
Mata itu hampir saja menghipnotisku dan membuatku merasa kembali ke masa lalu, andai saja aku tidak menyadari kehadiran kacamata yang menjadi pembatas di antara kami.
"Kak Ersya ...," lirihku, terkejut dengan kehadiran Ersya di saat seperti ini.
Ersya kembali membenamkan kepalaku di dadanya dan mendekap tubuhku dengan erat hingga membuatku bisa merasakan kehangatan yang dulu selalu di berikan kak Erlan padaku.
Tidak, Ayasya! Dia Ersya bukan kak Erlan.
Seperti sesuatu baru saja menyentak hatiku, aku pun berusaha melepaskan diriku dari pelukan Ersya.
"Maaf, Kak," ucapku tanpa menatap Ersya.
"Ayasya, tatap aku!" pinta Ersya, nada bicaranya terdengar asing di telingaku.
Aku menggelengkan kepala sebagai penolakan atas permintaan Ersya, tapi dia tidak mau menyerah dan justru menangkup kedua pipiku dengan tangannya sehingga aku pun terpaksa menatap kedua matanya.
"Kau menangis?" tanya Ersya, matanya masih terfokus ke mataku.
"Tidak!" sanggahku seraya memalingkan wajahku.
Kali ini, tangan Ersya berpindah ke bahuku. Dia mencengkram bahuku dengan kuat. "Jangan berbohong padaku!"
***
Suasana yang cukup tenang dan sunyi di sebuah kafe menjadi pilihanku dan juga Ersya untuk saling berbagi beban yang tengah mengisi hatiku.
"Katakan, Ayasya! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ersya, tangannya sibuk mengaduk espresso yang tadi dia pesan.
"Entahlah, Kak," jawabku pasrah dengan pandangan yang tertuju keluar jendela.
Helaan nafas Ersya begitu kontras dengan kegelisahanku saat ini. Ingin rasanya aku berbagi keresahanku dengannya, tapi aku terlalu malu untuk membicarakan hal ini dengan Ersya.
"Aku merelakan dirimu untuk kembali bersama tuan Stevano hanya karena kehidupan yang ada di rahimmu saat ini, tapi jika keputusanku salah, tolong beritahu aku! Aku akan membawamu kembali ke kampung halaman." tutur Ersya, tangannya menumpu tanganku di atas meja.
Terkejut dengan sentuhan Ersya, aku pun segera mengalihkan perhatianku padanya. Sesaat pandanganku bertumpu pada sosok Ersya yang tentu saja mengingatkan aku pada sosok kak Erlan yang selama ini selalu menjadi satu-satunya pria di hidupku.
__ADS_1
"Tidak, Kak! Aku tidak bisa kembali." tolakku halus seraya menarik tanganku menjauh.
"Kenapa?" tanya Ersya, wajahnya menggambarkan kekecewaan yang mendalam. "Apakah sekarang kau sudah mencintai tuan Stevano?" tanyanya lagi.
Bak tersambar petir, telingaku berdengung mendengar pertanyaan Ersya yang sebenarnya aku pun tidak tahu apa jawabannya.
"Jawab, Ayasya!" hardik Ersya ketika aku tak juga membuka mulutku.
"Aku tidak tahu, Kak, aku hanya tidak bisa membiarkan anakku tumbuh tanpa kehadiran ayahnya." lirihku, menahan perih mengingat seperti apa aku tumbuh dewasa.
Untuk sesaat, hanya keheningan yang tercipta antara aku dan Ersya. Kami larut dalam pikiran masing-masing hingga suara seseorang mengejutkan kami berdua.
"Ternyata kau belum menyerah, Tuan Chandra!"
Aku menoleh ke arah suara itu berasal dan melihat Daffin tengah berdiri dan menatap tajam ke arah Ersya seolah dia akan segera melahapnya. Sedangkan Ersya tak gentar sedikitpun akan ancaman yang ada di hadapannya.
Ya, Tuhan! Aku merasa seperti de javu karena kejadian seperti ini selalu saja terjadi setiap kali Daffin berhadapan dengan Ersya.
"Kau sudah selesai dengan nyonya pertamamu?" tanyaku sinis pada Daffin yang kini memilih untuk duduk di sampingku.
Seringai jahat seketika muncul di wajahku. "Tanpa di buat olehnya pun, sudah ada jurang di antara kita, Daffin."
Tatapan sendu Daffin akibat ucapanku barusan, sedikitnya membuatku merasa bersalah. Namun, aku tidak akan mudah tergoyahkan hanya karena sikap lemah Daffin yang seperti ini.
"Katakan satu hal padaku, apa benar yang di katakan Reena bahwa restoran itu adalah tempat dimana kau melamarnya?" selidikku, entah mengapa dalam hati aku ingin Daffin untuk menyanggahnya.
"Ini semua hanya permainan kotor Reena, harusnya kau -"
"Aku tidak ingin mendengar pembelaanmu. Cukup katakan, benar atau tidak!" hardikku dengan kekesalan yang semakin membuncah.
"Benar!" jawab Daffin singkat, tapi berdampak besar pada hatiku.
Saat itu, aku merasa seperti wanita paling bodoh di dunia ini karena sudah mempercayai pria seperti Daffin. Sudah jelas dia adalah pria yang mempermainkan hidupku dan juga menyebabkan kematian kedua putraku, tapi aku tetap berusaha untuk menerimanya dalam hidupku.
"Pergilah, Daffin!" ucapku dingin, tanpa melihat wajah Daffin.
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu, Nyonya Stevano!" sanggah Daffin.
"Sebaiknya anda pergi, Tuan Stevano!" lontar Ersya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan antara aku dan Daffin.
"Diam kau! Jangan ikut campur!" Daffin mengarahkan telunjuknya ke wajah Ersya. "Kehadiranmu membuat masalah di dalam rumah tanggaku." sergah Daffin.
"Cukup, Daffin! Kau tidak bisa melemparkan kesalahanmu kepada orang lain. Dan lagi, kak Ersya tidak ada hubungannya dalam masalah ini. Semua ini terjadi karena kebodohanku! Aku terlalu bodoh karena berpikir kau benar-benar mencintaiku. Aku terlalu bodoh karena merasa bahagia setiap kali kau bersikap manis padaku. Dan aku bodoh karena aku membiarkan hatiku di isi olehmu!"
Nafasku terengah-engah setelah mengeluarkan semua keluh kesah yang ada di hatiku. Tak tahu apa yang telah mendorongku untuk mengatakan semua itu, tapi yang jelas kini aku bahkan tidak berani untuk menatap wajahku sendiri.
Dalam sekejap, tubuhku sudah berada dalam dekapan Daffin. Dia menciumi puncak kepalaku berulang kali seraya terus bergumam.
"I really love you, My Starfish."
Aku tidak mengerti, kenapa aku merasa lega setelah mengungkapkan perasaanku pada Daffin. Padahal sebelumnya aku tidak menyadari perasaanku padanya. Ternyata, hatiku sudah mengkhianatiku dan membiarkan Daffin untuk masuk dan menetap disana.
Tanpa terasa, tanganku terulur dan melingkar di panggang Daffin. Ada rasa nyaman yang menghinggapi hatiku begitu aku memutuskan untuk membalas pelukan Daffin.
"Ayasya ...," Lirih terdengar suara Ersya ketika memanggilku.
Aku tersentak ketika menyadari bahwa Ersya masih berdiri di sini dan menyaksikan satu lagi keputusan besar dalam hidupku.
"Maaf, Kak," ucapku seraya melepaskan diri dari pelukan Daffin.
Mata Ersya terlihat hancur. Dia pasti kecewa dengan apa yang aku lakukan saat ini. "Jika ini keputusanmu aku akan menerimanya dengan lapang dada, tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap berada di sekitarmu dan menjagamu."
"Kak Ersya ...."
"Aku tidak kekurangan pengawal untuk menjaga istriku, Tuan Chandra." sergah Daffin, tangannya menahan bahuku yang hendak melangkah untuk memeluk Ersya.
"Itulah bedanya dirimu dan aku, Tuan Stevano! Aku lebih suka menjaga Ayasya dengan kemampuanku sendiri, daripada harus mengandalkan orang lain."
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh