
"Benar. Kau sudah tidak berguna lagi!"
Kak Reena melepaskan kacamata yang bertengger di atas hidungnya. Sorot matanya padaku sudah berubah, tidak sehangat dulu saat aku pertama kali memasuki rumahnya. Aku bertanya-tanya dalam hati, yang manakah diri kak Reena yang sebenarnya? Topeng mana yang dia perlihatkan padaku?
"Aku tidak mengira, ada wanita yang serendah dirimu, Nyonya Stevano."
Walaupun aku tidak bisa berteriak saat mengatakan itu, tapi aku mengatakannya dengan penuh penekanan agar kak Reena menyadari betapa aku membencinya saat ini.
Kak Reena melangkah untuk mendekatiku dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Namun, matanya mengatakan hal yang berbeda. Aku melihat amarah yang membara di matanya padaku, tapi bukankah aku yang seharusnya marah kepadanya? Orang-orang angkuh itu seperti tak memiliki pemikiran sama sekali.
"Aku hanya merendahkan diri, Ayasya. Aku bisa berdiri dan menunjukkan padamu setinggi apa diriku dan seberapa jauh perbedaan di antara kita."
Aku tertawa mendengar ucapan kak Reena. "Kau memang tinggi, Nyonya Stevano, tapi kau akan selalu menunduk di hadapanku seperti yang saat ini sedang kau lakukan."
Memang benar apa yang ku katakan. Kak Reena sedikit menundukkan kepalanya ketika dia sedang berbicara padaku, dan saat dia menyadari apa yang ku katakan adalah kebenaran, kak Reena langsung mengangkat kepalanya seperti seekor angsa.
"Keangkuhan akan menghanguskan semua hal yang telah kau miliki dan keserakahan akan menjauhkanmu dari apa yang kau impikan."
Kak Reena kembali menunduk dan menatapku. "Kau!"
Satu telunjuk kak Reena mengarah ke wajahku karena dia tidak terima dengan apa yang baru saja aku katakan, tapi Daffin langsung menangkap jari itu dan menepiskannya.
"Jaga sikapmu, Ree! Aku sudah menuruti semua keinginanmu, tapi kau tetap tidak berubah. Jangan menguji kesabaranku lagi!" bentak Daffin, aku tak pernah melihatnya sekasar itu pada kak Reena sebelumnya.
Manik mata kak Reena menatap tajam ke arah Daffin kemudian berpindah menatapku. "Semua ini salahmu! Kalau saja kau tidak berulah, kita bertiga akan mendapatkan keuntungan bersama."
Aku mendengus kesal. "Keuntungan? Keuntungan apa yang kau bicarakan? Akulah yang paling di rugikan dalam hal ini, bukan kalian!!!"
Aku tak bisa mengendalikan emosiku, hingga aku lepas kendali dan berteriak. Hal itu langsung memicu rasa sakit yang teramat sangat di perutku, membuatku meringis menahan kesakitan.
Tanpa di duga, Daffin langsung menghampiriku dan mengusap lembut kepalaku. "Ada apa? Bagian mana yang sakit?"
"Apa yang kau lakukan, Daff? Jauhkan tanganmu darinya!" teriak kak Reena, dia menarik tangan Daffin. "Sudah tidak ada lagi urusan antara dirimu dengannya." tegas kak Reena lagi.
"Kau salah, Ree! Ikatan antara aku dan dia masih ada, karena aku tidak akan pernah melepaskannya." sergah Daffin.
__ADS_1
Ucapan Daffin membuat aku dan kak Reena sama-sama terkejut. Untuk sesaat aku melupakan rasa sakit yang sempat menyerangnya, tapi aku langsung tersadar saat kak Reena tiba-tiba menampar Daffin.
PLAK!!!
Mata angkuh kak Reena kini menitikkan air mata. Wajah yang tadi mendongak kini menunduk menahan malu. Sungguh pemandangan yang begitu menghiburku, andai saja aku tidak sedang terbaring tak berdaya seperti ini.
