Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
AWAL DAN AKHIR


__ADS_3

"Nyonya Stevano, maukah kau menua bersamaku? Menyaksikan anak-anak kita bermain, sekolah, menikah dan akhirnya mereka pun pergi jauh dari kita sehingga hanya tinggal kita berdua."


Lamaran Daffin di atas panggung terus saja mengusik hatiku. Jantungku bahkan tetap berdegup kencang, meskipun kini kami sudah berada di sebuah restoran.


"Kenapa kau tidak makan?" tanya Daffin, ketika aku hanya diam menatapnya.


Bagaimana aku akan makan? Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini dan itu pun terjadi setelah banyak hal pahit yang aku alami. Tidak pantaskah jika aku merasa sangat bahagia dan rasanya sangat ingin melayang?


"Aku ... aku tidak lapar!" elakku, mencoba mencari alasan yang tepat.


"Sungguh?" tanya Daffin curiga.


Aku mengangguk pasti. "Tentu!"


"Ini aneh, Nyonya Stevano." Daffin meletakkan sendoknya. "Biasanya kau selalu merebut makananku setelah kau sudah menghabiskan makananmu. Apakah anakku mulai bertingkah seperti kakaknya?" tanyanya cemas.


Sudut mataku melirik Shaka yang tertidur pulas di stroller. Wajah tampannya begitu menggemaskan. Tiba-tiba saja aku jadi penasaran bagaimana wajah Daffin saat dia kecil dulu.


"Hei, aku bertanya padamu, Nyonya Stevano!" sergah Daffin, menyadarkan aku dari lamunan tentang masa kecilnya.


Aku mendengus kesal. "Iya, aku mendengarmu, Daffin! Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Aku hanya tidak lapar sekarang, entah nanti."


"Semoga anakku kali ini akan menurut padaku," oceh Daffin di balut senyuman usil di wajahnya.


Dahiku mengernyit. "Apa maksudmu? Kau pasti punya rencana aneh. Katakan!"


"Tidak ada! Aku hanya tidak ingin kalah suara. Sekarang saja aku sudah kalah karena Shaka lebih memihak padamu. Bagaimana jika adiknya juga berpihak padamu? Aku akan tertindas." keluh Daffin seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Melihat ekspresi Daffin yang seperti itu, membuat tawaku menyembur begitu saja. Tingkah Daffin semakin lama semakin lucu, dia seolah bersaing untuk memperebutkan perhatianku dengan putranya sendiri.


"Kenapa kau tertawa?" tanyanya dengan wajah memberengut.


Seketika tawaku berhenti dan aku pun meraih tangan Daffin. "Walaupun seluruh dunia menentangmu, aku akan selalu menjadi satu-satunya orang yang berada di sisimu."


Semburat merah sempat menghiasi wajah Daffin sebelum akhirnya dia meraih vas bunga di atas meja untuk di berikan padaku.


"Bukannya aku tidak bermodal, tapi aku hanya tidak ingin meninggalkanmu untuk saat ini. Jadi, biarlah bunga darurat ini aku berikan padamu sebelum aku memberikan seluruh dunia padamu." Tangan Daffin menyematkan sebuah cincin di jariku.


Apa lagi ini? Aku sudah sangat bahagia ketika Daffin melamarku di atas panggung dan kini dia melakukan hal manis seperti ini. Ah, rasanya gula darahku melonjak tinggi.


"Daffin ...."


"Itu namaku!" sahut Daffin kemudian mencium punggung tanganku.


"Aku tahu dan aku akan selalu mengingatnya!" timpalku seraya menangkup tangan Daffin.


Untuk menghargai usaha kecil Daffin, aku mengambil vas bunga kecil yang dia berikan padaku dan memegangnya erat. Aku pun menangkup sebelah pipiku serta memasang wajah semanis mungkin.


"Terima kasih, Suamiku yang tampan," ucapku manja.


"Tahan!" pinta Daffin, lalu dia mengeluarkan ponselnya untuk di arahkan padaku. "Lihat! Inilah wanita yang selalu mengganggu tidurku dan membuatku merasa ingin hidup untuk seribu tahun."


Ucapan Daffin begitu menghujam jantungku, terlebih saat dia menunjukkan potret diriku yang baru saja dia ambil.


Tak tahu harus berkata apa, aku hanya menutup mulutku dengan kedua tangan untuk menahan rasa haru yang melingkupi hatiku.


Cukup sudah! Aku sudah terlalu bahagia mendapatkan semua ini dalam hidupku. Hidupku yang sangat pahit, gelap, dan menyedihkan sudah hilang terbang entah kemana. Semua itu telah di gantikan oleh kebahagiaan yang begitu tak terhingga.


Tak ada lagi yang aku inginkan dalam hidup ini selain keluarga kecilku yang bahagia. Ya, mungkin akan menjadi keluarga besar nantinya. Namun, untuk saat ini hanya Daffin dan Shaka serta calon anak keduaku saja sudah cukup membuatku semangat menjalani hidup.


***

__ADS_1


Dua bulan kemudian ...


