
"Kau sudah yakin dengan keputusanmu?"
Aku sedikit terhenyak ketika menyadari Daffin sudah duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang terulur untuk membelai rambutku. Padahal sebelumnya dia mengatakan akan membicarakan hal yang penting dengan Maya di ruang kerjanya.
"Entahlah, Daffin ...."
Keraguan masih mengganjal di hatiku meskipun aku berusaha meyakinkan hatiku bahwa semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan keinginanku.
"Ingat! Kau tidak sendiri. Ada aku yang akan selalu berdiri di belakangmu dan siap menjadi tameng untukmu." ucap Daffin, wajahnya menyunggingkan senyuman yang membuatku merasa yakin bahwa aku tidak sendirian menghadapi masalah ini.
Masalah ini memanglah tidak serumit itu, tapi lawan yang akan aku hadapi adalah wanita yang telah berhasil memutar roda takdirku selama ini. Reena. Dia dan ibunya yang telah menyebabkan aku tumbuh dewasa tanpa kasih sayang kedua orang tuaku, dan Reena juga yang membuatku menikahi pria yang tidak aku cintai serta kehilangan kedua putra kembarku dengan cara yang mengenaskan.
Untuk itu, aku memutuskan untuk membuatnya mengalami hal yang sama denganku. Reena harus tahu rasanya kehilangan dan di campakkan.
"My Starfish ...," Suara Daffin terdengar begitu jauh terdengar di telingaku, tapi aku seketika tersadar ketika menyadari sentuhan tangannya.
Aku mengerjap. "Ah, iya, Daffin."
Daffin menghela nafasnya. "Apa yang mengganggu pikiranmu? Jangan katakan jika kau berubah pikiran!"
"Tidak, Daffin! Aku hanya sedikit meragukan semua ini. Reena adalah wanita yang licik. Jika dia bisa membuat ayahnya mengalihkan semua sahamnya, maka dia juga bisa menyanggah kebenaran tentang diriku." tuturku dengan pandangan menerawang.
Bola mata Daffin bergerak ke kiri dan ke kanan seolah mencari sesuatu yang tersimpan di kepalanya.
"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu! Besok pagi, semua hal yang mengganggu pikiranmu akan terselesaikan." sergah Daffin seraya membaringkan tubuhnya di sampingku.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanyaku setengah panik karena Daffin tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Memeluk istriku tercinta." Daffin mengucapkan kalimat itu dengan penuh cinta dan mata yang terpejam.
Sebenarnya aku ingin menghardiknya, tapi dia terlihat kelelahan karena telah menghabiskan waktu denganku dan menjalani drama yang sungguh memalukan bila di ingat.
Setelah beberapa saat aku diam dan hanya menatap langit-langit kamar, aku bisa mendengar suara nafas Daffin yang mulai teratur. Sepertinya dia sudah terlelap sehingga aku memiringkan tubuhku untuk menghadapnya.
Ada sesuatu yang menggelitik hatiku ketika wajahku beradu dengan wajah Daffin. Jika di pikirkan, aku tidak pernah berhadapan dengan Daffin dalam kondisi setenang ini. Biasanya, akan selalu ada keributan-keributan serta pertengkaran kecil yang selalu terjadi. Dan bila di ingat, sejak hari dimana Daffin menegaskan kepemilikannya terhadapku. Sejak hari itu Daffin selalu bersikap lembut padaku. Dia juga lebih banyak mengalah. Terlebih setelah Daffin tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya.
Perasaan hangat seperti ini. Perasaan dimana aku merasa sangat berharga dan di sayangi. Semua perasaan itu di hadirkan oleh pria yang kini terlelap di hadapanku.
__ADS_1
Dengan lancangnya, tanganku tiba-tiba membelai rambut hitam legam Daffin. Jemariku turun menyusuri setiap lekuk wajah Daffi. Alisnya yang tebal, hidungnya yang besar dan bibirnya yang sensual. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Rahangnya bahkan begitu kokoh. Menambah kesempurnaan di wajahnya. Dan mata biru itu ...
Tunggu sebentar! Mata biru? Bukankah tadi mata itu terpejam? Aku menatap tanganku sendiri yang masih terlena memainkan jariku di pipi Daffin.
Ketika aku akan menarik tanganku kembali, Daffin dengan cepat menangkap tanganku dan menciuminya dengan lembut.
"Kau begitu mengagumi wajah suamimu ini, tapi kau selalu bersikap dingin padaku. Kenapa? Hah?" goda Daffin, tatapannya terlihat berbeda.
