Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Tatapan Maya yang terus terfokus padaku membuat potongan roti yang baru saja masuk ke mulutku, terasa begitu sulit meluncur di tenggorokanku.


"Nyamuk bertubuh besar dan berwajah tampan." lontar Maya dengan mata mengerling.


"Uhuk ...," Aku dan Maya menoleh bersamaan dan melihat Daffin baru saja tersedak.


Maya menyodorkan segelas air putih pada Daffin. "Minumlah!"


"Terima kasih, Maya!" ucap Daffin, setelah setengah gelas air berpindah ke perutnya.


"Hati-hati saat mau makan, Daffin! Apa yang kau pikirkan sampai tersedak?" tanya Maya khawatir.


Bukannya menjawab, raut wajah Daffin berubah seperti seseorang yang menahan malu hingga wajahnya memerah.


"Sayang, suamimu baru saja tersedak." Maya mengalihkan pandangannya padaku.


"Aku tahu." jawabku santai, kemudian menghabiskan segelas susu di hadapanku walaupun aku tak menyukainya.


Daffin melemparkan tatapan tajamnya padaku, tapi aku tidak memperdulikannya.


"Ayo!" seruku seraya berdiri untuk meninggalkan meja makan.


"Sebentar," ucap Daffin, tangannya sibuk membersihkan mulutnya.


"Kalian mau kemana?" tanya Maya bingung, karena aku dan Daffin memang belum memberitahunya.


"Aku dan Daffin akan -" Sekali lagi, Daffin memotong ucapanku. Sepertinya itu mulai menjadi hobi baru baginya.


"Kami ingin menemui dokter Reinhard, Maya." sela Daffin.


"Dokter Reinhard? Untuk apa?" Terlihat jelas bahwa ada kekhawatiran di mata Maya.


Aku jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya dokter Reinhard ini? Daffin hanya mengatakan padaku bahwa hanya dirinyalah yang bisa mempermudah langkahku.


"Maya, tuan Kafeel sudah terlalu percaya pada Reena dan ibunya. Itu sebabnya, kami ingin meminta dokter Reinhard melakukan tes DNA terhadap nyonya Stevano dan juga tuan Kafeel sebagai bukti yang tak bisa di bantah oleh mereka." jelas Daffin, tangannya menggenggam tangan Maya yang terlihat sangat khawatir.


"Tapi Daffin, kenapa harus dokter Reinhard? Ada banyak dokter di dunia ini." ucap Maya, bibirnya bergetar ketika mengatakan itu.

__ADS_1


Melihat sikap Maya yang seperti itu, aku jadi penasaran tentang sosok dokter Reinhard.


"Maya, bukankah kau ingin aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku? Kenapa sekarang kau terlihat menghalangi jalanku?" tanyaku, seraya kembali duduk di kursi yang sebelumnya aku duduki.


"Tidak, Sayang! Ibu tidak menghalangi jalanmu. Ibu hanya takut dokter Reinhard tidak bisa membantumu." sanggah Maya, ada sesuatu di matanya yang tak bisa terucap.


"Siapa dokter Reinhard?" Aku langsung menembak Maya dengan pertanyaan yang membuat bola matanya membulat sempurna.


"Nyonya Stevano?" panggil Daffin, tapi aku tak mengalihkan perhatianku sedikitpun dari Maya.


"Diamlah, Daffin! Sepertinya ada sesuatu yang kita lewatkan di masa lalu. Apa aku benar, Maya?" Mataku tidak berkedip sekali pun karena ingin memastikan reaksi di wajah Maya.


Wajah Maya memucat. "Bukan seperti itu, Sayang! Dokter Reinhard sangat setia pada ayahmu, Ibu takut jika dia tidak akan mempercayai kalian dan justru akan menyebabkan masalah bagimu."


Benarkah begitu? Kenapa aku merasa ada yang di sembunyikan oleh Maya? Tapi apa itu? Ah, kepalaku rasanya mau pecah karena memikirkan hal ini.


"Jika dia begitu setia pada tuannya, bukankah itu semakin baik untukku? Dokter itu pasti senang mendengar putri tuannya masih hidup." sergahku, masih berusaha mengamati raut wajah Maya.