Keriuhan mulai terdengar di seluruh sudut rumah pada hari yang di tunggu-tunggu, terutama oleh kedua orang tuaku. Mereka berdua begitu antusias dan juga bahagia karena hari ini akhirnya tiba, hari dimana aku akan mengenakan gaun pengantin dan ayah akan membawaku menuju kehidupan yang baru. Ya, ya, memang bukan hidup baru sebenarnya! Hanya saja ini pertama kalinya bagi ayah mengantarkan aku kepada pria yang akan menggantikan tugasnya untuk menjagaku.


"Sayang, apa kau bahagia?" tanya ibu yang sejak tadi memandangi wajahku.


Aku tersenyum tulus. "Sangat, Bu!"


Air mata ibu berjatuhan membasahi pipinya. "Terima kasih sudah memaafkan Ibu, Sayang! Maaf karena Ibu banyak melewatkan momen penting dalam hidupmu."


"Ibu ...," Buliran air hangat mulai meluncur bebas dari mataku.


Tangan lembut ibu menghapus air mataku. "Jangan menangis, Sayang, atau riasan wajahmu akan rusak!"


"Jika itu terjadi, artinya Daffin tidak memakai make up artist yang terbaik!" candaku dengan wajah yang seolah kesal.


Leluconku berhasil menarik senyuman di wajah ibu. Walaupun air mata terus keluar dari matanya, tapi disana juga jelas terpancar betapa bahagianya ibu hari ini.


"Kau putriku dan akan selalu menjadi putri Ibu sampai kapanpun." Ibu meraih kedua tanganku. "Jangan pernah melupakan itu, meski kau telah menjadi seorang ibu juga!" tegasnya.


Aku mengangguk paham dan berhambur memeluk ibu. "Aku sayang, Ibu."


Dalam kehangatan pelukan ibu, ingatan akan hari-hari dimana aku bersikap kasar pada ibu kembali berputar dan tanpa bisa aku menahan membuat air mataku beruraian.


"Sudah! Sudah!" Ibu mengusap punggungku agar aku tenang. "Nanti riasan dan gaunmu yang indah ini akan rusak."


"Lily ...."


Aku dan ibu menoleh bersamaan ketika mendengar suara ayah memasuki kamarku. Disana sudah ada ayah dengan mata yang berkaca-kaca. Langkah kakinya tertatih ketika mencoba untuk menghampiriku.


"Putriku ...," Ayah mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya.


"Ayah, tolong jangan buat aku menangis lagi!" pintaku dengan bibir mengerucut.


Pandangan ayah bertumpu pada sosok ibu yang baru saja menghapus air matanya. "Tidak, Sayang! Ini adalah air mata bahagia. Jadi, biarlah keluar untuk hari ini saja."


Ayah mungkin benar! Biarlah hari ini menjadi hari terakhir dimana kami semua menyesali masa lalu.


***


Setelah saling mengungkapkan isi hati, akhirnya aku dan kedua orang tuaku berangkat menuju gedung pernikahan. Rencana awal, aku dan Daffin akan membuat beach party, tapi karena kondisiku yang tidak memungkinkan serta Shaka yang semakin tidak bisa diam. Maka, kami memutuskan untuk melangsungkan resepsi pernikahan di kota ini saja dan di ruangan yang tertutup.


"Nyonya, tuan muda tertidur." Rania setengah berlari ke arahku yang baru saja turun dari mobil.


Rania. Gadis itu nampak lelah karena mengurus putraku yang nakal. Dia bahkan harus merelakan waktunya terbuang selama berjam-jam hanya untuk mempersiapkan Shaka di hari penting ini, dan anakku yang pintar itu justru tertidur.


"Tidak masalah, Rania." Aku menepuk bahu Rania. "Pindahkan saja dia ke stroller! Kita akan tetap membawanya masuk." titahku.


"Baik, Nyonya,"


Rania segera melakukan perintahku. Dan aku pun langsung memintanya mengikutiku memasuki ballroom hotel, tempat Daffin menyiapkan segalanya. Sebenarnya, aku ingin ambil bagian dalam acara resepsi ini, tapi Daffin melarang keras aku untuk melakukannya. Dan parahnya, aku bahkan tidak tahu konsep apa yang dia pakai untuk acara kami hari ini. Semoga saja dia tidak menggunakan tema dasar laut! Perutku langsung sakit membayangkan ada banyak gelembung dan orang-orang berkostum hewan laut. Hahaha ....


Begitu aku sampai di depan ruangan, disana sudah ada om Rei dan juga Ersya yang terlihat berbeda hari ini.


"Pengantin kita sudah datang!" seru om Rei, kemudian mengulurkan tangannya padaku.


"Rei!!!" Ayah menepis tangan om Rei. "Ini tugasku! Aku sudah lama menunggu." ketusnya.


Om Rei berdecak. "Astaga, Kak! Kau bisa menunggu selama dua puluh tahun lebih, kenapa satu tahun saja sangat lama bagimu?"


