Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SIASAT


__ADS_3

Suasana hatiku sangat buruk sejak aku meninggalkan rumah, maksudku rumah Daffin. Entah apa yang memaksaku untuk mengeluarkan air mata, tapi yang jelas hal itu membuat ibu terus meminta maaf padaku.


"Maaf, Sayang, Ibu pikir ini yang terbaik untukmu dan juga Daffin. Kalian butuh waktu untuk saling merasakan kerinduan karena cinta kalian selama ini tidak lengkap dan terlalu cepat," tutur ibu, tangan hangatnya mengusap punggung tanganku.


Pandanganku yang awalnya menatap keluar jendela pun akhirnya beralih menatap wajah ibu yang di penuhi penyesalan.


"Ibu benar! Aku bukan menangisi Daffin, Bu, tapi aku menangisi kebodohanku." Aku menghapus air mata yang masih mengalir di pipiku.


Bibir tipis ibu menarik sebuah senyuman. "Kau tidak bodoh, Sayang, kau hanya terlalu mencintai Daffin."


Benarkah yang ibu katakan? Beginikah rasanya ketika orang yang sangat di cintai ternyata menyembunyikan banyak hal? Aku hanya berharap Daffin akan menjelaskan padaku semua yang telah dia lakukan di belakangku jika saatnya tiba nanti.


***


"Nyonya ...," panggil Rania, dia baru saja keluar dari mobil Ersya.


Akibat pertengkaran yang berujung perpisahan sementaraku dengan Daffin, aku sampai melupakan Rania yang sedang bersama Ersya.


"Maaf, Rania!" ucapku, langsung berhambur memeluk Rania.


Tangan Rania melingkar untuk membalas pelukanku. "Tidak masalah, Nyonya, anda baik-baik saja?"


"Aku tidak baik, Rania, tapi aku akan menceritakannya padamu nanti. Sekarang kita harus menemui om Rei terlebih dulu. Dia pasti sudah menungguku." ucapku seraya melepaskan pelukanku, lalu beralih menatap ayah dan ibu. "Ayah, Ibu, kalian pulanglah! Aku akan disini bersama Rania."


Sorot mata ibu menyiratkan keraguan. "Tapi, Sayang -"


"Bu ....," Aku memeluk ibu dan berbisik, "percayalah pada putrimu yang kuat ini, Bu!"


Aku melihat senyum mengembang di wajah ibu ketika aku melepaskan pelukanku. Helaan nafas yang dalam pun terdengar sebelum akhirnya ibu mengangguk setuju.


"Tetaplah bersama Rei, Lily! Ayah akan menghubunginya nanti." Ayah mengecup keningku lalu membelai rambutku.


"Baik, Ayah," jawabku dengan seulas senyum tipis.


Ketika ibu akan memasuki mobil, aku teringat sesuatu dan langsung memanggilnya. "Bu, tunggu sebentar! Bolehkah aku meminjam blazermu?"


***


Rasa kecewaku pada Daffin tidak membuatku melupakan apa yang di inginkan dan tidak di inginkan oleh suami tiranku itu. Aku tahu betul jika Daffin tidak suka aku berpakaian terbuka yang menunjukkan tubuhku, tapi aku sengaja melakukannya saat di rumah tadi hanya untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menjadi apapun yang aku inginkan. Dia harus tahu bahwa bukan hanya dirinya yang bebas melakukan segala hal, sementara aku hanya boleh menuruti semua keinginannya.


Aku menggunakan blazer ibu untuk menutupi bahuku yang terbuka. Ada rasa sesal terselip di hatiku ketika mengingat betapa marahnya Daffin saat melihatku mengenakan gaun terbuka ini, tapi aku segera menepis pemikiran itu. Aku harus fokus untuk rencanaku saja!


"Silahkan, Nyonya!" Rania membukakan pintu ruangan om Rei yang terletak di lantai paling atas rumah sakit.


Kakiku melangkah dan melihat om Rei yang sedang memandang keluar jendela. "Om?"


Om Rei menoleh dan tersenyum. "Hallo, Keponakanku yang cantik!"

__ADS_1


Tangan om Rei terbentang untuk memelukku, tapi aku langsung menghindar dengan melangkahkan kakiku ke arah lain. Aku memang bodoh! Di saat seperti ini aku justru teringat betapa cemburunya Daffin pada om Rei.


"Jadi, sekarang aku tidak boleh memelukmu?" tanya om Rei dengan nada yang sedikit memelas.


"Nanti saja, Om, aku sedang tidak ingin bercanda." Aku segera mendaratkan bokongku di sofa. "Kemari, Kak!" panggilku, pada Ersya yang berdiri di samping Rania.


"Ersya." Tangan Ersya terulur kepada om Rei ketika mereka berhadapan.


Wajah om Rei sempat terlihat kebingungan, lalu dia tertawa. "Sejak kapan kau mengganti namamu, Erlan?"


"Dia bukan kak Erlan, Om!" sahutku, memecah keheningan di antara keduanya. "Nanti akan aku ceritakan, tapi bukan sekarang." sambungku.


Walaupun terlihat keraguan di matanya, tapi om Rei akhirnya menyetujui ucapanku.


"Reinhard Kafeel. Kau bisa memanggilku Om Rei, seperti Lily." Om Rei menyambut uluran tangan Ersya.


"Kalian sudah selesai berkenalan? Sekarang, bantu aku menyelesaikan masalahku!" keluhku, tak sabar ingin segera membersihkan tinta-tinta hitam dalam hidupku.


"Baiklah, Nyonya!" jawab Ersya dan om Rei bersamaan.


Kedua pria itu sudah duduk di hadapanku. Dan di sampingku kini ada Rania yang terlihat sedikit gelisah dan salah tingkah.


"Sabarlah, Rania! Setelah ini kita akan menemui Shaka." bisikku, tanpa melihat ke arah Rania.


"Tidak, Nyonya, bukan itu -"


"Sudah diam! Aku tahu kau merindukannya. Jadi, bersabarlah sebentar lagi! Tidak akan lama, Rania." sergahku, tak membiarkan Rania membela dirinya.


Berkas itu di letakkan om Rei di atas meja. Dengan mata berbinar, aku segera meraih berkas itu dan membacanya dengan teliti.


"Sekarang, boleh Om tahu kenapa kau meminta Om untuk membeli sebidang tanah dan juga sebuah rumah di desa x?" tanya om Rei tak sabaran.


Aku tersenyum puas dan menutup berkas di tanganku. "Karena aku ingin mengembalikan seseorang ke tempat asalnya."


Flashback on ...


"Hallo, Lily?" jawab om Rei ketika panggilanku tersambung.


"Hallo, Om, bisa bantu aku?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Katakan! Selama Om mampu, akan Om penuhi keinginanmu."


"Bisakah aku membeli sebuah rumah dan sebidang tanah dengan uangku sendiri? Maksudku, uang perusahaan, Om," pintaku penuh harap.


Sebenarnya, aku bisa menggunakan uang Daffin, tapi aku tidak akan melakukannya karena aku tidak akan melibatkan Daffin dalam hal ini.


"Tentu saja, Lily! Kau salah satu pemilik saham sekarang. Dimana kau ingin membelinya? Di pusat kota?" tanya om Rei, tanpa ragu.

__ADS_1


"Tidak, Om! Tolong belikan aku sebidang tanah dan sebuah rumah yang besar juga nyaman di desa x!"


Flashback off ...


"Tempat asal seseorang?" Dahi om Rei berkerut hingga akhirnya matanya membulat sempurna. "Maksudmu Reena?" tanyanya.


Aku mengangguk pasti. "Iya, Om! Dia berasal dari desa. Tidak sepantasnya dia terus berkeliaran di kota."


Keterkejutan begitu terlihat di wajah om Rei, Ersya dan juga Rania. Mereka diam seribu bahasa mendengar penjelasanku.


"Kak, aku juga membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau membantuku?" tanyaku, membuat Ersya sedikit tersentak.


"Ah, maaf, Ayasya!" lontar Ersya.


Aku mengulas senyuman tipis. "Katakan, Kak! Bisakah kau membantuku?"


"Tentu! Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" tanya Ersya.


Aku menghela nafas dalam. "Tolong buatkan surat penangkapan palsu untuk Reena! Aku tahu, Daffin tidak melaporkannya bukan? Tapi aku ingin kau menangkapnya untukku."


Mata Ersya terbelalak mendengar permintaanku. "Bagaimana kau tahu jika tuan Stevano tidak mengajukan tuntutan untuk nyonya Zafreena?"


Sesuai dugaanku! Daffin masih peduli pada mantan istrinya. Ya Tuhan, kenapa hatiku sakit sekali? Tidak! Tidak! Aku harus kuat.


"Suamiku itu pria yang penuh kasih, Kak. Dia tidak akan tega melihat Reena menderita di balik jeruji besi. Lagipula, setelah aku pikir-pikir, apa yang di lakukan Daffin sudah benar. Reena menggunakan uang Daffin untuk membayar para penjahat itu bukan? Itu artinya, jika dia di penjara, maka Daffin pun akan terseret ke dalam kasusnya." Pandanganku menerawang pada nominal angka yang di berikan Daffin untuk Reena.


Aku tidak yakin, aku ini bodoh atau apa? Kenapa aku marah untuk jumlah uang yang bahkan tidak ada artinya bagi Daffin? Huh! Tapi bukan karena uangnya! Aku marah karena Daffin membohongiku! Dan yang paling membuatku marah, dia mengancamku saat aku akan meninggalkan rumah! Di tambah lagi kenyataan dia tidak melaporkan Reena atas kejahatan yang telah dia lakukan. Aku benar-benar kecewa pada Daffin! Lihat saja, aku akan membuatnya menyesali keputusannya itu!


"Kau benar, Ayasya! Namun, menurutku bisa saja tuan Stevano membersihkan namanya dengan cara lain, sementara dia tetap bisa menghukum nyonya Zafreena atas apa yang di perbuatnya. Setidaknya dia bisa mendekam selama empat tahun di dalam penjara dengan tuduhan penyerangan berencana." tutur Ersya penuh semangat.


Itu memang benar! Aku juga ingin melihat gurita betina itu terkurung di dalam penjara. Selain kesendirian, dia juga akan semakin di permalukan karena reputasinya semakin hancur. Tapi aku juga percaya, semakin menyedihkan hidup Reena, semakin Daffin bersimpati padanya. Tak bisa ku pungkiri, bertahun-tahun hidup bersama tidak akan semudah itu melupakan kenangan mereka selama ini.


"Tidak, Kak! Jika Daffin tidak menuntutnya, maka jangan lakukan apapun! Tapi, aku ingin membuat laporan untuk ibunya Reena. Anna. Dia harus membayar nyawa Shaka yang berharga. Pria dingin itu sampai terbaring koma karena ulahnya. Benar begitu, Om?" tanyaku, dengan tatapan yang terfokus pada Om Rei.


Om Rei terlihat ragu. "Aku rasa ... Daffin memiliki rencana lain, Lily."


"Mungkin saja, Om, tapi aku juga punya rencanaku sendiri." Aku mengibaskan berkas yang sebelumnya di berikan om Rei.


"Baiklah, apa rencanamu sekarang? Setidaknya aku bisa membantumu jika rencanamu tidak berjalan sempurna." Om Rei memaksakan senyumnya.


"Aku akan membawa Reena ke desa x. Tempat orang tua kandungnya berada, Om. Aku ingin Om menyiapkan beberapa pengawal yang bisa di percaya untuk terus mengawasi gerak-gerik Reena. Pastikan dia tidak bisa pergi dari sana! Aku tidak ingin dia berada di sekitarku. Aku ingin menyingkirkannya tanpa membuat Daffin merasa iba padanya." Seringai licik tertarik di sudut bibirku.


"Astaga!!! Kau memang putrinya Reyno!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2