"Aku harap seperti itu." lirih Maya, kini dia menundukkan wajahnya.


"Apa kalian membutuhkan darah suamiku? Apakah satu tetes darah cukup?" tanya Maya, tidak ada sedikitpun lelucon di matanya.


Daffin dan aku saling bertatapan, kemudian mengangguk bersamaan sebagai jawaban dari pertanyaan Maya.


Tiba-tiba Maya melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Disini ada darah ayahmu. Mungkin ini bisa mempermudah langkahmu, Sayang."


Cincin berdesain mewah dan sangat cantik di letakkan Maya di atas meja dan di dorong mendekat padaku.


Bola mataku bergantian menatap cincin itu dan juga Maya. "Ini? Apakah ini cincin pernikahanmu?"


Maya tersenyum lembut. "Benar! Ayahmu memesan cincin itu secara khusus untuk pernikahan kami. Dia ingin agar kemanapun aku melangkah, dirinya selalu bersamaku."


Aku mencebik mendengar ucapan Maya. "Seolah dia sangat mencintaimu, tapi dia justru menyakitimu dan memiliki anak dari wanita lain."


"Itu terjadi karena keadaan, Sayang, ayahmu tidak pernah ingin menikahi ibunya Reena." sergah Maya, dia begitu membela pria yang bahkan sudah mengusirnya.


"Tidak ingin, tapi memiliki seorang putri yang bahkan lebih dia sayangi dari putri kandungnya sendiri." hardikku, cukup menyakitkan bagiku mengingat hal itu.

__ADS_1


Maya terlihat tidak ingin menyangkal apa yang aku katakan, dia hanya menghela nafasnya lalu tersenyum simpul. "Kau memang seperti ayahmu, keras kepala."


"Kau benar, Maya! Sangat sulit bicara dengan putrimu ini." sahut Daffin.


Mataku melirik tajam ke arahnya. "Aku bukan keras kepala, aku hanya bicara sesuai realita."


"Ya, Nyonya Stevano memang selalu benar!" ucap Daffin, tak ingin memperlebar masalah rupanya. "Jadi, apa kita akan tetap menemui dokter Reinhard?" tanyanya.


Sesaat aku menatap Maya dan jari manisnya yang kini nampak polos. "Tentu saja! Kita akan menemui dokter itu."


"Sayang Ibu? Kenapa memilih jalan yang sulit jika ada jalan yang mudah?" tanya Maya, dia menyodorkan cincin pernikahannya padaku.


Tanganku menggenggam tangan Maya bersama dengan cincinnya. "Untuk mencapai tujuanku, aku tidak ingin menghancurkan apa yang sudah susah payah kau pertahankan selama ini."


Aku memang belum tahu pasti apa yang di alami Maya selama lebih dari dua puluh tahun terpisah denganku, tapi dia tidak pernah melepaskan cincin pernikahannya seperti hari ini. Dan hal itu membuatku menyadari bahwa Maya begitu menghargai pernikahannya.


"Tapi, Sayang ...," Sorot mata Maya menaruh begitu banyak harapan padaku.


"Cukup restui aku! Aku yakin, Tuhan akan mempermudah jalanku." ucapku, dengan seulas senyum tipis yang entah mengapa tertarik begitu saja di sudut bibirku.


Maya tiba-tiba berdiri dan menghampiriku hingga aku pun berdiri dan berhadapan dengannya. Aku cukup terkejut ketika Maya merengkuh tubuhku dan memelukku dengan erat.


"Maafkan Ibu, Sayang! Hari ini tidak akan terjadi jika Ibu memiliki sedikit saja keberanian yang kau miliki." lirih Maya, tubuhnya sampai gemetar karena dia menangis hebat di pelukanku.


Sungguh! Hatiku sampai bergetar dan seolah sesuatu memaksaku untuk membuka hatiku pada sosok wanita yang selalu aku rindukan selama ini.


Tak terasa, air mataku pun meluncur bebas untuk mewakili perasaanku saat ini. Bahkan tanganku pun tak mau mematuhiku dan terulur dengan sendirinya untuk membalas pelukan Maya.


"Jangan meminta maaf! Akulah yang salah. Maafkan aku ... Ibu!"


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2