"Menikahlah, Rei, dan berhenti memperebutkan putriku! Buat anakmu sendiri!" sungut ayah seraya menggandeng tanganku.

__ADS_1


Aku tahu. Om Rei tidak akan pernah menikah sampai kapan pun karena baginya hanya ibulah wanita sempurna yang bisa merebut hatinya. Aku sudah berulang kali membujuknya untuk melupakan ibu, tapi hasilnya tetap nihil.


"Aku tidak akan mengganggu kebahagiaan orang tuamu, Lily, tapi aku tidak bisa meninggalkan kalian disini. Jika Tuhan memang kasihan padaku, Dia pasti akan mengirimkan seseorang agar aku bisa melupakan Maya."


Percakapan terakhirku dengan om Rei sedikitnya memberi harapan padaku bahwa suatu hari nanti, om Rei akan menemukan cintanya. Aku hanya berharap itu tidak akan terlalu lama karena bagaimana pun, om Rei berhak untuk bahagia.


***


Suasana riuh langsung tercipta ketika aku dan ayah berjalan melewati barisan para tamu dan juga para wartawan yang berburu berita.


Pandanganku berkeliling mengamati dekorasi pesta yang benar-benar di buat seperti negeri dongeng, persis seperti yang aku inginkan. Dan ketika pandanganku bertemu dengan mata biru Daffin yang sedang menungguku, aku melihat wajahnya bersemu merah.


Meski ini bukan pernikahan pertama bagi kami, tapi inilah kali pertama kami menikah dengan benar. Dihadiri oleh orang-orang yang kami sayangi dan juga disaksikan oleh seluruh dunia.


Ketika tangan ayah menyatukan tanganku dengan Daffin, aku tak bisa menahan haru hingga air mataku kembali menetes.


"Berbahagialah, Putriku! Terima kasih karena sudah membuat Ayah merasakan menjadi Ayah yang seutuhnya!" Kecupan ayah mendarat di keningku sebelum ayah meninggalkan aku bersama Daffin.


Sapuan hangat tangan Daffin menyentuh pipiku. "Kau selalu terlihat cantik, Istriku."


Aku mengulas senyum tipis. "Kau juga selalu tampan, Suamiku."


Daffin menggenggam tanganku erat dan menghadap ke arah para tamu undangan. Sebelum mengatakan banyak hal, Daffin sempat menatap wajahku dan tersenyum bahagia.


"Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para tamu undangan dan rekan-rekan wartawan yang sudah bersedia hadir di acara kami hari ini. Mungkin banyak dari kalian yang belum mengenal istriku. Dan bertanya-tanya, kapan kami menikah?" Daffin menoleh dan tersenyum padaku. "Sebenarnya kami sudah menikah sekitar dua tahun yang lalu, tapi karena ada beberapa masalah, kami pun terpaksa menutupi pernikahan kami. Namun, hari ini aku ingin seluruh dunia mengenal istriku, Lily Yovela Stevano yang juga merupakan putri tunggal dari keluarga Kafeel. Dialah satu-satunya wanita yang akan menemaniku hingga akhir hayatku."


Gemuruh tepukan tangan memenuhi ruangan ketika Daffin menciumku di depan umum. Tak banyak yang bisa kami katakan karena semua kebahagiaan kami terpancar begitu jelas hari ini. Terlebih ketika Shaka muncul dan membuat semua orang penasaran. Meski sedikit ragu, aku pun merelakan Daffin untuk memperkenalkan Shaka di depan umum.


"Dia putraku." Daffin menggendong Shaka yang sedang tertawa di stroller**nya. "Shaka Ryuichi Stevano."


"Itu artinya, tuan muda Shaka akan menjadi pewaris seluruh kekayaan keluarga Stevano, Tuan?" tanya seorang wartawan.


"Tidak! Dia harus membaginya dengan adiknya yang akan segera lahir." Daffin menarik tanganku dan melingkarkan tangannya di pinggangku agar aku mendekat padanya.


Dan seperti inilah kehidupanku sekarang. Aku pun mulai harus terbiasa dengan hidupku yang baru. Akan ada banyak orang yang penasaran dengan hidupku dan juga kisahku. Namun, apapun itu akan tetap aku jalani selama Daffin ada di sampingku.


***


EPILOG


Hidupku yang menyedihkan saat kak Erlan pergi, benar-benar membuatku terpuruk seolah jatuh ke dasar jurang.


Aku tak pernah menyangka. Jika Daffin, pria tiran yang sangat aku benci. Justru dialah yang membawa kembali cahaya ke dalam hidupku.


Cinta memang sulit di pahami, tapi indah untuk di jalani ...


Meski hati terkadang bisa mati, tapi orang yang di kasihi akan selalu hadir menemani ...


Perjalanan hidup seorang Ayasya Zakiya Kencana memang telah berakhir, tapi kehidupan seorang Lily Yovela Stevano baru saja di mulai.


THE END ...


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI selama ini😍


Jangan di unfav dulu 'ya karena masih akan ada SWEET CHAPTER yang melengkapi kisah Plankton dan bintang laut 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2