa hal itu adalah sebuah dosa. Tapi separuh hatiku yang lain begitu bahagia mendapati dirimu sebagai milikku. Maafkan aku karena hanya demi membuatmu tetap berada di sisiku, aku bahkan menyakitimu dengan kata-kata dan juga sikap kasarku. Semua itu aku lakukan hanya agar kau tetap berada di sisiku, Nyonya Stevano." Daffin langsung merengkuh tubuhku hingga membuatku terasa sesak.
Aku mendorong tubuh Daffin dengan sekuat tenaga. "Daffin! Aku tidak bisa bernafas."
__ADS_1
Tangan besar Daffin menangkup kedua pipiku. "Kau butuh oksigen?"
"Tidak!" Aku memalingkan wajahku ke arah lain. "Jangan mengalihkan pembicaraan! Lanjutkan pembelaanmu atau aku akan menutup sidang ini sekarang juga!" ancamku.
Daffin langsung mengecup keningku sekilas dan menyatukan kedua tangannya. "Tidak, Bu Hakim yang terhormat. Tolong dengarkan aku dulu!"
Astaga!!! Aku tidak bisa menahan tawaku melihat wajah memelas Daffin yang di buat-buat seperti itu.
"Baiklah, Terdakwa. Aku mendengarkanmu." Tanganku menangkup kedua tangan besar Daffin.
"Terima kasih, Nyonya Stevano," ucap Daffin. "Aku tidak menyangka jika Reena akan berbuat nekat dan menyakitimu, itu sebabnya aku memutuskan untuk mengembalikannya ke keluarga Kafeel, tapi ternyata dia wanita yang licik. Dia mengancamku dengan menggunakan Maya. Itu sebabnya aku menghilang selama satu bulan dan aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku memohon satu maaf lagi darimu, Nyonya Stevano!"
Bola mataku berputar, mencoba mencari ingatan akan hal yang baru saja di ungkapkan Daffin. Ah, aku ingat! Dia pasti sedang membicarakan saat aku menunggunya di rooftop sepanjang malam.
"Tenang saja, Tuan Stevano! Aku memiliki banyak maaf untukmu." seruku, di susul senyuman secerah mungkin.
"Aku memang tidak salah memilihmu, tapi kau tahu, aku sempat takut jika kau akan berubah menjadi seperti Reena saat kau berambisi untuk merebut kembali hakmu darinya. Aku merasa kau bukanlah dirimu, Nyonya Stevano, itu sebabnya aku memintamu untuk kembali." Tangan besar Daffin kembali menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Kepalaku mendongak dan melihat wajah Daffin yang di penuhi kekhawatiran. "Apa yang kau takutkan? Aku putrinya Maya Kafeel, wanita paling lembut di dunia. Mana mungkin aku menjadi jahat seperti si gurita betina itu!"
Bibir sensual Daffin mendarat di bibirku, tangannya menahan tengkukku agar tidak memberontak. Cukup lama kami saling melepaskan hasrat yang terpendam selama satu bulan ini. Ah, wajahku sampai memerah karena bara api yang membara di antara kami.
"Kau mencoba mengalihkan perhatianku, Daffin!" sergahku, mencoba menutupi rasa malu yang tiba-tiba menguasaiku.
"Sudahlah!" hardikku kesal. "Lanjutkan pembelaanmu!" titahku.
"Baik, Nyonyaku, apalagi yang ingin kau ketahui?" tanya Daffin, raut wajahnya berangsur ceria.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Daffin, apa yang kau sembunyikan dariku tentang Reena?"
Kening Daffin mengerut dan kedua alisnya menukik tajam. "Tidak ada!"
"Benarkah?" tanyaku, butuh kepastian.
"Tentu! Aku sudah mengatakan semuanya." Daffin mencoba untuk menciumku lagi, tapi aku menolaknya. "Kenapa, Nyonya Stevano?"
"Aku masih ingin tahu satu hal! Saat Reena datang ke rumah kita hari itu, kau memintaku untuk kembali ke kamar sedangkan kau pergi bersama Shaka ke ruang kerjamu. Kau bahkan tidak membiarkan aku masuk! Dan ya, saat itu kau juga memerintahkan Rania untuk menahanku agar tidak menemui Reena. Aku ingin tahu, apa alasanmu?" tanyaku curiga.
Daffin menghela nafasnya dalam. "Itu karena aku tidak ingin dia mengetahui kehamilanmu. Aku tidak ingin dia mengincar anak kita, seperti yang di katakan daddy. Dan tentang aku yang tidak ingin menemuimu, itu tidak benar! Aku hanya tidak mengetahui bahwa kaulah yang datang ke ruang kerjaku, Nyonya Stevano, saat itu aku begitu marah pada Shaka karena dia mengungkapkan tentang perasaannya padamu kepadaku."
"Hanya itu? Aku rasa kau masih perlu menjelaskan kenapa kau tidak melaporkan Reena karena melakukan penyerangan terhadapmu?" sinisku bertanya.
"Itu karena Shaka!" sahut Daffin, rahangnya menegang.
__ADS_1
Aku memutar bola mataku malas. "Shaka lagi yang kau salahkan?"
"Karena dia memang bersalah! Dia terlibat dalam penyerangan itu." geram Daffin. "Dia dan Reena yang merencanakan semuanya. Jika aku melaporkan Reena, maka Shaka juga akan terbukti bersalah. Apalagi uang yang mereka gunakan berasal dari rekeningku. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka melakukan itu, tapi yang pasti aku benar-benar merasa telah di khianati." keluhnya.
"Mungkin Shaka tidak memiliki pilihan lain, Daffin," ucapku ragu.
"Atau mungkin juga, dia sengaja melakukan ini untuk menjauhkan dirimu dariku. Aku mengerti Reena melakukan itu karena dia marah padaku, tapi Shaka? Dia yang telah menyakitiku karena menaruh hati padamu." Tangan Daffin terkepal kuat.
Aku mencoba menenangkan Daffin dengan menggenggam tangannya. "Bisa saja Reena memaksa Shaka. Kita harus menunggu Shaka bangun untuk mencari jawabannya."
"Shaka pria yang pintar, Nyonya Stevano! Dia tidak akan mudah di ancam, apalagi hanya oleh seorang wanita seperti Reena." sanggah Daffin.
Benar juga! Dan kini aku juga mulai meragukan kesetiaan Shaka kepada tuannya.
"Mungkin ini juga kesalahanku! Seharusnya aku tidak memberikan celah bagi Reena. Dia dan Shaka mungkin berpikir jika aku lemah," desis Daffin, memaksaku untuk menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Maafkan aku, Nyonya Stevano, aku telah memberikan rumah lamaku dan juga salah satu anak perusahaan pada Reena sebagai pemenuhan tanggung jawabku kepadanya. Aku berpikir, jika dia jatuh miskin karena kehilangan semua asetnya, dia akan semakin mengincarmu. Tapi hatinya memang jahat, dia tidak mengerti niat baikku kepadanya." Tatapan Daffin di penuhi penyesalan.
Aku menghembuskan nafasku kasar. "Aku susah payah membuatnya merasakan apa yang aku rasakan, tapi kau justru mengasihani dirinya."
"Maafkan aku, Nyonya Stevano," lirih Daffin.
"Ada berapa banyak lagi maaf yang kau inginkan dariku?" sindirku, mulai kesal dengan semua penjelasan Daffin.
Daffin menaikkan pandangannya dan menatapku. "Tidak ada! Dan aku harap tidak akan ada lagi."
Aku memejamkan mataku sesaat dan membayangkan wajah ibu serta percakapanku dengan ibu di meja makan kemarin.
"Daffin ...," panggilku seraya membuka mata.
"Hemm ...." sahut Daffin.
Tatapan kami bertemu dan saling terikat satu sama lain.
"Ayo, kita bercerai!"
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh