Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KEPUTUSAN


__ADS_3

Tumbuh dewasa tanpa orang tua tak menjadikan aku gagal dalam menjalani kehidupan. Aku cukup bahagia dalam hidupku hingga aku tidak pernah merindukan sosok yang di sebut ayah dan ibu. Namun, kini aku di hadapkan pada kenyataan tentang siapa aku yang sebenarnya. Hatiku ingin sekali datang menemui wanita yang mungkin saja ibu kandungku, tapi logikaku menolaknya. Bukan karena aku begitu membenci orang tua kandungku, tapi aku hanya takut mereka tidak akan mau menerimaku karena kehidupan mereka yang bahagia bahkan setelah kehilangan diriku. Dan mungkin saja, sebenarnya mereka sengaja membuangku.


Aku teringat cerita nenek saat pertama kali aku datang ke panti asuhan miliknya. Menurut cerita nenek, ada seorang wanita cantik yang datang dan menitipkan diriku di sana. Namun, wanita itu tak kunjung menjemputku hingga akhirnya nenek memberikan identitas baru bagiku. Nenek juga memutuskan hari dimana aku di titipkan wanita itu sebagai hari ulang tahunku.


Logikaku mulai menyambungkan kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidupku. Jika aku melihat kehidupan keluarga Kafeel sekarang, sepertinya mereka sudah melupakan bahwa mereka masih punya satu putri lagi. Dan untuk Maya, dia pantas di perlakukan seperti itu karena dirinya telah sengaja membuangku ke panti asuhan. Ya, sejujurnya hal itu belum bisa di pastikan. Tapi aku sudah bisa menebaknya karena tante Ratih pernah mengatakan bahwa wajahku sangat mirip dengan wanita yang menitipkan aku di panti asuhan waktu itu.


Semua hal yang terjadi dalam hidupku membuatku semakin merasa tidak di inginkan di dunia ini. Akan lebih baik jika aku menyelesaikan semua urusanku disini dan menjauh dari segala hal yang menyakitiku.


Aku menghapus air mata yang seolah tak mau berhenti mengalir dari mataku. Tekadku sudah bulat, aku akan mengakhiri semua ini dan melupakan segala hal yang ada di belakangku.


Bergegas aku merapihkan pakaian dan juga beberapa dokumen penting ke dalam koper. Tidak lupa aku membawa buku nikah palsu yang sudah aku dapatkan dengan susah payah. Dan sebelum pergi, aku mengambil sebuah potret dari buku LILY.


***


"Anda mau kemana, Nyonya muda?" tanya Rania, entah sejak kapan dia sudah kembali ke rumahku.


"Kemana saja kakiku melangkah," selorohku sembari menarik koperku menuju garasi.


Aku berniat untuk membawa mobil kak Erlan karena aku yakin jika aku keluar dengan membawa koper seperti ini, para pengawal itu akan dengan mudah menghentikan aku.


"Nyonya muda, tunggu dulu! Saya akan ikut ber -" ucapan Rania menggantung begitu aku menyelanya.


"Jangan berpura-pura lagi di hadapanku, Rania! Aku tahu, kau masih dan akan selalu berada di pihak Daffin. Rencana pencurian dan ruang baca Daffin, semua itu bagian dari rencana kalian semua. Apakah aku salah, Rania?" tanyaku dengan suara bergetar. "Katakan! Katakan bahwa aku salah!" teriakku.


Rania menunduk. Dia tak berani menatap mataku. "Maaf, Nyonya muda,"


"Hah, Rania!" Aku menghembuskan nafasku dengan kasar. "Seharusnya, aku sudah menyadari ini sejak awal. Tetap berada disisiku adalah tugas utamamu, itulah sebabnya kau selalu bersamaku. Dan hal itu membuatmu tetap menuruti Daffin dan juga mendapatkan kepercayaanku di saat yang bersamaan." sergahku.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya muda," lirih Rania, kali ini suaranya sedikit gemetar.


"Apakah permintaan maafmu itu tulus?" selidikku, karena keraguan mulai memenuhi pikiranku.


Rania menaikkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Iya, Nyonya muda,"


"Buktikan!" hardikku, yang langsung membuat kerutan di dahi Rania. "Berikan ini pada Daffin! Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"


Aku melemparkan dokumen rumah dan juga buku LILY di atas meja yang di ikuti tatapan Rania.


Setelah mengatakan hal itu, aku langsung berjalan menuju garasi tanpa menghiraukan Rania yang menatapku bingung.


Secepat mungkin, aku memasukkan koperku ke dalam mobil dan melajukan mobilku begitu garasi terbuka. Beberapa pengawal yang berjaga sempat menghadangku, tapi aku tidak bergeming.


"Minggir! Atau aku tidak akan ragu untuk menabrak kalian semua!"


Para pengawal itu menatapku keheranan, tapi tidak lama mereka langsung menepi dan memberikan aku jalan.


***


Daffin memang sialan! Dia menahan ponselku sejak hari dimana aku berhasil melarikan diri dari rumahnya dan hal itu membuatnya menutup semua aksesku dengan dunia luar. Selama ini, aku menghubungi Ersya melalui Rania. Tapi sekarang Rania sudah tidak bisa aku percaya dan aku harus melakukan semuanya sendiri.


Aku membuka tasku dan menemukan sebuah kacamata hitam yang sesuai untuk menutupi mata sembabku. Aku mengenakan kacamata itu sebelum aku turun dari mobil.


Langkah kakiku sempat terhenti dan ragu saat akan memasuki kantor polisi, tapi aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa hanya Ersya lah yang bisa membantuku saat ini.


Sungguh beruntung! Begitu aku memasuki kantor polisi, aku melihat Ersya yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

__ADS_1


"Kak Ersya?" Aku melambaikan tanganku pada Ersya yang memicingkan matanya ke arahku.


"Ayasya!" tegas Ersya begitu jarak di antara kami semakin berkurang. "Apa yang kau lakukan disini? Kenapa Rania tidak menghubungiku?"


"Aku tidak bisa menjelaskan hal itu, Kak, tapi ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu." sergahku, enggan menjawab pertanyaan Ersya.


"Ayo, kita bicara di ruanganku!" Ersya menarik tanganku dan membawaku ke dalam ruangannya.


Ruangan kantor Ersya memang tidak sebesar ruangan Daffin, tapi suasana yang hangat langsung menyerbu ketika aku pertama kali memasuki ruangan itu.


"Duduklah!" pinta Ersya, dia menarik sebuah kursi yang berhadapan dengan kursi kebesarannya.


Aku membuka kacamataku dan menatapnya sekilas untuk kemudian duduk di kursi itu, di susul Ersya yang berdiri menghadapku dengan tubuh yang bersandar ke meja.


"Katakan! Hal penting apa yang membawamu kesini?" tanya Ersya tak sabaran, pandangannya sempat terfokus pada mata sembabku.


"Untuk ini." Aku mengeluarkan buku nikah yang di berikan Daffin dari dalam tasku.


Ersya mengambil buku nikah itu dari tanganku. "Kau sudah mendapatkannya? Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui kebenarannya?"


"Kita lihat saja!" sergahku dengan memalingkan wajah ke arah lain.


"Kau harus tegas, Ayasya! Bagaimana jika pernikahanmu dan tuan Stevano benar-benar sah di mata hukum?" desak Ersya, dia memutar kursi yang aku duduki agar aku mau menatapnya.


Aku menghela nafas dalam. "Jika buku nikah itu palsu, bantu aku mendapatkan keadilan! Tapi jika pernikahan itu benar adanya, maka bantu aku untuk memutuskan ikatan itu!"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2