"Jangan besar kepala! Aku hanya tidak bisa tidur. Jadi aku berbalik dan melihat wajahmu yang jelek. Aku jadi berpikir bagian mana yang masih baik untuk di turunkan ke wajah anakku kelak." elakku.
Sungguh alasan yang sangat konyol dan tidak masuk akal, tapi Daffin terlihat bahagia karena dia justru tertawa mendengar bualanku.
"Seluruh bagian dari wajahku akan aku turunkan pada anak kita. Ingat! Anak kita. Bukan hanya anakmu." lontar Daffin, tangannya mengusap perutku.
"Anak kita? Tapi aku yang mengandung. Membawanya kemanapun aku pergi. Bahkan aku juga yang harus mengidam dan merasakan mualnya. Harusnya anak ini -" Ucapanku menggantung ketika Daffin mendaratkan telunjuknya di atas bibirku.
"Kau lupa! Kehadiran anak ini berkat kekuatan Jhonny." Daffin mengedipkan sebelah matanya.
Astaga!!! Rasanya wajahku seperti terbakar karena ucapan Daffin yang begitu frontal.
"Berarti anak ini adalah anaknya Jhonny."
***
Semalaman kami berdebat tentang hal-hal konyol dan tidak masuk akal hingga tanpa terasa waktu hampir pagi. Daffin pun terlelap seraya memeluk tubuhku.
"Kau mau kemana?" gumam Daffin, matanya bahkan masih terpejam.
Aku berusaha melepaskan tangan Daffin. "Aku ingin ke kamar mandi, Daffin."
Bukannya melepaskan tangannya, Daffin justru semakin erat memelukku. "Nanti saja! Aku masih ingin bermimpi indah."
Daffin melakukan hal di luar dugaanku. Dia menggosok-gosokkan hidungnya di atas hidungku. Dia semakin menempelkan tubuhnya padaku, hingga aku merasakan sesuatu yang mengganjal di bagian bawah antara kakinya karena Daffin begitu erat memelukku.
"Mesum!" teriakku seraya mendorong tubuh Daffin.
"Ini namanya naluri, Nyonya Stevano." sanggah Daffin, tapi tetap tidak mau melepaskan diriku.
__ADS_1
"Daffin ... ayo, bangun! Kau mengatakan jika masalah yang mengganggu pikiranku akan selesai pagi ini. Aku ingin segera terbebas dari perasaan ini, Daffin." bujukku, masih mencoba bernegosiasi dengan Daffin.
Terdengar Daffin berdecak dan mendudukkan tubuhnya untuk bersandar di sandaran tempat tidur dengan dada terbuka. "Astaga! Matahari saja belum menampakkan dirinya."
"Jika mataharinya sudah terbit, maka aku akan melarikan diri." selorohku, kemudian menurunkan kakiku dari tempat tidur.
"Kau memang luar biasa, Nyonya Stevano! Dengan matahari pun kau bermusuhan."
***
Langkah kakiku dan Daffin beriringan ketika menuruni tangga untuk bergabung bersama Maya yang sudah menikmati sarapannya seorang diri.
"Morning, Maya!" sapa Daffin seraya mencium sebelah pipi Maya.
Maya tersenyum lembut dan bergantian menatapku dan Daffn. "Morning, Daffin. Morning, My lil daughter!"
"Aku bukan anak kecil!" ketusku, bersamaan dengan mendaratnya bokongku di kursi yang berhadapan dengan Maya.
"Baiklah, putri Ibu memang sudah dewasa karena kau akan segera menjadi seorang Ibu juga." ucap Maya, matanya berbinar bahagia.
"Hemm ...," jawabku tak jelas seraya mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai kacang di atasnya.
"Sayang?" panggil Maya lembut.
Aku pun menaikkan pandanganku. "Iya?"
Sedikitnya aku mulai terbiasa dengan kehadiran Maya dan juga kelembutannya, sehingga aku mencoba untuk mengendalikan kemarahanku.
"Apa kau habis di gigit serangga?" tanya Maya, matanya bahkan memicing ke arahku.
Aku hanya kebingungan menanggapi pertanyaan Maya. "Tidak tahu! Mungkin di gigit nyamuk."
"Nyamuk bertubuh besar dan berwajah tampan."
Hallo semuanya ๐ค
Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya ๐๐๐
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya ๐ dan tinggalkan jejak ๐ฃ๐ฃ kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga 'ya ๐sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐
I โค U readers kesayangan kuhh