"Kau menyakitiku, Daff. Kau menyakitiku!" Kak Reena terus bergumam dengan wajah yang sangat menyedihkan hingga bayangannya hilang di balik pintu tanpa aku sadari.
***
"Ayasya, buka matamu! Kau harus hidup, jika kau ingin tahu kebenarannya." Suara Daffin terdengar sangat jauh dan begitu memilukan.
Perlahan aku membuka mataku, dan sekali lagi aku melihat Daffin sedang menggenggam tanganku. Bedanya kali ini dia tidak sedang tertidur, tapi matanya terlihat begitu sendu.
Ingin rasanya aku menarik tanganku dan melepaskan kontak antara aku dan dirinya. Namun, tubuhku begitu lemah dan tak berdaya. Aku hanya menatapnya, menunggu Daffin menyadari bahwa aku sudah membuka mataku.
"Kau kembali!" seru Daffin saat pandangan kami bertemu. "Thank's, God!" ucapnya, kemudian merengkuh tubuhku.
Tubuhku begitu lemah hingga untuk bicara pun aku tak mampu. Mungkin ini bukan hanya karena keguguran yang aku alami, tapi juga karena batinku yang tertekan dan begitu tersiksa. Jika saja Daffin tidak menahanku, aku pasti tidak akan kembali.
Tiba-tiba, aku kembali ke tempat dimana aku bertemu kak Erlan dan kedua anak kami. Namun, aku tidak melihat sosok kak Erlan dimana pun. Aku hanya melihat sebuah cahaya yang begitu terang dan memanggil-manggil namaku.
"Ayasya!"
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini kakiku terasa sangat ringan bahkan aku merasa seperti sedang melayang. Cahaya aneh itu semakin dekat denganku hingga aku merasakan sesuatu yang menahanku di belakang.
"Jangan pergi! Aku mencintaimu." ucap Daffin, sorot matanya membuatku iba. Dan ini kedua kalinya dia mengatakan jika dia mencintaiku.
"Tidak ada cinta di antara kita, yang ada hanya sandiwara dan kepalsuan. Aku ingin pergi, Daffin. Aku sudah tidak punya alasan apapun untuk kembali."
Aku sudah berbalik dan meninggalkan Daffin, tapi lagi-lagi dia menahanku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Jadikan aku sebagai alasan untukmu kembali." ucap Daffin, setengah berbisik di telingaku.
Flashback off...
__ADS_1
Aku masih terus menatap Daffin, sial sekali ucapannya dalam mimpi aneh itu terus terngiang di telingaku. Banyak pertanyaan berkelebatan di kepalaku, tapi tak satu pun dapat ku jawab.
'Apakah benar dia mencintaiku? Tidak!!! Itu tidak mungkin terjadi kecuali air laut mengering.'
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Daffin, cara bicaranya padaku begitu lembut. "Kau membuatku takut. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, ok?" pintanya kemudian.
Tuhan, apa lagi ini? Apakah dia sedang membuat sandiwara baru? Aku sulit membedakan yang mana dirinya yang sebenarnya.
Aku ingin sekali mengatakan banyak hal dan juga memaki Daffin sesuka hatiku, tapi sayangnya aku begitu lemah hingga tak mampu mengucapkan satu kata pun.
CUP...
Satu kecupan tak terelakkan mendarat di keningku. "Terima kasih sudah kembali."
Senyum bahagia terpancar di wajah Daffin, tapi tidak dengan wajahku. Aku sangat marah dengan sikapnya padaku. Dia pikir aku kembali untuk memaafkannya.
'Kau salah, Daffin! Aku kembali untuk mengembalikan penderitaan yang telah kau berikan padaku.'
Hallo semuanya 🤗
Mohon maaf karena jadwal up masih amburadul dan belum teratur 🙏
Dan untuk mengisi waktu para readers semua, sambil menunggu aku up ceritanya Ayasya kalian bisa mampir di novel ku yang lain 😘👇
Disini ada Deta dan Ricky yang sedang memperjuangkan cinta mereka yang tertunda lima tahun yang lalu 😍
Dan disini ada Haisha yang berusaha mencari cinta sejatinya yang tak tergapai 🤧
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1