
"Sepertinya kau sangat bahagia?" tanya Daffin datar, suaranya terdengar begitu dingin dan mengintimidasi.
Baru saja aku memasuki rumah, ternyata Daffin sudah menungguku dengan wajah menyebalkannya itu.
"Tepat sekali! Aku memang sangat bahagia." jawabku santai seraya berlalu melewati Daffin yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Tunggu dulu! Aku ingin bicara denganmu, Ayasya!" sergah Daffin.
Aku bisa merasakan kemarahan dalam ucapan Daffin hingga akhirnya aku memilih untuk menghentikan langkahku, tapi tetap tak ingin menatapnya.
Ketika aku baru saja berniat untuk menyudahi ketegangan di antara diriku dan Daffin. Tiba-tiba Shaka datang dan membuat keadaan semakin sulit.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai selama ini?" tanya Daffin, matanya menatap Shaka dengan tajam.
Shaka membungkuk hormat. "Maaf, Tuan,"
"Aku tidak butuh permintaan maafmu! Jawab aku! Apa yang kalian lakukan di sana?" hardik Daffin, masih dengan kilatan amarah di matanya.
"Maaf, Tuan, tapi tadi nyonya -"
Sebelum Shaka mengatakan hal yang semakin menyulitkanku, maka aku pun langsung menyela ucapannya.
"Daffin, kenapa kau mempermasalahkan hal sepele seperti ini? Lagi pula, Shaka sudah meminta maaf padamu. Kenapa kau begitu pelit dan tidak mau memberikan maafmu padanya?" sungutku dengan tatapan yang tak kalah tajamnya dengan Daffin.
"Ini bukanlah masalah sepele, Ayasya! Kau pergi menemui laki-laki lain di hadapanku! Apakah kau tidak menghargaiku sebagai suamimu?" lontar Daffin.
Ucapan Daffin begitu mengusik telinga dan juga relung hatiku yang terdalam.
"Aku? Tidak menghargaimu? Baiklah, kau ingin aku hargai berapa? Seluruh hidupku? Kebebasanku? Atau mungkin nyawaku? Hah!!!" teriakku, tapi tetap menghindari untuk melihat wajah Daffin.
"Kau semakin tidak terkendali!" bentak Daffin seraya mengangkat tubuhku.
"Turunkan aku, Plankton menyebalkan!" Aku memukul-mukul dada bidang Daffin dengan sekuat tenaga, tapi pria tiran itu tak bergeming sedikitpun.
Tiba-tiba, Maya muncul dan menghalangi langkah Daffin ketika kakinya akan melangkah menaiki tangga.
"Ada apa ini, Daffin?" tanya Maya lembut, bola matanya bergantian menatapku dan juga Daffin.
"Tidak ada ap -"
Aku segera memotong ucapan Daffin. "Kau lihat, Maya! Putra kesayanganmu ini mencoba untuk menyiksaku!"
"Daffin ...," Maya membulatkan matanya dengan sempurna. "Bukankah kau begitu gelisah menunggunya pulang? Kenapa sekarang kau ingin menyakitinya?" tanya Maya.
__ADS_1
Daffin menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Maya. "Aku tidak mungkin menyiksa ibu dari anakku, Maya, kau tahu itu!"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Maya langsung memberikan jalan bagi Daffin. Wanita itu bahkan tak menanyakan pendapatku akan sikap Daffin yang semena-mena padaku.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Daffin, ketika kami sampai di depan pintu kamarku.
"Aku malas mendengar suaramu!" jawabku ketus.
Sebelah tangan Daffin mencoba untuk membuka pintu. "Kau menguncinya?"
"Iya," jawabku dengan nada mengejek.
Aku pikir Daffin akan memaksaku untuk membuka pintu kamarku, dimana itu artinya dia akan menurunkanku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Daffin memutar tubuhnya dan membawaku masuk ke dalam kamarnya.
Dalam sekejap mata, tubuhku sudah terbaring di atas kasur empuk milik Daffin. Dan ternyata, kamar ini lebih besar daripada kamar yang aku tempati.
"Hei, kenapa kamarmu lebih besar dari kamarku?" sinisku, begitu pandanganku menyapu seluruh ruangan.
"Aku sudah memintamu untuk tinggal di kamar ini, tapi kau tidak mau. Apa dayaku yang tak mampu melawan keagresifanmu itu?" seloroh Daffin.
Mataku menatap tajam ke arah Daffin yang sedang membuka jas dan dasi yang masih melekat di tubuh atletisnya.
"Apa dayamu katamu? Kau itu Plankton menyebalkan yang bisa menghalalkan segala cara untuk meraih tujuanmu!" sergahku, masih dengan tatapan yang siap mengibarkan bendera perang.
Suaranya terdengar begitu lirih dan menyayat hati. Seolah ada sesuatu yang begitu terpendam di dalam hatinya.
"Daffin, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanyaku hati-hati.
Daffin mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan sendu. "Aku hanya terlalu sulit untuk memahamimu. Aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku mendapatkan tempat di hatimu."
Aku merasakan seperti sesuatu baru saja menyengat tubuhku. "Kau mabuk?"
"Look at me, My Starfish!" Pandangan mataku bertemu dengan mata biru itu. "Apa aku pernah membohongimu?" tanyanya.
Rasanya aku ingin sekali memberikan cermin yang besar untuk Daffin agar dia bisa melihat betapa menggelikan wajahnya ketika mengatakan hal itu.
"Selalu! Kau selalu membohongiku?" sungutku kesal.
"Kapan? Aku selalu mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku tidak pernah sekalipun berbohong padamu, Nyonya Stevano." sanggah Daffin, mata biru itu menatapku penuh harap.
"Kau ... kau menipuku! Kau menjebakku ke dalam pernikahan konyol ini!" hardikku.
Sebenarnya, aku juga tidak bisa mengatakan kebohongan apa yang di lakukan Daffin karena dia memang tidak pernah benar-benar membohongiku.
__ADS_1
"Pernikahan ini tidak konyol, Nyonya Stevano! Sejak awal, kau adalah istri sahku satu-satunya karena aku sudah menceraikan Reena sebelum aku menikahimu." jelas Daffin.
Benarkah begitu? Tapi memang kenyataannya itulah yang terjadi ketika Ersya memeriksa buku nikahku. Tapi ...
"Itu artinya kau berselingkuh di depan mataku dengan mantan istrimu itu! Kau menipuku! Benar! Kau membodohiku, Daffin!!!" Aku berteriak seolah hanya ada diriku di dunia ini.
Bukannya tersulut emosi, Daffin justru menggodaku. "Apa kau cemburu, Nyonya Stevano?"
"Aku? Cemburu? Tidak sama sekali!" sanggahku, kemudian berbaring dan bersembunyi di balik selimut.
"Ayolah, katakan bahwa kau cemburu!" bujuk Daffin, dia menarik-narik selimut yang menutupi tubuhku dengan lembut.
"Tidak! Pergi dan bersihkan dirimu! Aku tidak suka bau keringatmu!" ketusku dari balik selimut.
Ketika kesunyian menyergap, aku mencoba mengintip dari balik selimut dan tidak menemukan sosok Daffin di dekatku hingga aku berani untuk membuka selimut dan menatap langit-langit kamar yang di dekorasi dengan sangat indah seolah sedang menatap langit secara langsung.
"Kau menyukainya?" Suara yang tak asing itu langsung mengalihkan perhatianku.
"Iya! Aku suka semua yang ada di rumah ini, kecuali dirimu." sungutku kesal, masih memasang wajah cemberut.
"Maya?" celetuk Daffin.
Sontak saja hal itu membuatku memusatkan perhatianku pada Daffin.
"Maksudmu?" selidikku.
Daffin semakin mengurangi jaraknya denganku. Tubuhnya yang segar dan juga wangi membuatku nyaman berada di dekatnya, bahkan ketika dia memelukku dari belakang dan melingkarkan tangan besarnya di pinggangku.
"Aku hanya penasaran, kenapa kau bersikap dingin pada Maya?" tanya Daffin, setengah berbisik di telingaku.
"Aku -"
"Jangan katakan bahwa itu keinginan anakku!" sela Daffin, sebelum aku sempat menjawab.
"Kalau kau sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya?" ketusku.
"Karena aku yakin, Nyonya Stevano selalu memiliki alasan di balik setiap tindakannya."
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1